
"Mohon maaf senior harus menunggu lebih lama. Karena paman guru, ee.. maksudnya ketua perguruan pusat Dewa Pedang tidak membiarkan Suro untuk pulang terlebih dahulu. Sudah tiga hari setelah seleksi tetua berakhir Suro secara terus-terusan berlatih di dekat kediaman Ketua Pusat."
Suro yang baru saja pulang dari kediaman Dewa Pedang tidak menyangka telah ditunggu tamu sedari tadi. Bahkan dari kemarin lusa mereka menunggu bolak-balik.
"Tidak mengapa tetua karena kami juga sedang menunggu guru kami yang masih berlatih jurus ciptaan tetua. Mohon maaf sebelumnya, sebaiknya tetua jangan memangil kami dengan panggilan senior. Sebab anda sekarang adalah tetua kami. Kami tidak mau disebut murid kurang ajar. Tidak pantas dan tidak berani kami sebagai seorang murid dipanggil dengan sebutan senior oleh tetua. Mohon tetua jangan memangil murid ini dengan pangilan senior."
Rithisak dan Made Pasek secara bebarengan bangun dari tempat duduknya dan menjura ke arah Suro. Suro yang mendapatkan perlakuan begitu istimewa menjadi merasa aneh. Dia belum terbiasa dengan pangilan tetua yang dia sandang. Suro mulai mengaruk kepalanya sambil tertawa kecil.
"Tetua ya? Hehehe tidak usah berlebihan senior. Selain itu disini kan sedang dirumahku sendiri bukan dikawasan perguruan tidak ada yang melihatnya. Sudah, tidak usah menggunakan panggilan tetua disini. Hehehehe!" Suro tertawa kecil sambil mengaruk-garuk kepalanya. Dia merasa aneh dengan sebutan tetua karena perasaan umurnya terpaut jauh lebih muda dengan mereka.
"Mohon dengan amat sangat tetua, kami sebagai murid tidak berani menerima panggilan senior dari tetua. Kami tidak mau disebut murid kurang ajar. Mohon dengan amat sangat dengan kemurahan hati tetua untuk tidak mempersulit kami dengan sebutan senior, agar kami sebagai murid ini tidak kualat dan tidak celaka dikemudian hari karena telah melecehkan seorang tetua perguruan. Sekali lagi mohon dengan amat sangat agar tetua tidak memangil kami dengan sebutan senior." Kembali mereka berdua secara bersamaan menjura dengan lebih dalam.
"Baik.. baik.. cukup..cukup sen..ee.. lalu bagaimana aku memangil kalian?"
"Panggil saya, murid yang cubluk(bodoh) ini dengan panggilan Made Pasek atau cukup dengan murid saja?"
Setelah Made Pasek selesai berbicara dia memberikan kode ke arah Rithisak untuk bergantian berbicara. Sebab sedari tadi yang berbicara hanya Made Pasek. Rithisak hanya mengekor dibelakangnya sambil ikut menjura ke arah Suro. Kepalanya lebih banyak tertunduk tidak berani menatap mata Suro secara langsung.
"Saya sebelumnya memohon maaf terlebih dahulu kepada tetua, jika beberapa hari yang lalu memperlakukan tetua dengan sikap yang sangat melecehkan dan tidak menghormati tetua. Selain itu saya mohon tetua tidak memanggil saya dengan sebutan senior lagi. Saya tidak ingin disebut sebagai murid yang kurang ajar. Sekali lagi dengan amat sangat dengan kerendahan hati tetua mau memangil kami murid yang cubluk ini dengan nama saya Rithisak Somnang atau cukup tetua panggil saja saya dengan panggilan murid cubluk." Dia berbicara dengan suara bergetar. Rithisak berbicara secara perlahan dan sejelas mungkin agar tidak menyinggung Suro. Dia begitu ketakutan sejak melihat betapa menakutkannya setiap jurus yang diperlihatkan Suro. Apalagi setelah mengetahui dia juga menciptakan sebuah jurus yang sekarang menjadi jurus andalan seluruh Perguruan yang berafiliasi dengan Perguruan Pedang Surga.
"Sen..ee..maksudku Rithisak apakah sedang sakit? Suaranya terdengar agak bergetar seperti sedang menggigil kedinginan. Apa tadi sebelum aku datang habis berendam dikali belakang rumah yang airnya sangat dingin itu?" Suro yang mendengar ucapan Rithisak memincingkan mata karena terdengar begitu aneh. Dia tidak mengetahui mengapa tubuh Rithisak bergetar seakan sedang mengigil kedinginan, padahal matahari sedang terik. Membuat setiap perkataan Rithisak bergetar menjadi terdengar aneh dikuping.
