SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Sagra Denta Jendral Neraka



Kraaaak!


Aaaaaaaarrrrgggghhh!


Suara keras dari tubuh Batara Sarawita yang hancur tulangnya menjadi berkeping-keping bercampur dengan teriakan kesakitannya. Setelah itu secara mengagumkan pedang yang bercabang seperti akar yang telah menghancurkan tubuh lawannya itu dipenuhi api hitam dan melahap seluruh tubuh Batara Sarawita.


Kejadian itu tidak lebih dari tiga kedipan mata, berlangsung sedemikian cepat, bahkan satu Batara Sarawita lain yang hendak menghentikan apa yang tengah dilakukan Suro sudah terlambat, justru Pedang Akar Dewa yang dimiliki Suro mengejar lawan yang baru saja mendekat.


“Kurang ajar, setan alas!” teriak maki dari Batara Sarawita yang langsung begerak menjauh.


“Kau pikir aku akan melepaskanmu!” ucap Suro yang langsung menghantamkan jurus dari Tapak Dewa Matahari.


Duuuuuum! Duuuuuuum!


Ledakan berturut-turut hendak dihindari, namun Angrok hanya menjadikan hal tersebut sebagai pengalihan, sebab dia kemudian muncul dibelakang tubuh musuhnya dan menghantamkan pedangnya lagi.


Crraaaaasss!


Aaaarrrgggghhh!


“Matilah menyusul kembaranmu!” teriak Suro yang berhasil menancapkan pedangnya ke tubuh musuhnya.


Awalnya Batara Sarawita hendak menghantamkan balaik telapak hitam yang dia kerahkan dengan tergesa gesa, namun Suro seperti sudah membaca apa yang akan terjadi, maka dia mengerahkan Kapak Pembelah Semesta miliknya.


Craaasss!


Kapaknya itu langsung menebas tangan Batara Sarawita hingga putus. Serangan itu belumlah berhenti Kapak Pembelah Semesta yang bergerak seolah memiliki nyawa sendiri itu melanjutkan tebasannya menebas leher lawannya.


“Naga Taksaka bakarlah dia!” teriak Suro yang mengerakkan jurus perubahan api hitam ang sebelumnya dia kerahkan untuk melenyapkan tubuh musuhnya hingga tidak ada sisa lagi.


Serangan itu mengakhiri perlawan musuhnya, pandangan matanya lalu berpindah ke arah Eyang Sindurogo dan Maharesi Acaryanandana yang terkesima dengan apa yang dilakukan Suro. Mereka tidak mengira melihat Suro mampu melakukan hal yang menajubkan tersebut.


“Saatnya kita menggagalkan apa yang tengah dilakukan oleh Dewa Kegelapan,’ ucap Suro memberi tanda untuk melesat ke bawah.


Namun musuh lain telah muncul terbang mendekat hendak menghadang mereka yang mendekati puncak Gunung Mahameru. Wujudnya yang mengerikan dengan bentuk yang mirip Lembu Jahanam, namun penampilannya lebih menakutkan.


“Biarkan aku yang menghadapinya Guru berdua silahkan cari keberadaan aDewa Kegelapan,” ucap Suro. Dia setelah itu memanggil tubuh kembarannya Purbaangkara.


“Bantu guruku menghadapi musuh yang akan menghadang mereka,” tambahnya yang hanya dijawab anggukkan kepala oleh Purbaangkara.


“Aku sekali melihat dia seperti Lembu Jahanam yang dahulu aku bunuh. Sosok yang menjelma menjadi raksasa yang dahulu menyerang Jawadwipa Suro. Dirimu msih ingat bukan? Sebaiknya dirimu berhati-hati, nger,” ucap Eyang Sindurogo yang langsung dibalas Suro dengan anggukkan kepala. Setelah itu mereka betiga melesat ke bawah.


Makhluk yang memiliki kepala kerbau itu hendak mengejar mereka bertiga, namun Suro tidak membiarkannya dan menghalanginya.


“Lawanmu adalah aku!!” ucap Suro yang segera menghantamkan jurus perubahan api untuk menghentikan langkah musuhnya yang hendak mengejar Eyang Sindurogo.


Sebenarnya Suro tidak mengetahui di sebelah mana Dewa Kegelapan membuat ritual untuk dapat menembus ke Khayangan, sebab dia yang terbang diatas puncak sedari tadi tidak melihat penampakan sosok yang dicari.


Dia hanya melihat satu sosok Batara Karang yang masih tersisa setelah kembarannya berhasil dia bunuh. Sampai sekarangpun dia tidak melihat Dewa Kegelpan, kecuali hanya Batara Karang yang berdiri di puncak sambil sesekali melancarkan serangan ke arah para pendekar yang hendak memanjat ke puncak.


Pandangan mata Suro berpindah ke arah sosok yang menghadangnya, seketika itu juga Suro mengerahkan jurus Langkah Kilat. Dalam sekejap itu juga dia telah berada di depan makhluk yang mirip Lembu jahanam dengan kepala kerbaunya.


