SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 222 Sang Hyang Ismaya



"Langkah Maya!" Sekejab setelah Suro mengerahkan jurus yang berasal dari Geho sama, mereka bertiga tiba di sebuah lembah dimana tempat itu dikelilingi delapan pegunungan. Gunung-gunung yang menjulang tinggi dari segala arah itu seakan kelopak bunga teratai yang sedang mekar.


"Kita sudah sampai, sesuai yang perlihatkan dalam pikiranku oleh Sang Hyang Batara Narada tempat ini begitu indah. Pantas saja negeri ini disebut tempat kedamaian."


Dewa Rencong justru terlihat kebingungan, begitu juga Geho sama. Mereka berdua seperti sedang mencari-cari sesuatu yang diceritakan Suro. Sebab mereka tidak melihat apapun kecuali Padang rumput yang sangat luas.


"Apa yang kau katakan bocah? Aku tidak melihat apapun didepan mataku kecuali Padang rumput? Apa dirimu sedang tidak bermimpi bocah?"


"Apa yang paman katakan? Bagaimana tidak melihat pemandangan negeri seindah ini? Bahkan karena begitu megahnya sudah dapat dilihat dari jarak sejauh ini!" Suro menatap ke arah didepannya dengan begitu takjub. Tetapi entah mengapa dia merasa pernah melihat negeri ini. Namun dia lupa kapan dia pernah melihatnya. Dia cukup lama mengingat.


Karena salah satu sebab mengapa dia segera ingat dengan pengelihatan yang diperlihatkan Sang Hyang Batara Narada, karena dia merasa pernah melihat sebelumnya. Sebelum dia mampu mengingat suara Dewa Rencong mengganggu konsentrasinya yang sedang mencoba mengingat-ingat negeri yang sama persis seperti negeri yang membentang luas di depannya.


"Sepertinya ada yang salah dikepalamu bocah setelah bangun dari mati surimu?" Dewa Rencong agak kesal melihat Suro seperti mempermainkan dirinya.


Suro menggaruk-garuk kepala mendengar Dewa Rencong yang menyebut tidak melihat apapun didepan matanya, kecuali Padang rumput.


"Benar tuan Suro apa yang di katakan pamanmu ini. Sebab diriku juga tidak melihat apapun kecuali bebatuan yang memenuhi lembah gersang ini."


"Sebentar, paman mengatakan jika didepan kita adalah rerumputan dan menurut Geho sama di depan adalah penuh dengan bebatuan yang terlihat begitu gersang. Apa itu tidak terasa aneh?"


"Benar tuan Suro menurut apa yang aku lihat justru aku tidak melihat apapun kecuali bebatuan sepanjang mata memandang terbentang hingga pegunungan yang mengelilingi lembah ini."


Dewa Rencong mendengar ucapan Geho sama justru bertambah kebingungan. Dia mencoba meraba apa yang sedang terjadi, sebab itu terasa begitu ganjil. Dia segera menyadari apa yang dikatakan Suro. Karena kemungkinan justru dia yang benar dan apa yang dia lihat adalah sesuatu yang sesuai dengan kenyataan. Agaknya mereka sedang menghadapi suatu bentuk benteng ilusi yang kuat.


'Tempat ini tidak membiarkan sembarang orang dapat menemukannya. Seseorang yang mampu menyaksikannya harus memiliki kesucian para arhat. Minimal kondisinya sudah seperti diriku. Pantas saja Geho sama tidak pernah dapat menemukan tempat ini. Karena tempat ini dilindungi sebuah ilusi yang kuat, sehingga tidak sembarangan orang dapat memasukinya. Mungkin saja seperti itu mengapa setiap orang belum tentu dapat memasuki negeri kedamaian ini?' Suro merasakan ada sebentuk ilusi yang membuat Dewa Rencong dan Geho sama tidak mampu melihat Negeri Shang ri la atau Shambala.


Suro merasa mampu melihat negeri Shambala karena telah melewati jalan arhat, membuatnya mampu menyaksikan negeri yang begitu indah. Bangunan yang memiliki banyak menara tinggi dan berukir. Semuanya dilapisi dengan emas murni. Itu bisa dia ketahui dengan kilaunya saat tertimpa sinar matahari.


Kondisi penglihatan Dewa Rencong dan juga Gagak setan yang memiliki pandangan yang berbeda, kemungkinan berkaitan dengan tingkat kebersihan jiwanya. Sehingga penglihatan yang mereka tangkap terkesan saling berseberangan.


"Kamu yakin tempat ini yang kita tuju bocah?" Dewa Rencong menatap kembali ke arah Suro. Dia yang melihat tempat itu berupa padang rumput hijau, sebenarnya dia juga bimbang dengan apa yang dia lihat.


Sebab tempat yang mereka datangi pertama kali setelah keluar dari alam kegelapan adalah berupa padang rumput. Kemudian setelah setengah purnama telah berubah menjadi padang salju. Kemungkinan karena sudah memasuki musim dingin.


