SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 490 Munculnya Gerbang Gaib



Jendral Yuwen Shiji seperti kesetanan, serangan yang menerjang ke arah ketua Yin Hua dipenuhi kemarahan yang memuncak. Dia terus mengejar tanpa memperdulikan keselamatannya.


"Tujuh puluh perangkap rembulan biru!"


Jurus pedang milik Jendral Yuwen Shiji terus mencecar. Serangan kali ini seakan membentuk sebuah sangkar besar yang hendak menutup setiap celah bagi ketua Yin Hua untuk kabur.


Tetapi pemimpin Perguruan Seribu Hantu itu selalu saja berhasil lolos dari rapatnya serangan Jendral Yuwen Shiji. Mulutnya terus merepet kesal, karena seluruh pasukan yang bersama dirinya tidak ada yang membatunya.


Pasukan Seribu Hantu sudah sibuk dengan musuh mereka masing-masing. Mereka sibuk berhadapan dengan pasukan Macan Hitam dan juga para pendekar yang datang bersama Dewa Obat.


Dia membuat peluang dengan kembali memanggil boneka miliknya yang lain. Ketua Yin Hua menjadikan mereka sebagai tumbal untuk melindungi nyawanya.


Kekuatan tiga boneka manusia hidup yang dia panggil hanya setara dengan pendekar tingkat langit. Dengan kekuatan itu tentu tidak mampu menandingi Jendral Yuwen Shiji.


Tetapi cukup bagi Ketua Yin Hua untuk menyelamatkan diri. Ketua Yin Hua segera menggunakan kesempatan selama musuhnya sedang bertarung dengan pasukan miliknya. Dia segera melesat mundur menjauh dari amukan Jendral Yuwen Shiji.


Setelah menghabisi boneka hidup milik ketua Yin Hua, Jendral Yuwen Huaji tidak lagi mengejar musuhnya. Dia justru mengarahkan pandangan kepada Lu Xiulan.


Dia adalah wanita yang dijadikan pasukan boneka oleh ketua Yin Hua. Beruntung kekuatan wanita itu masih berada ditingkat shakti, sehingga mudah bagi Jendral Yuwen Shiji untuk melumpuhkannya.


Ternyata meskipun kondisinya yang telah dijadikan sebagai boneka, ternyata dia masih bisa ditotok aliran darahnya. Sehingga dia kali ini berhenti menyerang dirinya.


Jendral Yuwen Shiji tidak mengetahui cara agar kesadaran kekasihnya itu dapat dipulihkan. Dia kemudian teringat dengan Dewa Obat.


Tetapi dia segera menyadari, sesuatu yang lebih gawat dibandingkan memikirkan kekasihnya. Kali ini Dewa Obat sedang berhadapan dengan musuh yang memiliki kekuatan dan penampilan sangat berbeda.


Sebelumnya dia tidak menyadari hal itu,karena dia sendiri juga sudah sibuk dengan musuh yang dia hadapi. Dia melihat salah satu musuh yang dihadapi Dewa Obat mirip Geho Sama yang memiliki dua sayap.


Begitu juga jurus yang dikerahkan pasukan yang mengepung Dewa Obat mirip sekali dengan jurus ruang waktu milik Geho Sama atau pendekar Suro. Demi melihat itu dia lalu memilih meminta pasukan Macan Hitam untuk menyelamatkan wanita yang kaku tak bergerak itu terlebih dahulu.


Mereka membawa wanita itu ke tempat aman ke arah selatan yang jauh dari medan pertempuran. Setelah memastikan anak buahnya telah membawa kekasihnya ke tempat yang aman, Jendral Yuwen Shiji lalu bergerak menuju ke atas gerbang.


Kondisi disana tidak kalah menghawatirkan, sebab gerbang itu terus di serang pasukan gabungan yang berusaha menjebol gerbang. Dia sebenarnya hendak membantu Dewa Obat, tetapi jurus ruang waktu milik lawan terlalu rumit dan pasti dia tidak mampu mengatasinya.


Selain itu kondisi Dewa Obat tidak dalam kondisi yang menghawatirkan dia masih mendengar suara tawanya yang keras. Serangan bertubi-tubi yang menghantam tubuhnya bahkan tidak membuatnya terluka.


