
"Bukankah kau tadi menyuruhku untuk menahan tangan agar tidak membuat korban tidak perlu?" Geho Sama menatap Suro yang sudah ada disampingnya.
Sebab setelah seluruh pendekar bangkit untuk menghadapi pasukan kekaisaran, justru hal itu memancing para jendral untuk memberikan perintah kepada seluruh pasukannya untuk kembali menyerbu. Tentu saja Suro tidak tinggal diam dan langsung ikut menyerang musuh.
Korban jiwa tidak terelakkan akibat pertempuran yang kembali dimulai. Terlihat jelas jika jumlah tidak menjadi tolak ukur kemenangan.
Para jendral pemimpin pasukan kekaisaran paham betul dengan kondisi itu. Padahal pada serangan itu sudah melibatkan pasukan inti yang memiliki kekuatan yang lebih tangguh.
Suro menatap sesat ke arah Geho Sama setelah berhasil memukul mundur musuh, "benar, memang itu ucapanku, tetapi untuk menakut-nakuti manusia semacam mereka ternyata tidak cukup hanya dengan kata-kata Geho Sama."
"Lodra!"
Sejak tadi Pedang Kristal Dewa terus berputar-putar di dekat Mahadewi menjaga dara itu dari serangan musuh. Setelah mendengar panggilan barusan pedang itu langsung melesat ke arah Suro.
"Dimana Kaisar Yang Guang berada?" suara teriakan Suro menggeleggar karena teriakan itu dilambari tenaga dalam miliknya.
Suara itu menyapu seluruh komplek istana. Dia sengaja melakukan itu agar kaisar Yang mampu mendengar jelas apa yang dia ucapkan.
Karena memang dia hendak bernegosiasi dengannya. Walaupun itu kemungkinan kecil akan berhasil. Tetapi sekecil apapun keberhasilannya dia akan tetap mencobanya.
Setelah suara Suro yang menggelegar berhenti, seseorang dari pihak kekaisaran muncul. Lelaki itu datang bersama para pendekar dari perguruan Kun Lun, Wu Dang dan juga dari puluhan perguruan lain.
"Siapa dirimu berani menyebut Yang Mulia raja diraja dari segala raja, Kaisar Guang dengan cara tidak sopan?"
Lelaki itu adalah jendral Yuwen Huaji. Dia adalah Mahapatih atau panglima dari seluruh pasukan kekaisaran Yang.
Kabar tentang rencana Pangeran Mahkota yang telah mengundang beberapa orang yang memiliki tehnik pedang terbang mirip milik jurus putri Yifu Yuan atau tetua Dewi Anggini, akhirnya sampai ke kuping jendral Yuwen Huaji.
Kabar itu membuat sang jendral harus segera kembali ke istana secepatnya. Sebab informasi yang diterima dari Telik sandi yang berbisik kepadanya adalah sesuatu yang sangat menghawatirkan.
Dengan sangat meyakinkan, telik sandi itu menyebut, jika pemuda yang ikut diundang, adalah pemuda yang sama dengan seseorang yang telah melenyapkan markas kelompok Mawar Merah.
Karena itulah dia yang sedang menemui para pendekar dari aliran putih di daerah selatan kota Luoyang harus kembali secepatnya. Dia datang ketempat itu sebagai perwakilan dari kaisar Yang langsung.
Karena itu memang titah yang diberikan kaisar untuk memulai berhubungan baik dengan para pendekar aliran putih di Negeri Atap Langit. Daerah tempat mereka berkumpul itu masuk wilayah yang bernama Longmen.
Hancurnya kelompok Mawar Merah membuat sang kaisar gundah. Dia segera membuat manuver baru.
Selama ini sang Kaisar Yang selalu menjalin kerjasama dengan kelompok Mawar Merah. Dengan tidak langsung telah menjadikan dirinya condong ke arah aliran hitam.
Hal itu memang tidak lepas dari peran besar ketua kelompok Mawar Merah, yaitu Wang Fuhu atau yang memiliki panggilan lain iblis racun.
Dia menjamin keberlangsungan kekuasan kaisar Yang dalam menguasai seluruh daratan Negeri Atap langit. Tetapi kematian Wang Fuhu bersama kehancuran seluruh kelompok yang dipimpinnya, membuat para pendekar dari aliran putih segera memanfaatkan situasi itu.
Perguruan Kun Lun dan Biara Wu Dang salah satunya yang berniat memberikan dukungan kepada kaisar Yang. Seperti kayuh bersambut, niat baik mereka segera dibahas. Dan untuk pembahasan itu kaisar Yang mengutus langsung Mahapatih atau panglima pasukannya yang terkenal, yaitu jendral Yuwen Huaji untuk mewakili dirinya.
