SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 68 PERTARUNGAN TAHAP FINAL part7



Narashinga terlempar begitu jauh sampai terjungkal keluar dari arena pertarungan. Dia tidak segera bangkit berdiri. Justru dia terlihat masih terduduk, seperti tertegun setelah menyaksikan kedahsyatan tetua La Patiganna barusan.


'Pantas saja para peserta yang sudah merasakan kekuatan para tetua ini, menyarankan sejak awal mengunakan kekuatan penuh agar mampu menjebol pertahanannya. Tidak aku sangka kekuatan tetua ini melebihi apa yang telah dicapai guruku.'


Narashinga masih tertegun menatap tetua La Patiganna yang juga sedang menunggunya kembali naik ke atas arena.


"Apakah nakmas sudah selesai dengan istirahatnya? Atau justru nakmas ingin menyudahi sesi pertarungan kali ini?"


"Murid akan meneruskan pertarungan ini! Mohon maaf jika murid sedang mencoba mengambil nafas sebentar terlebih dahulu!"


Narashinga yang mendapatkan teguran itu segera bangkit dan dalam satu loncatan tubuhnya telah kembali ke atas arena pertarungan. Kabut masih menyelimuti arena meski tidak setebal saat Narashinga melawan Suro.


Kemudian dia kembali bersiap melakukan serangan dengan mengemposkan tenaga dalam lebih kuat. Tehnik perubahan unsur air milik Narashinga segera mengubah kadar air diudara menjadi kabut yang bergulung-gulung.


Sejurus kemudian Narashinga melakukan tehnik perubahan unsur es, yang terjadi kemudian bergulung-galung kabut itu memadat dan berubah menjadi jarum kristal es yang terlihat mengambang di udara.


Semua ketar-ketir menyaksikan jarum yang melayang memenuhi arena pertarungan. Jarum es sebanyak itu telah siap melumat tubuh tetua menjadi seonggok daging.


"Huuuuffft!" Tetua La Patiganna hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Dia tidak gentar dengan serangan yang begitu menakutkan, hanya saja kali ini dia harus mengerahkan tenaga lebih banyak untuk mampu menahannya.


Kekuatan serangan itu begitu menakutkan, bahkan saat menghadapi serangan itu tiga lapis benteng tanah yang dibentuk Suro hancur lebur. Beruntung benteng pelindung yang dia buat berlapis-lapis dan setiap lapis yang hancur dia buat kembali.


Entah dengan cara apa tetua La Patiganna kali ini akan mampu menahan seluruh serangan Narashinga?


" Bendu tirta Besmi(Serangan kutukan air)!"


Seiring dengan teriakan Narashinga seluruh jarum menerjang ke arah tetua secara bersamaan.


Sebelum jarum itu mengenai tubuh tetua, tiba-tiba sebuah aura kekuatan muncul dan kemudian menghepaskan seluruh serangan yang dilancarkan Narashinga. Ledakan energi itu begitu kuat sehingga mampu menghancurkan jarum yang menyerang dan melemparkan kembali sebagian jarum yang belum sempat mendekat. Sebuah lekukan tanah bekas ledakan energi itu terlihat dibawah kaki Tetua La Patiganna.


Begitu kuatnya ledakan energi itu membuat Narashinga sampai tersurut lima langkah. Padahal dia berjarak lebih dari dua tombak. Sebuah kekuatan tenaga dalam tingkat shakti tahap ke enam bukan lawan yang bisa dihadapi oleh lawan yang tenaga dalamnya masih ditingkat tinggi. Seluruh jarum es, bahkan kabut tersibak dan tersingkir semua dari area pertarungan.


Ledakan energi itu padahal tak lebih dari tiga puluh persen seluruh kekuatannya. Terjangan jarum es yang menyerang balik mampu ditangkis semua oleh Narashinga. Terlihat Dewa Rencong telah mengantisipasi kejadian itu medan energi yang kuat telah menghentikan jarum-jarum yang terlempar ke arahnya.


Meskipun kekuatan tetua La Patiganna begitu mengerikan, tetapi nyali Narashinga seperti tidak ada rasa takut. Belum ada satu tarikan nafas usai efek ledakan selesai, serangan susulan Narashinga kembali menghunjam ke tubuh tetua.


Trang! Trang!


Serangan jarak jauh yang dilakukan Narashinga berupa anak panah kristal es. Luncuran panah itu mengiringi langkahnya yang kembali menyerang tetua. Kabut asap yang bergulung ikut juga mengiringi setiap langkahnya mendekati tetua.


"Camar menyambar menembus ombak!"


Pedang, anak panah kristal es dan jarum kristal es silih berganti menyerang tetua. Dengan tenang tetua melayani setiap serangan yang dilancarkan Narashinga. Kabut asap kembali menebal menyelimuti sekitar area pertarungan mereka. Kali ini ketebalan kabut semakin bertambah seiring serangan Narashinga yang terus menerus menggempur ke arah tetua.


