
"Kau sungguh sombong, berani-beraninya kau mengajakku bermain sihir? Saat kau masih dicebokki ibumu, aku sudah dipanggil sebagai tuan penyihir!"
Geho sama mengenali jurus yang dikerahkan Kurama Tengu. Dia justru mencibir melihat lawannya telah mengerahkan ilmu memecah tubuh, seperti yang dia lakukan untuk menghadapi Suro.
"Aku tidak tau kau siapa, tetapi nama tuan penyihir adalah milik leluhur agung tuan Geho sama. Jadi jangan lancang menggunakan gelar yang dimilikinya!"
"Kepalamu itu ternyata terbuat dari batok kelapa yang isinya hanya air. Sudah aku katakan sedari tadi, jika Geho sama itu adalah diriku, siluman sialan!
Matamu memangnya tidak bisa melihat, jika lelaki yang berdiri didepanmu adalah aku sang Geho sama raja dari segala siluman?"
"Bermimpi, siluman campuran sepertimu mengaku-ngaku sebagai Leluhur kami!"
Geho sama menggerung mendengar balasan Kurama Tengu yang tidak mempercayai ucapannya.
"Cepat katakan kau kirim kemana tuan Suro?"
Kurama Tengu memincingkan matanya, saat Geho sama kembali menyebut tuan Suro, dia segera menyadari sesuatu. Tawa dari makhluk besar itu langsung pecah.
"Hahahaha...aku baru menyadari, tuan Suro yang kau maksud adalah pemuda yang aku kirim ke dalam dunia sihir itu ternyata! Jadi kau yang mengaku Geho sama adalah budak seorang manusia? Sungguh menggelikan!"
"Kita lihat, apakah kau tetap menganggap menggelikan jika tubuhmu aku jadikan burung panggang!"
"Cuih...tuanmu saja tidak mampu mengetahui dimana tubuh asliku, apalagi dirimu. Jadi bersiaplah kau akan mengalami hal yang lebih buruk dibandingkan tuanmu yang sebentar lagi dimakan pelan- pelan oleh lambungku.
Seorang anak manusia itu kau jadikan tuanmu? Sungguh menggelikan, sebagian dirimu yang seorang siluman telah membuat diriku malu.
Karena itu aku akan membunuhmu, tindakannmu itu telah mencoreng nama para siluman, terutama telah berani melecehkan nama besar sang leluhur agung Geho sama. Namanya akan aku bersihkan dengan darahmu!"
"Siluman sombong, punya mata tetapi tidak mampu melihat tingginya gunung! Aku lah yang telah menciptakan jurusmu itu!"
"Makhluk setengah siluman sepertimu berani-beraninya sesumbar didepanku! Akan aku robek bermulut besarmu itu!" Kurama Tengu mendengus kesal mendengar ucapan Geho sama.
Pecahan tubuh milik Kurama Tengu yang berjumlah sekitar sepuluh itu segera bergerak hendak menyerang.
Melihat hal itu, maka Geho sama segera mengerahkan tehnik empat Sage untuk melacak seluruh tubuh musuhnya. Setelah itu dia menghilang dari pandangan.
Bldaaar!
"Aaaaarrggggghhh!"
"Bagaimana mungkin kau bisa menemukanku?"
"Coba katakan sekali lagi, jika aku bermulut besar?" Geho sama terkekeh saat muncul kembali langsung menghantamkan pukulannya ke tubuh Kurama Tengu ditempat yang cukup jauh dari tubuh palsunya yang sedang berbicara dengan Geho sama sebelumnya.
Tubuh Kurama Tengu melesat jauh setelah terhantam pukulan Geho sama. Dia akhirnya mutah darah terluka dalam akibat pukulan telak barusan.
"Cepat katakan dimana tuan Suro kau buang?" Geho sama kembali muncul didekat Kurama Tengu.
"Berbicaralah dengan sabitku ini!"
Lesatan sabit angin yang pernah digunakan untuk menyerang Suro segera menghujani Geho sama. Tetapi Geho sama dapat mengatasi hal itu dengan mudah.
"Sekarang giliranmu Lodra tunjukkan kemampuan yang kau miliki setelah menyerap kekuatanku!"
