SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 354 Formasi Pedang Kematian part 2



“Formasi pedang yang cukup rumit, mungkin jika kalian berhadapan dengan selain dariku, maka musuh itu akan mati dalam satu gebrakan. Tetapi hal itu tidak berlaku jika lawannya adalah aku.”


"Sombong sekali kau bocah tengik, kau sudah mati saat formasi pedang ini telah kami mulai, hanya saja kau belum menyadarinya!" Salah satu tetua yang kepalanya botak berteriak dengan kesal.


Lelaki itu murka setelah mendengar ucapan Suro yang bagi dirinya sesuatu yang terasa begitu sombong. Dia adalah salah satu tetua yang memiliki kekuatan tingkat surga lapis kedua.


Suro terus menahan serangan musuh yang menyerbu dengan rapat dan dapat berselaras satu dan lainnya secara harmonis, seakan tidak ada celah sedikitpun. Mereka mampu bergerak silih berganti dengan begitu kompak. Seolah kekuatan mereka bersatu padu dalam setiap tebasan pedang yang mereka lakukan.


Dengan alasan itu Suro harus memusatkan kekuatannya untuk dapat menahan kuatnya setiap tebasan pedang mereka. Dia menyadari jurus lawan kali ini sangat berbeda dengan jurus yang pernah dia hadapi.


“Aku punya penawaran yang cukup bagus, sebaiknya kalian mengambilnya! Aku berjanji akan tetap membiarkan nyawa kalian tetap berada di badan kalian!" Dalam hujan serangan lawan, Suro masih sempat berbicara dengan lantang.


Kondisi itu tentu sesuatu yang mustahil dilakukan. Sebab selama ini setiap musuh yang mereka kepung dengan formasi itu, jangankan berbicara, bernafas pun mereka sudah kesulitan.


Bagi mereka, saat mendengar pemuda itu masih dapat berbicara panjang lebar, tentu sesuatu peristiwa yang tidak masuk diakal. Namun sedari awal pertarungannya melawan Naga Hitam dengan mata tertutup adalah sesuatu yang lebih tidak masuk diakal lagi.


Melihat hal itu mereka menggeram penuh kemarahan. Sebab itu artinya pemuda yang sedang mereka kepung masih tidak menganggap formasi pedang kematian milik mereka.


"Dengan satu syarat kalian mau menjelaskan kepadaku, dimana kalian membawa tetua Perguruan Pedang Surga Dewi Anggini, juga keberadaan guruku dan juga pendekar Dewa Rencong?”


“Hahahaha...! Kau sepertinya tidak memahami sedang berurusan dengan apa. Sekarang kau sedang berhadapan dengan formasi pedang kematian!” salah satu tetua yang memiliki tubuh cukup jangkung menertawakan ucapan Suro.


Bagi dia, ucapan pemuda itu seperti sebuah lelucon. Sebab disaat dirinya dikepung serapat itu, justru masih sempat memberikan ancaman kepada mereka.


Suro ikut tertawa mengejek mendengar ucapan mereka barusan.


“Dan kalian juga sepertinya belum menyadari, saat ini sedang berhadapan dengan siapa? Kali ini akan aku perlihatkan jurus yang akan mampu menghancurkan jurus pedang yang kalian banggakan ini!


Kalian tau kenapa? Sebab kalian sedang berurusan dengan jurus pedang pencabut nyawa! Hahahaha...!” Suro tertawa mengejek ke arah mereka.


Para pasukan Mawar Merah yang sedang mengepung Suro tidak sempat membalas ucapan yang melecehkan itu, sebab pemuda itu setelah selesai berbicara, dia langsung merubah jurus pedangnya.


Kali ini dia tidak lagi bertahan dari gempuran formasi pedang kematian. Dia telah merubah pola bertahannya menjadi pola menyerang. Serangan balik yang diperlihatkan Suro berhasil membuat seluruh musuhnya itu keteteran.


Puluhan pedang milik pemuda itu dapat bergerak dengan kecepatan yang mata mereka sulit menangkapnya. Bahkan gabungan kekuatan mereka yang telah dihimpun dengan cara tertentu itu, seakan telah tersedot bersama badai pedang yang digunakan pemuda itu.


Dengan jurus pedang yang digunakan Suro kali ini, formasi pedang bunga kematian seakan sedang berhadapan dengan gunung besar. Gerakan pedang yang bergerak berseliweran di udara seakan kilat menyambar yang tidak mampu lagi mereka raba arah gerakannya. Hal itu dikarenakan begitu cepatnya pedang itu bergerak.


Akhirnya formasi pedang kematian hancur, bersama luka-luka pada tubuh mereka semua. Bahkan mereka dipaksa mundur hingga tubuh mereka berpentalan cukup jauh.