Kolo weling yang mendengar pertanyaan begitu bodoh hanya menahan tawanya sebisa mungkin. Dia sudah bisa memaklumi dengan tingkah junjungannya yang kadang bertingkah bodoh tidak bisa memahami situasi. Berbeda dengan yang Made Pasek alami. Dia yang baru saja meminum air tak mampu menahan tawanya seluruh air yang berada didalam mulutnya tersembur semua membasahi seluruh wajah Rithisak.
Rithisak rasanya ingin mengumpat habis jika saja dia tidak mengingat, bahwa dirinya sedang dalam misi yang sangat berbahaya kelewat-lewat, yaitu misi meminta maaf kepada Suro.
"Maaf.. maaf Rithisak aku keselek air." Made Pasek bereaksi seperti itu, sebab sejak dari awal sudah mengetahui ketakutan Rithisak kepada Suro dengan begitu berlebihan, membuat tubuh Rithisak bergetar mengigil ketakutan. Bahkan dia juga mengetahui Rithisak sempat beberapa kali pingsan setelah melihat Suro mengelar jurusnya dengan begitu mengerikan.
Dengan masukan para peserta lain dan ditemani Made Pasek, akhirnya dia memberanikan dirinya datang ke kediaman Suro untuk meminta maaf. Selain menemani Rithisak Made Pasek juga datang karena ada misi lain, yaitu menagih janji jurus yang dulu pernah diucapkan akan diberikan Suro setelah akhir seleksi.
"Tidak tetua..saya tidak sedang sakit..Sekali lagi saya memohon dengan kerelaan hati tetua mau memberikan maaf kepada murid yang sebelumnya telah bertindak dengan begitu kurang ajar kepada tetua." Kembali Rithisak menjura ke arah Suro.
Suro mendengar permintaan maaf Rithisak terdiam sebentar. Dia mencoba memahami perkataan Rithisak yang meminta maaf berkali-kali kepadanya. Matanya menatap ke arah Rithisak sambil berpikir mengingat-ingat peristiwa apa yang membuat Rithisak sampai berkali-kali meminta maaf kepadanya.
Rithisak sempat melirik sebentar ke arah Suro yang tidak segera menjawab permintaan maafnya justru menatapnya dengan tajam. Membuat Rithisak menjadi menciut sekecil mungkin. Dia hanya menundukkan kepala tak lagi berani menatap mata Suro.
"Ooo mengenai itu. Hahahahah jangan dihambil hati, tidak mengapa. Seharusnya saya yang justru meminta maaf karena sudah membanting tubuh seni.. e maksudku Rithisak sampai menghancurkan beberapa kursi. Waktu itu aku bergerak secara tidak sadar karena merespon gerakanmu yang akan mencoba menyerangku. Sudah jangan dipikirkan lagi masalah sepele seperti itu."
Rithisak yang mendengar perkataan Suro langsung mendongakan kepala. Kemudian sebuah senyuman terbuka dengan begitu lebar. Dia terlihat begitu bahagia mendengar Suro tidak mempermasalahkan apa yang sudah dia lakukan kepadanya.
"Terima kasih tetua, terima kasih!" Dia bergerak ingin mencium kaki Suro tetapi gerakan itu sudah diantisipasi oleh Suro, sehingga dia mampu mencegah untuk tidak melakukannya.
"Sudah, itu hanya masalah kecil tidak perlu dibahas. Silahkan duduk kembali."
"O iya sebentar. Paman Kolo Weling bisa tolong ambilkan obat yang sebelumnya aku minta! Waktu itu aku sudah berjanji akan memberikan obat." Suro menoleh ke arah Kolo Weling yang berdiri dibelakang Suro seperti seorang pengawal. Dia begitu bangga jika dia berdiri disamping junjungannya itu. Dia sedang membayangkan menjadi seorang Mahapatih yang berdiri disamping Maharaja.
Entahlah mungkin ada yang salah dengan isi kepalanya. Sejak dia diselamatkan nyawanya dari kemurkaan Eyang Sindurogo yang begitu menakutkan. Dia melihat Suro seperti menjelma menjadi seorang Baginda Sri Maharaja junjungan sesembahan raja teragung diseluruh muka bumi.
"Sendiko dawuh nakmas Suro."
