SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Cermin Matahari Kembar



"Tidak akan aku biarkan dirimu melukai Eyang Guru!" teriak Suro yang langsung melesatkan Kapak Pembelah Semesta dengan begitu kuat.


Serangan yang dia kerahkan itu sebenarnya menggunakan teknik pedang terbang. Dimana dia mengendalikan senjatanya persis seperti saat menggunakan pedang.


Sehingga Kapal Pembelah Semesta itu melesat dan bergerak seakan memiliki nyawa. Seperti yang terlihat saat ini bagaimana kapak itu membabat rantai hitam yang tidak bisa dipotong oleh Pedang Kristal Dewa ditangan Eyang Sindurogo dengan sangat cepat.


"Keparat! Kurang ajar rantai dapat dihancurkan oleh kapak yang terbuat dari batu Giok Dewa!" Maki Batara Karang dengan wajah penuh murka.


"Bagaimana dia bisa memiliki kapak milik Sang Hyang Siwa itu?" ucap Batara Karang dengan wajah yang kusut.


Dia telah melihat pertempuran yang terjadi di atas langit, dimana kemenangan berhasil diraih oleh Suro. Bahkan Sagra Denta Sang Jendral Perang Neraka yang dikira dapat mengalahkan Suro justru berhasil dihabisi dengan mudah.


Apalagi kini senjata Pedang Pelahap Sukma yang menakutkan juga telah berpindah di tangan Suro. Keadaan itu membuat Batara Karang semakin tersudut.


"Aku harus bisa mengulur waktu sampai Dewa Kegelapan berhasil menyelesaikan ritualnya," ucap Batara Karang yang segera melesatkan jurus Angin Hitam dengan kekuatan penuh ke arah Suro.


"Matilah kau anak manusia sialan!" teriak keras Batara Karang sambil memukulkan serangan jarak jauhnya.


Duuuuuuuum!


Serangan yang menghantam ke arah langit dimana Suro melesat dengan sangat cepat ternyata dapat dihindari. Justru Suro dengan telak menghantamkan jurus Tendangan Pembelah Langit ke kepala Batara Karang sesaat setelah mengerahkan jurus Langkah Kilat dan muncul di atas sebelah belakang lawannya.


"Kurang ajar! Keparat!" teriak penuh murka Batara Karang yang menghantam puncak Gunung. Kepalanya yang hancur dengan cepat menyatu kembali.


Batara Karang tidak akan mengira jika dia yang sudah begitu kuat justru telah dibuat kerepotan oleh Suro.


"Biarkan aku yang menghadapinya Eyang Guru, sebaiknya guru mencari keberadaan Dewa Kegelapan. Semoga saja kita masih mampu mencegah apa yang tengah dia lakukan," ujar Suro menatap ke arah Eyang Sindurogo dan Maharesi Acaryananda yang selamat setelah dikejar-kejar oleh rantai hitam milik Batara Karang.


"Asuuuu! Kau pikir aku akan membiarkan manusia nista seperti kalian mengganggu ritual Dewa Kegelap!" Belum juga selesai berbicara Batara Karang justru terkena serangan telak dari Suro.


Praaak!


"Diam! Siapa yang memintamu berbicara!" ucap Suro yang langsung mengehentikan langkah yang akan dilakukan oleh Batara Karang hendak menyerang Eyang Sindurogo dan Maharesi Acaryananda.


Kepalan tangannya menghantam dengan telak ke arah mulut Batara Karang dan berhasil menanggalkan puluhan gigi milik lawannya.


"Asuuuu! Kau membuatku ompong!" teriak kesal Batara Karang sambil melakukan sesuatu hal yang menjijikkan.


"Itu belum seberapa, nanti akan aku juga akan membuatmu terkebiri!" ucap Suro sambil tertawa.


Batara Karang mengeram penuh murka melihat gigi yang rontok dan terpencar. Dia lalu melakukan sesuatu hal yang membuat gigi yang terpencar itu seperti ditarik dan masuk kembali ke dalam mulutnya. Setelah itu gigi-gigi itu menancap ditempatnya masing-masing dengan sempurna.


"Kalian memang bukan makhluk yang seharusnya ada di dunia ini!" seringai Suro dengan meledakkan aura kekuatan dan hawa pembunuh yang sedemikian kuat.


Batara Karang yang sebegitu kuatnya setelah berhasil mengembalikan kekuatan sejatinya tetap merasakan kekuatan Suro sebagai hal yang menakutkan.


