SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 71 PERTARUNGAN TAHAP FINAL PART 10



Sebelum memulai kembali serangannya dia menghimpun tenaga dalam dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Selain menggunakan tenaga dalam melalui tehnik kundalini, Suro juga mengunakan tehnik empat sage. Sekaligus menyerap chakra dari kekuatan matahari .


Setelah melewati tahap kedelapan dalam tehnik tenaga dalam sembilan putaran langit, kemampuan penyerapan kekuatan mataharinya mengalami kemajuan pesat. Begitu derasnya chakra yang masuk dan terhimpun membuat ledakan aura kekuatan disekeliling Suro.


'Edan sebesar apa sebenarnya kekuatan yang dimiliki bocah ini? Aura kekuatan ini bukan milik seseorang yang masih di tingkat kelas atas.'


'Berarti perasaanku tidak salah kondisi bocah ini lain dari pada yang lain. Ada sesuatu kondisi atau tehnik rahasia tertentu yang membuat dia begitu kuat.'


Tetua Tunggak Semi terkejut dengan aura kekuatan yang dihimpun Suro. Segera dia bersiap-siap menerima serangan yang pasti lebih kuat dari serangan awal.


"Jurus kedua Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari!"


Gebrakan jurus ini diawali dengan bilah-bilah pedang dikedua sisi Suro berbaris dan membuka, seperti elang yang sedang mengembangkan kedua sayapnya. Sejurus kemudian pedang-pedang itu meluncur cepat ke arah tetua.


Trang! Trang!


Dengan pemahaman pedang yang dimiliki tetua dia bergerak begitu cepat menangkis semua pedang yang datang. Begitu kuatnya hantaman tetua membuat terjangan bilah pedang Suro terlempar menjauh seperti terhempas badai.


Belum berhenti disitu saja setelah serangan Suro mampu diatasi, dia segera menyasar ke arah Suro.


"Tehnik tebasan pedang angin!"


Berkali-kali dia menebaskan pedangnya. Sabetan bilah pedangnya yang membelah udara melontarkan kekuatan energi pedang yang kuat dan langsung melabrak ke arah Suro.


Suro segera berkelit kekiri dengan berputar sambil menggerakkan kembali bilah pedangnya menyerang ke arah tetua. Tidak berhenti disitu saja. Dia kembali melentingkan tubuhnya kebelakang, menghindari terjangan susulan energi pedang tetua yang menghantam.


Tubuh Suro berjumpalitan kebelakang menghampiri bilah pedang lainnya yang terhampar. Dengan bergerak cepat, bilah-bilah pedang itu dilemparkan sekuat tenaga. Sepuluh bilah pedang yang terlempar segera dengan mudah ditangkis oleh tetua.


Trang! Trang!


Tanpa menunggu lama sekejap kemudian serangan susulan kembali menerjang ke arah tetua. Secara sambung-menyambung serangan Suro terus menghantam tetua tanpa jeda. Kini bukan hanya sepuluh bilah pedang, tetapi sudah dua puluh bilah pedang menyerang tetua.


Dewa Pedang bahkan sampai mengeleng-gelengkan kepala melihat Suro begitu leluasa menguasai bilah pedangnya.


"Apakah ketua yang mengajari tehnik pedang seperti yang dia lakukan?" Wakil ketua Eyang Udan Asrep bertanya ke arah Dewa Pedang.


"Bukan diriku, itu jurus ciptaanya sendiri. Menurut perkataannya jurus ini diciptakan, karena terilhami ilmu pedang milik perguruan cabang yang ada di Balambangan. Dia hanya meminta kepadaku untuk menjabarkan ilmu pedang kepadanya."


"Luar biasa! Dia begitu lihai bisa mengatur pergerakan dua puluh bilah pedang dengan begitu baik."


"Itu belum seberapa tunggu saja sampai dia menggunakan semua bilah pedang yang ada dipinggir lapangan. Dengan melihat bilah pedang yang dihamparkan begitu banyaknya dipinggir lapangan. Agaknya dia akan melaksanakan niat awal yaitu, mengunakan seratus bilah pedang terbang."


"Se..seratus bilah pedang! Sungguh luar biasa. Manusia jenis apa muridmu ini sebenarnya?"


Dewa Pedang tidak segera menjawab dia justru mengelus-elus jenggotnya yang seluruhnya memutih.


Menurut cerita seluruh rambut Dewa Pedang yang memutih adalah akibat dari efek racun yang menyerangnya. Tetapi bukan sembarang racun, karena berasal dari seorang ahli racun yang terkenal.


Ahli racun ini berjuluk Dukun sesat dari Daha. Menurut kabar, keahlian racun yang dia miliki merupakan ilmu yang dulu dimiliki satu dari tiga tetua sesat Perguruan Awan Merah yang panggilannya kini dia sandang.