Made Pasek sedikit memincingkan matanya melihat seorang yang memiliki tampang begitu menyeramkan bisa menaruh hormat kepada seorang Suro. Bahkan perlakuannya kepada Suro terasa berlebihan seperti memperlakukan seorang raja besar saja.
"Sampai dimana tadi? O iya, selain obat yang aku janjikan kepada Rithisak aku juga akan mengajarkan kepada Made Pasek jurus yang lebih sempurna dari miliknya yang sekarang. Mari kedepan akan saya perlihatkan jurus yang sudah saya janjikan itu."
Suro mulai mengelar jurus pedang lentur yang meminjam pedang milik Made Pasek. Setelah beberapa kali mengulang dia meminta Made Pasek meniru gerakannya. Beberapa kali juga Suro memperbaiki gerakan Made Pasek yang kurang sempurna.
Rithisak melihat dari kejauhan dia tidak ikut serta berlatih karena memang jurus itu diberikan untuk Made Pasek. Walaupun begitu dia tersenyum puas setelah misinya berhasil dengan gemilang. Apalagi dia juga mendapatkan obat yang sangat bagus. Dia akan menunjukan khasiat obat ini kepada gurunya setelah dia balik dari kediaman Suro. Pasti gurunya akan menyukainya.
"KAKANGGGGG!!"
Suro yang sedang mengajari Made Pasek terkejut mendengar suara seorang wanita cantik yang dari kejauhan sudah berteriak-teriak penuh kemarahan. Melihat pertanda yang kurang bagus segera dia bergegas bergerak ke belakang tubuh Made Pasek.
"Waduuuh gawat, gawat, pawangnya tidak ada disini!"
"Ada apa tetua?" Made Pasek kebingungan melihat tingkah Suro yang aneh. Suro bergerak dengan langkah kilatnya mencoba menyembunyikan tubuhnya secepat yang dia bisa. Made Pasek tidak kalah terkejut dengan cara Suro melesat tau-tau tubuhnya sudah dibelakang dirinya yang justru memantung sambil mengaruk-garuk kepala kebingungan. Kecepatan langkah Suro yang bergerak seperti siluman membuat Made Pasek terkagum-kagum.
"Ssssst! Jangan bergerak wanita itu sedang triwikrama menjadi Batari Durga! Waduuh gawat pawangnya tidak ada disini."
'Setauku wanita itu ikut menjadi peserta, walaupun akhirnya tidak mendapatkan jabatan tetua muda. Kalau tidak salah dia bernama Mahadewi.' Made pasek membatin sambil tidak berhenti mengaruk kepalanya.
"Waduuuh.... kesalahan apalagi yang telah aku perbuat? Kenapa tiba-tiba dia sudah berubah menjadi Batari Durga lagi? Waduuuh gawat! Bagaimana dia juga bisa tau rumahku, padahal aku tidak pernah mengajaknya kesini?"
Made Pasek hanya bisa mengaruk-garuk rambutnya melihat orang yang ditakuti Rithisak sampai pingsan beberapa kali, kini justru ketakutan setengah mati melihat wanita secantik itu.
'Tetua ini tingkahnya agak aneh atau perasaanku saja?' Kembali Made Pasek mengaruk-garuk kepalanya.
"Dia melihatku tidak?" Suro berbicara sambil sembunyi membelakangi tubuh Made Pasek yang memang tubuhnya lebih besar daripada Suro.
"Dia sudah terlanjur melihat tetua, dia sedang berjalan mendekat kearah sini."
"Waduuh gawat."
"Kakang! Jangan sembunyi dibelakang tubuh orang lain aku sudah melihatnya!" Mahadewi bertolak pinggang didepan Made Pasek yang tersenyum sambil mengaruk-garuk kepalanya.
Kepala Suro keluar dari balik punggung Made Pasek dengan perlahan, sangat pelan sekali.
"Adinda Mahadewi bagaimana kabarnya?" Senyum lebar menghiasi wajah Suro sebagai bentuk jimat penangkal bala.
"Kenapa kakang tidak memberitahu bahwa guru kakang Eyang Sindurogo?"
Mendengar perkataan Mahadewi dia merasa bersukur.'Ternyata cuma urusan ini yang membuatnya kembali menjelma menjadi makluk buas.' Senyumnya tetap dipasang semanis mungkin.
"Ooo masalah itu maafkan kakang, jika itu telah membuat Mahadewi yang cantiknya melebihi dewi khayangan ini menjadi gusar. Hingga datang jauh-jauh ke gubukku ini. Kakang sebenarnya berencana akan menjelaskan kepada adinda setelah selesai seleksi tetua muda, tetapi Dewa Pedang ternyata mendahuluiku!" Sebuah senyuman masih tersemat melebar memenuhi wajahnya.