Kesempatan langka setelah mendengar penjelasan jendral Yuwen Huaji tentang adanya perusuh yang ada di kota Luoyang lalu digunakan oleh para pendekar aliran putih untuk merebut simpatik sang kaisar. Karena itu tanpa paksaan para pendekar ikut bersama Jendral Yuwen Huaji menuju kota Luoyang untuk menghadapi para perusuh.
Tetapi setelah mereka bertemu dengan sosok yang dimaksud, mereka justru semakin terkejut. Tentu saja bukan karena melihat sosok tubuh ilusi Geho Sama maupun tubuh gaib Suro dengan wujud tiruan dari diri mereka berdua.
Mereka justru terkejut melihat ratusan pendekar dibelakang Suro dan Geho Sama. Sebab para pendekar itu adalah orang-orang yang telah hilang cukup lama.
Sebagian mereka telah hilang beberapa tahun yang lalu. Selain itu para pendekar itu berdiri mendukung pemuda dan beberapa sosok yang sangat aneh dan mengerikan dengan dua sayap di pundaknya.
"Maha Guru Zhang apakah itu dirimu?" tanya seorang yang berada di belakang jendral Yuwen Huaji kepada seorang yang pakaiannya sama persis seperti dirinya.
Walaupun lelaki yang dibelakang Suro pakaiannya sudah compang camping sobek disana-sini.
Tetapi corak dan bentuknya sama persis. Lelaki yang ditanya itu berada dibelakang Suro berdiri dengan gagahnya. Tidak terlihat lagi raut muka yang lemas tidak berdaya seperti saat dia tersadar dari mimpi panjangnya.
Pakaian yang mereka berdua gunakan adalah pendeta dari suatu biara yang beraliran Tao. Nama biaranya bernama Wu Dang yang berada di pegunungan Bu Tong. Tepatnya berada di daerah Shiyan.
Daerah itu jika dari kota Luoyang berada di sebelah selatan tetapi lebih condong ke barat daya. Terletak cukup jauh jika dari kota Luoyang. Biara itu didirikan oleh seseorang yang sangat terkenal bagi aliran putih.
Sudah beberapa tahun entah mengapa dia tiba-tiba lenyap seperti hilang ditelan bumi. Namun kini tidak dinyana pendeta yang sebelumnya datang bersama jendral Yuwen Huaji justru menemukan gurunya di Luoyang.
"Benar ini adalah aku muridku Xiao Lam," ujar pendeta yang bernama Zhang Yuan menjawab pertanyaan muridnya dengan mantap.
"Bertahun-tahun muridmu ini mencarimu, tetapi kabar guru hilang seperti telah ditelan bumi. Lalu bagaimana guru sekarang justru muncul dan mendukung para perusuh ini?" ucap pendeta yang bernama Xiao Lam.
Setelah menghilangnya Zhang Yuan guru besar Wu Dang, maka Xiao Lam sebagai murid tertua menggantikan gurunya menjadi pemimpin biara Wu Dang.
Selama waktu itu pula tidak terhitung usahanya mencari kabar gurunya. Terakhir kali dia melihat gurunya itu setelah menyelesaikan latihan tertutup menembus kekuatan tingkat surga.
Guru besar Zhang Yuan berniat untuk turun gunung, tetapi sebelum turun gunung dia menitipkan biara Wu Dang kepada Xiao Lam muridnya.
Setelah itu gurunya menghilang dengan sangat misterius, seperti juga saat kepergiannya yang sama misteriusnya. Sebab gurunya tidak menjelaskan tujuan sebenarnya dari kepergiannya itu.
Bukan saja dari biara Wu Dang, bahkan dari beberapa perguruan yang ikut bersama Jendral Yuwen Huaji berseru terkejut. Sebab para pendekar yang dibelakang Suro adalah salah satu atau justru beberapa jagoan dari perguruan mereka.
Suro dan Geho Sama terlihat kebingungan dan hanya bisa menggaruk-garuk kepala melihat para pendekar yang ada di belakangnya seperti sedang reuni dengan sanak keluarganya. Tetapi para pendekar itu tetap berdiri kokoh dibelakang dirinya. Mendukung apapun keputusan Suro, seperti janji mereka saat diminta tolong setelah berhasil disembuhkan oleh Suro.
Berpuluh-puluh pertanyaan para pendekar dari aliran putih dibelakang jendral Yuwen Huaji, akhirnya diwakilkan dan dijawab oleh pendekar Zhang Yuan. Tentu setelah pendekar itu meminta ijin kepada Suro.
"Ratusan pendekar yang berdiri dibelakang pendekar muda yang gagah ini adalah sebagai bentuk hutang nyawa kami kepadanya. Tanpa dirinya, sesungguhnya kami tidak memiliki harapan hidup lagi."
