SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ruwatan Dewa



"Sang Hyang Antaboga," ucap Eyang Sindurogo menunduk dengan hormat.


"Sindurogo, sudah lama sekali kita tidak berjumpa," ucap Sang Hyang Anantaboga sambil tersenyum ramah.


Wajahnya yang rupawan putih bersih membuat setiap wanita yang melihatnya seperti menjadi gila.


Andai sebuah aura kekuatan yang dimilikinya tidak menghalanginya, niscaya para perempuan akan berebut untuk memeluknya.


Sang Hyang Anantaboga terus berjalan melewati Eyang Sindurogo dan mendekati Dewi Anggini.


Tentu saja perempuan itu dibuat hampir pingsan melihat ketampanan yang tidak terlukiskan berada di hadapannya sangat dekat.


Perempuan itu juga hampir saja kehilangan kewarasannya, beruntung Eyang Sindurogo bergegas mendekat.


Lelaki itu segera mengetahui apa yang hendak dilakukan Sang Hyang Anantaboga.


"Syukurlah, syukurlah angger, para dewa masih belum mengijinkanmu pergi dari dunia ini," gumamnya sambil diiringi tangis.


Orang-orang tidak memahami apa yang sedang dikatakan Eyang Sindurogo. Lelaki yang tidak pernah menua itu lalu ikut membopong tubuh Suro.


"Kau ternyata sudah mengerti apa yang hendak aku lakukan Sindurogo." Sang Hyang Anantaboga tersenyum lalu tertawa kecil.


Eyang Sindurogo menganggukkan kepala dan mulai tersenyum penuh arti.


"Sudah aku katakan seperti yang dulu aku janjikan Sindurogo. Aku ini weruh sak durunge winarah, tau sebelum terjadi."


"Aku sudah berjanji akan memberikannya, karena aku tau ini akan terjadi," ucapnya sambil mengalihkan pandangan ke arah Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Narada.


"Tentu saja kejadian ini memang sudah dirancang oleh kakang Batara berdua."


"Brekencong-brekencong pakpak pong buk bolong waru dhoyong ditegor uwong kali codhe sapa sing nggawe...tentu saja ini sudah dirancang sejak ribuan tahun lalu Adimas Anantaboga," ucap Sang Hyang Narada.


Sang Hyang Antaga tertawa kecil lalu kembali berjalan mendekat ke arah tubuh Suro yang masih kaku.


Kemudian cawan kecil yang bentuknya begitu indah dihiasi penuh dengan batu berharga mulai di dekatkan pada mulut Suro.


Semua mata menunggu begitu lama seolah berminggu-minggu lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui apa yang sebenarnya hendak dituangkan dari cawan ditangan Sang Hyang Antaga.


Mereka tidak melihat ada air di dalamnya. Karena itulah mereka semua kebingungan. Termasuk Dewi Anggini yang berada paling dekat.


Namun Eyang Sindurogo tersenyum semakin lebar saat cawan itu mulai dituangkan. Tidak semua mata dapat menangkap setetes air jatuh dari dalam cawan dan mengenai bibir Suro.


"Sudah aku berikan janjiku Sindurogo. Tetapi setelah ini muridmu akan ikut denganku untuk mempersiapkan pertarungannya dengan Rahwana dan mengakhirinya sampai sempurna."


Semua orang kebingungan mendengar ucapan Sang Hyang Anantaboga. Sebab saat ini jangankan bertarung untuk menggerakkan kelopak matanya saja Suro tidak mampu.


Pemuda itu tetap saja masih terbujur kaku tanpa memperlihatkan adanya tanda-tanda kehidupan.


"Kakang, sebenarnya apa yang tadi diteteskan dari cawan?" bisik Dewi Anggini kepada Eyang Sindurogo yang begitu serius menatap wajah muridnya.


"Satu tetes air yang jatuh itu lah yang telah membuat para bangsa Dewa abadi, karena itu adalah Tirta Amerta atau air kehidupan."


Mulut Dewi Anggini mengangga beberapa saat, ketika Eyang Sindurogo memberikan penjelasan padanya.


Pandangan Dewi Anggini lalu buru-buru berpindah ke arah dimana satu tetes yang sebelumnya jatuh ke atas bibir Suro.


"Sukurlah akhirnya masuk ke mulut angger sebelum kering," ujar Eyang Sindurogo lega.


Setelah itu semua kaget, termasuk Dewi Anggini.


Mendadak Suro Bledek terbangun dan duduk. Dia lalu mengusap-usap matanya beberapa kali.


Dia kemudian meloncat kaget dan langsung bersujud ke arah Dewi anggini.


Dia tidak mengetahui dirinya saat sadar dan mulai duduk ternyata sedang berada diatas pangkuan Dewi Anggini.


"Astaga! Apa yang telah aku lakukan? Maafkan saya tetua, mengapa aku tidak menyadari sedang duduk diatas pangkuan tetua?" ucap Suro sambil mengarahkan pandanganya ke arah gurunya dengan perasaan tidak karuan.