Beruntung dia ditolong oleh seseorang, yang kemudian hari diketahui merupakan Ketua Perguruan Pedang Dewa. Kini perguruan itu lebih dikenal dengan nama Sekte Pedang Surga.


Dengan tehnik khusus yang bernama sembilan putaran langit dirinya mampu diselamatkan dari racun itu. Karena setelah melatih tenaga dalam itu, secara berangsur-angsur racun yang berbahaya mulai berkurang efeknya. Sebab racun itu justru digunakan untuk membuka salah satu unsur alam yang ada didalam kandanya. Hanya saja karena begitu kuatnya racun yang menyerang, membuat rambutnya menjadi memutih semua.


Hal yang melatar belakangi dia bisa diracun Dukun Sesat dari Daha adalah karena kanda unik yang dia miliki. Unsur kanda yang dia miliki merupakan kondisi seseorang yang memungkinkan dirinya menjadi ahli racun terkuat. Karena kondisi tubuhnya jika dilatih dengan benar akan memiliki toleransi yang tinggi terhadap racun. Unsur yang terdapat didalam kandanya dikenal sebagai unsur air racun.


Unsur kanda yang sangat jarang dimiliki. Sesuatu hal yang sangat istimewa bagi penganut aliran racun. Hal itu juga yang membuat Dukun sesat dari Daha memaksa dirinya mau menjadi muridnya. Tetapi tidak dinyana dia justru menolaknya dan justru bersemboyan lebih baik mati daripada menjadi ahli racun. Tentu saja hal itu dikabulkan dukun yang terkenal kejam itu.


Beruntung dia dapat diselamatkan Ketua Perguruan Pedang Dewa. Dikemudian hari bocah yang diselamatkan itu menjadi murid terbaiknya yang menyandang nama besar seperti yang disandang gurunya, yaitu Dewa Pedang.


"Anak keturunan Dewa mungkin?" Dewa Pedang menjawab secara asal pertanyaan Eyang Udan Asrep, matanya malah begitu asik memperhatikan jalannya pertarungan.


"Apa! Anak keturunan Dewa? Dewa apa?"


"Dewa yang menjalin asmara dengan Dewi khayangan. Tetapi karena tidak mendapatkan restu dari pimpinan Dewa, yaitu Bathara Guru. Maka dengan terpaksa Dewa itu merelakan anaknya harus dibuang ke marcapada. Demi menjaga kesucian khayangan jonggring salaka."


"Benarkah?"


Walaupun dia adalah ketua sekte, tetapi saat memangil Eyang Udan Asrep tetap dengan sebutan kakang. Karena jika melihat umurnya, dia memang terpaut jauh dibandingkan wakilnya. Jika Dewa Pedang masih berumuran kurang dari lima puluh tahun, maka Eyang Udan Asrep dikisaran angka tujuh puluhan tahun.


"Hampir saja aku mempercayainya. Lihat pengerahan kekuatan yang dia lakukan bukan milik seseorang yang tahap kundalininya masih ditingkat atas. Walaupun sudah dibantu dengan tehnik tenaga dalam sembilan putaran langit, tetapi aku rasa tidak akan bisa membantunya mengerahkan kekuatan sampai sebesar ini."


Dewa Pedang mendengar semua perkataan Eyang Udan Asrep, dia tidak segera menjawab. Justru dia sibuk mengketuk-ketukkan jari telunjuknya di bibir. Agaknya dia sedang memikirkan semua perkataan wakilnya itu.


"Benar perkataan Kakang, aku sudah menyadarinya sejak awal dengan keanehan yang dia miliki. Tetapi baru sekarang aku tahu rahasia dibalik kekuatannya yang besar itu. Entah benar atau tidak menurut perkiraanku dia memakai tehnik tenaga dalam yang hanya dimiliki Eyang Sindurogo. Menurut cerita, tehnik itu memungkinkan dirinya menyerap kekuatan alam."


Eyang Udan Asrep mengangguk-angguk mendengar pendapat Dewa Pedang.


"Jurus ketiga Pusaran Pedang Dewa!"


Teriakan Suro dibarengi dengan perubahan gerakan jurus pedangnya yang segera bergerak memutar seperti tornado. Begitu dahsyatnya jurus Suro membuat tetua harus bergerak semakin cepat dari sebelumnya.


Dengan kekuatan yang seperti itu pertahanan tetua tetap tidak mampu ditembus. Sehingga Suro menambahkan kembali bilah pedang yang dia gunakan.


Setelah Suro meraih sepuluh bilah pedangnya, kini genap sudah tiga puluh pedang yang mengelilingi tubuh tetua. Pada kondisi ini akhirnya telah memaksa tetua Tunggak Semi menggunakan tehnik pedang gandanya.


Trang! Trang!