'Kali ini kau jangan khawatir aku pasti bisa membantumu menjadikan makhluk itu rempeyek gosong!' Lodra sudah bersiap hendak menggunakan serangan tehnik perubahan api hitam.
"Jika kau membunuhku, berarti kau juga akan membunuh manusia yang telah aku jebak di dunia sihir dalam jiwaku. Hahaha...!"
Geho sama tertegun mendengar ucapan Kurama Tengu.
"Sialan, bagaimana ini? Aku harus menyelamatkan tuan Suro terlebih dahulu," Geho sama menggerutu mendengar ucapan Kurama Tengu.
'Lalu apa yang bisa kita lakukan Geho sama, bukankah kau selalu sesumbar menyebut dirimu si tuan penyihir, jangan sampai kau hanya menjadi penyihir gadungan.'
'Diam mulutmu Lodra, aku sedang berpikir untuk dapat mengatasi sihir hitam milik siluman ini.' Geho sama meruntuk, karena mendengar ocehan Lodra yang sedari tadi terus memintanya untuk segera menghabisi Kurama Tengu.
Ocehan Lodra yang tidak juga berhenti, membuat Geho sama semakin pusing. Karena sejak tadi sebenarnya dia juga berusaha memecahkan ilmu sihir lawan yang telah memenjarakan Suro.
Selain itu tindakannya untuk menghabisi lawan sesuai permintaan Lodra memiliki resiko lain. Sebab dia juga menyadari, jika dia menghabisi lawan sebelum dia berhasil membebaskan Suro.
Seperti yang telah diucapkan Kurama Tengku, jika dia menghabisi makhluk itu, maka akan berakibat buruk dan membahayakan nyawa Suro. Ucapan makhluk itu juga yang akhirnya membuat Geho sama merasa sedikit mengetahui rahasia yang dimiliki jurus lawan.
Jadi hentikan permintaanmu untuk segera menghabisinya. Karena kita tidak bisa menghabisinya sekarang, sebab itu juga akan dapat mencelakakan tuan Suro.'
Mendengar ucapan Geho sama melalui kesadarannya yang saling terhubung, jiwa pedang itu mendengus kesal. Tetapi dia tidak membantah dan mendengarkan ucapan Geho sama selanjutnya.
'Aku sangat yakin dia sesungguhnya hanya meniru jurus yang aku miliki. Tetapi mereka menggunakan ruang jiwa mereka untuk mengurung tuan Suro.'
'Kau seharusnya memahami apa yang aku ucapkan. Meskipun begitu kita memiliki peluang untuk membebaskan tuan Suro, karena mereka tidak memiliki Tuskara Deva untuk mengurungnya.'
'Kita akan melemahkan kekuatan makhluk ini, semoga saja dengan itu dapat menolong tuan Suro,' Geho sama akhirnya menemukan cara, agar Suro dapat terbebas dari sihir hitam musuh yang telah memenjarakan dirinya.
'Tidak salah rupanya tuan Suro menyelamatkan burung emprit sepertimu,' Lodra tersenyum lebar, setelah mendengar penjelasan Geho sama.
**
Setelah menghabisi sesosok makhluk dengan sabit besar, Suro terlihat masih kebingungan dengan kondisi alam yang cukup janggal itu. Dia mencoba kembali mengamati alam sekitar.
Seluruh alam itu sedikit temaram cahayanya. Seperti keadaan sore hari menjelang malam saat matahari sudah tenggelam di ufuk barat.
Tak ada yang normal dalam dunia yang dilihat oleh Suro semua terasa aneh dan tidak masuk akal. Seperti yang dia lihat sebelumnya di bawahnya dari dalam lumpur itu dia menyaksikan tangan-tangan menyerupai ular besar berusaha menggapai kembali tubuhnya.
Entah makhluk apa yang ada didalamnya, karena jumlah tangan-tangan itu begitu banyak. Sehingga mirip tangan seekor gurita yang mencoba melilit dan hendak menarik dirinya kembali ke dalam lumpur.
Pohon-pohon yang tumbuh ditempat itu juga tidak kalah mengerikannya. Karena cabang-cabang itu juga hendak meraih tubuh Suro sesaat setelah terbang melintasi pepohonan itu.
"Ini sebenarnya di dunia mana, mengapa semua terasa tidak ada yang normal?"
