
"Akhirnya kekuatan ini dapat aku peroleh kembali. Walaupun tidak sekuat saat aku bersama jiwa dari Dewa Kegelapan. Tetapi ini sudah sesuatu pencapaian yang tidak aku sangka. Karena suatu hal yang mustahil aku dapat kembali mencapai tingkat langit lapis delapan, dalam waktu secepat ini!'
'Baiklah tuan Suro akan aku perlihatkan Langkah Maya atau Langkah Semu yang sebelumnya hamba ceritakan.'
Akibat pengerahan tehnik empat Sage yang dikerahkan Suro dengan dibantu Geho sama bukan hanya laghima yang habis diserap. Tetapi lapisan awan hitam hingga lapisan terbawah ikut lenyap. Kondisi itu membuat daratan yang berada dibawanya akhirnya bisa melihat penampakan langit malam yang dihiasi bintang.
"Langkah Semu!"
Suro mengikuti petunjuk dari Geho sama. Dalam satu kedipan mata tubuh Suro telah berpindah tempat didekat Dewa Rencong.
"Maaf paman, Suro telah membuat paman harus menunggu!''
Dewa Rencong sempat terkejut dengan kehadiran Suro yang sudah ada disampingnya tanpa dia sadari kedatangannya.
"Kerahkan tehnik api hitam milikmu segera, jurus perubahan petir milikku tidak mampu menghabisi mereka."
Saat Suro hendak mengerahkan jurus api hitam miliknya, sesosok bayangan keluar dari tubuh Suro.
'Biarkan itu menjadi tugasku tuan Suro. Dengan senang hati hamba akan melenyapkan tubuh mereka semua.'
Sosok yang baru saja berbicara adalah Geho sama.
'Selain itu saat ini hamba memerlukan tubuh para naga. Hamba akan menyerap tubuh mereka semua untuk membentuk tubuhku yang baru. Tubuh dari para naga ini merupakan percampuran dari berbagai ras. Aku juga merasakan ada bagian siluman didalamnya. Aku yakin tubuhku dapat aku bentuk kembali, karena aku memiliki satu ilmu yang memungkinkan diriku mampu mewujudkannya. Apalagi sekarang kekuatanku telah pulih, sehingga segala syarat sudah terpenuhi untuk mengerahkan jurus itu!"
"Biarkan mereka mendekat semua tuan Suro. Setelah itu, bawa temanmu pergi dari sini dengan tehnik langkah semu yang telah hamba ajarkan."
"Karena setelah itu hamba akan menggelar ilmu siluman pencuri tubuh. Kemudian akan hamba gabungkan dengan tehnik empat Sage untuk menyerap para makhluk itu."
Setelah menunggu beberapa saat, para naga itu telah mengepung mereka dari segala arah. Kemudian secara serentak mereka membuka mulutnya begitu lebar hendak menyemburkan api.
"Mari paman kita pergi dari sini. Kali ini serangan yang akan kita kerahkan harus berhasil menghancurkan wilmana."
Suro segera memegang punggung Dewa Rencong kemudian dalam satu kedipan mata Suro telah membawa mereka berdua pergi sejauh 600 tombak dari tempat sebelumnya.
Dewa Rencong terkejut dengan yang baru saja terjadi, beberapa saat dia sempat limbung karena tidak menguasai tubuhnya.
"Paman kita akan mengerahkan jurus ke empat dari tapak Dewa matahari seperti sebelumnya."
Sebelum mereka memulai serangan empat sosok melesat cepat mendekat ke arah mereka.
"Tak akan kami biarkan kalian mengganggu ritual Kanjeng Junjungan Batara Karang bersama yang lainnya!"
"Kami lah yang akan menghadapi kalian berdua. Apalagi latihan kami sudah meningkat sangat pesat. Dengan kekuatan ini saja telah cukup untuk menghadapi kalian berdua! Selain itu, kalian datang pada saat yang tepat. Sebab kami sedang mencari lawan tanding untuk menjajal kekuatan kami yang baru! Bersiaplah kalian berdua!"
"Siapa mereka paman?" Suro tidak mengenal mereka berempat yang bentuknya seperti layaknya manusia dan juga berbicara seperti dirinya.
"Agaknya mereka seperti Dukun sesat dari Daha, Tongkat iblis, dan dua tetua ular dari Perguruan Ular Hitam. Tetapi mengapa di dahi mereka sekarang tumbuh dua tanduk. Selain itu taring mereka mengapa tumbuh sebegitu panjang?" Dewa Rencong menjawab pertanyaan Suro dengan sedikit ragu.
"Matamu ternyata masih mampu mengenali kami! Hahahaha...!" Suara yang baru saja berbicara adalah wanita muda belia dengan tampangnya yang cantik dan sedikit mungil.
"Berarti dugaan kami tidak salah, jika sisa pasukan Medusa telah dijadikan pasukan Dewa kegelapan!" Dewa Rencong segera yakin jika yang baru saja berbicara adalah Dukun Sesat dari Daha.
