SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 49 Wedar Kaweruh Ilmu Pedang part 2



Suro yang sebelumnya disebut termasuk penyimpangan dalam tingkat pedang ingin bertanya lebih jelas. Dia cukup bersemangat mendengar penjelasan Dewa Pedang.


Walaupun Suro sudah mampu membuat jurus sendiri sesuai pemikirannya sendiri, bahkan Dewa Pedang sekalipun kagum atas jurus buatannya. Tetapi dia hanyalah anak yang sejatinya masih umur belasan tahun, sehingga masih membutuhkan bimbingan lebih dalam dari ahlinya.


"Mengenai alasan mengapa paman menyebut nakmas salah satu bentuk penyimpangan. Karena memang kondisi nakmas tidak bisa dimasukan dalam satu diantara beberapa tahapan pedang saja."


"Dalam setiap tahap tingkatan ilmu pedang, sebenarnya masih dibagi tiga tingkatan setiap tahapnya. Yaitu tingkat awal, menengah dan tingkat tertinggi."


"Dalam hal kemampuan ketrampilan anak mas bisa dimasukan dalam tahap hati pedang tingkat menengah."


"Selain kemampuan pedang yang menyimpang dari penetapan yang sudah ada. Sebenarnya paman juga sedikit ingin bertanya mengenai kondisi anakmas yang lain. Menurut paman juga bentuk penyimpangan karena keluar dari kondisi normal." Dewa pedang berbicara sambil mengelus-elus janggutnya.


"Bertanya tentang apa paman guru, kalau boleh tau? Selain itu memang menurut paman, ada penyimpangan apa lagi yang diketemukan dalam diri Suro?" Suro menjadi sedikit khawatir takut ada keganjilan lagi dalam dirinya yang disebut penyimpangan itu.


"Bukan penyimpangan sebenarnya tepatnya justru kelebihan nakmas. Pengistilahan paman pada kondisi nakmas sebelumnya tidak tepat. Sepertinya hal itu membuat nakmas tidak nyaman. Mohon maaf paman akan koreksi jika sudah menyebut kondisi nakmas dengan sebutan penyimpangan."


'Sukurlah, Ternyata kondisi diriku bukan penyimpangan.' Suro membatin sambil tersenyum lega.


Dia yang sebelumnya disebut bentuk penyimpangan menjadi bertambah khawatir saat disebutkan ada penyimpangan lain dalam dirinya. Jantungnya sempat dibuat dag dig dug mendengar kata perkata yang diucapkan Dewa pedang yang sedang membaca keadaan dirinya.


Karena menurut pemikirannya yang polos itu kata penyimpangan dalam pemikirannya diartikan sebagai bentuk keganjilan atau kecacatan. Akhirnya dia bisa tertawa lega. Karena penyimpangan yang disebutkan sebelumnya justru dianggab sebagai sebuah kelebihan.


"Tidak mengapa paman kalau penyimpangan itu adalah salah satu bentuk kelebihan yang Suro punya hehehe...!" Suro tertawa sambil mengaruk-garuk kepalanya.


"Ini mengenai tenaga dalam yang nakmas himpun. Pada pertempuran melawan Naga raksasa nakmas mampu menggerahkan kekuatan yang begitu dahsyat. Sesuatu yang seharusnya tak mungkin bisa nakmas kerahkan. Sebab waktu itu, bahkan sekarangpun jika dalam kondisi manusia normal tidak akan sanggup membuat tanah bengkah(rengkah memanjang) sepanjang itu."


"Mengenai hal itu sebenarnya berkaitan dengan ilmu yang Suro miliki, sehingga memungkinkan hal itu terjadi paman. Sedangkan mengenai pengerahan kekuatan yang begitu besar untuk mendukung penggunaan ilmu tersebut, berasal dari berbagai tehnik pengerahan chakra yang Eyang Sindurogo pernah ajarkan."


Seperti diketahui Suro memakai tiga tehnik sekaligus untuk menghimpun chakra. Selain menghimpun kekuatan chakra dalam dirinya melalui tehnik kundalini dia juga menghimpun kekuatan alam dan kekuatan matahari sekaligus dalam satu waktu.


