
"Apakah ada lagi yang ingin mati dengan cepat tanpa merasakan apapun? Aku dengan senang hati akan mengabulkan keinginan itu!"
Batara Karang menatap keseluruh pasukan yang memandang dirinya dengan ngeri. Sisa pasukan yang berasal dari berbagai perguruan aliran hitam dan juga pasukan dari beberapa kadipaten itu tidak berani maju satu langkahpun.
Tetua ular putih, tetua Puspo Kajang, Dukun sesat dari Daha dan juga Tongkat iblis masih bersujud menundukan kepalanya menempel dengan tanah.
"Kalian berdua pewaris ilmu dari tiga sesat?"
"Betul Sang Hyang Junjungan Batara Karang hamba berdua pewaris ilmu dari tiga sesat. Hamba yang mewarisi ilmu dari Eyang Singa merah dan juga ilmu dari tetua yang berjuluk Dukun Sesat dari Daha." Gadis belia yang masih menundukan kepala itu segera menjawab pertanyaan Batara Karang.
"Sedangkan hamba adalah pewaris ilmu dari Jerangkong hidup dari Jurang Neraka." Tongkat iblis ikut menjawab pertanyaan sambil menggigil ketakutan.
Sudah cukup lama dia mendengar nama Batara Karang, tetapi baru kali ini dia bertatapan langsung dengan seseorang yang pernah menjadi ketua Perguruan Awan Merah itu. Sebuah Perguruan aliran hitam yang sangat besar, tetapi dalam satu malam lenyap dibumi hanguskan oleh Pendekar Tapak Dewa Matahari alias Eyang Sindurogo.
Karena itulah mengapa dia terlihat kebingungan melihat Eyang Sindurogo bisa bersama Batara Karang. Dan justru terlihat bahwa Eyang Sindurogo begitu dihormati oleh Batara Karang.
Bahkan tanpa segan melaksanakan perintahnya menghabisi Medusa yang dianggabnya melakukan kesalahan besar. Padahal menurut perkataan Medusa sendiri sebelum kedatangan mereka bertiga, dia menuju tempat itu adalah hendak meminta bantuan pasukan dari alam kegelapan.
Tetapi hal itu bagi Eyang Sindurogo hitam dianggab sebagai kesalahan besar, karena telah berani membocorkan rahasia besar keberadaan pintu gerbang gaib menuju ke alam lain.
"Dan kalian berdua adalah tetua ular bukan?"
"Benar Sang Hyang Junjungan Batara Karang kami berdua adalah tetua ular. Hamba yang berjuluk tetua ular Putih dan disebelah hamba adalah tetua Ular Sanca atau Puspo Kajang."
Batara Saraswita menatap empat orang yang masih bersujud didepannya dengan nanar.
"Dengan melihat latar belakang kalian aku mengampuni nyawa kalian berempat. Dan akan aku jadikan kalian sebagai perpanjangan tanganku di tanah Javadwipa ini. Kalian harus sumpah setia kepadaku dan satu lagi. Jika kalian membuat keputusan bodoh seperti yang dilakukan Medusa, yaitu berani membuka rahasia kepada orang lain, tentang letak gerbang menuju alam suci. Maka aku sendiri yang akan memotong kepala kalian."
"Sendiko dawuh kami bersumpah setia kepada Hyang Junjungan Betara Karang. Dan kami juga berjanji tidak akan bertindak bodoh dan siap menerima hukuman jika melakukannya."
"Baiklah sekarang kalian berempat bangkitlah. Dengan ikrar yang kalian ucapkan itu, maka aku anggab kalian telah menggantikan peran Medusa ditanah Java ini."
Setelah berbicara kepada mereka berempat, Batara Karang berjalan ke arah sisa pasukan Medusa. Pandangan mata dari Batara Sarawita berubah menjadi begitu mengerikan.
Hawa pembunuh langsung menekan mereka semua yang terasa sangat mengerikan. Bahkan membuat setiap orang menggigil ketakutan. Tidak bisa dibayangkan sudah berapa banyak nyawa yang berakhir ditangannya.
Para tokoh golongan hitam yang sebagian masih ditengah-tengah pasukan juga merasakannya. Mereka yang sudah terbiasa membunuh manusia seperti membunuh semut sekalipun, dibandingkan dengan hawa pembunuh yang menerjang ke arah mereka, seperti ujung kukunya saja tidak ada.
"Kalian mungkin tidak mengenaliku, tetapi kalian pasti mengenal salah satu sesosok orang yang berada dibelakangku itu."
Tatapan matanya kembali menyapu ke seluruh pasukan yang berada dihadapannya.
"Ingkang Jumeneng dibelakangku itulah yang menguasai alam dibalik gerbang gaib ini. Hal ini aku jelaskan kepada kalian semua, karena kalian telah terlanjur melihat gerbang gaib yang menghubungkan ke alam suci."
"Maka aku akan menjelaskan lebih lanjut tentang siapa pemilik sejati dari gerbang alam suci yang sebenarnya. Kalian mungkin sebelumnya mengenalnya sebagai Eyang Sindurogo. Tetapi mulai saat ini kalian harus memanggilnya dengan panggilan kehormatan untuknya, yaitu ingkang sinuwun Sang Hyang Sukmo Ngalemboro penguasa sejati dari panca mahabhuta lima unsur seluruh pembentuk alam semesta ."
