SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Dewa Kegelapan Terpancing



“Jangan takut Geho Sama, sebelum aku melakukan rencanaku, ambillah ini,” ucap Suro sambil menyerahkan sesuatu benda bulat sebesar kelerang yang bercahaya cukup teran dan dia ambil dari balik dadanya. Entah bagaimana caranya benda itu mucul begitu saja.


Hanya saja mata Geho Sama tercekat saat menyaksikan apa yang diserahkan oleh Suro. Dia tidak mengerti alasan Suro melakukan itu, sebab benda yang dia serahkan itu adalah Mustika jiwa miliknya yang dahulu pernah diberikan


sebagai tanda kesetiaannya.


“Apa yang sebenarnya hendak kau rencanakan tuan?” tanya Geho Sama dengan tergagap.


“Apakah kau tidak senang aku mengembalikan Mustika jiwa ini kepadamu?” tanya Suro sambil memincingkan matanya. “Bukankah kau sedari dahulu engkau menginginkan ini dikembalikan kepadamu?” imbuhnya.


“Bodoh, tentu saja, tetapi saat ini bukan waktu yang tepat, kau pikir tanpaku kau mampu mengalahkan Dewa Kegelapan?” teriak kesal Geho Sama yang tidak mengerti dengan alasan sebenarnya dari Suro.


Padahal mereka memiliki kesadaran yang terbagi. Namun ada celah kesadaran dari dalam Suro yang tidak dapat dia pahami sedari dahulu. Selalu saja ada beberapa kali dia tetap tidak mampu membaca pikiran Suro secara keseluruhan.


“Satu lagi, aku bukanlah seorang pengecut yang takut akan kematian, apakah kau tidak ingat, jika aku sudah hidup ribuan tahun yang lalu?” dengus Geho Sama.


“Ya, aku ingat itu, tatrapi tetap saja kau menggigil ketakutan melihat kekuatan Dew Kegelapan,” cibir Suro.


“Ini hal yang berbeda, aku kini memiliki tubuh seorang manusia, tentu saja hal yang alami bagi seorang manusia ketakutan menyaksikan sesuatu yang sangat mengerikan dengan kekuatan yang begitu dahsyat sudah berada


di luar ukuran makhluk yang pernah aku saksikan.”


Suro menanatap Geho Sama sebentar dan kembali memusatkan matanya ke arah pusaran yang kini menutupi Dew Kegelapan bertambah besar. Dirinya juga semakin mendekat ke arah pusaran yang mampu ******* apapun yang berhasil di sedot masuk ke dalamnya.


Meskipun saat ini tubuh Suro terlindung dalam cangkang raksasa berupa duplikasi tubuhnya sendiri yang berukuran menjulang tinggi melebihi pohon kelapa, namun dia Suro menyadari itu tidak akan mampu menghindari


dari kehancuran saat masuk ke dalam pusaran yang luar biasa besar dan dahsyatnya itu.


Ukuran pusaran itu sejauh mata memandang dari timur ke selatan dan dari atas ke bawah. Sehingga Suro tentu dapat memperkirakan hal terburuk apa yang akan terjadi, jika dirinya masuk ke dalamnya. Walaupun sampai


sekarang terlihat dengan jelas, dia masih mampu menahan dirinya tidak tersedot dengan kuat.


“Aku tidak bercanda, ini sudah aku pikirkan dengan sangat masak, ambillah,” ucap Suro yang lalu memberikan bedna berkilau dan bercahaya kebiruan itu kepada Geho Sama.


“Setidaknya akan ada yang kembali saat penyegelan nanti aku lakukan, karena kau sebenarnya tidak yakin dapat kembali dan kemungkinan besar aku akan tetap bertahan disini demi memastikan Dewa Kegelapan tidak lagi


muncul,” ujar Suro tanpa berubah nada bicaranya.


Seolah pemuda itu tidak takut dengan apa yang terjadi saat hal buruk akan menimpa padanya. Rupanya Suro sudah mempersiapkan dengan teramat matang, baik pikirannya maupun mentalnya untuk menghadapi apapun yang akan terjadi demi memastikan Dewa Kegelapan tidak dapat bangkit kembali.