Dia cukup kagum bagaimana caranya Dewa Obat dapat bertahan dari serangan yang bertubi-tubi. Tetapi serangan astral yang dipanggil berusaha menyerang balik musuh yang mengepung dirinya.


Jendral Yuwen Shiji segera melihat perbedaan jurus ruang waktu yang digunakan lawan Dewa Obat dengan jurus ruang waktu milik Suro.


Dia akhirnya teringat dengan pasukan Elang Langit yang pernah diceritakan Suro dan juga dikabarkan pendekar Dewi Anggini, pendekar Dewa Rencong dan yang lainnya.


'Aku ingat sekarang, mereka pasti pasukan Elang Langit, mengapa Pendekar Suro tidak mampu menemukan keberadaan mereka? Kini mereka justru berada di medan pertempuran. Mungkinkah pendekar Suro dan yang lainnya telah gagal menemukan markas pasukan Elang Langit? Sebab kini mereka justru ada disini dan bergabung dengan pasukan musuh.'


Jendral Yuwen Shiji memilih menjaga gerbang dibandingkan harus berhadapan dengan para pendekar aliran hitam yang ikut menyerang ke atas benteng.


Menjaga gerbang untuk saat ini dia jadikan prioritas utama agar benteng tidak berhasil dijebol musuh. Sebagai panglima sementara pasukan kekaisaran menjadikan di harus memikirkan hal yang lebih besar agar benteng tidak jatuh ditangan musuh.


Apalagi para pendekar yang sebelumnya datang bersama Dewa Obat cukup menolong kekuatan pasukan kekaisaran. Dia menetapkan hatinya untuk mempertahankan benteng dan menyerahkan serangan para pendekar aliran hitam kepada pendekar Feng Lei.


Dia segera mengatur para pasukan pemanah untuk dapat secara terus menerus menghujani musuh dengan anak panah. Berkali-kali dia memerintahkan pasukan Macan Hitam yang berada diatas gerbang untuk menuangkan lumpur panas bercampur minyak ke arah pasukan musuh di depan gerbang utara.


Jendral Yuwen Hua beruntung saat itu Kolonel Xian Hua muncul dan ikut membantu dirinya menjaga gerbang agar tidak sampai di jebol oleh pasukan musuh.


Kolonel Xian Hua berhasil menghabisi tetua dari Perguruan Seribu Hantu. Tetapi dia tidak sendirian menghadapi musuh berwajah cantik itu, semua itu berkat bantuan dari pasukan Macan Hitam.


Serangan itu biasanya hanya digunakan untuk menghabisi musuh yang lebih kuat, yaitu dengan cara mereka menjebak musuh sehingga mereka berada dalam posisi telah terkepung benang tajam yang hampir kasat mata, jika tidak jeli.


Jurus itu bernama "kabut seribu pedang". Seperti juga namanya saat mengerahkan serangan itu dimulai dengan menggunakan peledak yang akan menciptakan kabut pekat. Pada saat itulah mereka secara bersama-sama memasang jeratan benang setajam mata pedang disekitar musuh.


Sebelum musuh menyadari, mereka segera membuat pancingan, sehingga tidak sadar mereka telah terkena jebakan.


Saat tetua Song Ling menyadari semua sudah sangat terlambat. Sebab saat itu juga nyawanya telah melayang. Kondisi tubuhnya yang tidak lagi utuh terkena oleh benang setajam mata pedang


Dengan cara yang sama dia memasang perangkap yang sama agar musuh tidak mampu memasuki pos dimana alat untuk membuka gerbang berada.


"Kau memang luar biasa pintar, dalam kondisi genting ini dapat melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak pernah terpikir untuk melakukannya." Jendral Yuwen Shiji cukup puas dengan apa yang dilakukan Kolonel Xian Hua.


"Benar Jendral Yuwen Shiji, tetapi serangan kali ini kemungkinan akan menjadi penentu hidup mati pasukan kekaisaran di benteng kota He Bei ini." Kolonel Xian Hua kemudian menunjuk ke arah pasukan Khan Langit dan pasukan Goguryeo.