'Kenapa aku yang disalahkan dia sendiri tidak menayakan siapa nama guruku?' Senyum Suro masih dikembangkan sedemikian rupa mengikuti buku yang telah dia baca dari perpustakaan Dewa Pedang. Buku yang berjudul "seratus langkah cerdas menaklukkan wanita".
'Mana mungkin ada wanita yang akan mempan terperdaya oleh bujuk rayu yang sedemikian bodohnya.' Made Pasek yang mendengar pujian Suro yang terdengar kaku berusaha menahan tawanya sekuat mungkin dengan satu tangannya menutupi mulutnya.
"Aaaah...bisa saja kakang memujiku seperti itu!" Terlihat perubahan paras wajah Mahadewi yang menjadi bersemu merah menahan malu.
Made Pasek menepuk jidatnya melihat Mahadewi begitu mudahnya menerima pujian Suro yang terasa mengada-ada itu. Walaupun dia memang mengakui kecantikan dara satu ini jauh diatas rata-rata.
"Tetapi ingat kakang harus mengajari adinda dengan langkah kilat yang kakang punya!"
"Baiklah, kakang akan mengajari adinda dengan langkah kilat setelah mengajari Made Pasek ilmu pedang lentur. Tetapi itu setelah aku selesai berlatih dikediaman paman guru Dewa Pedang." Suro bersukur Mahadewi bisa luluh dengan rayuan gombalnya yang telah dia pelajari dari buku diperpustakaan Dewa Pedang. Jika kemarahan murid Dewi Tangan Seribu ini tidak luluh dengan pujian itu, tentu dia akan kebingungan sebab gurunya Dewi Anggini bersama tetua lainnya sedang dilatih tehnik Tebasan sejuta pedang oleh Dewa Pedang di kediamannya sendiri.
\*\*\*
Dilain tempat para tetua yang sedang dilatih Dewa Pedang terhenti latihannya, disebabkan kedatangan seorang utusan yang berasal dari perguruan cabang.
Perguruan cabang tersebut berada di daerah yang masuk Kadipaten Banyu Kuning. Kadipaten itu berada dikaki Gunung Muria tempat dimana Bayu Aji menempa olah kanuragaan yang bernama Perguruan Pedang Halilintar.
"Ada apa Wanara kenapa sampai datang ke Perguruan Pusat menyusulku?" Salah satu tetua mengenali utusan itu. Tetua itu merupakan guru dari Bayu Aji pemilik sebilah pedang bernama kiyai Guntur Geni sekaligus guru besar Perguruan Pedang Halilintar yang berafiliasi dengan Perguruan Pedang Surga.
"Ketiwasan ketua ketiwasan?"
"Ketiwasan kenapa Wanara bicaralah pelan-pelan biar Ketua Perguruan Pusat mendengar penjelasanmu."
Setelah menarik nafas panjang beberapa kali utusan yang dipanggil Wanara itu mulai bercerita.
"Sebuah pasukan yang dibawah bendera Ratu Ular Hitam telah berhasil mengobrak-abrik Perguruan Pedang Halilintar. Seluruh padepokan telah dikuasai mereka. Sebagian yang masih selamat mampu melarikan diri dan untuk sementara mereka semua berada di daerah kademangan Keling.
Maafkan kami yang tak mampu menjaga perguruan selama tetua berada di perguruan pusat." Wanara menjura ke arah guru besarnya yang merupakan guru dari Bayu Aji itu.
"Ratu Medusa Ular Hitam berani macam-macam dengan Perguruan Pedang Surga?Nyawanya sekarang sudah bertambah menjadi sembilan rupanya!" Suara Dewa Pedang bergetar menahan marah. Suara giginya beradu bergemletukan terdengar begitu jelas.
"Mohon maaf Ketua Dewa Pedang pasukan yang dibawa Ratu Ular Hitam bukan hanya dari bangsa manusia yang berasal dari Perguruan Ular Hitam dan seluruh perguruan yang bergabung dengannya. Mereka juga didukung oleh beberapa pasukan siluman yang begitu susah dihadapi!"
"Pasukan siluman apa maksudmu?"
"Pasukan siluman ular ketua. Menurut kabar mereka adalah pasukan yang dibawah pimpinan seorang Ratu siluman yang berasal dari laut selatan."