
Mendapatkan jawaban dari Dewa Obat yang begitu menohok, tetua Xie Tie tetap menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Kami ini sudah tidak ada bedanya dengan para tahanan perang. Syarat apapun yang pendekar Dewa Obat berikan, akan kami patuhi. Karena itu diriku yang saat ini mewakili Perguruan Lembah Beracun menerima semua syarat dari Dewa Obat dan juga pendekar yang bersamamu."
"Jika memang kalian mensetujui syarat yang aku kemukakan, buktikan niat baik kalian!"
Kali ini giliran tetua Xie Tie yang kebingungan mendengar ucapan Dewa Obat, "jika boleh tau apa yang harus kami lakukan, agar Dewa Obat bisa melihat niat baik kami.
"Tentu saja kami ingin kalian membebaskan para tawanan yang akan kalian jadikan tumbal."
"Mengenai hal itu kami akan melakukannya, tetapi..."
Tetua Xie Tie lalu menceritakan tentang keadaan tawanan yang dikumpulkan pasukan Elang Langit di perguruan mereka. Karena tumbal yang dimaksud adalah para bayi.
Mereka para bayi itu rata-rata masih berumur sekitar dua tahun ke bawah. Tentu tidak mudah untuk mengembalikan ke keluarganya. Sebab yang mengumpulkan bayi bukanlah mereka, tetapi pasukan Elang Langit.
Jika mereka yang mengembalikan bayi-bayi yang diculik itu, maka dunia persilatan mengira perguruan mereka lah yang melakukannya.
"Karena itu, jika ingin mengembalikan mereka, bisakah tuan pendekar Dewa Obat mencarikan cara agar nama perguruan kami tidak didakwa sebagai pelakunya.
Selain itu pasukan Elang Langit yang sebelumnya tinggal perguruan kami, kini mereka sudah tidak ada, tewas semua dalam pertempuran yang baru saja selesai, terakhir adalah Yon Suzaku. Dia juga telah tuan pendekar lenyapkan."
Tetua Xie Tie mencoba menjelaskan kepada Dewa Obat mengenai kesulitan mereka jika diminta mengembalikan tahanan. Tetapi selain itu dia berjanji akan sesegera mungkin melepaskan semua tahanan yang selain bayi itu.
Dia menjelaskan jika pelaku penculikan para bayi-bayi itu adalah anggota pasukan Elang Langit. Perguruan Lembah Beracun tidak ikut campur. Semua dilakukan sendiri oleh pasukan Elang Langit yang dipimpin Yon Suzaku.
Karena memang dalam kesepakatan antara pasukan Elang Langit dan Perguruan Lembah Beracun belum dimulai. Tetapi dia sendiri tidak dilibatkan dalam kesepakatan rahasia antara Karuru dengan ketua Lam Thian.
Sebab mereka sudah diijinkan tinggal didalam perguruan mereka, padahal salah satu syarat yang dijanjikan pasukan Elang Langit kepada perguruan mereka untuk menghancurkan perguruan aliran putih Kuil Suci belum dilakukan.
Bahkan tetua Xie Tie juga sempat memprotes keputusan ketua Lam Thian itu. Tetapi protes itu tidak diindahkan, dia menyebut itu adalah salah satu syarat didalam kesepakatannya dengan Karuru.
Dia menyebut jika rencana pasukan Elang Langit berhasil, maka Perguruan Lembah Beracun akan mampu mencapai puncak kejayaannya.
Entah kesepakatan apa, yang jelas pasukan Elang Langit diperlakukan seperti tamu kehormatan, terutama Yon Suzaku. Dia bahkan selalu menemani Ketua Lam Thian kemanapun pergi.
Pasukan Elang Langit yang ada di kota He Bei tidak lah sama dengan yang melakukan penculikan di kota Shaanxi. Mereka telah melarikan diri ke kota lain bersama Roku Suzaku yang memimpinnya.
Di awal pertempuran, salah satunya yang datang menghadang Suro adalah pasukan Elang Langit. Tindakan mereka, justru semakin meyakinkan Suro, jika tempat yang mereka cari sudah tepat.