Kabut semakin bertambah padat begitu padatnya kepulan kabut disekitar area pertarungan mereka, membuat para penonton kesulitan menyaksikan jalannya pertarungan. Mereka hanya mendengar suara pedang yang beradu dengan tempo yang cepat.


"Penjara es!"


"Bargawa Bajra Nendra(Panah petir yang tertidur)!"


Dua serangan Narashinga segera menerjang ke arah tetua. Justru serangan itu dilancarkan Narashinga saat dia dibuat tersurut tiga langkah menahan tebasan tetua yang begitu kuat. Seluruh lingkup kabut yang ada disekitar tetua memadat dengan cepat membuat dirinya tidak bergerak dalam beberapa kedipan mata. Tetapi sebelum keterkejutannya selesai dan tubuhnya mampu bergerak, kembali serangan panah yang dilambari kekuatan petir menghantam tubuh tetua.


Kekuatan yang melambari panah kristal es adalah tehnik perubahan petir yang dimiliki Narashinga. Selain tehnik air dan es miliknya. Dia mampu melakukan perubahan unsur petir karena kanda yang dimilikinya sangat khusus, yaitu dia memiliki chakra muladhara yang mengandung unsur air dan api. Kemudian air dan api itu memecah menuju tehnik selanjutnya, yaitu tehnik perubahan es dan petir.


Kanda yang dimilikinya memiliki keunikan tersendiri. Tidak banyak yang memiliki dan mampu menguasainya seperti yang telah dicapai Narashinga. Sebab dengan bakat dan bimbingan dari gurunya membuat unsur alam yang terdapat pada chakra muladharanya bisa terasah dengan baik.


Kesulitan yang dihadapi seseorang yang memiliki kondisi seperti itu bisa disebut kondisi seseorang yang tidak pantas belajar ilmu bela diri. Hal itu dikarenakan tingkat kesulitan yang tinggi untuk menguasai dua unsur alam yang memiliki sifat yang sangat berlawanan itu. Tetapi guru dari Narashinga ini memiliki cara tersendiri. Sehingga mampu membimbing Narashinga sampai tahap yang memungkinkan dirinya menjadi seorang murid terkuat di perguruan cabang.


Kekuatan petir yang melambari anak panah dari es itu merupakan senjata pamungkas yang menjadi kunci keberhasilannya menembus pertahanan lawan. Bahkan itu juga merupakan kekuatan terakhir yang mampu dia lepaskan. Karena seluruh tenaga dalamnya dia gunakan dalam serangan terakhir itu.


Begitu kuatnya efek serangan terakhir itu membuat tetua La Patiganna sampai tersurut tiga langkah. Kekuatan petir yang menghantam itu bertambah kuat karena pada saat serangan petir itu mengenai tetua, tubuhnya masih diselimuti es yang lumayan tebal. Sehingga membuat efek hantaran listrik yang menghantam bertambah lima kali lipat.


Narashinga jatuh terduduk lemas setelah kekuatan terakhirnya selesai dia lepaskan.


"Sungguh kekuatan yang mengerikan!"


Tetua La Patiganna yang terhantam kekuatan Narashinga masih berdiri dengan gagahnya. Tangannya sibuk membersihkan lapisan es yang masih banyak menempel dibadannya.


"Aku tidak mengira ternyata nakmas juga menguasai tehnik perubahan petir. Sungguh kemampuan yang mengagumkan!"


"Nuwun inggih tetua, murid memiliki empat tehnik perubahan unsur alam!"


"Apa! Empat? Luar biasa, apa berarti kondisi kandamu yang disebut "surya chandra(matahari bulan) kanda itu?"


Surya chandra kanda adalah istilah penyebutan untuk menginstilahkan kondisi kanda yang hanya terdiri dua unsur alam, tetapi sangat berlawanan sifatnya. Sehingga diibaratkan seperti perbedaan siang dan malam yang diwakili matahari dan bulan.


"Benar sekali tetua!"


"Luar biasa tidak banyak yang mampu melakukan seperti yang telah kamu capai nakmas. Pantas saja kekuatanmu seakan tak ada habisnya."


"Mengenai hal itu selain kondisi kanda yang seperti tetua telah sebutkan, ada hal lain yang membuat pengerahan kekuatan tenaga dalam murid seperti meluap-luap. Itu dikarenakan khasiat obat yang diberikan salah satu peserta yang membuat kekuatan tenaga dalamku dalam kondisi terbaik."


"Obat apa yang nakmas maksudkan?"


