SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
529. Hasil Yang Sama



"Sialan, dewa kegelapan meniru jurus dua ledakan


matahari milikku!" gerutu Suro. Dia terrkejut saat melihat serangan yang


kini dikerahkan lawannya adalah jurus miliknya.


Suro lalu mengerahkan jurus lainnya dari jurus Tapak


Dewa Matahari, yaitu jurus keenam Sepuluh matahari meminta jawaban. Seketika dari


sepuluh jari Suro tercipta sebuah bola energi yang membesar dengan sangat


cepat.


Masing-masing bola energi itu setidaknya sebesar


gajah, namun ukuran itu dengan cepat membesar dan saling tumpang tindih seakan


Suro kini sedang mengangkat dua bulan di atas kepalanya.


“Matilah kau sialan!” teriak Suro menghadang serangan


Dewa Kegelapan yang meniru jurusnya.


Duuuuuuuuuuuuuu!


Suara bergemuruh diatas langit itu menerangi seluruh


alam raya. Bahkan debu gunung Mahameru yang menutupi langit sampai sedemikian


pekat dan membuat seluruh permukan bumi disekitarnya gelap gulita seperti


tengah malam dalam waktu seketika menjadi terang benderang kembali.


Suara bergemuruh itu seperti langit seakan runtuh. Bahakn


kuatnya ledakan itu juga berimbas pada permukaan bumi di bawahnya langsung


hancur membentuk sebuah lengkungan kawah yang teramat luas.


Di tengah lengkungan kawah yang cukup dalam itulah


tubuh dari Dewa Kegelapan menghantam bumi. Namun seperti juga sebelumnya


seangan Suro tidak berhasil menghabisi lawannya.


Tcih!


“Seranganmu memang sangat dahsyat, tetapi kini aku


tidaklah seperti yang terakhir kita bertarung, aku kini memiliki tubuh abadi


para dewa, tidak mungkin bagimu dapat membunuhku!” seringai Dewa Kegelapan yang


kembali meledakkan kekuatan kegelapan di tubuhnya dan menyelubungi dirinya.


Kekuatan kegelapan itu lalu membentuk sebuah pedang


yang panjangnya lebih dari tiga meter. Setelah itu dia langsung melesat ke arah


Suro yang masih berada di atas langit sambil memandang dirinya.


Melihat keadaan itu, maka Suro pun tidak mau kalah. Dia


segera mengerahkan kemampuannya yang lain, yaitu gabungan teknik perubahan


angin dan tanah dengan menggunakan segala apa yang ada di sekitarnya.


Karena saat ini langit di sekililing Suri dipenuhi oleh debu dari letusan


Gunung Mahameru yang hitam pekat dan membentuk awan hitam begitu luas. Lalu


dalam sekejap semua awan itu bergerak mengikuti perintah Suro berputar menyatu


dan membentuk sebuah pedang raksasa yang menghujam ke tubuh Dewa Kegelapan.


"Matilah kau Dewa Kegelapan!" dengus Suro sambil matanya menatap


ke arah pedang yang dia baru saja dikerahkan. Namun Dewa Kegelapan tanpa ragu


justru melesat cepat menghadang pedang raksasa yang datang.


Duuuuuuuuuuum!


"Sial, dengan cara apa agar seranganku mampu membunuhnya?" keluh


Suro yang menatap pedang raksasa miliknya langsung berubah menjadi debu saat


menyentuh kekuatan Dewa Kegelapan yang menyelubungi dengan begitu pekat.


“Hahahaha! Ini adalah kekuatan dariku yang sebenarnya Kekekalan Kegelapan!”


ucap Dewa Kegelapan yang memamerkan kekuatan miliknya yang sangat mengerikan,


sebab segala hal yang tersentuh oleh kekuatan itu langsung hancur.


Melihat hal itu maka Suro memberikan serangan secara beruntun dengan


menggunkan jurus Sepuluh Matahari Meminta Jawaban, namun seperti jurus yagn


dikerahkan sebelumnya, maka serangan yang dia kerahkan itu langsung berhasil


dipatahkan setiap kali menyentuh wilayah aura Kekekalan Kegelapan.


“Kau tidak akan bakal mampu menghancurkan kekuatanku ini, menyerahlah dan


bergabunglah denganku aku akan mengampunimu dan akan mengangkatmu menjadi


Jenderal Perangku!” ucap Dewa Kegelapan yang merancanakan hendak menyerang


Khayangan dan membunuh para dewa.


Setelah melihat kekuatan yang diperlihatkan Suro yang begitu mengerikan rupanya


Dewa Kegelapan tertarik untuk menjadikannya Jenderal perang pasukan kegelapan


miliknya. “Andai aku tidak meminum Tirta Amerta tentu manusia ini akan ssanggup


membunuhku,” ucap Dewa Kegelapan mengakui dan menyadari betapa menakutkannya


bakat juga kekuatan Suro.


