SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 376 Kota Shanxi part 8



Dewi Anggini segera memberi tahu Suro, agar pemuda itu memahami situasinya. Mendengar penjelasan tetua Dewi Anggini, raut muka pemuda itu segera berubah. Dia menatap Golok setan dengan tatapan yang menakutkan.


"Kalian memang manusia serakah!"


Sekantong emas yang hendak diberikan segera dia tarik kembali. Setelah itu dia segera menyerang lawannya.


Lebih dari satu bilah pedang miliknya segera melesat ke arah lawan. Salah satunya adalah Pedang Kristal Dewa.


Pedang-pedang itu segera menghajar musuh yang hendak menyerbu ke arah meja dimana guru dan yang lainnya sedang duduk. "Tidak akan kubiarkan kalian mengobrak abrik makanan lezat itu!"


Dia memang tidak membiarkan musuhnya mendekat ke meja, karena dia belum puas merasakan seluruh makanan yang terhidang di meja besar itu. Apalagi beberapa makanan belum sempat dia rasakan.


Pedang Kristal Dewa melesat bersama beberapa pedang yang lain. Bilah-bilah pedang itu melesat ke arah kanan dan kiri, karena memang musuh menyerang dari dua arah yang berbeda.


Lesatan pedang itu begitu cepat bahkan tidak sempat disadari oleh mereka yang bergerak serentak hendak menyerang orang-orang yang masih sibuk menikmati makanan.


Kelabang Hitam yang memimpin anak buahnya di sebelah kanan tidak sempat bergerak lebih jauh, sebab dia dihadang sebuah pedang yang bergerak dengan lincah tanpa siapapun memegangnya.


Pedang itu memang dikendalikan jiwa yang berdiam didalamnya, yaitu Lodra yang agung. Dia menyerang Kelabang Hitam setelah sebelumnya berhasil melukai beberapa orang dan menebas sampai putus bilah pedang lawan.


Dalam serangan awal Suro sengaja hanya melukai pada bagian kaki atau tangannya saja untuk menghentikan serangan mereka.


Serangan awal itu hanyalah gertakan saja agar mereka membatalkan niatnya. Namun mereka adalah para pembunuh bayaran yang terlatih dan berdarah dingin.


Serangan seperti itu tentu tidak mampu menghentikan langkah mereka. Melihat musuh tidak juga berhenti menyerang, kali ini pedang-pedang itu melesat lebih cepat dibandingkan sebelumnya.


Serangan kali ini harus dibayar mahal oleh mereka, sebab pada serangan kali ini pedang-pedang itu langsung menyerang bagian vital tubuh mereka.


Tidak kurang dari lima bilah pedang terbang milik Suro menyerang secara bersamaan. Dalam beberapa tarikan nafas tubuh lawan mulai berjatuhan dan tak akan bergerak selamanya.


Lesatan pedang itu bergerak dengan begitu cepatnya, mata mereka bahkan tidak sempat menangkap gerakan bilah-bilah pedang itu. Pasukan yang ada disebelah kiri semuanya berhasil dihabisi, tinggal yang berada disebelah kanan, dimana Kelabang Hitam dan yang lainnya semakin tersudut.


Feng Lei yang menyaksikan anak buahnya berjatuhan hanya dalam waktu begitu cepat hanya bisa meruntuk dan memaki. Dia tidak mampu berbuat banyak untuk menolong mereka.


Sebab dia sendiri kewalahan menghadapai Pedang Kristal Dewa yang terus mencecarnya. Tubuhnya kini sudah mulai dihujani luka dan semakin bertambah banyak.


Kondisi kedua bilah pedang yang sedari awal dia genggam tidak kalah tragis dibanding pemiliknya. Sebab keduanya telah menjadi pedang buntung karena tidak mampu menahan tebasan pedang milik lawan.


"Sialan, kurang ajar!" Golok setan tidak menyangka sama sekali jika anak semuda itu memiliki kemampuan ilmu pedang yang begitu mengerikan.


Dia tidak pernah menyaksikan ada yang mampu mengerakkan pedang seperti yang dilakukan pemuda didepannya. Meskipun itu sudah sampai tahap bersatu dengan pedang. Begitu juga kecepatan lesatan bilah pedang itu terasa tidak masuk akal.


Golok setan merasa mendapatkan peluang, sebab saat itu Suro sedang sibuk mengendalikan kelima bilah pedangnya. Sedangkan Pedang kristal dewa yang bergerak dengan kecepatan diatas rata-rata itu dikendalikan oleh Lodra.


Suro mengendalikan pedang miliknya hanya dengan satu tangannya. Sebab satu tangannya yang lain sedang menggenggam lengan kepiting yang belum sempat dia makan.


Dengan berbekal senjatanya yang telah buntung Golok setan segera menebaskan senjatanya itu ke arah tubuh Suro.


Trang!


