SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 398 Siapa Gerangan?



Menjelang malam, kota Shanxi tenggelam dalam kesunyian. Berita tentang serangan pasukan misterius telah tersebar, entah siapa yang telah menyebarkannya.


Para penduduk telah mengunci pintu mereka masing-masing sejak matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Para prajurit juga telah mengunci gerbang kota dan mulai melakukan penjagaan lebih ketat.


Sesuai dengan saran Subutai, maka malam itu kota Shanxi sedang melakukan mempersiapkan pertahanan terkuat mereka disetiap penjuru kota. Karena menurut prediksi ucapan Subutai, pasukan Elang Langit datang dengan kekuatan yang lebih banyak.


Pada serangan kali ini musuh bukan hendak menculik bayi, tetapi ingin membalaskan dendam mereka terhadap para pendekar yang telah berhasil menghabisi pasukan Elang Langit dimalam sebelumnya.


"Mengapa belum muncul juga pasukan Elang Langit yang kau katakan itu?" Dewa Rencong menatap Subutai yang bersandar pada kursi sambil meminum arak.


Lelaki itu terlihat santai dan tidak nampak ketegangan pada wajahnya seperti yang lain. Seperti perjanjiannya dengan Suro, Subutai memang tidak berniat ikut bertarung dengan pasukan Elang Langit.


"Tunggu saja, mereka pasti akan datang malam ini."


Bagaimana kau yakin, jika mereka akan datang malam ini?"


"Seumur hidupku aku bekerja sebagai mata-mata, tentu aku memiliki perhitungan sendiri yang tidak akan meleset perhitunganku ini." Subutai tetap duduk dengan tanpa beban diatas balkon kediaman Yang Taizu seperti sebagian yang lain.


"Tcih, tidak meleset...sok pintar anak kemarin sore sudah berani berlagak di hadapanku. Padahal antara jidat dan dengkulmu tidak ada bedanya." Dewa Rencong mengedumel mendengar ucapan Subutai.


"Aku selalu menggunakan kepintaranku ini untuk berbicara." Subutai berbicara sambil mengetuk-ketuk satu jari telunjuknya pada keningnya.


"Jadi aku bukanlah manusia semacam dirimu, yang hanya berbicara dengan mengandalkan urat leher dan lidah tanpa menggunakan isi kepala," lanjut Subutai dengan tertawa kecil lalu kembali menengak arak langsung dari botolnya.


"Cara ini lebih mudah untuk memancing Karuru datang ke kota ini, dibandingkan kalian menyerang tempat mereka berkumpul langsung. Aku adalah ahli strategi perang. Cukup percayakan saja rencanaku ini pasti berhasil." Subutai memandang Dewa Rencong yang mulai menggerutu panjang.


Pertengkaran adu mulut dua orang pendekar itu berlangsung tanpa suara keras, karena memang mereka sedang mengintai. Tetapi hal itu tidak menghalangi Dewa Rencong untuk mulai memelototi Subutai.


Tetapi Subutai justru semakin tertawa lebar melihat Dewa Rencong bertambah murka.


Kali ini mereka tidak berpencar dan berkumpul di satu titik, yaitu di atas rumah walikota Shanxi. Eyang Sindurogo terlihat berbincang-bincang bersama tetua Dewi Anggini dan juga walikota Yang Taizu dan juga Yang Xiaoma.


Kesempatan bagi Mahadewi saat melihat gurunya sedang sibuk berbincang-bincang dengan yang lain. Dia hendak memastikan sesuatu hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi siang.


"Kakang, aku mendengar dari Yang Xiaoma, jika anak dari paman Zhou dulunya sebelum dirasuki arwah jahat adalah gadis tercantik di Shanxi ini."


Suro mulai kasak-kusuk mendengar ucapan Mahadewi, dia segera menggaruk-garuk pipinya. Dia sudah memahami maksud pertanyaan itu. Karena itu dia segera berpikir cepat, agar dapat meredam kecurigaan dara didepannya.


"Apakah itu memang benar kakang?"


"Yang Xiaoma terlalu membesar- besarkan. Apa yang dia ucapkan tidak benar. Di kota Shanxi saat ini ada yang lebih cantik," ucap Suro dengan pura-pura tidak melihat reaksi Mahadewi yang menjadi berubah roman mukanya menjadi penasaran dengan jawabannya barusan.


Mahadewi mencoba membaca raut muka pemuda didepannya, tetapi wanita muda itu justru semakin bertambah penasaran. Sebab tidak menemukan jawaban apapun.


Dia lalu menunggu kelanjutan ucapan Suro. Tetapi pemuda itu justru diam tidak meneruskan ucapannya. Dia pura-pura sibuk mengamati kepenjuru lain dimana cahaya rembulan telah mulai menyinari kota Shanxi.