Semua itu berkat tambahan tehnik lain yang diajarkan Eyang Sindurogo yaitu tehnik rahasia empat sage untuk menyerap kekuatan alam. Dan juga kondisi tubuh Suro yang unik sehingga memungkinkan dirinya melalui tehnik tapak Dewa Matahari mampu menyerap kekuatan matahari.


"Seperti yang paman guru sudah ketahui. Kondisi bawaan lahir Suro memiliki begitu banyak unsur alam dalam kanda disaluran kundalini. Kedaan kondisi seseorang yang mana biasa disebut sangat tidak layak belajar ilmu olah kanuragan. Karena dengan kondisi tersebut membuat Suro benar-benar sangat kesulitan menghimpun chakra. Jangan ditanya seberapa susah Suro membuka saluran nadi jalur kundalini untuk pengerahan chakra. Paman pun juga sudah tau seperti apa kondisi tubuhku."


"Tetapi Eyang Sindurogo tidak menjadikan hal itu sebagai halangan untuk membuat Suro bisa belajar dan menguasai ilmu olah kanuragan. Eyang guru justru mengatakan ada bakat yang besar dalam diri Suro. Selain itu Eyang guru memiliki banyak cara untuk membantu menghimpun kekuatan tenaga dalam. Mengingat kemajuan Suro dalam tehnik pengerahan chakra melalui saluran nadi kundalini mengalami kebuntuan."


"Meskipun mengalami kebuntuan tetapi chakra Manipura sudah terbuka. Sehingga memungkinkan Suro minimal mampu untuk menghimpun chakra di pusar."


"Untuk mengatasi kondisi tersebut Suro dilatih Eyang Sindurogo dengan beberapa tehnik. Dengan tehnik itu Suro mampu menghimpun kekuatan tenaga dalam yang besar melalui jalan lain."


"Begitu ternyata, memang pantas guru nakmas disebut pendekar terkuat. Ternyata banyak tehnik rahasia yang dia miliki membuat nakmas memungkinkan untuk menghimpun chakra yang begitu besar. Jika dirimu saja bisa sebegitu kuat, aku tak mampu membayangkan seberapa kuat tenaga dalam yang Eyang Sindurogo miliki?"


"Pantas saja menurut kabar Lembu jahanam mampu dikalahkan hanya dalam satu kali serangan."


"Baiklah nakmas Suro paman jadi nglantur kemana-mana."


"Ada yang terlupa dari awal paman tidak membahas tentang niat pedang. Niat pedang sebenarnya mewakili tingkat kekuatan spiritual yang seseorang miliki."


"Dalam tingkat dasarpun setiap orang sudah memiliki niat pedang. Meskipun dengan kondisi yang hampir tidak terasa karena begitu lemah."


"Lesatan sinar yang berasal dari energi chakra memiliki nama lain yaitu pedang cahaya. Sebuah kemampuan yang hanya dimiliki para ahli pedang tahap langit. Tak banyak yang sudah mencapai tahap itu hanya segelintir orang saja."


"Berarti paman guru juga bisa melakukannya?"


"Tentu saja nakmas! Tetapi bukan seperti yang dilakukan Eyang Sindurogo. Mampu melesatkan sinar chakra yang begitu mengerikan sampai puluhan tombak atau lebih. Sebuah sinar yang mampu mengejar orang seperti punya mata sendiri. Bukan seperti itu yang paman bisa lakukan hanya memunculkan wujud niat pedang menjadi energi pedang yang berupa pancaran sinar."


"Kemampuan seperti Eyang Sindurogo hanya bisa diperoleh dari belajar tehnik tapak Dewa matahari. Sebuah kekuatan sangat istimewa tentunya."


"Apakah sebegitu istimewanya tehnik tapak Dewa matahari menurut paman guru?" Suro bertanya dengan begitu polosnya. Karena seingat dia ilmu itu begitu mudahnya dia pelajari.


