
"Sialan, dewa kegelapan meniru jurus dua ledakan
matahari milikku!" gerutu Suro. Dia terrkejut saat melihat serangan yang
kini dikerahkan lawannya adalah jurus miliknya.
Suro lalu mengerahkan jurus lainnya dari jurus Tapak
Dewa Matahari, yaitu jurus keenam Sepuluh matahari meminta jawaban. Seketika dari
sepuluh jari Suro tercipta sebuah bola energi yang membesar dengan sangat
cepat.
Masing-masing bola energi itu setidaknya sebesar
gajah, namun ukuran itu dengan cepat membesar dan saling tumpang tindih seakan
Suro kini sedang mengangkat dua bulan di atas kepalanya.
“Matilah kau sialan!” teriak Suro menghadang serangan
Dewa Kegelapan yang meniru jurusnya.
Duuuuuuuuuuuuuu!
Suara bergemuruh diatas langit itu menerangi seluruh
alam raya. Bahkan debu gunung Mahameru yang menutupi langit sampai sedemikian
pekat dan membuat seluruh permukan bumi disekitarnya gelap gulita seperti
tengah malam dalam waktu seketika menjadi terang benderang kembali.
Suara bergemuruh itu seperti langit seakan runtuh. Bahakn
kuatnya ledakan itu juga berimbas pada permukaan bumi di bawahnya langsung
hancur membentuk sebuah lengkungan kawah yang teramat luas.
Di tengah lengkungan kawah yang cukup dalam itulah
tubuh dari Dewa Kegelapan menghantam bumi. Namun seperti juga sebelumnya
seangan Suro tidak berhasil menghabisi lawannya.
Tcih!
“Seranganmu memang sangat dahsyat, tetapi kini aku
tidaklah seperti yang terakhir kita bertarung, aku kini memiliki tubuh abadi
para dewa, tidak mungkin bagimu dapat membunuhku!” seringai Dewa Kegelapan yang
kembali meledakkan kekuatan kegelapan di tubuhnya dan menyelubungi dirinya.
Kekuatan kegelapan itu lalu membentuk sebuah pedang
yang panjangnya lebih dari tiga meter. Setelah itu dia langsung melesat ke arah
Suro yang masih berada di atas langit sambil memandang dirinya.
Melihat keadaan itu, maka Suro pun tidak mau kalah. Dia
segera mengerahkan kemampuannya yang lain, yaitu gabungan teknik perubahan
angin dan tanah dengan menggunakan segala apa yang ada di sekitarnya.
Karena saat ini langit di sekililing Suri dipenuhi oleh debu dari letusan
Gunung Mahameru yang hitam pekat dan membentuk awan hitam begitu luas. Lalu
dalam sekejap semua awan itu bergerak mengikuti perintah Suro berputar menyatu
dan membentuk sebuah pedang raksasa yang menghujam ke tubuh Dewa Kegelapan.
"Matilah kau Dewa Kegelapan!" dengus Suro sambil matanya menatap
ke arah pedang yang dia baru saja dikerahkan. Namun Dewa Kegelapan tanpa ragu
justru melesat cepat menghadang pedang raksasa yang datang.
Duuuuuuuuuuum!
"Sial, dengan cara apa agar seranganku mampu membunuhnya?" keluh
Suro yang menatap pedang raksasa miliknya langsung berubah menjadi debu saat
menyentuh kekuatan Dewa Kegelapan yang menyelubungi dengan begitu pekat.
“Hahahaha! Ini adalah kekuatan dariku yang sebenarnya Kekekalan Kegelapan!”
ucap Dewa Kegelapan yang memamerkan kekuatan miliknya yang sangat mengerikan,
sebab segala hal yang tersentuh oleh kekuatan itu langsung hancur.
Melihat hal itu maka Suro memberikan serangan secara beruntun dengan
menggunkan jurus Sepuluh Matahari Meminta Jawaban, namun seperti jurus yagn
dikerahkan sebelumnya, maka serangan yang dia kerahkan itu langsung berhasil
dipatahkan setiap kali menyentuh wilayah aura Kekekalan Kegelapan.
“Kau tidak akan bakal mampu menghancurkan kekuatanku ini, menyerahlah dan
bergabunglah denganku aku akan mengampunimu dan akan mengangkatmu menjadi
Jenderal Perangku!” ucap Dewa Kegelapan yang merancanakan hendak menyerang
Khayangan dan membunuh para dewa.
Setelah melihat kekuatan yang diperlihatkan Suro yang begitu mengerikan rupanya
Dewa Kegelapan tertarik untuk menjadikannya Jenderal perang pasukan kegelapan
miliknya. “Andai aku tidak meminum Tirta Amerta tentu manusia ini akan ssanggup
membunuhku,” ucap Dewa Kegelapan mengakui dan menyadari betapa menakutkannya
bakat juga kekuatan Suro.