Suro mengenali pasukan Elang Langit dengan melihat jurus menukar tubuh dengan kayu dan beberapa trik sihir yang dilakukan pasukan itu.
Cukup panjang tetua Xie Tie mencoba menjelaskan masalah yang ada kepada Dewa Obat. Beberapa pertanyaan juga diajukan Suro kepada tetua itu.
Antara lain dia mencoba menegaskan hubungan mereka dengan Batara Karang atau Dewa Kegelapan. Beberapa hal mengenai hubungan mereka dengan pasukan Elang Langit juga ditanyakan oleh pemuda itu.
Dengan lugas tetua Xie Tie menjelaskannya secara terperinci. Dia memang tidak berusaha menutupi segala hal yang ditanyakan.
Tetua Xie Tie memahami apa yang dia ucapkan berhubungan dengan keselamatan seluruh anggota perguruan yang tersisa. Di ujung lidahnya nyawa mereka bergantung.
Salah sedikit saja dia berbicara, maka kemungkinan itu akan mampu melenyapkan nyawa mereka semua. Karena itu dia menjawab sebaik mungkin sejauh yang dia ketahui
Dengan penjelasan-penjelasan tetua Xie Tie yang tidak mengada-ada, akhirnya Dewa Obat bisa menerimanya. Dia kemudian mencoba mencari jalan keluar atas masalah yang ada.
"Jadi seperti itu, baiklah. Aku akan mencoba mencari jalan keluarnya mengenai hal itu."
Setelah berpikir sedikit lama, Dewa Obat akhirnya menemukan cara yang elegan agar bayi itu bisa dikembalikan kepada kerabatnya masing-masing yaitu melewati pihak ketiga.
"Aku menemukan cara, agar nama perguruan kalian tidak dipersalahkan. Tetapi ini mungkin akan sulit bagi kalian untuk menerimanya. Tetapi percayalah ini adalah jalan yang paling masuk akal."
"Memang cara apa yang akan tuan pendekar Dewa Obat pilih?"
"Aku akan meminta bantuan aliran putih..."
"Tetapi.."
Karenanya Dewa Obat segera menghentikan ucapan tetua Xie Tie yang hendak mengajukan keberatan dengan usul itu. Pendekar itu berusaha meyakinkan mereka agar dapat menerima usulannya.
"Aku akan memberikan alasannya, pertama masyarakat lebih mempercayai mereka dan kedua..." Dewa Obat lalu menjelaskan satu-persatu alasannya kepada tetua Xie Tie. Walau tetua dan anggota lain yang ada dibelakangnya mulai kasak-kusuk.
"Lalu perguruan apa yang pendekar pilih untuk menolong masalah ini?"
"Perguruan Kuil Suci."
Tentu saja semua tetua dan anggota Perguruan Lembah Beracun berseru satu kata tidak setuju. Tetapi keputusan Dewa Obat sudah bulat tidak bisa diganggu gugat.
Dengan terpaksa akhirnya mereka pasrah. Setelah mengutarakan pendapatnya, maka Dewa Obat dan Suro berangkat ke Perguruan Kuil Suci.
Geho Sama mendapatkan tugas tetap berjaga mengawasi seluruh anggota Perguruan Lembah Beracun. Tentu saja Geho Sama tidak serta merta mau menuruti perintah, dengan berkilah menjaga membutuhkan tenaga ekstra, akhirnya Dewa Obat memberikan beberapa butir pill Tujuh Nirwana.
**
Dewa Obat bersama Suro sesuai rencana pergi menuju Perguruan Kuil Suci. Demi menghemat waktu Suro menggunakan jurus Langkah Maya.
Mereka berdua muncul di luar perguruan aliran putih itu. Hal itu untuk menghindari salah paham yang mungkin saja terjadi.
Karena tujuan mereka memang hendak meminta bantuan kepada perguruan itu. Tentu tidak pantas dengan muncul mendadak ditengah perguruan mereka.
Diluar perkiraan kabar mereka berdua yang muncul di Kuil Suci justru disambut dengan begitu baik. Bahkan secara pribadi wakil ketua Kuil Suci rela menyempatkan waktu untuk menyambut kedatangan mereka berdua.
