
"Rencana apa yang akan nakmas lakukan?" Dewa Rencong penasaran dengan Suro yang mengatakan memiliki sebuah ide untuk menghentikan serangan siluman yang sudah tidak terhitung jumlahnya itu.
Suro justru terus menatap awan hitam yang jauh di atas langit.
"Kira-kira jika paman Maung menggunakan kekuatan puncak, apakah paman sanggub melemparkan tubuhku sampai diatas awan hitam dimana para siluman itu terus berdatangan?"
"Bocah gemblung, jadi rencana gila ini yang terpikir dikepalamu?"
Suro hanya meringgis melihat Dewa Rencong begitu kaget mendengar rencananya.
"Memangnya kalau sudah aku lemparkan sebegitu tinggi lalu tubuhmu tidak bakal jatuh kebawah? Lalu apa rencanamu agar bisa selamat setelah nanti kamu jatuh dari tempat setinggi itu?"
Suro yang mendapat pertanyaan itu mulai berpikir mencari jalan keluar agar bisa tetap selamat meski terjatuh dari tempat yang begitu tinggi.
'Bocah, urusan kecil itu serahkan saja padaku. Apakah kau tidak mengingat saat aku memaksamu menyerang musuhmu dan berhasil membakarnya habis?'
'Tentu saja aku ingat karena kecerobohanmu hampir saja aku mati dihantam kekuatan salah satu dari Tujuh Pedang Sesat. Untung waktu itu tubuhku dilindungi Kavacha.'
'Jangan yang itu saja yang kau ingat bocah! Ingatlah bagaimana aku membawamu terbang melesat dengan begitu cepat.'
Mendengar perkataan Lodra barusan membuat Suro tersenyum cerah.
"Masalah bagaimana nanti aku jatuh, agaknya aku punya cara untuk tetap bisa selamat paman."
Dewa Rencong kembali menatap tajam ke arah Suro mencoba membaca raut mukanya. Tetapi Suro terlihat begitu meyakinkan dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Benar itu bukan menjadi masalah besar buatmu bocah? Ini menyangkut nyawamu."
Suro yang ditanya oleh Dewa Pedang hanya mengangguk sambil tersenyum.
'Awas kamu Lodra jika tidak bisa menyelamatkanku saat nanti aku terjun bebas jatuh dari langit! Jangan kira aku tidak bisa menghisap jiwamu!'
'Jangan khawatir bocah, di tubuhmu sekarang sudah menempel zirah perang terkuat. Aku rasa wajahmu yang jelek itu jika bertambah jelek tidak akan ada yang protes.'
'Lodra katakan apakah kamu bisa menjamin keselamatan tuanku?' Kavacha yang sedari tadi mendengar perkataan Lodra yang setengah-setengah membuat dia tidak tahan untuk menyela.
'Tentu saja Sang Hyang pepulun walaupun diriku hanya setingkat pusaka langit tetapi sejak aku diciptakan telah mendapatkan anugerah dari tuanku Wisanggeni. Akulah pedang terbang yang sebenarnya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah sampai diatas awan hitam itu? Apakah nakmas akan mengerahkan ilmu empat sage untuk menghisap seluruh siluman?" Dewa Rencong kembali menatap Suro yang kembali diam terbengong. Sejak dia tersadar Dewa Rencong merasa ada sesuatu yang terjadi pada Suro karena dia sekarang lebih banyak bengong saat diajak bicara.
Dewa Rencong yang masih belum memahami apa yang direncanakan Suro kembali bertanya. Dia hendak memastikan, bahwa rencana yang akan dilakukan Suro akan berhasil atau tidak. Atau setidaknya terasa masuk akal atau tidak.
"Sebagian mungkin akan aku hisap, tetapi tentu akan sangat berbahaya jika aku menghisap seluruh siluman sebanyak itu paman."
Suro lalu memperlihatkan kekuatan Pedang Pembunuh iblis yang sejak tadi tidak lepas dari genggamannya, bahkan saat dia pingsan sekalipun pedang itu tetap menempel ditangan Suro.
"Luar biasa aku tak menyangka pedang yang ada dalam genggamanmu memiliki kemampuan yang sehebat ini. Darimana nakmas mendapatkannya?"