Tetapi dia justru melihat wajah Dewi Anggini dan gurunya terlihat tidak menunjukkan kemarahan atas tindakannya barusan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Dia masih bersujud meminta maaf kepada Dewi Anggini yang kini semakin keras tertawa dan secara bersamaan terus mengusap air matanya yang justru bertambah deras.


Begitu juga Eyang Sindurogo yang mulai tertawa terbahak-bahak meski airmatanya tidak berhenti mengalir.


Pandangannya segera menyapu ke arah lain. Dia mendapati semua orang sedang berkumpul mengelilingi dirinya dengan raut muka dan ekspresi seperti gurunya.


Dewa Rencong, Dewa Pedang dan Dewa Obat juga yang sama, keadaan itu membuat dia kebingungan dan bertingkah serba salah.


Dia mencoba mencari sosok Mahadewi dan Geho Sama, namun dia tidak menemukan keberadaan mereka berdua


Dia masih linglung dan mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.


"Kita sebelumnya sedang bertarung, bukan?" ucap Suro sambil mengernyitkan dahinya.


Pandangannya segera menyapu karena menyadari sesuatu yang tidak asing. Beberapa aura sangat besar yang dia kenali dengan baik.


"Astaga! Mengapa aku tidak menyadari ini?" Bergegas dia membalikkan tubuhnya dan mulai memberikan penghormatan yang tidak terkira.


Pandangan mata pemuda itu segera menangkap ketiga sosok yang dikenalnya.


"Sang Hyang Batara Anantaboga, Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Narada maafkan hamba tidak menyadarinya, kehadiran pekulun bertiga," ucap Suro sambil bersujud penuh hormat.


Sebelum Suro bertambah kebingungan, Eyang Sindurogo bangkit dan membisiki ke arah muridnya itu.


Pemuda itu bergegas meraba ke dadanya.


"Gawat Sang Hyang Kavacha!" ucapnya sambil melotot terkejut. Pakaiannya telah hancur saat terkena dahsyatnya panah yang di lesatkan Rahwana.


Di dadanya tidak ada bekas luka panah, namun zirah kavacha yang menutupi dadanya telah hancur.


Dia segera memandang ke arah Sang Hyang Batara Anantaboga. Sosok rupawan itu menganggukkan kepala seakan mengerti apa yang hendak ditanyakan Suro kepadanya.


"Kali ini aku datang bukan hanya untuk menghidupkanmu, tetapi juga hendak menjemputmu pergi bersamaku."


Perkataan Sang Hyang Anantaboga tentu saja mengagetkan Eyang Sindurogo dan lainnya yang hadir di tempat itu.


Tetapi tidak seorangpun yang berani bertanya kepada Sang Hyang Antaboga, tidak terkecuali Eyang Sindurogo.


Mulutnya terkunci rapat, meski hatinya meronta hendak meminta kejelasan prihal muridnya yang baru saja bangkit dari matinya, kini justru hendak dibawa pergi.


Namun ada satu orang yang bertanya tanpa beban kepada Sang Hyang Antaboga.


"Dijemput? Hendak dibawa kemana diriku pekulun?" tanya Suro sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Aku akan membuatmu lebih kuat dibandingkan sekarang," ucap Sang Hyang Batara Antaboga dengan tersenyum ramah.


Sang Hyang Ismaya dan juga Sang Hyang Narada pun ikut menganggukkan kepala. Melihat para dewa itu tidak mau menjelaskan secara terperinci di hadapan para khalayak, Suro pun mengerti ada sesuatu yang tidak boleh orang lain mengetahuinya.


"Baik hamba akan ikut pekulun," balas Suro sambil menjura dengan dalam.


Tanpa menjelaskan kepada yang lain Sang Hyang Antaboga segera membawa pemuda itu lenyap dari pandangan setiap orang.


"Sindurogo, lakukan apa yang harus dilakukan untuk mempersiapkan peperangan besar yang sebentar lagi tiba," ucap Sang Hyang Ismaya sebelum menghilang bersamaan dengan Sang Hyang Narada.


Suro Bledek sebenarnya masih kebingungan saat dia di bawa pergi dan kini muncul di atas kawah sebuah gunung berapi.


"Ini adalah kawah Candramuka( Gunung Merbabu)."


"Mohon maafkan hamba yang tidak mengerti apa sebenarnya tujuan hamba diajak datang ke atas kawah ini, pekulun?"


"Dirimu hendak kami ruwat dengan ruwatan dewa. Seluruh senjata dewa akan kami lebur di dalam kawah ini bersama dirimu," ucap Sang Hyang Anantaboga sambil memandang ke atas seperti sedang menunggu sesuatu.


**


Jika ada yang berkenan, silahkan kunjungi novelku yang lain di platform lain berinisial warna kuning Nov*lme


Maha manusia dan sequelnya Jagat Birowo