Serangan balik yang digunakan Suro memang ampuh menghancurkan formasi serangan musuh. Formasi itu berhasil


Sebelum keberangkatan Suro menuju Negeri Atap Langit, Dewa Pedang sempat mengajarkan sebuah jurus pedang yang sempat dia gunakan dalam


pertempuran di Kerajaan Kandis di Swarnadwipa. Jurus yang diajarkan itu bernama “Jurus Hati Pedang.”


Inti dari jurus yang diciptakan Dewa Pedang itu merupakan penjabaran dari sebuah kalimat penutup dalam kitab Dewa Pedang. Kalimat itu ditulis oleh Mahaguru dari Dewa Pedang. Perlu puluhan tahun bagi Dewa Pedang untuk memahami apa yang terkandung dalam kedalaman samudera makna kalimat itu. Kalimat itu berbunyi” Pedang kilat memecah tempurung kurma, pedang lamban menangkap Vajra.”


Sebagian orang yang membaca kalimat penutup dari kitab pedang terhebat itu, menganggap tidak memiliki makna apapun. Tetapi itu tidak berlaku bagi ketua Perguruan Pedang Surga itu. Dia berusaha mengali dan mencoba menyingkap makna terdalam dari kalimat yang penuh teka-teki itu dengan


mengkaitkannya pada ilmu pedang.


Pada kata Kurma Dewa pedang mengkaitkannya pada sebuah dongeng, yaitu cerita pada saat para Dewa sedang mencari  tirta amerta atau air kehidupan. Pada peristiwa itu Sang Hyang Batara Wisnu putera dari Sang Hyang Batara Guru pernah berubah menjadi Kurma atau seekor kura-kura.


Para Dewa menjadikan tempurung kura-kura jelmaan Sang Hyang Batara Wisnu, sebagai landasan. Sebab mereka menempatkan Gunung Mahameru diatasnya dan digunakan untuk mengaduk laut.


Dengan cerita itu Dewa Pedang dapat mengartikan jika jurus pedang sekuat apapun kekuatan yang melambarinya, dapat dihancurkan. Seperti yang tertera dalam kalimat itu untuk menghancurkan kekuatan besar menggunakan jurus pedang yang sangat cepat bergerak laksana kilat.


Sedangkan Vajra sendiri mewakili senjata milik Sang Hyang Batara Indra yang mampu mendatangkan petir yang sangat dahsyat untuk menghancurkan lawannya. Dengan penamsilannya Dewa Pedang, dia menganggap kalimat itu merupakan inti sari dari sebuah jurus pedang yang dahsyat.


Dengan penjelasan singkat dari Dewa Pedang, jika jurus yang dia ciptakan itu mampu mengatasi jurus lawan yang bergerak secepat kilat, dan juga mampu mengikis jurus lawan yang didalamnya dilambari kekuatan yang sangat


besar sekalipun. Suro yang teringat dengan penjelasan itu segera menggunakan jurus Hati Pedang untuk mematahkan formasi Pedang Bunga Kematian milik lawannya.


Dengan didukung puluhan bilah pedang sebagai bayangannya dan Pedang Kristal Dewa sebagai inti kekuatannya, formasi serangan dari kelompok Mawar Merah, akhirnya dapat dia hancurkan.


Para tetua yang ikut dalam formasi pedang kematian itu terdapat beberapa pendekar yang mengikuti Naga Hitam sejak awal mendirikan kelompok Mawar Merah. Karena itulah mereka sebenarnya


sebelum menghadapi Suro, sudah menganggap kejadian Naga Hitam dapat dilukai adalah sebuah peristiwa yang besar.


Kejadian itu sesuatu hal yang sulit untuk dapat mereka terima. Salah satunya


adalah Xiao Long atau yang berjuluk pendekar kaki petir.


Sebab selama puluhan tahun seniornya itu bisa dikatakan mampu menghabisi jagoan aliran putih sekuat apapun seakan tanpa berkedip. Tetapi sejak awal Naga Hitam menghadapi Suro dia melihat, jika dia tidak berdaya, bahkan semua serangannya tidak ada yang berhasil melukainya.


Bahkan dia dapat melihat, jika pemuda yang menjadi lawannya belum bertarung dengan serius. Seakan pemuda itu sedang menunggu sesuatu atau sedang mencoba mengulur waktu.


Setelah berhadapan langsung dengan pemuda itu, maka para tetua segera menyadari betapa mengerikannya kekuatan yang dimilikinya. Mereka segera menemukan alasan, mengapa pendekar sekuat Naga Hitam saja dapat dikalahkan oleh pemuda itu.