"Maksud kakang siapa wanita yang lebih cantik dibandingkan dengan putri paman Zhou?"


Mendengar pertanyaan Mahadewi yang begitu penasaran, sebuah senyuman terlihat di sudut bibir Suro.


'Kepancing juga, hehehe...,' Suro menatap ke arah Mahadewi sebelum menjawab pertanyaan dara didepannya.


"Tentu saja itu adalah seseorang yang bernama Mahadewi," Suro berbicara dengan suara agak dipelankan.


"Ah...kakang bisa saja, Mahadewi jadi tersanjung." Raut muka Mahadewi yang hendak marah langsung berubah bersemu merah. Dia langsung terlihat tersipu malu mendengar jawaban dari Suro barusan.


Belum sempat Mahadewi melanjutkan ucapannya Suro telah merasakan kedatangan musuh.


"Mereka telah datang," Suro memberitahukan kedatangan musuh kepada yang lain, sambil mencabut Pedang Kristal Dewa.


"Disebelah mana bocah?" Dewa Rencong mencoba mendeteksi keberadaan musuh seperti yang ditunjukkan oleh Suro, tetapi pendekar itu gagal menemukannya.


"Disebelah timur, dan juga disebelah utara paman Maung." Suro berbicara sambil menunjuk kedua arah.


"Sudah aku katakan, ucapanku sudah aku pikirkan dengan matang tidak seperti dirimu yang keluar bersama kentutmu," Subutai segera berjalan masuk ke dalam kediaman Yang Taizu, sebelum Dewa Rencong kembali memaki dirinya.


Subutai langsung sembunyi, sebab pasukan Elang Langit pasti telah mengira dirinya mati. Oleh karena itu dia akan menjaga kondisi itu tetap seperti itu, jika dirinya dianggap telah mati.


Setelah Suro memberitahukan kedatangan musuh semua orang segera bersiap untuk menghadapi lawan. Seperti ucapan Subutai, jika pasukan Elang Langit yang datang kali ini lebih banyak dari pada sebelumnya.


"Mereka bukan hanya terbagi dari dua arah yang berbeda, sepertinya mereka hendak mengepung kita dari berbagai sisi. Kita lihat siapa sebenarnya yang sedang dikepung dan tidak mampu melarikan diri." Dewa Rencong berbicara sambil menoleh ke arah Eyang Sindurogo yang masih berdiri dengan tenang disamping tetua Dewi Anggini.


Sesuai dengan rencana awal yang mereka telah rundingkan saat makan di Pavillum Angin Utara , kali ini mereka sengaja tidak mengejar mereka tetapi justru menunggu, hingga semuanya berkumpul.


Bahkan penjaga kota dilarang menghentikan langkah pasukan Elang Langit yang datang seperti demit. Sebab mereka hanya akan mati sia-sia, jika berhadapan dengan pasukan Langit yang telah berilmu tinggi.


Apalagi sesuai dugaan Subutai, kali ini pasukan yang datang kebanyakan sudah berada ditingkat shakti. Dengan tingkat kekuatan seperti itu, tentu para prajurit penjaga kota tak akan mampu menandinginya.


Ditambah jurus Lipat Bumi milik pasukan musuh, tentu sesuatu hal yang tidak akan sanggup dihadapi penjaga kota. Setelah kemunculan musuh disebelah utara dan timur, sesuai ucapan Dewa Rencong, selang tidak beberapa lama kemudian dari arah selatan dan barat juga mulai terlihat berdatangan.


Tujuan mereka tetap bertahan didalam kota, adalah hendak menunggu sesosok pemimpin Pasukan Elang Langit. Sebab menurut perkiraan Subutai, setelah mendengar laporan salah satu pasukannya yang selamat mereka pasti akan menyerang balik.


Berita baiknya dari serangan itu, adalah kemungkinan mereka akan datang bersama pimpinannya yang memiliki hubungan dengan Batara Karang dan juga pusaka kunci langit.


Eyang Sindurogo segera memerintahkan Yang Taizu dan anaknya untuk bersembunyi.


Dia membuat keputusan itu, sebab akan sangat berbahaya jika mereka tetap berada di tengah pertempuran dengan musuh yang memiliki ilmu lipat bumi dan juga berkekuatan besar. Seperti yang telah mereka lalui pada pertempuran malam sebelumnya.


Eyang Sinurogo sengaja memancarkan kekuatannya untuk memancing musuh untuk menghampiri mereka.


Jendral Zhou tidak terlihat bersama mereka, sebab lelaki itu sedang mengatur para prajurit yang menjadi bawahannya dan memastikan mereka tidak menyerang musuh yang datang. Sesuai rencana mereka akan menjadi pagar betis terakhir, jika musuh hendak kabur.