Pendekar Zhang Yuan akhirnya bercerita kepada semua tentang perjalanan hidupnya yang akhirnya dijebak oleh Nenek Yin Wuya menjadi koleksi pasukannya, atau lebih tepatnya dijadikan koleksi bonekanya.
Kali ini justru Jendral Yuwen Huaji yang kesulitan untuk membuka mulutnya. Sebab saat itu semua pandangan para pendekar yang ikut bersamanya menatap ke arahnya.
Tentu saja hal itu dapat dipahami. Sebab selama ini Perguruan Seribu Hantu memang dekat dengan Kaisar Yang Guang. Selain itu semua kejadian itu kemungkinan besar diketahui oleh jendral Yuwen Huaji sendiri.
Tetapi pandangan jendral Yuwen Huaji justru berpindah ke arah Suro.
"Siapa sebenarnya pendekar ini sehingga mampu berbuat seperti ini di istana kekaisaran Yang?" Jendral Yuwen Huaji berbicara sambil mengedarkan pandangannya.
Lelaki itu sudah dapat membayangkan sendiri seberapa mengerikannya pertempuran yang baru saja berlangsung. Dan seberapa hebat serangan musuh yang mampu melakukannya.
Sehingga puluhan ribu pasukan miliknya dibuat bertahan dan tidak mampu mengalahkan sejumlah orang yang tidak sampai lima ratus. Pandangannya juga terpaku pada bertumpuk-tumpuk mayat dalam kondisi yang mengerikan.
Jendral itu tidak mampu memahami kekuatan apa yang membuat orang sebanyak itu mampu melakukannya. Meskipun sebelumnya para jendral atau Senopati yang sedari tadi memimpin pasukan telah mendekat ke arahnya untuk memberi laporan terperinci mengenai perusuh yang ada didepannya.
Tetapi laporan para jendral yang menjadi bawahannya itu terasa tidak masuk akal. Justru jendral Yuwen Huaji merasa laporan mereka seperti dibuat-buat agar dapat terlepas dari hukuman yang akan ditimpakan kepada mereka.
Suro lalu menjawab pertanyaan Jendral Yuwen Huaji dan menjelaskan awal kedatangannya ke kota Luoyang, sampai akhirnya bertemu dengan Pangeran Mahkota Yang Jian yang mengundangnya makan malam di istana.
"Seperti juga kedatangan walikota Shaanxi, yaitu paman Yang Taizu, inti kedatangan kami hanya ingin mengabarkan adanya ancaman besar dari serangan beberapa kerajaan kepada kekaisaran Yang ini. Itu saja, tetapi dari pihak kalian justru membuat ulah."
Suro terdiam sedikit lama sebelum kembali melanjutkan ucapannya. Matanya juga menyapu ke segala penjuru dimana sejak tadi prajurit yang berjumlah ribuan mengurung dirinya dalam formasi yang sangat ketat.
"Jika kalian tidak menghentikan semua ini, maka jangan salahkan aku akan membantai kalian semua? Biar aku perlihatkan seberapa kejamnya diriku jika kalian ingin menjadikan diriku sebagai Dewa Yama bagi kalian!"
"Lodra perlihatkan jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda!" Teriakan Suro bersama ledakan dari bilah pedang yang ada ditangannya.
Ledakan api hitam yang muncul itu berubah wujud menjadi benteng kobaran api tahap hitam yang menjulang tinggi. Bergerak berputar memisahkan antara pasukan yang bersamanya dengan pasukan kekaisaran.
Kontan seluruh pasukan kekaisaran yang sejak tadi sudah menjaga jarak lebih dari lima tombak, berebut menjauh. Sehingga seluruh barisan pasukan itu menjadi kacau balau.
Tentu saja mereka begitu ketakutan, sebab kobaran api itu memiliki tingkat panas yang sangat tinggi. Selain itu mereka juga sudah melihat sendiri kedahsyatannya sejak di awal pertarungan.
Api itu mampu menelan tubuh manusia dalam kobarannya yang sangat dahsyat, lalu merubah mereka semua menjadi abu dalam waktu yang sangat singkat.
Bukan saja para prajurit yang memiliki tingkat kekuatan tak sampai ditingkat shakti. Bahkan jendral Yuwen Huaji dan juga para pendekar yang ikut bersamanya bereaksi hal yang sama.
Secara serentak mereka menjauh dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh milik mereka. Beruntung ujuk kekuatan Suro hanyalah untuk menggertak, sebab setelah itu dia menarik kembali seluruh kobaran api itu kembali masuk ke dalam bilah pedangnya.