Dewa Kegelapan masih membiarkan Suro berpikir setelah melihat penawarannya
penawarannya, oleh karena itu dia memilih tidak meneruskan serangan.
Dewa Kegelapan menyadari, jika niatnya yang hendak menyerang khayangan
bukan pekerjaan yang mudah, jika Suro berada di pihaknya semua rencananya akan
berjalan lancar dan dia semakin yakin akan mampu menguasai khayangan.
Hanya saja apa yang diperkirakan oleh Dewa Kegelapan ternyata salah besar,
sebab Suro sebenaranya malas menjawab dan sedang sibuk mencari jalan untuk dapat
membunuh Dewa Kegeglapan.
"Sial, kekuatan lima anasir alam yang dia milikku membuat semua
seranganku yang berasal sari anasir angin, tanah, air maupun api berubah lenyap
menjadi asalnya," gumam Suro. Rupanya Suro pun mulai kewalahan dan tidak
tahu cara membunuh lawannya setelah segala strategi dan juga serangan demi
serangan miliknya telah dipatahakan semua.
Setgelah beberapa saat Suro kembali mengerahkan serangan secara beruntun
dengan ilmu padang dan juga jurus keenam Tapak Dewa Matahari . Formasi serangan
yang dikerahkan Suro kembali gagal setelah setiap serangan yang datang hancur
seketika.
"Kau lupa aku adalah penguasa Panca Mahabhuta, lima anasir alam berada
dibawah kendaliku!" ucap terkekeh Dewa Kegelapan yang tidak menganggap
serangan yang dikerahkan Suro. "Kau hanya manusia lemah, kekuatanmu hanya
sanggup menguasai empat anasir alam, jadi menyerahlah saja dan jadilah bagian
dari pasukanku!"
"Menjadi bawahanmu jilat dulu jempol kakiku ini makhluk sialan!"
gerutu Suro. “Meskipun aku tidak mampu membunuhmu ataupun berhasil
menghabisimu, tetapi aku tidak akan sudi menjadi kaki tanganmu!”
Mendengar perkataan Suro Dewa Kegelapan justru tertawa terbahak bahak
seakan begitu senang melihat rasa putus asa yang sedang dialami Suro.
"Sekarang giliranku!" seringai Dewa Kegelapan yang segera
menciptakan pedang hitam dari aura kegelapan tangannya. Pedang itu terlihat
begitu menakutkan dengan dengungan suara yang menakutkan seakan jeritan roh
yang sedang disiksa.
"Jika kau tidak mau menjadi bawahanku, maka matilah kau ditelan
pedangku!" teriak Dewa Kegelapan yang melesat cepat ke arah Suro.
Serangan itu begitu cepatnya sehingga membuat Suro hanya bisa bertahan dengan
menghantamkan dua pedangnya.
Pedang Akar Dewa segera memanjang menghadang serangan Dewa Kegelapan. Alih
alih menangkis tanpa disangka pedang itu bercabang dengan cepat dan dalam satu
kedipan mata seluruh tubuh Dewa Kegelapan telah terjerat oleh bilah pedang Akar
Dewa.
Namun sebelum Pedang Pelahap Sukma menyusul tanpa disangka oleh Suro Pedang
milik Dewa Kegelapan meledakkan kekuatannya kembali. Lalu semua bilah Pedang
Akar Dewa segera terurai menjadi warna kehijauan dan lenyap menjadi debu.
"Ini kekuatanku yang sebenarnya, bahka pedang yang terbuat dari Giok
Dewa sekalipun hanya tidak lebih daripada debu dihadapan kekuatan Kekekalan
Kegelapan milikku!” ucap Dewa Kegelapan dengan senyumnya yang bertambah lebar.
“Kali ini aku tidak lagi menahan kekuatanku, berbahagialah kau akan mati dengan
kekuatan paling menakutkan di alam jagat raya ini," ujar Dewa Kegelapan
yang langsung mengerahkan serangannya pamungkasnya ke arah Suro.
Namun Suro kali ini tidak mau menghadapi secara langsung serangan yang
dikerahkan Dewa Kegelapan, dia langsung mengerahkan jurus keenam Sepuluh
Matahari Mencari Jawaban.
"Jangan kau pikir kali ini dapat lepas dariku!" dengus Dewa
Kegelapan yang langsung melenyapkan bola energi yang panas membara itu hingga lenyap
tanpa ada bekas.
Suro telah menghindar dari serangan Dewa Kegelapan dan langsung menggunakan
jurus Langkah Maya. Dia tidak menyangka semua serangannya tidak ada satupun
yang berhasil melukai Dewa Kegelapan.
“Sekarang matilah kau!” teriak Dewa Kegelapan yang mendadak muncul dan
menghadang langkah Suro yang berupaya menghindar. Kemunculan lawan yang secara
mendadak di hadapannya tidak lagi mampu dia hindari. Serangan yang mampu
menghancurkan apapun itu langsung menelan tubuh Suro tanpa dapat dihindari.