
Ledakan energi pedang menghantam ke arah tubuh Eyang Kaliki. Tetapi saat energi pedang itu sudah didepan mata dengan satu tebasan telah mampu membelah terjangan energi pedang milik Mahadewi.
Begitu kuatnya tebasan yang merupakan pedang angin itu ikut mengenai lantai arena, lurus menuju Mahadewi. Segera dia berkelit kekiri menghindari bahaya yang balik menerjangnya. Dia kembali melancarkan serangannya. Tak sampai satu seruputan teh, tubuh Mahadewi sudah dihadapan Eyang Kaliki.
Trang! Trang!
Tebasan dua bilah pedang Mahadewi begitu cepat seakan tangannya telah berubah menjadi seribu tangan. Bayangan tangan yang begitu banyak menyerbu tanpa memberi celah lawannya untuk menyerang balik.
Tetua yang mendapat serangan begitu dahsyat justru dengan begitu santai melayani setiap tebasan bilah pedang lawannya. Mahadewi rasanya ingin mengumpat habis melihat begitu mudahnya tetua melayani serangannya.
'Sebuah tahap kekuatan yang menakutkan. Pantas saja kesulitan pada babak ini begitu besar, sama saja aku bertarung dengan guruku sendiri. Kekuatan tingkat shakti memang sangat menakutkan.' Walaupun dalam hati dia begitu ngeri dengan kekuatan para tetua yang sudah ditingkat shakti.Tetapi tekad Mahadewi membuatnya seakan tidak gentar dengan kekuatan lawan.
Entah direncanakan atau tidak pada babak pertama Mahadewi melawan muridnya Eyang Kaliki. Dengan kemenangan ditangan Mahadewi. Walaupun dengan kemenangan itu dibayar dengan luka yang bisa membahayakan jiwanya. Beruntung Suro mengetahuinya dan mengobati hingga sembuh.
Sekarang pada babak terakhir tetua yang dia hadapi justru guru dari Anjani yang tak lain adalah Eyang Kaliki. Tentu saja lawan dia sekarang jauh dari kata seimbang. Entah bagaimana caranya dia kali ini untuk memenangkan pertarungan.
Mahadewi kembali menerjang dengan begitu kuat. Langkahnya yang ringan dan bergerak dengan cepat, karena dilambari ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yaitu ilmu saifi angin. Melalui bantuan ilmu itu gerakan tubuhnya terlihat begitu lincah.
"Pedang Bersatu Bersama Angin!"
Mendapat serangan yang lebih kuat dari sebelumnya, membuat Eyang Kaliki segera menghadangnya dengan jurus pertama dalam Kitab Dewa Pedang.
Trang! Trang!
Seribu energi tebasan pedang dari Mahadewi ditahan dengan begitu mudah. Walaupun kini kekuatan energi pedang Mahadewi mengalami peningkatan pesat, tetapi lawan yang dia hadapi sekarang berada di tingkatan yang sangat jauh darinya. Semua serangan yang begitu hebat masih tidak mampu menembus pertahanan Eyang Kaliki.
Meski begitu kuatnya pertahanan yang dimiliki tetua, tidak menyurutkan tekad Mahadewi untuk bisa menembusnya. Sudah lebih dari dua puluh jurus mereka bertukar serangan, tanpa ada satupun serangan Mahadewi yang bisa mengenai tetua.
Traaang!
"Aaakkk...!"
Karena menahan satu tebasan pedang yang begitu kuat dari serangan balik Eyang Kaliki, membuat tubuh Mahadewi terpental sampai sejauh lebih dari satu tombak. Mahadewi segera bangun meski badannya terasa sakit pada beberapa bagian tubuhnya. Keringat sudah terlihat bercucuran dari wajahnya.
"Tidak membuat malu nama besar Dewi tangan seribu pencapaianmu sungguh mengagumkan."
"Tetua terlalu memuji, dengan kekuatan tetua yang tak lebih dari sepuluh persen telah membuat tubuhku terlempar sejauh ini."
Tetua Eyang Kaliki hanya mengangguk dan mengelus jengotnya. Dia memberi kesempatan murid Dewi tangan seribu itu mengambil nafas terlebih dahulu.
Setelah merasa cukup menghimpun kekuatan Mahadewi kembali bersiap menyerang tetua.
"Sahasra askara adyuta (seribu cahaya menerangi)!"