Pandangan Batara Karang sempat melihat ke arah Eyang Sindurogo dan Maharesi Acaryananda yang sibuk mencari keberadaan Dewa Kegelapan. Namun di puncak Gunung Mahameru yang tidak seberapa lebar itu mereka tidak menemukan adanya tanda-tanda keberadaan Dewa Kegelapan.


Keadaan itu membuat dua pendekar itu semakin tidak mengerti dan kebingungan dengan perkataan Suro yang menyebut Dewa Kegelapan ada di puncak Gunung Mahameru. Hal tersebut membuat Batara Karang tersenyum dan tidak khawatir lagi, karena itu membuktikan dua pendekar itu tidak mengetahui hal Ikhwal ritual yang tengah dilakukan Dewa Kegelapan.


"Cermin Matahari Hitam!" teriak Batara Karang memulai jurus yang tidak pernah diperlihatkan sebelumnya.


Suro tidak mengetahui jurus apa yang tengah dilakukan lawannya itu. Namun apa yang harus dia lakukan adalah memastikan kematian Batara Karang dan melanjutkan ikut mencari keberadaan Dewa Kegelapan yang tidak nampak, meskipun itu hanya aura kekuatannya saja.


Ketika Suro baru saja hendak bertindak, mendadak semburat ledakan hitam menerjang ke arahnya dari arah Batara Karang dengan begitu dahsyat. Tentu saja Suro langsung bergerak cepat menghindari serangan yang datang sambil melesatkan Kapak Pembelah Semesta ke arah lawannya.


"Tidak mungkin!" Mata Suro terbelalak melihat apa yang terjadi selanjutnya.


Sebab dengan mata telanjang dia melihat semburat ledakan itu berubah menjadi ribuan tangan yang berhasil menangkap Kapak Pembelah Semesta miliknya. Tentu saja Suro tidak membiarkan hal itu terjadi.


"Apa yang terjadi? Mengapa aku kehilangan kekuatan untuk mengendalikan Kapak Pembelah Semesta?" tanya Suro dengan penuh keheranan.


Dia sebelum melesatkan Pedang Akar Dewa untuk mengehentikan serangan yang tengah dikerahkan lawan, Suro justru memilih menghantamkan jurus Ledakan Matahari kembar ke arah Batara Karang.


Kembali rasa terkejutnya bertambah menyaksikan serangan yang dia kerahkan barusan seperti tenggelam dalam lautan yang teramat dalam.


Suro tidak banyak berbicara langsung mengerahkan jurus Langkah Kilat untuk menghindari serangan lawannya yang menyerupai tangan raksasa berjumlah semakin bertambah besar dan memanjang dengan cepat.


"Kau pikir dapat lepas dari serangan ku ini!" seringai Batara Karang.


Lalu sesuatu hal yang mengejutkan terjadi dimana dari arah berlawanan sebuah awan hitam mendadak muncul dan menghantam Suro.


Duuuuuuum!


Ledakan keras terdengar begitu mengerikan. Ternyata jurus Ledakan Dua Matahari yang sebelumnya dikerahkan Suro kini justru dikembalikan oleh Batara Karang.


"Hahahaha! Rasakan lah jurus milikmu sendiri!" teriak penuh kegirangan Batara Karang berhasil menghantamkan serangan dengan telak ke arah Suro.


Beruntung tubuh Suro telah dilindungi oleh zirah yang terbuat dari Batu Giok Dewa. Namun tetap saja serangan itu berhasil melemparkan Suro hingga jauh ke kaki Gunung Mahameru.


Pada saat itulah dia melihat pasukan aliran hitam yang wujudnya tidak lagi seperti layaknya manusia dengan tanduk dan wajah mengerikan berhasil mendesak pasukan gabungan beberapa kerajaan dan para pendekar.


Terlihat Dewa Pedang, Geho Sama dan Mahadewi yang sedang berupaya menahan gempuran pasukan yang sebenarnya jumlahnya tidak seberapa banyak. Karena tidak lebih dari setengah kekuatan gabungan yang berada di pihak Dewa Pedang.


Suro menjadi bimbang, sebab dia juga terpikir dengan keselamatan Eyang Sindurogo dan Maharesi Acaryananda yang kini tengah berada di atas puncak Gunung.


Namun keselamatan para pasukan yang berjumlah ribuan itu akhirnya membuat Suro memilih untuk membantu peperangan yang ada di kaki gunung terlebih dahulu.