"Hahaha...! Berbahagialah kalian berdua akan merasakan kekuatan kami yang baru! Jika bukan karena kami menghindari pengaruh dari hawa kegelapan, tentu kami akan mampu menembus tingkat langit lapis keempat."
"Kalian ternyata telah menghisap kekuatan yang ada di alam ini, sehingga membuat tampang kalian menjadi bertambah menjijikan!"
Suro tertawa mendengar ucapan Dewa Rencong yang berada disampingnya.
'Beruntung aku ada dirimu bocah, sehingga tidak bernasib sama dengan mereka yang menyerap hawa kegelapan.' Dewa Rencong berbisik sambil tertawa cukup keras.
"Kurang ajar kau menghina diriku mampuslah dirimu Dewa Rencong! Terimalah jurus selaksa dewa racun milikku!"
Sesaat sebelum jurus Dukun sesat dari Daha mengenai mereka berdua, Suro berhasil berpindah tempat dengan ilmu langkah maya atau langkah semu. Mereka berempat terkejut melihat Suro dan Dewa Rencong lenyap dari hadapan mereka dalam satu kedipan mata.
"Kemana mereka berdua?"
Saat mereka kebingungan, sebuah suara membuat mereka harus membalikkan badannya, karena suara itu berasal dari arah belakang mereka.
"Makan sendiri jurusmu nenek sihir!" Pukulan yang melesat dari tangan Suro segera dikenali oleh Dukun sesat dari Daha. Sebab jurus yang digunakan Suro adalah jurus yang sama dengan yang baru saja dia kerahkan.
"Bagaimana caranya kau mampu mengerahkan jurus andalanku ini? Kurang ajar!"
Mereka langsung berpencar menghindari jurus yang dikerahkan Suro. Sebab racun yang menerjang itu sangatlah kuat.
"Paman aku akan menghadapi si dukun beracun ini, paman hadapi yang lainnya!"
"Hati-hati bocah menghadapi iblis beracun itu!"
Suro mengangguk dan langsung melesat menyerang ke arah wanita belia yang wajahnya cukup rupawan. Hanya saja bibir dan jari-jari tangannya yang memiliki kuku panjang menghitam. Kondisi itu sudah menggambarkan betapa sesatnya ilmu racun yang dikuasainya.
Langkah semu yang dikuasai Suro, menyulitkan Dukun sesat untuk dapat melukainya. Di awal dia yang sudah menguasai tenaga dalam tingkat langit lapis kedua merasa mampu mengalahkan Suro dengan mudah.
Tetapi berkali-kali Suro dengan mudah menghindari setiap serangan beracun miliknya.
Namun racun yang digunakan ahli racun itu penuh variasi. Walau setiap serangan yang menerjang dapat dihindari, tetapi tetap saja kabut asap yang menyebar ke segala arah susah untuk dihindari. Beruntung Suro memiliki penawar racunnya. Terlihat dia segera menelan Pill penawar miliknya.
"Bagaimana kamu memiliki penawarnya?"
Suro tidak menjawab justru tersenyum lebar mengetahui Pill penawar miliknya memang ampuh menetralisir seluruh racun milik Dukun Sesat.
Secara terus menerus Dukun Sesat itu mengerahkan ilmu racun dengan segala pengetahuan yang dia ketahui.
Merasa serangan jarak jauhnya tidak mampu mengenai Suro yang mampu berpindah tempat dengan cepat, akhirnya dia menyerang dengan serangan jarak dekat, yaitu dengan Jurus Cakar Seribu Racun. Kukunya yang hitam dan panjang itu memiliki ketajaman yang tidak diragukan.
Mereka semua bertarung sambil terbang tinggi diatas udara, bahkan lebih tinggi dibandingkan awan yang berada jauh dibawahnya. Kecuali Suro, mereka semua sudah berada ditingkat langit, sehingga dapat melayang diudara tanpa takut terjatuh.
Tetapi lesatan tubuh Suro yang bergerak lincah berdiri diatas bilah pedangnya, justru bergerak dengan sangat lincah seakan burung camar. Apalagi ilmu langkah semu milik Geho sama membuat musuhnya benar-benar kerepotan.
"Akhirnya aku sudah memahami semua jurus milikmu, cukup sampai disini pertarungan kita nenek sihir!"
Setelah berkali-kali menghindari dan hanya sesekali membalas, akhirnya wanita berparas seperti gadis belia itu menyadari alasan dibalik perilaku Suro yang terus menghindari setiap serangannya. Karena dia sedang mencoba memahami dan mempelajari setiap jurus yang dikerahkan musuhnya.
Dia yang sudah katam membaca dan terus memahami kitab dewa racun, masih memerlukan pendalaman dengan melihat pengerahan dari ahlinya agar dia dapat memahami lebih sempurna. Pertarungan dengan Dukun Sesat dari Daha ini, justru digunakan Suro untuk mempelajari jurus yang dimiliki musuhnya.
"Setan alas jadi sedari tadi aku dipecundangimu, bocah?! Kau justru memanfaatkan pertarungan ini untuk mencuri ilmu milikku! Akan aku pastikan ilmu itu dikubur bersama jasadmu yang hancur!"