"Aku cukup yakin mengenai hal itu paman. Seperti yang aku katakan tadi, apa yang aku lihat sama persis dengan apa yang diperlihatkan Sang Hyang Batara Narada kepadaku saat berada di alam bawah sadarku."


"Sebaiknya kita melangkah masuk saja dan mengikuti instruksi sesuai pengelihatanku saja paman."


Mereka kemudian berjalan mengikuti ucapan Suro. Kali ini mereka tidak terbang, tetapi hanya berjalan kaki. Sepanjang perjalanan itu Suro terus bercerita segala keindahan negeri yang sedang dia lewati itu, kepada Dewa Rencong dan Geho sama. Tentu saja mereka berdua terlihat seperti orang bodoh yang tidak mampu melihat pemandangan indah di sepanjang jalan yang mereka lewati.


Geho sama dan juga Dewa Rencong hanya mengangguk-anggukan kepala meski tidak memahami apa yang dikatakan Suro kepada mereka berdua. Terdengar sepanjang jalan Dewa Rencong menggerutu mendengar pemandangan indah yang diceritakan Suro. Dia masih tidak memahami bagaimana dia yang sudah ditingkat langit dan memiliki tingkat kekuatan jiwa yang cukup tinggi kalah dengan Suro.


Sampai di sebuah tepi sebuah jurang dalam Suro akhirnya berhenti. Itu jika menurut apa yang dilihat Dewa Rencong. Jika menurut apa yang dilihat Geho sama, Suro berhenti didepan sebuah bongkahan batu besar sebesar bukit. Tetapi jika Suro yang melihat, dia sedang berada didepan sebuah pintu gerbang komplek percandian yang sangat luas.


"Baiklah kita masuk ke dalam, karena disinilah tujuan kita. Sebenarnya dia adalah guru dari eyang Sindurogo yang memiliki nama Sang Hyang Ismaya. Ada beberapa alasan yang membuat dia berada disini selain dialah pemilik Mandala Kalacakra."


"Apa kau yakin bocah? Karena aku melihat di depan kita hanyalah jurang dalam yang menganga sangat dalam?" Dewa Rencong mencoba melihat dasar jurang yang begitu dalam. Tetapi dia tidak melihat ujungnya karena begitu gelap.


Geho sama juga kebingungan karena batu besar yang berada dihadapan mereka tidak ada celah sedikitpun, apalagi sebuah pintu. Sehingga terasa sangat tidak masuk akal jika dia disuruh menabrak batu besar itu. Tentu saja dia dibuat kebingungan dengan ucapan Suro.


"Aku yakin dengan apa yang aku lihat. Sebaiknya paman maupun Geho sama meyakinkan diri untuk mempercayai apa yang aku lihat." Suro menatap ke arah Dewa Rencong dan Geho sama yang tetap terdiam ditempatnya berdiri.


"Aku juga tidak mengira apa yang membuat diriku, paman dan Geho sama berbeda? Pagar gaib yang menutupi alam ini memiliki tingkat kekuatan teramat tinggi. Sehingga tempat ini tidak akan dilihat meski sudah berada didalam negeri Shang ri la."


"Coba paman dan Geho sama bersamadhi hingga mencapai nirvikalpa samadhi. Jika apa yang aku lihat ini adalah kebenaran yang sebenarnya, tentu apa yang paman dan Gagak setan lihat akan sama dengan apa yang aku lihat sekarang."


Mereka kemudian mengikuti masukan yang dijelaskan Suro. Segera mereka melakukan meditasi didepan gerbang candi itu.


Setelah cukup lama mereka bersamadhi akhirnya mata Dewa Rencong dapat melihat seperti apa yang dilihat Suro. Begitu juga Geho sama dia segera takjub menyaksikan apa yang tadi sempat diceritakan Suro semua terlihat bergemerlapan.


Orang-orang yang berlalu lalang disekitar mereka kebanyakan kepalanya botak. Mereka segera melihat gerbang besar didepan mereka, seperti apa yang telah diceritakan Suro sebelumnya.


Kali ini mereka berdua tanpa ragu mengikuti langkah kaki Suro. Hampir setiap manusia yang mendiami negeri itu memiliki wajah yang bercahaya. Walaupun beberapa dari mereka tidak sampai pada taraf yang menyilaukan mata. Setiap wajah mereka terlihat penuh kebahagiaan dan kedamaian, tidak ada sedikitpun di wajah mereka ada guratan kesedihan.


Setiap orang yang berlalu lalang terbang melewati mereka selalu tersenyum. Kota itu begitu indah dan bersih. Mereka terus memasuki komplek sebuah percandian yang sangat besar. Jalan yang mereka lewati menanjak semakin tinggi.


Setiap langkah kaki mereka terasa semakin ringan sebab suara orang-orang yang sedang membaca sutra mengema memenuhi jalan yang mereka lewati.


Setelah cukup lama mereka berjalan akhirnya sampai di puncak tertinggi dari tempat itu. Kemudian Suro menghentikan langkahnya.


"Sembah pangabekti murid kepada Mahaguru Sang Hyang Ismaya." Suro segera menekuk kakinya dan menundukkan kepala kepada seseorang resi yang diam dalam samadhinya. Wajahnya yang begitu bersinar, membuat Gagak setan dan juga Dewa Rencong tidak mampu menatap wajahnya.


