
"Aku mengenal siluman Kappa yang memiliki tempurung sangat keras, tetapi tabiat guru dari tuan Suro ternyata lebih keras." Geho sama tampak masih tenang tetap duduk bersila sambil menyilangkan tangan di dadanya. Dia memilih tidak lagi melanjutkan samadhinya.
"Kalian jangan berharap, bahwa aku akan menurunkan ilmu itu kepada siapapun. Sesuai dengan petunjuk guruku pak tua. Aku hanya menurunkan ilmu itu kepada satu-satunya murid yang aku miliki. Karena hanya dirinya yang sesuai dengan ciri-ciri seperti yang telah dijelaskan oleh guruku. Jadi selain muridku tidak akan aku berikan ilmu tersebut. Titik!"
Naga Tatmala semakin terpingkal-pingkal menertawakan kepala batu eyang Sindurogo. Suro justru semakin kusut menghadapi gurunya yang tidak sudi mempercayai jika dia adalah muridnya.
"Eyang guru, kami tidak ingin merebut ilmu Tapak Dewa Matahari. Karena Suro sudah menguasainya. Lihatlah Suro tidak perlu mencuri sebab ilmu itu memang eyang sudah turunkan kepadaku." Suro segera memperlihatkan jurus sepuluh jari dewa mengguncang bumi kepada eyang Sindurogo."
Melihat pertunjukan ilmu yang dikerahkan Suro bukan membuat eyang Sindurogo percaya, justru semakin membuat dia bertambah murka.
"Kurang ajar! Bagaimana cara kalian akhirnya berhasil mencuri ilmu dari pak tua? Apa kau telah mencelakai dirinya? Aku yakin mengenai hal itu. Karena Mandala Kalacakra itu, bahkan diriku saja tidak diperkenankan, meskipun itu hanya untuk menyentuhnya! Jadi tidak mungkin bocah ingusan sepertimu bisa dengan mudahnya memilikinya!"
"Akan aku habisi kalian semua!"
Kali ini Suro meloncat menjauh mendengar ucapan eyang Sindurogo barusan. Sebab lelaki itu memang benar-benar serius hendak menyerang mereka bertiga.
Sebelum Eyang Sindurogo melanjutkan gerakannya, mendadak sebuah suara yang lembut namun cukup jelas terdengar ditengah-tengah mereka.
"Orang tua gemblung sudah tau begitu jelas didepan mata masih saja kepalamu keras seperti tempurung kelapa tidak mau mempercayai ucapan orang lain."
Entah siapa yang berbicara barusan, sehingga mampu membuat gerakan eyang Sindurogo yang hendak menyerang langsung berhenti.
"Aku sudah menduga kejadian seperti ini pasti terjadi, karena muridku yang gemblung ini!" Suara lembut yang terdengar cukup jelas itu kembali terdengar, meskipun sumber dari suara tersebut belum nampak. Karena memang itu adalah tehnik memindah Suara yang sangat mengagumkan.
"Mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” kembali terdengar suara yang entah berasal dari mana.
"Pak tua??! Benarkah barusan suara pak tua! Hahahaha akhirnya aku bertemu kembali lagi dengan guruku! Guru! Dimana guru kenapa tidak mau melihat wajah muridmu ini yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi melihat wajahmu?" Wajahnya meskipun terlihat masih kebingungan dan menatap ke segala arah mencari sumber suara, tetapi kali ini wajahnya terlihat sumringah. Terlihat senyuman lebar menghiasi wajahnya.
"Murid gemblung! Umurmu sudah ratusan tahun, tetapi tetap sama saja tidak pernah berubah!"
"Aku memang memintamu untuk menurunkan ilmu Tapak Dewa Matahari kepada murid yang memiliki ciri-ciri yang aku sebutkan. Dan tindakanmu sudah tepat. Tetapi bagaimana mungkin dirimu tidak mengetahui mengenai muridmu sendiri yang telah kamu besarkan sedari kecil? Dasar murid gemblung!"
Eyang Sindurogo terlihat mulai salah tingkah dan mulai menyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya, karena mendengar suara dari sosok yang belum juga terlihat batang hidungnya.
"Itu memang muridmu Sindurogo, bagaimana kamu tidak bisa mengenali muridmu sendiri?"
"Benarkah guru?" Kali ini tatapan eyang Sindurogo beralih kepada Suro yang tadi sempat meloncat agak menjauh darinya.
"Tetapi kenapa kamu jadi ganteng sekali kamu le?"
"Murid gemblung, lihatlah muridmu saja sudah mampu melewati jalan arhat dan telah menerima pencerahan sempurna, sehingga kotoran dalam hati dan raganya telah bersih." Kali ini seseorang yang berbicara sedari tadi muncul.
Lelaki yang disebut sebagai pak tua oleh eyang Sindurogo berpenampilan sama saat Suro meminta Mandala Kalacakra darinya. Suro sejak awal sudah mampu melihat wajahnya, tetapi bagi Geho sama terasa masih sangat menyilaukan.
Naga Tatmala sejak suara dari sosok tersebut mulai terdengar, dia sudah mendengarkan dengan penuh khidmat. Kini saat melihat kedatangan sosok tersebut, dia segera bersimpuh dan menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Sembah pangabekti Naga Tatmala kepada Sang Hyang Ismaya."