Suro lalu bercerita secara singkat termasuk semua rencana yang akan dia lakukan untuk menghentikan para siluman.
"Baik jika itu rencana yang nakmas Suro inginkan. Paman akan membantunya. Pertama kita akan menembus pasukan musuh terlebih dahulu, agar kita bisa lebih dekat dengan awan itu, sehingga aku bisa melemparkan tubuhmu sampai di atas awan hitam itu."
"Nuwun inggih paman."
"Adinda dan Made Pasek sebaiknya tetap dibelakang barisan pasukan jangan maju. Aku tidak yakin kalian bisa bertahan dari serangan siluman sebanyak itu." Suro menatap ke arah Mahadewi dan Made Pasek yang sejak tadi bersama beberapa punggawa kerajaan Kalingga ikut menjaga dirinya yang sedang diobati, karena bisa saja para siluman menyerang dari arah yang tidak disangka-sangka.
"Tenang nakmas Suro kami akan menjaganya." Senopati Aryo Seno tersenyum ke arah Suro.
Suro mengangguk ke arah punggawa kerajaan Kalingga tersebut. Kemudian dia mulai meregangkan tubihnya yang belum terbiasa memakai pakaian perang yang menutupi sekujur tubuhnya itu.
Pakaian yang begitu megah tentu membuat decak kagum yang melihatnya. Bahkan para punggawa kerajaan Kalingga itu tidak bisa menutupi kekagumannya mereka terus menatap zirah perang Kavacha itu.
"Baik paman kita tembus pasukan ini sekarang juga." Suro menoleh ke arah Dewa Rencong.
"Bocah gemblung, bagaimana bisa aku percaya begitu saja dengan rencana gila ini? Tetapi jika melihat kekuatan pedang itu membuat rencananya terasa sangat masuk akal." Dewa Rencong masih menepuk-nepuk jidatnya masih tidak percaya jika dia menyanggupi permintaan Suro.
Karena jika Suro gagal taruhannya adalah nyawanya akan melayang. Mengingat awan hitam yang menaungi Perguruan Pedang Halilintar berada pada ketinggian lebih dari tiga ratus tombak. Dalam jarak setinggi itu jika ada yang jatuh, tentu tidak akan ada yang mampu selamat, kecuali para bangsa burung yang mampu terbang.
Dia masih menggeleng-gelengkan kepala karena mau menyetujui rencana gila yang akan dilakukan Suro. Kemudian dia langsung melesat menyusul Suro untuk membantunya menghabisi pasukan musuh baik dari bangsa manusia maupun dari bangsa siluman.
Setelah sedikit membantu pasukan kerajaan Kalingga menghabisi para siluman yang terus berdatangan, dia bersama Dewa Rencong melanjutkan melangkah masuk ketengah-tengah pasukan musuh. Karena tujuan mereka berdua masih beberapa puluh tombak ke depan.
Kali ini dia tidak langsung menghabisi para siluman dengan jurus Tapak Dewa Matahari, tetapi dia melenyapkan sebagian siluman itu dengan tehnik empat sage. Siluman itu langsung amblas musnah tak berbekas.
'Teruskan bocah hisap sebanyak mungkin kekuatan para siluman itu. Nanti akan aku tunjukan padamu betapa mengagumkannya racun apiku ini.' Lodra tersenyum lebar karena Suro kembali menghisap siluman yang menyerang mereka.
Serangan yang dilakukan para siluman yang mengenai tubuhnya tidak mempan meski beberapa kali siluman Trenggiling besi yang tubuhnya yang melingkar membentuk bola yang penuh duri tajam berhasil menghantam tubuh Suro beberapa kali. Dia tidak peduli dengan terjangan senjata yang mengenai tubuhnya. Karena wujud zirah perang yang melindungi tubuhnya itu, sebelumnya meski terhantam senjata Medusa yang mendekati pusaka langit sekalipun tidak mampu melukainya.
Semakin menerjang ke depan musuh yang ada dihadapannya semakin susah untuk ditembus. Karena begitu rapatnya barisan musuh yang seakan lautan siluman.
