
Jumlah keseluruhan dari pasukan Khan Langit yang berada digaris terdepan lebih dari tiga puluh lima ribu. Ditambah pasukan khususnya yang berada digaris terdepan yang berjumlah hampir seratus orang.
Tetapi kekuatan seratus orang itu setara dengan ribuan prajurit Khan Langit yang masih di tingkat tinggi. Apalagi mereka memiliki kekuatan seakan tanpa batas. Sehingga amukan mereka sejak awal tidak juga berhenti seakan tidak memiliki rasa letih.
Dengan dukungan pasukan khusus Khan Langit, mereka menganggap kekuatan mereka sanggup melibas habis pasukan kekaisaran. Mereka terlalu bersemangat dengan kondisi itu. Walaupun memang benar pasukan kekaisaran telah dibuat kalang kabut hingga memilih mundur begitu jauh.
Tetapi ketika sampai di depan Tebing Besar Yangu, Jendral Yuwen Huaji memberi perintah untuk bertahan.
"Semua pasukan Macan Hitam ditingkat shakti dan seluruh punggawa cepat tahan pasukan musuh! Tahan hingga seluruh pasukan berhasil melewati lorong panjang didepan kita!"
Perintah dari Jendral Yuwen Huaji segera dilaksanakan para punggawa dan juga pasukan Macan Hitam.
Pasukan Macan Hitam langsung melesat bergabung di garis terdepan bersama para punggawa. Diantaranya adalah Jendral Yuwen Huaji sendiri.
Dengan dibantu kekuatan surga yang dimiliki beberapa jendral, kali ini mereka sanggup menahan pasukan musuh, hingga cukup waktu bagi para pasukan kekaisaran untuk melewati lorong Tebing Besar Yangu.
Trang! Trang!
Craaaas....
Braaak!
Pedang besar milik Jendral Yuwen Huaji berhasil menebas pasukan Khan yang memiliki kulit hitam dengan kuat. Serangan dengan kecepatan tinggi itu membuat musuh terlempar jauh.
Tetapi tidak membuat musuhnya tewas. Padahal energi tebasannya saja sanggup memotong tubuh manusia pada jarak yang cukup jauh.
Itulah yang dirasakan prajurit Khan Langit ditingkat tinggi ke bawah. Mereka tidak sempat menghindar atau tidak sanggup menahan kuatnya energi tebasan yang dilancarkan para jendral. Sehingga pasukan Khan Langit yang terjebak atau tidak cukup jauh dari pertarungan itu berakhir tewas tertebas oleh energi pedang yang melesat ke arah mereka.
Serangan tingkat surga dan tingkat langit memiliki daya penghancur yang sangat kuat. Serangan itu mampu menjangkau hingga jarak lebih dari enam tombak.
Jurus pedang milik Jendral Yuwen begitu kuat dan cepat. Tetapi dengan kekuatan tingkat surga itu belum juga mampu menghabisi musuh yang telah diperkuat dengan benih iblis.
"Pantas saja pasukan Macan Hitamku tidak sanggup membunuh kalian! Manusia jenis apa sebenarnya kalian itu?" Mata Jendral Yuwen Huaji menatap lekat ke arah musuhnya.
Setelah terlempar sebegitu jauh, kini lawannya telah kembali ke hadapannya. Bahkan mereka masih memiliki kekuatan untuk tetap berdiri tegak.
Musuh membalas pertanyaan lawannya hanya dengan menyeringai buas sambil menggerung, sebelum kembali menyerang Jendral Yuwen Huaji menggunakan jurus Tombak Sang Talaka.
Setelah sebagian besar pasukan sudah masuk ke dalam jalan itu, maka pasukan yang sebelumnya bertahan di depan Tebing Besar Yangu mulai bergerak mundur dengan cepat.
Kesan yang ditangkap pasukan Khan Langit, musuh telah kalah dan ketakutan, karena memang setelah perintah mundur dari Jendral terdengar, maka pasukan yang tersisa bergerak secepat kilat. Bahkan sebagian ada yang harus lari terpontang-panting.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh pasukan Khan Langit, mereka mengejar bersama seluruh pasukan. Terutama pasukan khusus yang telah memiliki kekuatan tingkat langit.
Sambil menahan serangan musuh yang hendak mengejar pasukannya, Jendral Yuwen Huaji memerintahkan pasukan miliknya untuk memacu kuda secepat mungkin. Seluruh pasukan kekaisaran berusaha secepatnya meninggalkan pasukan musuh, sehingga ada jarak cukup jauh diantara mereka.
Para jendral dan pasukan Macan Hitam menyusul dibelakang menjaga jika ada serangan dari musuh yang mengejar. Di wajah mereka tidak terlihat rasa kekhawatiran melihat musuh dibelakang terus mengejar.
Justru sebuah senyuman terlihat melebar diwajah Jendral Yuwen Huaji. Begitu juga para punggawa yang berada didekatnya.
Mereka melesat beriringan menyusul pasukan mereka yang telah berhasil masuk ke dalam lorong Tebing Besar Yangu. Disampingnya Jendral Tian Bei ikut tersenyum lebar melihat pasukan musuh terus mengejar masuk ke dalam lorong.
Sebelumnya Jendral Tian Bei sudah mendengar rencana yang dibuat Jendral Yuwen Huaji. Karena itulah mengapa dia juga ikut tersenyum lebar, karena mengetahui musuh sudah terpancing mengikuti mereka masuk ke dalam lorong panjang itu.