Baginya bukan hal yang istimewa menurut pemikirannya yang terlalu polos itu. Karena dia merasa sangat mudah mempelajari tehnik tersebut.


'Bocah ini aku katakan cubluk(bodoh) tapi pemikirannya kadang terlalu jenius. Kalau aku katakan pintar tidak tepat juga. Bagaimana mungkin sebuah pertanyaan sebodoh ini berasal dari seorang yang sepintar dia? Bagaimana tidak hebat, tehnik itu membuat Eyang Sindurogo mampu menghancurkan golongan hitam?'' Batin Dewa pedang sambil menatap Suro tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Dewa pedang hanya bisa mengaruk-garuk dan mengeleng-geleng kepala mendengar perkataan Suro.


Suro masih menatap Dewa pedang menunggu jawaban tanpa rasa berdosa. Setelah menarik nafas panjang Dewa pedang tersenyum kearah wajah yang tak punya rasa bersalah itu.


"Tentu saja nakmas tehnik itu hanya Eyang Sindurogo dan dirimu saja yang memilikinya. Apakah itu tidak istimewa?"


"Benar juga kata paman memang setahu Suro hanya saya dan Eyang. Mohon maaf paman karena sebelumnya Suro pikir setiap orang bisa mempelajarinya. Padahal sangat mudah ilmu itu dipelajari."


Dewa pedang hanya bisa menepuk jidatnya. Ingin rasanya dia berteriak sekeras mungkin dikuping bocah yang ada dihadapannya itu.


'Itu bukan yang mudah dipelajari bodooooh!!!' Teriakan dalam batin Dewa Pedang hanya mengaung dialam pikirannya sendiri.


'Duh jagat Dewabatara apa yang dilakukan Eyang Sindurogo pada anak ini. Seorang bocah yang begitu jenius di didik menjadi terlihat sebegitu bodoh pola pikirnya.' Batin Dewa pedang sambil mengurut-urut dahinya mencoba mengurangi rasa pusing dikepalanya.


Kembali dia menarik nafas yang lebih panjang lagi sebelum membalas perkataan Suro.


"Mungkin bagi nakmas Suro itu hal yang sangat mudah tetapi bagi orang lain sesuatu hal yang mustahil dilakukan. Seperti nakmas yang membuat jurus tebasan sejuta pedang. Bagi nakmas hanya tinggal membalik pola serangan dari kitab Dewa Pedang. Tetapi bagi diriku sendiri bahkan tak pernah berpikir sampai sejauh itu."


Panjang lebar Dewa pedang menjelaskan pemahaman pedang kepada Suro. Tak ada yang lepas setiap kata yang keluar dari perkataan Dewa Pedang kecuali dia ingat semua. Beberapakali Suro meminta Dewa pedang menjelaskan lebih gamblang pada sebagian hal yang terlalu pelik untuk dicerna.


Dengan sabar Dewa pedang menularkan pengetahuannya dengan sejelas mungkin. Suro yang memang haus dengan segala pengetahuan terlihat begitu antusias dengan hal-hal yang baru yang belum sempat dijabarkan oleh Eyang Sindurogo.


"Tak terasa sudah malam nakmas mungkin disambung lain waktu. Tetua Dewi anggini pasti sedang menunggu sedari tadi."


"Benar juga paman, tak terasa sudah malam. Mungkin sebaiknya Suro secepatnya ke kediaman tetua Dewi Anggini. Tetapi sepertinya Suro terpaksa harus pulang terlebih dahulu, karena alat dan obat-obatan belum Suro bawa."


***


Mohon bantuan rekan-rekan reader untuk mem vote novel ini diaplikasi novel toon mengunakan poin rekan semua.


Terimakasih semua yang sudah memberikan vote. Saya sebagai author sangat berterimakasih sekali kepada kalian yang sudah menyumbangkan poinnya untuk novel ini. Sehingga bisa membuat saya lebih terpacu lagi untuk menulis. Untuk yang menuntut saya menulis lebih banyak chapter bisa ikut memulai memberi semangat dengan menyumbangkan vote untuk novel ini di novel toon.


suwun untuk semua