"Saya kurang paham tetua nama obat yang diberikan, tetapi setelah meminum sebutir obat itu membuat peredaran darah dan perputaran chakra di ketujuh nadiku menjadi begitu lancar. Sehingga membuat tenaga dalamku terhimpun dengan cepat dan terasa mengalir deras."


Tetua La Patiganna berpandangan dengan Dewa Rencong.


"Ya aku pernah mendengar sebuah obat yang memiliki khasiat seperti obat itu." Dewa Rencong membalas tatapan tetua La Patiganna yang meminta pernyataan darinya.


"Itu obat yang sangat langka. Bagaimana peserta itu mampu mendapatkan obat tersebut?"


"Dia tidak mendapatkan. Tetapi justru dia sendiri yang membuatnya. Kalau murid tidak salah mendengar."


"Apa!"


Tetua La Patiganna kembali terkejut mendengar penjelasan Narashinga yang mengatakan seseorang yang masih ditingkat murid mampu membuat obat yang langka, tentu suatu yang sangat sulit dipercaya. Mengingat dari sekian tetua cabang tidak ada yang memiliki ilmu pengobatan setinggi itu apalagi muridnya, tentu sesuatu yang mustahil.


"Memang siapa nama peserta yang telah memberimu obat yang begitu langka nakmas?" Dewa Rencong ikut penasaran.


"Kalau tidak salah namanya Suro Bledek tetua."


"Oww pantas kalau nakmas Suro!"


Tetua La Patiganna kembali mengernyitkan dahinya dan memandangi Dewa Rencong.


"Apakah Dewa Rencong mengetahui murid ini?"


"Tentu saja bukankah dia murid Dewa Pedang Ketua Sektemu?"


"Tentu saja aku tahu itu. Tetapi dari mana dia belajar ilmu meramu obat ini. Setahuku Dewa Pedang tidak mengerti ilmu pengobatan."


"Mengenai itu sebaiknya tetua La Patiganna bisa bertanya kepada gurunya langsung pasti dia punya jawabannya."


Tetua La Patiganna yang merupakan tetua cabang dari timur jauh menjadi terkejut, mengetahui bahwa Dewa Rencong yang orang luar sekte bisa mengenal sosok Suro bledek. Sedangkan dia sendiri baru mengenalnya setelah Dewa Pedang memperkenalkan langsung pada dirinya.


Tetua La Patiganna hanya bisa mengusap-usap dagunya mendengar penjelasan Dewa Rencong.


"Baiklah nakmas, silahkan kembali ke tempat dudukmu di podium. Nakmas sudah meraih kemenangan dipertarungan ini."


"Terima kasih tetua!" Narashinga kemudian menjura sebelum membalikan badannya dan berjalan ke arah podium.


Setelah pertarungan Narashinga dan tetua La Patiganna berakhir maka untuk pertarungan berikutnya ditunda. Karena beberapa bagian dari arena pertarungan perlu diperbaiki terlebih dahulu. Akibat ledakan energi yang dilakukan tetua La Patiganna.


Setelah itu Dewa Rencong kembali mulai membacakan sebuah nama peserta dikarenakan tetua Eyang Kaliki telah bersiap ditengah arena.


"Mahadewi! Silahkan peserta yang saya sebut namanya segera turun ke arena pertarungan!"


"Silahkan adinda ini giliranmu bertarung!"


Mahadewi hanya mengangguk dan kemudian bangkit berdiri.


"Ingat lawan adinda kali ini adalah para tetua yang kekuatannya sudah ditingkat shakti. Jika adinda melawannya dengan cara keras melawan keras pasti kekalahan akan adinda dapat. Ikuti cara para senior yang telah memenangkan pertarungan. Gunakan strategi yang bagus sehingga mampu membuka peluang yang mampu memberikan kesempatan untuk menembus pertahanan tetua."


"Baik kakang terima kasih masukannya." Mahadewi menganguk mendengar penjelasan Suro.


"Satu lagi jangan terbawa nafsu."


Mahadewi hanya mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya menuju area pertarungan.


"Murid sudah menghadap mohon petunjuk tetua!" Mahadewi menjura ke arah tetua Eyang Kaliki dan ke arah Dewa Rencong.


"Ni mas sudah tau aturannya di babak ini, bukan?"


"Sudah tetua!"


"Jika demikian aku tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Silahkan ni mas mulai menyerang!"


"Sendiko dawuh tetua!"


Mahadewi kemudian mulai bersiap melancarkan jurus Dewi Tangan Seribu.


"Jurus pertama putaran samsara Seribu pedang!"


Ledakan energi pedang menerjang kearah tetua Eyang Kaliki.


"Sebuah jurus yang dibuat Eyang Sindurogo untuk Dewi Anggini!"


Tetua Eyang Kaliki tersenyum melihat gelar jurus yang diperlihatkan Mahadewi.