Jurus kedua segera menerjang ke arah tetua Eyang Kaliki. Ratusan energi pedang melabrak dengan kecepatan tinggi kearah tetua. Seperti seribu cahaya menghantam tetua. Energi pedang itu berasal dari begitu banyaknya tebasan pedang Mahadewi.
Serangan dengan jurus pertama Dewi Tangan Seribu tak membuat Eyang Kaliki tersurut meski satu langkahpun. Membuat Mahadewi harus melakukan serangan yang lebih kuat dari sebelumnya. Jurus kedua ini membuat hentakan energi pedang yang begitu kuat, sehingga Eyang Kaliki buru-buru membuat medan energi untuk menahan serangan Mahadewi.
Duuuar!
Energi pedang yang dia buat kali ini lebih besar dibandingkan saat menghantam Arimbi. Bahkan pada pertarungannya sebelumnya hanya dengan bermodalkan serangan itu, dia mampu memperoleh kemenangan.
'Pantas saja muridku langsung terlempar keluar arena begitu energi pedang ini menghantamnya.'
Setelah merasakan sendiri kekuatan energi pedang yang menghantamnya, membuat Eyang Kaliki memaklumi kekuatan muridnya yang tak mampu menahannya. Karena begitu kuatnya energi itu bahkan tetua sempat tersurut kebelakang.
"Luar biasa, kekuatan murid Dewi tangan seribu sangat mengagumkan. Pantas saja muridku kalah. Hahaha...luar biasa!"
Peningkatan energi pedang milik Mahadewi yang begitu pesat berkat pemahaman yang diperoleh dari penjelasan Suro kepadanya. Dia mencapai Peningkatan itu sebelum pertarungannya dengan Arimbi pada babak ke dua.
"Kakang mungkin ini permintaan yang agak sulit diwujudkan, tetapi bisakah kakang memberi petunjuk kepada adinda sehingga mampu memperkuat tahap pedangku selama menunggu namaku dipanggil?"
Suro tidak segera menjawab pertanyaan Mahadewi dia justru menggaruk-garuk kepalanya.
"Agak susah diwujudkan keinginan adinda. Tetapi mungkin aku ada cara yang bisa membuat kekuatan energi pedang adinda meningkat. Hanya saja cara ini sangat sulit."
"Benarkah kakang ada cara tersebut?"
"Aku tidak begitu yakin. Tetapi kalau adinda mau mencobanya mungkin tidak ada salahnya juga."
"Untuk melakukannya sebaiknya adinda memahami terlebih dahulu apa yang aku akan jelaskan."
"Baiklah kakang aku akan mendengarkannya."
"Nadi sushumna bagi adinda sudah tidak asing lagi, bukan?"
"Tentu saja kakang itu salah satu nadi utama tempat dimana chakra manipura berada, sehingga kita bisa menghimpun chakra."
"Benar sekali perkataan adinda. Tetapi selain itu nadi sushumna merupakan jalur energi paling besar dan utama. Ukurannya tak lebih dari seperseribu dari ukuran sehelai rambut manusia."
"Ini adalah nadi utama yang membentang di tengah tulang belakang. Bermula dari chakra muladdhara di dasar tulang belakang sampai ke chakra sahasrara di nadi mahkota."
"Nadi sushumna ini sebenarnya memiliki empat lapisan. Setiap lapisan memiliki tujuan dan fungsi yang berbeda-beda.
Lapisan terluar disebut sushumna nadi, lapisan kedua disebut vajra nadi, lapisan ketiga adalah chitrini nadi dan lapisan terdalam disebut nadi brahma."
"Pada lapisan kedua vajra nadi memiliki ukuran sepersepuluh ribu rambut manusia. Lebih kecil dari nadi sushumna. Fungsi nadi ini adalah mengumpulkan sekaligus menyalurkan aliran energi keseluruh bagian tubuh."
"Pada lapisan ketiga disebut nadi chitrini. Nadi ini memiliki nama lain yaitu nadi spiritual. Karena pada nadi inilah kekuatan spiritual akan terhimpun. Tetapi untuk mampu menemukan dan merasakan nadi ini hanya bisa dirasakan oleh seseorang yang sudah mampu melewati tahap penyucian hati dan fikirannya. Karena memang ukuran nadi ini begitu halus sekitar seperseratus ribu dari helai rambut manusia."