“Hancurlah!” teriak Suro yang menghantamkan Kapak Pembelah Semesta ke tubuh lawannya itu.


Praaaak!


“Kurang ajar! Berani sekali kau menghancurkan tamengku ini!” teriaknya dengan keras.


Makhluk raksasa itu hendak membalas dengan menghantamkan dengan pedang besar ke arah Suro, hanya saja kecepatannya masih dapat diikuti oleh mata Suro. Dia segera mengayunkan Kapak besarnya untuk menangkis.


Tidak disangka pedang besarnya yang penuh bergerigi itu memiliki mulut dan membuka secara lebar menelan Kapak Pembelah Semesta yang melesat hendak menghalangi.


“Astaga! Apa yang barusan terjadi?” teriak terkejut Suro yang tidak dia sangka sama sekali.


Apa yang dia lihat di depan matanya adalah sesuatu yang tidak diperkirakan sama sekali oleh Suro. Matanya masih melotot menatap pedang yang sebelumnya menggantung di pundak musuhnya.


“Kau pikir aku tidak datang dengan sebuah persiapan?” teriak raksasa itu dengan begitu congkaknya seakan telah memenangkan pertarungan.


“Pedang apa yang kau gunakan itu?” tanya Suro dengan penuh keheranan.


“Aku adalah jendral Neraka Sagra Denta! Ini adalah Pedang Pelahap Sukma!” ucapnya dengan bangga.


“Siap yang bertanya siapa namanya, padahal aku hanya bertanya nama pedangnya saja, tapi rumah dan namanya sendiri ikut disebut,” gerutu Suro yang mengangap sosok yang ada di depannya itu memiliki perilaku aneh. Beberapa kali dia mendengus-dengus seakan hendak menyeruduknya.


“Apa hubunganmu dengan sosok Lembu Jahanam yang dahulu mampu menjelma menjadi naga raksasa?” tanya Suro yang kini menjadi penasaraan dengan sosok yang memiliki senjata aneh, juga perilaku dan bentuk yang janggal.


“Lembu Jahanam itu adalah anakku, menurut Dewa Kegelapan, kalian adalah orang-orang yang telah menghabisi anakku hingga lenyap tidak dapat bereinkarnasi lagi!” balasnya dengan penuh geram.


“Jadi begitu, dia memang lahir di neraka Jahnam, sehingga memiliki nama Lembu Jahanam? Pantas saja wajahnya burikan seperti wajah jelekmu!” ucap Suro yang langsung membuat lawannya murka.


Sebenarnya Suro masih penasaran dengan Pedang yang penuh dur dan memiliki mulut mengerikan seperti seekor hiu dengan gigi yang memenuhi mulutnya.


Dia sebenarnya mengulur waktu hendak menarik kembali Kapak Pembelah Semesta yang hilang ditelan pedang milik musuhnya. Suro masih berusaha memanggil senjatanya itu untuk keluar, namun dia merasa Kapak Pembelah Semesta seperti tidak memberikan respon.


Keadaan itu sebuah kemustahilan, sebab sejauh apapun jarak yang di tempuh selama masih ada di bumi seharusnya Kapak Pembelah Semesta akan memenuhi panggilannya. Dia segera menyadari, jika kemungkinan senjatanya itu telah dikirim ke dimensi lain.


“Ternyata tidak mudah menghadapimu, tetapi kali ini aku ingin melihat, senjata siapa yang paling hebat,” ucap Suro yang memulai serangannya.


Ditangannya segera muncul pedang memanjang dan bertambah panjang. Suro segera memulai serangannya dan menebaskan pedang yang mampu memanjang dan memendek sesuka hatinya itu dengan gerakan yang teramat cepat.


Crasss!


Akhirnya Suro berhasil mengenai tubuh lawannya yang bernama Sagra Denta. Sayang luka memanjang di leher yang seharusnya mampu membuat lawannya itu mati secara ajaib menutup dengan cepat.


“Ternyata dugaan guruku memang benar, jika kau memiliki kemiripan dengan Lembu Jahanam!” ujar Suro yang melihat kemampuan musuh yang mampu menyembuhkan lukanya dengan teramat cepat.


Karena itu Suro segera mengerahkan kekuatannya yang jauh lebih mengerikan dibandingkan sebelumnya.


“Sekarang terbakarlah hingga musnah! Maha Naga Taksaka!” teriak Suro menghantamkan pukulan jaraka jauh yang di sertai teknik perubahan api tingkat pamungkas.


***


Jika ada yang berkenan mampir, ada karya Author lain yang ada di Karyakars#.com dengan nama pena Lelanangjagat_biru


Begitu juga di plat kuning Nov#lme.com ada karya Author dengan nama pena Lelanangjagat


Terima kasih yang masih setia menunggu maaf jika terlalu lama, akan saya selesaikan secepatnya