Demi menghindari pancaran cahaya yang begitu menyilaukan mereka kemudian mengikuti gerakan Suro yang masih tetap menundukkan kepala menyentuh lantai.


Walaupun mereka sebenarnya tidak mengerti siapa yang berada didepan Suro, tetapi Suro sempat menyebut nama. Dewa Rencong segera mengenali jika dugaannya tidak salah, sosok itu kemungkinan besar adalah guru besar dari eyang Sindurogo.


Tidak ada jawaban apapun dari sesosok yang wajahnya tidak sanggup dilihat oleh Dewa Rencong maupun Gagak setan. Semua sunyi seakan waktu berhenti, hanya suara sutra yang dibaca menggema memenuhi udara membuat mereka menyadari jika mereka masih menundukkan kepala.


"Mbregegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel sak dulito, langgeng!" Sosok yang ada didepan Suro kemudian mengucapkan sesuatu yang tidak dipahami.


Walaupun sekilas kalimat itu tidak memiliki makna sebenarnya adalah sebuah wejangan. Secara harfiah memiliki arti diam, bergerak, makan walaupun sedikit, abadi. Secara makna ingin mengajarkan, bahwa dari pada berdiam diri, lebih baik bergerak bekerja untuk mencari makan. Meskipun nanti yang akan didapat hanya sak ndulito atau sedikit, karena itu akan terasa langgeng jika digunakan untuk bekal menuju hidup dikeabadian.


Sang Hyang Ismaya memiliki nama Semar atau samar yang bersinar. Tokoh Semar menurut sejarah pertama kali dimunculkan dalam karya sastra Jawa, pada masa kerajaan kediri, yaitu oleh seorang pujangga Jawa yang bernama Mpu Panuluh.


"Angger sudah datang. Hari ini adalah hari yang sudah aku tunggu sejak lama. Ini pertanda Narada sudah berhasil membimbing dirimu, ngger?"


"Nuwun inggih." Suro masih menundukkan kepalanya.


"Bangunlah kalian!" Suara yang terdengar kemungkinan adalah seorang kakek-kakek. Tetapi karena dari wajahnya memancarkan cahaya begitu menyilaukan, membuat Dewa Rencong maupun Geho sama hanya mampu mengira-ira saja.


"Aku tahu kedatanganmu berhubungan dengan muridku Sindurogo dan juga berhubungan dengan Mandala Kalacakra yang menjadi kalungku ini." Sang Hyang Ismaya kemudian menyerahkan kepada Suro. Kalung itu memiliki bandul berbentuk bulat.


Jika dilihat gambar yang ada dibandul itu memperlihatkan gambaran sebuah bentuk yang mirip sebuah bangunan yang ada di Yawadwipa. Sebuah bangunan luar biasa besar yang memiliki nama Dasabhumi Samabara Budara yang artinya bukit sepuluh tingkatan kerohanian. Tetapi pada kemudian hari lebih dikenal dengan nama Borobudur.


"Aku hanya memberi pesan kepadamu ngger. Jika dalam hidup mengikuti alur waktu adalah sebuah takdir. Ada kalanya takdir ada yang tidak bisa dirubah dan apa yang sudah ditakdirkan adalah garis hidup atau jalan hidup yang harus dijalani. Berdamailah dengan takdirmu agar mampu menerima garis hidupmu."


"Mengenai dirimu angger Salya(nama asli dari Dewa Rencong) dan juga kepadamu Gagak setan jika benar dirimu ingin berubah dan tidak lagi hidup penuh dengan dur anggkoro, aku akan membimbingku untuk mencapai kasampurnaning urip atau kesempurnaan hidup sebagai makhluk ciptaan Sang Hyang Maha Kuasa."


"Akan aku jabarkan ngelmu sedulur papat yang sempurna kepada kalian semua. Sedulur papat adalah bentuk raga sejati yang bersatu dengan Sukmo sejati. Setiap raga sejati mewakili catur mahabhuta dan mampu mengerahkan ngelmu Saifi Bayu, Saifi Geni, Saifi Banyu, Saifi bumi. Semua itu adalah puncak kekuatan sedulur papatmu."


Sang Hyang Ismaya lalu wedar kaweruh kepada mereka bertiga panjang lebar dan setelah itu dia mulai melatih Dewa Rencong dan Geho sama agar sifatnya yang awalnya adalah siluman dapat dilebur.


Setelah melewati waktu beberapa hari semua arahan dan wedar ngelmu kepada mereka selesai.


"Aku ingat sekarang!"


"Mohon maaf Sang Hyang Ismaya, saat hamba berada dipuncak gunung Chandramuka(Merbabu), hamba menemukan sebuah gerbang gaib yang memperlihatkan negeri ini. Apakah yang aku lihat itu memang benar?"


"Apa yang kamu lihat itu memang benar ngger, mari aku antar kalian untuk kembali ke Yawadwipa untuk menyelamatkan marchapada ini dari serangan Dewa Kegelapan."