SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 102 SERANGAN SILUMAN DI PERGURUAN PEDANG HALILINTAR part5



Serangan yang mereka lakukan dengan mengunakan Jurus Tebasan Sejuta Pedang yang dilakukan bersama-sama, telah menjadi serangan penutup yang mengerikan. Sebab kali ini serangan mereka telah memastikan musuh yang mereka kejar telah binasa.


"Akhirnya kita berhasil menumbangkan para siluman saat mereka sedang berada didarat." Eyang Baureksa tersenyum puas setelah bersama dengan empat tetua lainnya mengerahkan jurus Tebasan Sejuta Pedang dengan kekuatan penuh.


"Benar sekali, baru kali ini kita punya kesempatan menghajar para siluman dengan jurus Tebasan Sejuta Pedang. Selain itu jujur baru dua kali aku menggunakan jurus yang sangat dahsyat ini dengan kekuatan maksimal. Pertama kali aku menggunakannya saat kita bersama dengan tetua lain menyerang pasukan Medusa yang telah menguasai Perguruan Pedang Halilintar." Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam ikut tersenyum setelah merasakan sendiri kedahsyatan jurus yang belum lama dia pelajari itu.


Senyum pendekar dari Swarnabhumi itu memudar seiring dengan perasaan ganjil yang datang kepadanya.


"Tetua Baurekso bisa jaga ragaku sebentar karena aku merasakan sesuatu yang aku tidak bisa jelaskan sekarang." Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam segera duduk untuk memulai melakukan samadhi.


"Jangan khawatir Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam, lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku akan menjagamu sampai kamu sadar." Eyang Baurekso kemudian berdiri didekat tetua Datuk Rajo.


"Tetua Baurekso, apa sebaiknya kami bertiga kembali ke perguruan lebih dulu? Karena kita telah meninggalkan pos yang kita jaga." Seseorang tetua dari Champa yang berbicara begitu kaku karena memang bukan bahasanya. Dia dan dua tetua dari Malaka berniat kembali lebih dulu ke perguruan karena bagian utara yang mereka tinggalkan menjadi berkurang kekuatannya.


"Benar, kalian kembali saja lebih dulu. Biar aku sendiri yang menunggu Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam disini."


Mendengar perkataan Eyang Baurekso mereka bertiga bergegas bergerak kembali ke jalan yang dilewati sebelumnya. Eyang Baurekso kemudian duduk disamping tubuh Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam.


Lelaki itu telah tenggelam dalam samadhinya. Eyang Baurekso tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan perasaan ganjil yang dimaksud pendekar dari Perguruan Inyiak Balang itu.


Namun lelaki itu memahami jika rekannya itu memiliki kekuatan jiwa yang cukup tinggi, sehingga mampu merasakan sesuatu yang berasal dari dunia lain. Karena kondisi jiwanya menjadi lebih sensitif daripada orang lain.


**


Tiga tetua bergerak cepat mungkin agar segera sampai di perguruan. Mereka begitu khawatir dengan kondisi gerbang sebelah utara yang ditinggalkan.


Setelah berlari cukup lama, mereka justru kembali muncul ditempat dimana Eyang Baurekso menunggu Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam yang sedang bersamadhi. Eyang Baurekso terkejut dan mulai memincingkan matanya melihat ketiga tetua kembali ketempat semula.


Ketiga tetua tidak kalah terkejut. Ternyata setelah berlari cukup lama, mereka hanya memutar. Sambil menahan malu mereka kembali berlari tanpa menghentikan langkahnya.


Tiga tetua itu sebenarnya kebingungan, tetapi engan bertanya kepada Eyang Baurekso yang masih duduk bersedekap. Eyang Baurekso merasa aneh melihat ketiga tetua justru kembali muncul ketempat semula.


Sudah tiga kali mereka bolak-balik melewati Eyang Baurekso. Dia sudah mulai jengah dengan tingkah mereka.


Setelah tidak juga menemukan jalan balik, akhirnya mereka menyerah. Mereka kemudian memilih berhenti, ketika sampai di suatu tempat yang cukup tinggi.