Dengan kata lain musuh dipancing untuk masuk ke dalam kota, tetapi tidak satupun dari mereka dibiarkan lolos melarikan diri, walau kemungkinan mereka tidak akan mampu menghentikan musuh jika sudah menggunakan jurus lipat bumi.


Intinya peran mereka kali ini sebagai pengecoh saja jika musuh hendak bergerak mundur. Lawan yang menghadapi pasukan Elang Langit diserahkan kepada Suro dan beberapa pendekar yang bersamanya.


Dengan pancaran kekuatan tingkat langit dan hawa pembunuh yang dikerahkan oleh Eyang Sindurogo, memang terbukti manjur untuk memancing musuh segera bergerak ke arah para pendekar langsung.


Tidak beberapa lama kemudian desingan angin segera menerjang ke arah mereka. Itu adalah salah satu tanda mulainya hujan serangan dari pasukan Elang Langit.


Desingan angin itu adalah angin yang terbelah oleh benda yang meluncur dengan kecepatan yang tinggi. Salah satunya adalah pisau-pisau kecil.


Tetapi sebelum pisau-pisau itu mengenai mereka, puluhan pedang terbang telah memapak kedatangannya. Suro tidak membiarkan pisau itu mengenai satu pun dari mereka.


Dahsyatnya serangan lawan langsung berhasil dipatahkan semua setelah Suro mengerahkan jurus pedang terbangnya.


Tetapi itu hanya satu sisi serangan yang berhasil ditahan oleh Suro, sebab serangan dari beberapa sisi yang lain segera menyusul.


"Aku yakin kalian lah yang telah membantai pasukan kami di malam sebelumnya!" Seorang lelaki dengan jubah hitamnya menyerang eyang Sindurogo.


Pancaran kekuatan eyang Sindurogo yang telah sampai pada tingkat surga, membuat dirinya menjadi sasaran utama oleh psukan musuh.


"Kalian pasti anjing-anjing kekaisaran Yang!" Kembali dengan aba-aba lelaki itu serangan senjata rahasia berbagai macam menghajar mereka.


Kekuatan lelaki itu sudah mencapai kekuatan langit, begitu juga beberapa orang yang datang bersamanya.


"Kami tidak memiliki urusan dengan kekaisaran, kami hanya menghalangi kegilaan kalian membantai para bayi yang tidak berdosa." Eyang Sindurogo segera mengerahkan jurus pertama dan kedua dari tehnik ilmu Tapak Dewa Matahari.


Serangan lawan terus menghujani eyang Sindurogo dan yang lainnya. Senjata rahasia yang mereka gunakan berupa belati kecil, jarum dan juga semacam roda yang bergerigi memiliki sisi tajam seperti sebuah bintang.


Dengan ilmu andalannya, eyang Sindurogo dapat mengatasi semua serangan itu dengan sempurna, bahkan dengan sinar yang berseliweran dari ujung jarinya, justru berhasil memberikan serangan balasan.


Dalam pertarungan itu Eyang Sindurogo segera menghabisi lelaki didepannya. Perbedaan kekuatan yang jauh diantara mereka, membuat langkah musuh akhirnya terhenti, setelah jurus tapak Dewa Matahari membabat tubuh lelaki itu.


Dengan mendengarkan penjelasan dari Suro saat pertarungannya yang pertama kali, eyang Sindurogo dapat menghabisi lawan. Sehingga tidak memberikan kesempatan musuh membentuk mudra. Sehingga mereka tidak sempat menghilang dan mengganti tubuhnya dengan sebatang kayu.


"Eyang sepertinya yang diatas awan itu berbeda tingkatannya dengan yang lain," ucap Suro sambil menunjuk ke langit bermendung dihiasi cahaya rembulan.


Setelah gurunya berhasil melibas musuh yang menyerbu dari arah timur, Suro segera mendekati gurunya. Karena dia merasakan sebuah kekuatan besar sedang mengamati pertempuran mereka.


"Angger merasakan juga ternyata. Sebaiknya angger periksa yang diatas awan itu, eyang juga merasakan kekuatan sosok itu berbeda dengan musuh yang ada dihadapan kita.


Serahkan yang ada dibawah kepada eyang," ucap Eyang Sindurogo sambil melesat ke arah selatan, sebab pasukan musuh kembali merangsek.


Sedangkan Dewa Rencong, tetua Dewi Anggini dan juga Mahadewi masih tetap ditempat untuk berjaga.


Sesuai perintah gurunya Suro segera melesat naik ke atas menembus awan.


Disana dia menemukan seseorang yang hampir saja dia kaget, sebab seakan dia berhadapan dengan sesosok Geho sama.


Tetapi dia segera menyadari, jika, aura, kekuatan dan bahasa tubuh sosok tersebut cukup berbeda. Apalagi sosok tersebut segera memancarkan aura pembunuh yang begitu kuat kepada dirinya.