Terlihat jelas tangan Geho Sama bergetar menerima mustika jiwa miliknya sebelum dia telan dengan cepat. Matanya langsung terpejam sesaat mustika itu masuk ke dalam mulutnya. Seakan dia sedang merasakan sesuatu yang menajubkan masuk ke dalam tubuhnya.


Dia semakin terkejut saat dia menyadari, jika kekuatan yang terkandung dalam mustika jiwa miliknya tidak lagi sama seperti dulu. Lonjakan kekuatan yang teramat besar berbeda jauh dibandingkan yang pernah dia ingat.


“Apa yang telah kau berikan tuan, ini sesuatu yang sangat dahsyat,” ucap Geho Sama tidak percaya.


“Aku memberikan itu tentu saja agar dirimu dapat membantuku,” ucap Suro sambil pandangannya tertuju pada pusaran yang bertambah semakin mendekat ke arahnya, atau justru dirinya yang bertambah dekat.


“Apa rencana tuan sebenarnya?’ tanya Geho Sama yang kini segera mengerahkan delapan tubuh gaibnya.


“Buat perisai terkuat yang bisa kau lakukan, aku akan mendekati tubuh asli dari Dewa Kegelapan, nanti setelah berada di dekatnya kau akan menggetahuinya,” jelas Suro.


“Ikuti aku, Jurus Seribu Benteng Neraka!” teriaknya yang tidak disangka dia justru membawa tubuh raksasanya melesat ke depan seakan hendak menyambut pusaran maha dahsyat di depannya.


Berbarengan dengan itu Suro pun membuat perisai berlapis lapis perisai. Seakan itu adalah benteng yang tidak terhitung jumlahnya melindungi tubuh raksasa dari kehancuran akibat pusaran penghancur yang dikerahkan Dewa Kegelapan. Tebal perisai yang leindungi Suro itu tidak kurang tebalnya dari seribu mil jauhnya.


Semakin mereka mendekat daya penghancur dari pusaran milik musuh langsung dapat dirasakan oleh Suro. Satu demi satu perisai yang dibentuk oleh Suro berlapis lapis mulai hancur. Semua itu terjadi dengan sangat cepat.


“Gunakan kekuatan empat anasir alam dan juga anasir kegelapan Geho Sama!” teriak Suro. Dia pun juga melakukan hal sama mengerahkan semua anasir alam yang dia kuasi untuk membentuk perisai berlapis menambal


perisai yang telah dihancurkan.


Hanya saja semakin mereka masuk ke dalam pusaran dahsyat milik Dewa Kegelapan, maka daya penghancur juga semakin bertambah, sehingga perisai yang seribu mil tebalnya itu kini tidak lebih dari sepuluh kilometer dan semakin menipis.


“Kalian pikir mampu mengalahkanku yang berada di dalam duniaku ini!” teriak menggeleggar Dewa Kegelapan dengan diiringi suara tawanya yang menunjukkan rasa percaya dirinya. dia sudah dapat memperkirakan, jika


sebentar lagi dia pasti akan mampu membinasakan Suro dan juga Geho Sama hanya dalam hitungan detik.


Namun matanya berubah melebar saat menyaksikan apa yang terjadi kemudian, sebab setelah semua perisai yang dikerahkan Geho Sam dan juga Suro hancur, maka terjadi hal tidak dia sangka, sebab pusaran yang mengikis


perisai Suro itu kini justru seperti terserap dan berputar mengelilingi tubuh raksasa Suro.


“Ini tidak mungkin terjadi, bagaimana Pusaran Kiamat besar ini tidak dapat menghancurkannya?” gumam Dewa Kegelapan yang segera melesat mendekat ke arah Suro yang seolah tidak terpengaruh oleh jurus andalannya.


Dia segera menghantamkan pukulannya ke arah Suro, hanya saja pukulannya itu dilakuan secara langsung. Artinya dia tidak lagi menyerang dengan menggunakan tubuh raksasanya, tetapi langsung menyerang dengan menggunakan tubuh aslinya.


Melihat hal itu Suro langsung menyunggingkan senyumannya, “akhirnya kau terpancing juga makhluk buruk rupa,” batin Suro yang memberikan kode kepada Geho Sama untuk bersiap menyongsong serangan yang datang.