Duuuum! Duuuum! Duuuuum!
Mendadak terdengar rentetan ledakan terdengar secara berturut-turut cukup lama. Ledakan itu berasal dari bahan peledak yang ditanam disepanjang lorong. Sehingga pasukan Khan Langit yang mengejar melewati lorong tidak sempat menghindar.
Tanpa musuh ketahui sedari awal, sebelum keputusan Jendral Yuwen Huaji memutuskan mundur bersama seluruh pasukannya, sebenarnya dia telah mempersiapkan perangkap itu. Bahan peledak itu juga ditanam disepanjang lorong dengan sangat rapi.
Dia menyusun rencana yang dia buat dengan sedemikian rupa. Sehingga musuh tidak mampu mengendus siasat yang dia rencanakan.
Hal itu terbukti saat Pasukan Khan Langit terus mengejar mereka ikut masuk ke dalam lorong Tebing Besar Yangu. Itu artinya mereka tidak menyadari telah masuk ke dalam perangkap. Sehingga siasat Jendral Yuwen Huaji berjalan dengan mulus dan berhasil menipu musuh.
Sebelumnya Jendral Yuwen Huaji dengan sengaja memberi perintah pasukannya untuk mundur secepat mungkin, bukan karena ketakutan dengan pasukan musuh. Hal itu mereka lakukan agar ada jarak, sehingga tidak ikut terkena imbas ledakan.
Ledakan yang mengguncang itu sangat kuat dan mengejutkan seluruh pasukan Khan Langit yang masuk ke dalam lorong. Ledakan itu dimulai dari ujung depan dan juga dari arah belakang, tepatnya di pintu masuk menuju lorong di dalam Tebing Besar Yangu.
Ledakan itu lalu bergerak dari dua arah berbeda secara serentak menuju ke tengah. Dengan cara seperti itu pasukan Khan Langit tidak dibiarkan ada yang selamat.
Ledakan itu hanyalah awal dari serangan yang sesungguhnya. Sebab hampir bersamaan dari atas tebing berdrum-drum minyak dilempar dan meledak tepat diatas iring-iringan pasukan Khan Langit.
Sekejap itu juga teriakan dan lolongan kesakitan terdengar sepanjang lorong. Bagi mereka yang selamat dari rentetan ledakan, maka lautan api yang memenuhi lorong itu membuat mereka tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan nyawa mereka.
Sangat mustahil mereka dapat selamat, mengingat kobaran api yang membumbung tinggi memenuhi sepanjang lorong besar itu. Ribuan pasukan Khan Langit yang menjadi ujung tombak kalang kabut tidak karuan terjebak dalam lautan api.
Bagi mereka yang masih ditingkat shakti berusaha menggunakan ilmu meringankan tubuh melesat ke atas melewati tebing di kedua sisi lorong itu. Tetapi bagi mereka yang sudah mencapai tingkat langit segera melesat terbang ke atas.
Terutama para pasukan khusus yang telah tertanam benih iblis, mereka serentak berusaha menyelamatkan diri dengan terbang melesat ke atas. Tetapi Jendral Yuwen Huaji telah memperhitungkan hal itu.
Sesungguhnya seluruh pasukan yang dipimpin Jendral Yuwen Huaji lebih dari sembilan puluh ribu. Sebab lima puluh ribu pasukan miliknya dipersiapkan untuk tetap menunggu di Tebing Besar Yangu dan mempersiapkan seluruh jebakan.
Tanpa diketahui musuh para pasukan pemanah dan juga Pasukan elit miliknya, yaitu pasukan inti Macan Hitam telah bersembunyi dipuncak tebing. Merekalah yang sebelumnya melemparkan berdrum-drum minyak dari atas tebing.
Begitu juga tujuan pasukan inti dari Macan Hitam yang ikut bersembunyi diatas tebing, sebab merekalah yang dipersiapkan untuk menghadapi musuh yang berupaya menyelamatkan diri dengan naik ke atas puncak tebing.
Mereka yang berusaha melest terbang ke atas diantaranya adalah pasukan Khan Langit yang telah tertanam benih iblis didalam tubuhnya. Walaupun mereka memiliki ilmu kebal, ternyata mereka tidak kebal dengan panasnya kobaran api. Itu terbukti dengan jerit kesakitan setelah tubuh mereka diselimuti kobaran api.
Pasukan khusus yang tubuhnya diselimuti api dalam kondisi panik melesat terbang hendak menuju puncak tebing. Dengan kepanikan dan rasa sakit yang menyelimuti tubuhmereka yang terbakat, akhirnya dengan mudah diserang pasukan inti Macan Hitam yang memapak mereka dari puncak tebing.
Serangan pasukan Macan Hitam kali ini berhasil membunuh musuhnya. Sebab mereka yang hendak menyelamatkan diri berhasil dihantam dan jatuh kembali ke bawah. Mereka akhirnya kembali tenggelam dalam lautan api yang berkobar sedemikian besar.
Setelah itu serangan susulan berikutnya datang. Serangan itu diawali dengan siulan keras, kemudian secara bersamaan dari dua sisi puncak tebing menggelinding batu-batu besar.
Serangan susulan itu hendak memastikan seluruh pasukan Khan Langit yang berada di bawah tebing benar-benar mati. Meskipun saat itu api yang memenuhi lorong itu masih berkobar membumbung tinggi.