Mendengar perkataan Batara Sarawita atau Batara Karang semakin membuat mereka tidak mengerti. Tetapi tidak satu pun yang berani bertanya, mereka hanya menunggu perkataan Batara Karang selanjutnya. Setelah terdiam sebentar menunggu reaksi dari seluruh pasukan Batara Sarawita kembali berbicara.
"Setelah kalian mendengar apa yang tadi baru saja aku jelaskan. Kali ini aku akan bertanya cukup sekali saja kepada kalian semua. Jika ada satu jawaban dari kalian yang menjawab "tidak" dari pertanyaanku, maka akan aku musnahkan kalian semua! Jangan meragukan kemampuanku untuk melakukan apa yang aku ancamkan kepada kalian!"
Matanya menyapu keseluruh pasukan dengan dibarengi terjangan hawa pembunuh yang lebih mengerikan dari pada sebelumnya.
"Apakah kalian bersedia menyerahkan kesetiaan kalian kepada Sang Hyang Sukmo Ngalemboro?"
"Nuwun inggih, kami bersedia Sang Hyang Batara Karang!" Tanpa menunggu lama mereka serempak mengiyakan. Karena memang tidak ada pilihan lain yang diberikan, jika tidak ingin menjadi abu, seperti nasib teman-teman mereka sebelumnya.
"Bagus, aku senang mendengar jawaban kalian. Dengan jawaban yang kalian berikan itu, maka artinya kalian semua telah menyatakan kesetiaan kepada Sang Hyang Sukmo Ngalemboro. Atas pernyataan kesetiaan kalian, maka kalian berhak mendapatkan anugerah berupa kekuatan yang kalian tidak bisa membayangkan kedahsyatannya. Kekuatan ini akan membuat kalian menjadi makhluk yang tidak akan mudah untuk dibunuh. Kekuatan kalian juga akan meningkat dengan pesat dan akan menjadi berkali-kali lipat lebih kuat dari apa kalian miliki sekarang ini. Pemberian kekuatan ini juga sebagai tanda kesetiaan kalian kepada kami."
Mendengar perkataan Batara Karang mereka menjadi semakin bertambah kasak kusuk. Mereka tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan diberikan kekuatan dahsyat.
"Mendekatlah kemari dan pejamkan mata kalian semua. Jika diantara kalian ada yang berani membuka mata, maka Sang Hyang Sukmo Ngalemboro akan merubah kalian menjadi arca batu!"
Semua pasukan itu semakin kebingungan, tetapi melihat bagaimana mereka datang yang turun dari langit telah menunjukan kekuatan mereka bertiga minimal sudah ditingkat langit. Apalagi melihat serangan yang dilakukan sebelumnya membuat mereka tidak berani membantah. Ditambah saat Eyang Sindurogo memindahkan mata Medusa kedalam kelopak matanya membuat mereka merasa sedang berhadapan dengan makhluk yang bukan berasal dari bumi.
Mereka kemudian maju semua ke hadapan Eyang Sindurogo hitam dan mulai memejamkan mata.
Aura kegelapan keluar dari tubuh Eyang melesat ke arah kerumunan pasukan dan menyelimuti tubuh mereka semua. Aura itu tidak seperti biasanya, karena aura itu bergerak seperti ribuan roh gentayangan yang tak terhitung jumlahnya. Tetapi itu adalah sesuatu yang berbeda, karena itu adalah sebentuk kekuatan yang disebut sebagai Vetala.
"Jadilah kalian semua menjadi pengikutku yang setia!" Eyang Sindurogo hitam terus mengerahkan kekuatan vetala yang berada dalam tubuhnya ke arah sisa pasukan Medusa.
Kemudian kekuatan energi kegelapan yang disebut Vetala itu meresap masuk kedalam tubuh seluruh pasukan itu. Beberapa saat setelah itu, terjadi sesuatu yang mengerikan pada seluruh tubuh mereka.
Sisa pasukan Medusa yang lebih dari dua puluh ribu orang itu berteriak seakan penuh kesakitan. Mereka meraung-raung menahan sakit yang tak tertahankan.
Bahkan Tongkat iblis harus memalingkan wajahnya tidak tahan melihat raungan anak buahnya yang ikut menerima energi vetala dari Eyang Sindurogo hitam.
Energi kegelapan yang seperti jelaga itu mulai menyelimuti tubuh setiap orang. Lalu tubuh mereka secara perlahan mulai berubah.
Dikepala mereka mulai tumbuh semacam tanduk. Taring-taring mereka mulai berubah memanjang. Diantara tulang belikat yang berada dipunggung mulai tumbuh dua buah sayap yang bentuknya menyerupai sayap kelelawar.
Jari-jari mereka mulai memanjang, sebuah ekor mulai keluar dibalik tubuh mereka. Mata mereka membesar dan berubah menjadi merah.
"Hahahaha...! Kalian akan menjadi abdiku yang setia melayaniku." Eyang Sindurogo hitam tertawa keras diikuti Sang Hyang Antaga dan juga Batara Karang. Empat orang yang tidak ikut dirubah hanya bisa bergidik dan menahan sekuat mungkin agar tidak mutah melihat apa yang baru saja terjadi.