Lelaki yang dipanggil dengan panggilan Sang Hyang Ismaya itu melayang diatas udara dengan posisi duduk bersila. Pakaian putihnya melambai-lambai tertiup angin yang meniup sedikit keras. Dia berada kurang dari satu tombak diatas permukaan salju yang terhampar.
"Kamu selalu berbuat ceroboh Sindurogo. Lihatlah sekarang akibat kecerobohanmu, akhirnya justru muridmu yang akan membereskan semuanya. Karena Dewa Kegelapan telah berhasil membebaskan raga sejatinya." Panjang lebar Eyang Sindurogo diomeli oleh sosok yang dipanggil sebagai Sang Hyang Ismaya itu.
Tetapi selama ceramah panjang itu justru terlihat wajah eyang Sindurogo begitu antusias, bahkan terlihat begitu bahagia mendengar wejangan yang begitu panjang. Entah apa yang dirasakan eyang Sindurogo, sebab karena begitu panjangnya Geho sama sampai menguap beberapa kali mendengar wejangan itu.
Tetapi tidak dengan Suro. Sebab kali ini dia tidak dapat menahan tawa melihat tingkah gurunya yang terasa begitu konyol saat berada didepan gurunya, yaitu Sang Hyang Ismaya. Dia bahkan tidak pernah melihat kekonyolan seperti itu selama Suro bersamanya.
Ternyata ada sisi lain dari gurunya yang tidak dia ketahui. Sebab sepanjang yang dia ketahui gurunya terkenal penuh kharisma dan berwibawa. Semua tokoh dunia persilatan mengakui itu. Bahkan Maharaja Wasumurti pun menaruh penuh hormat, jika berada didekat gurunya.
"Sekarang tugasmu bantu muridmu mengagalkan Dewa kegelapan agar tidak dapat membebaskan kekuatan dan juga jiwanya yang masih disegel."
"Baik guru murid akan melaksanakan semua perintahmu." Eyang Sindurogo yang duduk bersimpuh menundukkan badannya untuk memberi hormat.
"Ingat pesanku semuanya, jangan lupakan semua nasehatku ini."
"Jalmo tan keno kiniro roso sejati tansah jinogo( manusia hidup tidak akan mampu menebak masa depan. Semua hanya bisa merencanakan. Agar tidak salah dalam menjalani hidup selalu menghidupkan kejernihan hati yang akan mampu menjaga setiap langkah)
Eyang Sindurogo mengangguk-anggukan kepala entah apa yang sedang dia pikirkan dia begitu ceria dan asik mendengarkan semua wejangan gurunya, yaitu Sang Hyang Ismaya.
Setelah semua wejangan itu selesai Sang Hyang Ismaya lenyap dari pandangan mereka semua. Tetapi sebelum menghilang dia menunjukan tempat-tempat diamana relik kuno berada.
Dia meminta semua relik kuno itu diselamatkan sebelum diambil pasukan dari Dewa kegelapan.
**
Setelah selesai eyang Sindurogo berbalik ke arah Suro yang juga masih duduk bersimpuh tidak jauh dibelakangnya.
"Aku tidak mengira kamu menjadi luar biasa seperti ini le." Eyang Sindurogo memegang dua bahu Suro dengan wajah yang begitu ceria.
Suro hanya mengangguk mendengar ucapan gurunya.
"Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untukku. Guruku akhirnya mau menemuiku, muridku juga justru lebih dahulu datang untuk menyelamatkan diriku."
Setelah itu Suro kemudian mengenalkan kepada eyang Sindurogo siapa sebenarnya sosok Naga Tatmala. Dia sangat terkejut setelah mengetahuinya. Dia tidak mengira jika sosok yang rupawan itu adalah keturunan dari Sang Hyang Anantaboga. Pantas dia merasakan aura dari Dewa penguasa kahyangan saptapratala pada diri Naga Tatmala.
Suro kemudian mengenalkan Geho sama, walau sebelumnya sudah mengetahui, tetapi dia tidak menyangka jika makhluk itu memang benar-benar ada. Dan yang membuat dia lebih terkejut adalah, jika sosok legendaris itu sekarang justru menjadi pengikut muridnya.
Mendengar cerita itu membuat dia hanya mengaruk-garuk kepala kehabisan kata-kata.
Setelah cukup lama mereka berbicara, akhirnya Naga Tatmala merasa, jika dia telah menyelesaikan tugasnya yang diminta oleh Suro.
"Ulun akan kembali ke kahyangan saptapratala."
"Terima kasih pekulun atas bantuan yang telah pekulun berikan kepada hamba." Suro kemudian menjura kepada Naga Tatmala. Eyang Sindurogo dan juga Geho sama ikut menjura ke arah Naga Tatmala sebelum lenyap dari pandangan.
"Baiklah thole Suro waktunya kita berburu, seperti biasa kita berburu ayam di hutan gunung Arjuna."
Suro tertawa bahagia akhirnya gurunya mampu menemani dirinya seperti dulu lagi. Eyang Sindurogo tidak mengetahui betapa Suro telah kehilangan dirinya. Tentu pertemuan kali ini adalah saat paling membahagiakan untuknya. Tetapi kali ini Suro sudah tidak menahan tangis, sebab sedari tadi dia sudah cukup kelelahan menahan tawa melihat tingkah gurunya selama dinasehati oleh Sang Hyang Ismaya.