"Adimas Dewa Pedang bantu nakmas Suro menembus pasukan musuh!" Dewa Rencong berteriak keras memanggil Dewa Pedang yang masih sibuk menghadapi para siluman yang terus mengepungnya.
Dewa Rencong yang berada agak jauh dari Suro terlambat menyusul Suro. Dia akhirnya meminta bantuan ke arah Dewa Pedang yang justru jaraknya tidak terlalu jauh dari Suro. Sebenarnya selain memintanya membantu Suro membuka jalan, dia juga mempunyai rencana lain.
Dewa Pedang yang mendengar Dewa Rencong mulai mencari sosok Suro disela-sela serangan siluman yang terus menghujani dirinya.
"Mengagumkan bocah itu, bagaimana secepat ini dia bisa pulih dari serangan mata Medusa." Dewa Pedang telah menemukan sosok Suro yang terlihat bertarung diantara lautan musuhnya. Dia hanya bisa berdecak kagum melihatnya dari kejauhan.
"Tebasan Sejuta Pedang!"
Dengan jurus pedang terkuat itu jalan untuk mendekati Suro langsung tersibak. Walaupun tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan Suro yang berusaha menerobos musuh, tetapi jika mendengar Dewa Rencong memintanya untuk membantu menembus musuh agaknya ada rencana bagus.
Setelah beberapa saat secara hampir bersamaan dengan Dewa Rencong dia telah berada didekat Suro.
"Nakmas Suro memiliki cara untuk menghentikan serangan siluman. Percayalah walaupun rencana ini terdengar sinting tetapi aku merasa akan berhasil." Dewa Rencong berusaha menjelaskan rencana yang dia dengar dari Suro sebelumnya kepada Dewa Pedang.
"Aku tidak terlalu memahami penjelasan kakang Dewa Rencong, tetapi aku akan mendukung rencana apapun itu meskipun terdengar sinting atau gila."
Entah siapa yang mengawal atau dikawal sebab Dewa Rencong dan Dewa Pedang justru berada di belakang Suro yang begitu sibuk menghabisi musuh yang ada dihadapannya.
"Intinya adimas bantu aku melemparkan tubuh nakmas Suro meluncur menembus awan hitam yang berada diatas Perguruan itu!" Dewa Rencong berteriak keras kedekat kuping Dewa Pedang setelah menebas musuh yang ada disebelah kirinya.
"Rencana sinting! Ini rencana orang gila! siapa yang mencentuskan rencana gila ini?"
"Saya Paman guru! Tetapi percayalah rencana ini patut dicoba. Jangan khawatir aku tidak akan mati meski terjatuh dari tempat setinggi itu." Suro yang masih sibuk membuka jalan masih sempat mendengar ucapan Dewa Pedang yang begitu kaget mendengar rencana awalnya.
**
Seorang bocah yang berpakaian perang melebihi pakaian perang para raja-raja sekalipun. Menyibak lautan musuh seakan tidak takut mati dengan pengawalan dua pendekar papan atas. Tentu saja kondisi itu menjadi perhatian musuh, termasuk Medusa yang sempat terkejut melihat Suro kembali menerjang ke gelanggang pertempuran tanpa kurang sedikitpun.
'Kurang ajar dua pendekar itu ada didekatnya! Apa yang direncanakan bocah itu?'
Melihat Dewa Pedang dan Dewa Rencong berdampingan mengawal Suro membuat nyalinya langsung pupus dan memilih membatalkan niatnya untuk mendekatinya. Dia hanya bisa meruntuk karena tidak bisa merebut pusaka Dewa yang sedang dikenakan Suro. Apalagi saat itu dia juga sedang berhadapan dengan tetua Bujang nan Lapuk.
Serangan jarum es yang bertebaran menghantam Medusa membuatnya begitu kerepotan. Para siluman yang mencoba menghabisi tetua Bujang nan Lapuk juga tak mampu bertahan lama.
Sebab pedang api biru maupun putih akan muncul diantara kabut pekat yang menyamarkan tubuhnya. Kemudian tebasan demi tebasannya akan menghabisi siluman yang mencoba menyerangnya.
"Iblis betina ternyata hanya sampai disini riwayatmu!"
"Badai jarum es utara!"
Selesai ucapannya jarum es segera menghujani Medusa dengan begitu dahsyat.