Suro menggaruk-garuk kepalanya. Pandangan dia edarkan mengitari keempat penjuru arah mata angin.
Tetapi karena cahaya yang ada didalam alam itu cukup minim, maka jangkauan pandangan matanya tidak bisa menjangkau lebih jauh dan hanya bisa mengira-ira. Suro kemudian turun ke tanah kering dan segera memulai mengerahkan jurus empat Sage.
Dia juga mengkombinasikan jurus itu dengan menggunakan tehnik perubahan tanah. Dia mencoba membaca apa yang ada didalam tanah maupun yang berada dipermukaan tanah.
Belum selesai dia membaca situasi yang ada disekitar, dia segera merasakan pepohonan yang ada disekitar tubuhnya bergerak hendak menangkap tubuhnya.
Disaat Suro berusaha keluar dari akar-akar yang hendak menjerat lebih erat kakinya, maka pepohonan yang lain bergerak lebih cepat berhulung-gulung mendekati Suro. Mereka memanfaatkan kelengahannya dan mencoba menelan dalam jeratan yang lebih kuat.
"Bahkan pohon ini sepertinya mereka juga pemakan daging dan berusaha memakan diriku!" Suro menyaksikan diatas pucuk-pucuk pohon itu terdapat semacam kucup bunga yang berbentuk mengerikan. Sebab memiliki gigi-gigi yang siap mengunyah tubuhnya.
Seakan bunga-bunga itu begitu kelaparan, mulutnya menganga memperlihatkan giginya yang tersusun beberapa lapis jauh sampai ke dalam tenggorokannya.
Suro segera bergerak cepat membabat akar-akar yang semakin banyak menyerang dirinya. Dia menggunakan tehnik pedang terbang untuk mengatasi serangan pepohonan itu.
Puluhan pedang terbang melesat dari belakang punggungnya, lebih dari sepuluh bilah pedang melesat dengan cepat.
Suro mengetahui, jika pepohonan dan akar yang menyerang itu bukan jenis kayu biasa. Sebab pepohonan itu terlihat seperti memiliki sisik pelindung yang cukup keras.
Oleh karena itu agar pedang-pedang miliknya mampu membabat habis akar-akar dan juga cabang pohon yang hendak menggapai tubuhnya, maka Suro melapisi setiap bilah pedangnya dengan menggunakan tehnik perubahan petir.
Hasilnya adalah seluruh akar itu dapat dengan mudah dibabat habis oleh lesatan pedang terbang miliknya.
"Kalian pikir aku semacam makan malam? Pohon macam apa ini? Mereka justru lebih mirip seperti kawanan binatang buas yang menyerang secara berkelompok.
Dunia ini terasa begitu asing, bahkan alam kegelapan yang penuh dengan makhluk Surala sekalipun kalah mengerikan, jika dibandingkan dengan tempat ini," Suro menggumam kesal melihat semakin banyaknya pepohonan yang bergerak mendekat dan hendak berebut memakan dirinya.
Meskipun berkali-kali Suro berhasil membabat akar yang hendak menjeratnya, tetapi itu tidak menghentikan akar lain yang muncul. Setelah beberapa saat, semua akar berhenti menyerang dan kembali masuk ke dalam tanah.
Beruntung Suro dapat merasakan pergerakan yang terjadi didalam tanah. Dia mengetahui, jika akar pepohonan itu tidak berhenti menyerang setelah masuk ke dalam tanah.
Tetapi mereka seperti melakukan siasat. Karena kembali hendak menyerang dirinya dari arah lain secara mendadak.
"Aku bukanlah makanan yang bisa kalian tangkap dengan mudah." Suro segera mengerahkan tehnik perubahan api untuk mengusir pepohonan yang memiliki bunga-bunga seperti kantong Semar berukuran besar.
Pukulan jarak jauh yang dilambari tehnik perubahan api itu melabrak pepohonan yang berada disekitar Suro. Dalam sekejap pepohonan itu dilahap api dengan cepat.
Saat pepohonan itu terbakar, suara yang keluar menyerupai gerungan seekor harimau. Tetapi Suro tidak membiarkan pepohonan itu kabur dari api hitam yang dia kerahkan.
"Apakah artinya setiap hal yang ada di alam ini telah dirasuki bibit iblis, mengapa semuanya memiliki jiwa yang begitu buas?"