Dewa Kegelapan masih membiarkan Suro berpikir setelah melihat penawarannya


penawarannya, oleh karena itu dia memilih tidak meneruskan serangan.


Dewa Kegelapan menyadari, jika niatnya yang hendak menyerang khayangan


bukan pekerjaan yang mudah, jika Suro berada di pihaknya semua rencananya akan


berjalan lancar dan dia semakin yakin akan mampu menguasai khayangan.


Hanya saja apa yang diperkirakan oleh Dewa Kegelapan ternyata salah besar,


sebab Suro sebenaranya malas menjawab dan sedang sibuk mencari jalan untuk dapat


membunuh Dewa Kegeglapan.


"Sial, kekuatan lima anasir alam yang dia milikku membuat semua


seranganku yang berasal sari anasir angin, tanah, air maupun api berubah lenyap


menjadi asalnya," gumam Suro. Rupanya Suro pun mulai kewalahan dan tidak


tahu cara membunuh lawannya setelah segala strategi dan juga serangan demi


serangan miliknya telah dipatahakan semua.


Setgelah beberapa saat Suro kembali mengerahkan serangan secara beruntun


dengan ilmu padang dan juga jurus keenam Tapak Dewa Matahari . Formasi serangan


yang dikerahkan Suro kembali gagal setelah setiap serangan yang datang hancur


seketika.


"Kau lupa aku adalah penguasa Panca Mahabhuta, lima anasir alam berada


dibawah kendaliku!" ucap terkekeh Dewa Kegelapan yang tidak menganggap


serangan yang dikerahkan Suro. "Kau hanya manusia lemah, kekuatanmu hanya


sanggup menguasai empat anasir alam, jadi menyerahlah saja dan jadilah bagian


dari pasukanku!"


"Menjadi bawahanmu jilat dulu jempol kakiku ini makhluk sialan!"


gerutu Suro. “Meskipun aku tidak mampu membunuhmu ataupun berhasil


menghabisimu, tetapi aku tidak akan sudi menjadi kaki tanganmu!”


Mendengar perkataan Suro Dewa Kegelapan justru tertawa terbahak bahak


seakan begitu senang melihat rasa putus asa yang sedang dialami Suro.


"Sekarang giliranku!" seringai Dewa Kegelapan yang segera


menciptakan pedang hitam dari aura kegelapan tangannya. Pedang itu terlihat


begitu menakutkan dengan dengungan suara yang menakutkan seakan jeritan roh


yang sedang disiksa.


"Jika kau tidak mau menjadi bawahanku, maka matilah kau ditelan


pedangku!" teriak Dewa Kegelapan yang melesat cepat ke arah Suro.


Serangan itu begitu cepatnya sehingga membuat Suro hanya bisa bertahan dengan


menghantamkan dua pedangnya.


Pedang Akar Dewa segera memanjang menghadang serangan Dewa Kegelapan. Alih


alih menangkis tanpa disangka pedang itu bercabang dengan cepat dan dalam satu


kedipan mata seluruh tubuh Dewa Kegelapan telah terjerat oleh bilah pedang Akar


Dewa.


Namun sebelum Pedang Pelahap Sukma menyusul tanpa disangka oleh Suro Pedang


milik Dewa Kegelapan meledakkan kekuatannya kembali. Lalu semua bilah Pedang


Akar Dewa segera terurai menjadi warna kehijauan dan lenyap menjadi debu.


"Ini kekuatanku yang sebenarnya, bahka pedang yang terbuat dari Giok


Dewa sekalipun hanya tidak lebih daripada debu dihadapan kekuatan Kekekalan


Kegelapan milikku!” ucap Dewa Kegelapan dengan senyumnya yang bertambah lebar.


“Kali ini aku tidak lagi menahan kekuatanku, berbahagialah kau akan mati dengan


kekuatan paling menakutkan di alam jagat raya ini," ujar Dewa Kegelapan


yang langsung mengerahkan serangannya pamungkasnya ke arah Suro.


Namun Suro kali ini tidak mau menghadapi secara langsung serangan yang


dikerahkan Dewa Kegelapan, dia langsung mengerahkan jurus keenam Sepuluh


Matahari Mencari Jawaban.


"Jangan kau pikir kali ini dapat lepas dariku!" dengus Dewa


Kegelapan yang langsung melenyapkan bola energi yang panas membara itu hingga lenyap


tanpa ada bekas.


Suro telah menghindar dari serangan Dewa Kegelapan dan langsung menggunakan


jurus Langkah Maya. Dia tidak menyangka semua serangannya tidak ada satupun


yang berhasil melukai Dewa Kegelapan.


“Sekarang matilah kau!” teriak Dewa Kegelapan yang mendadak muncul dan


menghadang langkah Suro yang berupaya menghindar. Kemunculan lawan yang secara


mendadak di hadapannya tidak lagi mampu dia hindari. Serangan yang mampu


menghancurkan apapun itu langsung menelan tubuh Suro tanpa dapat dihindari.