Tentu saja wakil ketua Perguruan Kuil Suci menyambut dengan sangat baik, sebab dia merasa berhutang Budi kepada pendekar yang datang ke perguruannya. Sebab wakil ketua perguruan itu adalah Pendekar Pedang Giok yang sebelumnya bertarung melawan Suro.
Dewa Obat mulai menjelaskan niat kedatangan mereka kepada wakil ketua Perguruan Kuil Suci dengan sebaik mungkin. Beruntung Pendekar Pedang Giok justru menyambut baik usul yang dikemukakan Dewa Obat.
Sebab apa yang diceritakan Dewa Obat adalah keinginan mereka sejak dulu untuk menaklukkan aliran hitam dari wilayah He Bei. Kini tanpa bersusah payah, justru mereka ditawari untuk menguasai Perguruan Lembah Beracun, tentu saja niat itu disambut dengan baik.
"Tentu saja kami akan mengembalikan semua bayi yang ada, agar bisa berkumpul dengan keluarganya yang asli. Demi hal itu, kami akan mengontak walikota He Bei.
Dengan bantuannya, maka lebih mudah bagi kami untuk mengumpulkan data tentang keluarga yang kehilangan bayi."
Dengan bantuan pendekar dan pasukan Perguruan Kuil Suci akhirnya para bayi dapat diselamatkan dan dikembalikan kepada keluarga yang berhak.
Mereka semua dikembalikan kepada keluarga asalnya. Tentu saja mereka tidak mampu meluapkan rasa syukur. Tetapi kemudian timbul pertanyaan mengapa bayi mereka bisa berada ditangan para pendekar aliran putih itu.
Akhirnya Pendekar Pedang Giok memberikan alasan, jika para pendekar dari Kuil Suci menyelamatkan mereka dari tangan penyamun.
Walaupun sedikit ada rasa curiga, tetapi perasaan mereka segera tergantikan oleh rasa bahagia kembalinya anak-anak mereka.
Semua masalah kelanjutan Perguruan Lembah Beracun diserahkan Pendekar Pedang Giok yang mewakili Perguruan Kuil Suci.
"Terima kasih Dewa Obat, mungkin mulai saat ini kami para pendekar aliran putih memandang dirimu berada di pihak kami." Pendekar Pedang Giok menangkupkan kedua tangannya menggenggam didepan dada lalu membungkuk.
Kali ini dia memberikan rasa hormatnya kepada Dewa Obat yang telah ikut menghancurkan Perguruan Lembah Beracun yang selama ini menjadi saingan terberat bagi Perguruan Kuil Suci.
Bahkan atas usul Suro, akhirnya Perguruan Lembah Beracun berganti nama Perguruan Lembah Suci. Itu sebagai pertanda, jika perguruan itu dibawah pengawasan Perguruan Kuil Suci.
Dengan tindakan mereka bertiga, kini telah merubah peta dunia persilatan, khususnya dunia persilatan yang ada di sekitar daerah He Bei.
"Pendekar Pedang Giok terimakasih telah membantu kami menyelesaikan semua permasalahan ini" ucap Dewa Obat.
"Diriku hanyalah mewakili ketua Perguruan Kuil Suci," balas Pendekar Pedang Giok merendah.
"Salam hormat kepada ketua Perguruan Kuil Suci, yaitu Pendekar Tapak Suci, sepertinya kami harus bergegas melanjutkan perjalanan. Sebab ada hal penting lain yang harus kami selesaikan," lanjut Dewa Obat memberi hormat kepada pendekar yang berada dihadapannya.
"Tentu saja, pasti akan saya sampaikan salam tuan Pendekar Dewa Obat kepada ketua perguruan."
Setelah menyerahkan urusan yang harus diselesaikan kepada Pendekar Pedang Giok, mereka bertiga lalu melanjutkan rencana menuju Makam kaisar pertama Qin Shin Huang yang berada di pegunungan Lishan.
Dalam sekejap mereka bertiga lenyap dari pandangan para pendekar yang sebagian terperanjat melihat pengerahan jurus Langkah Maya. Selain Pendekar Pedang Pedang Giok, mereka tidak pernah melihat ilmu ruang waktu yang ditunjukan Suro dan Geho Sama kepada mereka.