Mereka kali ini menggempur benteng kota He Bei dengan menggunakan seluruh kekuatannya. Tetapi pandangan Jendral Yuwen Shiji justru menangkap sesuatu hal lain yang ganjil dikejauhan.


"Gawat apa itu yang berada di kejauhan?" Mata Jendral Yuwen Shiji sampai menyimpit mencoba memperjelas pandangannya.


Di belakang jauh dari seluruh pasukan gabungan muncul gerbang gaib yang cukup besar. Dari tempat yang cukup tinggi diatas benteng itu Jendral Yuwen Shiji dan Kolonel Xian Hua menyaksikan kejadian ganjil itu.


Setelah itu dia menyadari sesuatu hal yang membuat kepalanya seakan pecah melihat pasukan musuh yang kembali berdatangan dari dalam gerbang gaib.


Sebab pasukan yang datang bukanlah sembarang pasukan, sebab mereka yang memiliki kulit seluruhnya hitam itu bukanlah musuh yang akan mudah dihabisi dan akan membuat perubahan besar dalam peperangan yang belum usai.


**


Buat yang mendukung silahkan mendukung, tetapi jika para reader merasa novel ini tidak pantas dibaca apalagi didukung itu adalah keputusan pribadi anda.


Bagi mereka yang merasa kwalitasnya tidak pantas disandingkan dengan penulis-penulis besar lainnya itu juga penilaian yang menjadi hak anda saya rasa itu tidak bisa dipaksakan memang setiap karakter maupun imajinasi penulis berbeda-beda.


begitu juga dengan cara bernarasi setiap penulis tidak dapat disamakan dengan satu penulis dengan penulis lain. kwalitas narasi satu penulis dengan penulis lain tentu juga tidak sama.


saya juga tidak menyangkal dari segi plot narasi memang tidak sebagus dengan novel-novel lain yang jauh lebih bagus. saya memang jarang berinteraksi dengan pembaca, karena kembali lagi kepada pribadi dan sifat orang tidak sama.


mungkin di novel sebelah banyak yang mengikuti apa yang diinginkan pembaca alur ceritanya harus begini harus begitu. tetapi bagi saya itu hak mereka masing masing antara pembaca dan juga penulis.


tetapi jika itu ditanyakan kepada saya, maka saya akan mengatakan jika kadang kalanya saya mengambil inspirasi dari komentar pembaca, tetapi tentunya tidak setiap komentar pembaca saya ambil karena setiap usulan tentu tidak seta Merta bisa digunakan.


apalagi jika itu justru akan merusak alur yang sudah dibangun. membuat plot alur cerita bagi saya sesuatu yang sulit, apalagi saya harus merevisi ulang sehingga bisa dibuat plot cerita seperti yang diinginkan pembaca.


itu juga yang terjadi dalam cerita ini banyak yang menginginkan berpindah lokasi cerita kembali ke Jawa. tetapi itu tentu tidak semudah seperti yang mereka minta, karena ini sudah dibangun kerangka ceritanya sejak lama dan tidak bisa begitu saja pindah lokasi.


Karena itu bagi yang tetap memilih skip beberapa episode atau bahkan memilih untuk tidak meneruskan membaca novel ini, tentu itu adalah hak pembaca. silahkan anda lakukan seperti apa yang harus apa anda inginkan.


novel ini hanyalah hiburan bagi saya semata dan tujuannya hanyalah untuk hiburan. jika anda merasa tidak terhibur silahkan cari hiburan lain.


Terima kasih teramat banyak bagi yang tetap memberikan dukungan meskipun itu hanya berupa like jempol. Apalagi yang mau membagikan poin maupun koin kepada novel ini. Sekali lagi saya ucapkan terim kasih tidak terukur banyaknya karena itu akan membuat authornya semakin semangat.


bagi yang tidak memberikan dukungan dan hanya memberikan kritikan terima kasih sudah membaca dan meluangkan waktu menganalisa dan menilai novel ini. tetapi terima kasihnya sedikit saja.


semongkooo


jaga kesehatan selamat tahun baru jauhi kerumunan. percayalah covid ini memang benar benar ada. sebaiknya anda semua mewaspadai dengan mengikuti protokoler kesehatan jangan lupa sebelum memegang bagian wajah telah mencuci tangan dan selalu menggunakan masker.