Atas usul tetua Nguyen poo yang berasal dari perguruan cabang di Champa, mereka mencari arah yang benar dengan menaiki pohon paling tinggi.


"Benar kalian periksalah ke atas aku sebaiknya menunggu dibawah saja menjaga kemungkinan serangan dari bawah yang bisa mengakibatkan hal yang berbahaya!" Tetua dari Malaka yang lebih tua berteriak ke arah dua tetua yang telah naik ke bagian paling atas dari pohon tertinggi.


Dua tetua dari Malaka itu memiliki nama yang cukup unik. Tetua dari Kerajaan Malaka yang lebih tua bernama Datuk nan Lapuk, sedangkan yang lebih muda bernama Datuk nan Bujang.


Tetua Nguyen Poo yang berdiri tegak diatas dahan tertinggi memandang ke sekitar mencoba mencari letak Perguruan Pedang Halilintar berada. Tetapi gelapnya malam membuat tetua itu kesulitan menemukan arah.


Datuk nan Bujang yang memiliki ketakutan pada ketinggian, terpaksa ikut naik ke atas pohon. Tetua Nguyen Poo tidak mengetahui hal itu. Karena itulah tanpa rasa berdosa dia menyeret tetua itu ikut naik ke atas pohon.


"Bagaimana caranya kita menemukan arah, jika kita tidak mampu melihat apapun," gumam Tetua Nguyen Poo.


"Benar sekali tetua Nguyen Poo, bagaimana kita bisa menemukan jalan, jika malam segelap ini?" mata tetua Datuk nan Bujang itu sebenarnya tidak terbuka sedikitpun.


Dia berpura-pura ikut mencari petunjuk jalan dengan mata sepenuhnya terpejam. Ketakutannya pada ketinggian membuat tetua itu tidak berani melihat.


"Waduh...cilaka dua belas ternyata kita memang tidak menemukan arah jalan pulang. Sebaiknya kita tanya saja kepada tetua Baurekso." Tetua Nguyen menyampaikan usulnya.


"Benar sekali bukankah Eyang Baurekso adalah guru besar Perguruan Pedang Halilintar seharusnya dia tau daerah ini."


Datuk nan Bujang yang takut ketinggian segera turun dari atas pohon, setelah memiliki alasan yang tepat menyudahi cara yang diusulkan tetua Nguyen.


Dia akhirnya bisa bernafas lega setelah selamat dari ketinggian pohon yang baginya sangat menakutkan. Ketakutannya pada ketinggian membuat dadanya berdegub begitu kencang.


"Ah...kenapa tidak sedari tadi saja kita bertanya terlebih dahulu kepada dirinya?" Tetua Nguyen Poo menepuk jidatnya dia segera menyusul ke bawah.


Mereka tidak mampu menemukan jalan pulang selain malam yang masih gelap, selain itu juga dikarenakkan kondisi alam yang mereka lewati adalah hutan yang sangat lebat baik pohonnya maupun semak belukarnya. Kondisi hutan itu mengingatkan pada sebuah hutan yang sama sekali tidak pernah dijamah oleh manusia.


Sebelumnya mereka mampu mengejar siluman itu karena memang wujud rambutnya yang berupa api, sehingga mempermudah aksi pengejaran yang mereka lakukan. Begitu siluman itu berhasil dibunuh, maka cahaya yang berasal dari siluman itu pun ikut lenyap.


Walupun mereka semua adalah para tetua yang malang melintang didunia persilatan, ternyata ada kalanya mereka juga bisa tersesat ditengah hutan seperti sekarang ini.


Harapan satu-satunya yang bisa menolong mereka hanyalah Eyang Baurekso yang kemungkinan besar lebih memahami hutan dimana sekarang mereka berada. Karena dia adalah guru besar dari Perguruan Pedang Halilintar.


**


**Silahkan tinggalkan koment untuk memberikan masukan kepada author jika masih ada kekurangan baik tehnik penulisannya maupun yang lainnya. Terima kasih yang masih setia menunggu up dan tetp memberikan point dan koin dan tidak lupa likenya jangn lupa.


Salam gemblung**