Suara pedang tetua yang beradu terdengar begitu cepat. Dia masih mampu menangkis setiap serangan Suro yang menyasar di setiap sisi tubuhnya. Merasa serangannya kali ini masih belum juga mampu mendobrak pertahanan tetua, membuat Suro kembali menarik sepuluh bilah pedang miliknya.


Genap sudah empat puluh bilah pedang yang dia gunakan. Dengan sebegitu banyaknya bilah pedang yang menyerangnya, tidak ada satu goresan pun ditubuh tetua yang terkena. Kekuatan seorang tetua memang sangat mengagumkan. Pantas saja kehadiran satu tetua cabang setara mewakili lima ratus pendekar tingkat satu.


Pertarungan Suro melawan tetua Tunggak Semi berjalan semakin menjadi. Suro kembali menambah bilah pedang yang dia gunakan. Kini sudah genap lima puluh bilah pedang terbang yang digunakan. Dalam kondisi seperti ini, akhirnya memaksa tetua mengerahkan tahap kekuatan yang lebih kuat. Tehnik itu satu tingkat diatas tahap alam pedang, yaitu tahap bersatu dengan pedang.


Setelah lima puluh bilah pedang yang digunakannya barulah kini tetua Tunggak Semi memahami mengapa Suro menamakan jurusnya, Jaring Seratus Pedang Terbang. Sebab pedang yang menyerang dirinya jika dilihat sepintas seperti sebuah jaring berwujud pedang.


Bedanya jika mengunakan jaring yang sebenarnya, ikan yang ditangkap akan utuh. Maka dengan jurus ini dapat dipastikan ikan yang tertangkap akan menjadi bubur daging.


Dewa pedang begitu terkesima, bahkan sampai seperti tidak mempercayai yang dia saksikan.


"Aku tidak menyangka jika jurus yang dia katakan sebelumnya ternyata sedahsyat ini."


"Benar sekali ketua! Lihatlah betapa dahsyatnya jurus yang dia gunakan, hingga membuat tetua Tunggak Semi harus menggunakan tehnik kekuatan yang berada di tahap bersatu dengan pedang. Bagaimana jadinya jika dia menggunakan seluruh bilah pedangnya?"


Semua terkesima dengan gelar jurus yang diperlihatkan Suro. Rithisak bahkan hampir mau pingsan lagi dengan kekuatan yang diperlihatkan Suro. Bahkan saat Suro mengangkat seluruh arena pertarungan, dia sudah keburu pingsan sebelum Suro menyelesaikan jurusnya. Dia merasa bersyukur jika Suro tidak menguburnya hidup-hidup. Sebab dengan kekuatan yang dia pertunjukan suatu hal yang sangat mudah bagi Suro untuk melakukannya, jika dia mau.


Kini dia baru menyadari seberapa kuat sebenarnya bocah yang selalu dia pelototi sejak babak awal. Seingat Rithisak dia mulai memelototi Suro setelah dirinya dibanting dengan begitu cepat, semudah seperti membanting bantal kapas.


Guru Mahesa tetua dari perguruan cabang yang ada di Balambangan dibuat ternganga melihat kelihaian dan kekokohan jurus yang digunakan Suro.


"Melihat jurus yang digunakan bocah ini, kehebatan jurus tujuh pedang terbang milikku seperti tak ada artinya." Dia begitu terpana membuat badannya secara tak sadar berdiri untuk melihat lebih jelas lagi gelar jurus yang diperlihatkan Suro.


Semua terkesima karena sejak babak pertama Suro hampir tidak memperlihatkan jurus pedangnya. Kini para peserta sadar. Bahwa baik tingkat kekuatan maupun pencapaian ilmu pedang, Suro sudah pada tahap yang jauh melampaui mereka semua.


Para tetua lain pun kini mengakui kekuatan Suro. Bahkan kini mereka mengerti mengapa ketua sekte mereka memaksakan pendapatnya yang terdengar tidak masuk akal itu. Tetapi dengan melihat sendiri kekuatan yang diperlihatkan, membuat mereka semua bisa menerima alasan Dewa Pedang yang ingin menjadikannya tetua sekte.


Dewa Pedang menatap jalannya pertarungan dengan begitu serius.


"Sepertinya aku harus memberi muka kepada tetua Tunggak Semi."


"Memang kenapa ketua?" Wakil ketua Eyang Udan Asrep bertanya penuh selidik.


"Aku rasa seperti perkataan kakang jika kita membiarkan dia memakai seluruh bilah pedangnya. Aku rasa tetua Tunggak Semi dengan terpaksa pasti akan mengerahkan tahap Surga Pedang atau pedang surga."


"Tehnik itu terlalu berbahaya jika diperlihatkan didepan umum. Ini tehnik rahasia sekte kita. Kecuali dalam keadaan yang sangat terpaksa baru digunakan."


"CUKUP!"


Suara Dewa Pedang terdengar begitu jelas keseluruh area, karena dilambari tenaga dalam yang luar biasa.


"Cukup nakmas Suro!"