Hantaman keras golok buntung yang hendak mengenai tubuh Suro, justru ditangkis oleh pemuda itu dengan lengan kepiting ditangannya.


"Apa? Tidak mungkin?"


Golok setan terkejut tidak habis pikir, bagaimana mungkin potongan lengan kepiting itu mampu menahan goloknya. Bahkan goloknya itu seperti menghantam lempengan besi.


Dia tidak mengetahui, jika saat itu Suro mengalirkan chakra cukup besar pada lengan kepiting itu. Meskipun lengan kepiting itu telah dilapisi chakra miliknya, tetapi kekuatan tingkat langit dan golok lawannya bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan.


"Ah, akhirnya aku bisa menikmati daging kepiting ini."


Wuuus...


Buuuk!


Braaak!


Golok setan yang terkejut dengan cara Suro menangkis serangannya, tidak sempat menghindar saat lawannya telah menyarangkan sebuah tendangan ke arahnya.


Tendangan memutar milik Suro menghantam dengan keras kepala Golok setan.


Karena begitu kerasnya tendangan itu membuat tubuh Golok setan berputar dan terbang menghantam dinding Pavillum Angin Utara. Tubuh itu tidak berhenti, tetapi terus terlempar keluar dan menghantam tanah dari lantai tiga.


Feng Lei yang melihat kejadian tersebut


langsung kabur keluar lewat jendela diikuti yang lainnya. Tetapi dia kabur bukan hanya karena melihat Golok setan terlempar keluar dengan satu tendangan barusan.


Sebab dia sudah tidak mampu lagi menghadapi pedang terbang yang terus mencecarnya. Tubuhnya sudah bermandikan darah, meskipun dia masih dapat berdiri. Akhirnya dia menggunakan salah satu anak buahnya sebagai tumbal agar bisa meloncat ke luar jendela untuk melarikan diri.


"Kelabang hitam sialan," Pedang setan meruntuk kesal melihat Feng Lei kabur ketakutan.


Bersama empat anak buahnya, Pedang setan lalu mulai bergerak. Setiap anak buahnya itu memegang sepasang rantai yang diujungnya berupa semacam cakar dari baja.


Empat anak buahnya itu memiliki sebutan Empat Bayangan setan. Dengan kehilangan Golok setan dan Feng Lei dia tetap tidak mundur, sebab kekuatan keempat anak buahnya itu sudah sampai pada puncak tingkat shakti.


"Lodra sudah cukup biarkan saja mereka pergi, cepat kembali!"


Melihat Pedang setan mendekat bersama empat anak buahnya, maka Suro memanggil penguasa Pedang Kristal Dewa. Lodra sebenarnya hendak mengejar Kelabang Hitam.


Pertarungan didalam lantai tiga dari Pavillum Angin Utara, membuat Lodra tidak bisa mengerahkan api hitam. Melihat mereka berlompatan keluar jendela adalah kesempatan baginya menghabisi semuanya dengan api hitam miliknya.


Lodra meruntuk niatnya dihalang-halangi oleh Suro.


'Ah, mengganggu saja, aku hendak membakar tubuh mereka bocah,' Lodra begitu marah dan terus merutuk.


Meskipun begitu dia akhirnya menuruti perintah Suro kembali ke arah tuannya.


Pedang setan masih penasaran dengan kekuatan pemuda didepannya. Walaupun tidak habis pikir bagaimana Golok setan dapat dihajar dengan begitu mudah.


Dia juga mengetahui jika kemampuan yang diperlihatkan lawannya sesuatu yang cukup mengagumkan. Namun lelaki itu justru tertantang untuk mencobanya.


Apalagi dia merasa memiliki kartu as yang akan dapat melumpuhkan musuh sekuat apapun. Senjata andalan yang selalu berhasil membantunya menyelesaikan semua misi pembunuhan yang dia terima.


Apalagi dia merasa, jika kekalahan yang diterima Golok setan adalah karena lelaki itu sedang dalam kondisi mabuk berat. Sebab memang sedari pagi lelaki itu menghabiskan waktu dengan meminum arak kwalitas tinggi sampai beberapa guci.


Mereka berdua tidak menyangka lawan yang akan dihadapi bukan hanya prajurit penjaga kota, tetapi para pendekar tingkat tinggi yang tidak mereka ketahui asal usulnya.


Teriakan Pedang setan mengawali serangan yang dia lakukan "lumpuhkan pemuda itu!"


Bersama perintah yang terdengar barusan, maka senjata rahasia seperti bola-bola sebesar telur ayam dari kelima orang segera melesat ke arah Suro.


"Serangan bola-bola ini, kalian berarti dari kelompok Mawar Merah?" Kali ini Suro bertanya dengan bahasa yang kemungkinan dimengerti oleh musuhnya.


"Kalian padahal sudah aku ampuni, tetapi sepertinya telah mensia-siakan kesempatan yang telah aku berikan!"