"Pada saat nadi ini aktif, maka akan membuat energi atau kekuatan spiritual bersinar terang. Sehingga dengan aktifnya nadi itu akan membuat kekuatan spiritual meningkat pesat.. Meskipun hal itu tidak akan membuat kekuatan tenaga dalammu bertambah. Tetapi jika dirimu mampu membuka hambatan energi pada nadi chitrini, walau hanya sedikit saja maka akan berpengaruh pada kekuatan energi pedang dan niat pedangmu."
Melalui samadhi yang dibimbing oleh Suro sehingga mencapai titik samadhi tertinggi yang disebut sebagai nirvikalpa samadhi. Akhirnya ada peningkatan energi pedang milik Mahadewi. Meskipun begitu peningkatan sebesar itu, tentu tidak berarti dihadapan para tetua yang kekuatannya sudah berada ditingkat shakti.
Pada tehnik Dewi Tangan Seribu pergerakan kaki yang dilakukan Mahadewi berdasarkan tehnik meringankan tubuh dalam ilmu saifi angin. Karena dasar dari ilmu itu memang dikembangkan oleh Eyang Sindurogo. Sehingga untuk memperkokoh pondasi jurus itu, pada setiap gerakan kakinya dibantu ilmu saifi angin.
Walaupun pencapaian Mahadewi pada tehnik saifi angin belum mencapai tahap langkah kilat tetapi dengan pencapaiannya yang sekarangpun telah menunjukan kehebatannya. Hanya saja yang dia hadapi sekarang adalah para tetua yang tingkatannya jauh diatasnya.
Kali ini kekuatan yang melambari setiap tebasan Mahadewi dilakukan dengan kekuatan lebih besar. Rentetan tebasannya yang menyasar dari berbagai sudut bergerak begitu cepat.
Setiap serangan yang datang begitu mudahnya tetua itu mematahkannya. Tak satupun serangan Mahadewi mampu menembus kekuatan tetua Kaliki.
Buuuk!
Kembali sebuah serangan balik dari tetua mengenai tubuh Mahadewi. Itu adalah serangan tapak andalan Perguruan cabang dari Kerajaan Agni Nusa. Beruntung serangan itu tidak dilambari kekuatan perubahan api, tetapi dengan kerasnya terjangan serangan tapak sudah mampu melemparkan tubuh Mahadewi sejauh lebih dari satu tombak.
Sambil menahan sakit pada beberapa bagian tubuhnya Mahadewi mencoba bangun kembali. Didalam pikirannya sibuk mencari cara untuk menembus pertahanan tetua.
'Apa yang harus aku rencanakan untuk menembus pertahanan tetua. Berpikirlah Mahadewi.. ayolah berpikirlah!'
Hanya satu kali lagi kesempatan yang dia punya jika kali ini serangannya gagal, berarti gagal juga kesempatannya dirinya untuk memperoleh jabatan tetua muda.
"Bagaimana apakah masih mampu melanjutkan pertarungan?"
"Masih tetua!"
Mahadewi kemudian menarik nafas panjang sebelum kembali melancarkan serangannya.
"Amukan seribu pedang!"
Jurus ketiga dalam ilmu Dewi Tangan Seribu menerjang lebih rapat, cepat dan kuat. Energi pedang yang menerjang juga bertambah kuat.
Tetua Eyang Kaliki melihat energi pedang yang menerjang ke arahnya begitu dahsyat, justru dibibirnya terlihat sebuah senyuman tersungging. Kemudian segera dia mengerahkan tehnik satu tebasan pedang angin. Tetapi tebasan itu begitu kuat membuat seluruh energi pedang Mahadewi yang terpusat ke arah tetua ambyar sebelum mengenainya.
Begitu cepatnya tebasan itu membuat Mahadewi yang masih berada diudara untuk mengawali jurusnya, tidak memiliki kesempatan untuk mengelak. Dengan segala kekuatan yang dia miliki dia mencoba menahan satu tebasan milik tetua.
Trang!
Bersamaan dengan bunyi itu kembali tubuh Mahadewi terlempar sampai dua tombak keluar dari arena pertarungan. Tubuhnya menghempas dengan keras ke arah dinding yang membatasi podium penonton.
Tubuhnya tidak bergerak membuat Dewa Rencong bergerak cepat menghampirinya. Setelah memeriksa dan memberikan pertolongan Mahadewi siuman. Ternyata karena begitu kerasnya tubuhnya menghantam membuat dirinya kehilangan kesadaran.
Tidak terkecuali tetua Eyang Kaliki segera menghampiri ke arah mereka berdua.
"Bagaimana apakah dia baik-baik saja?" Eyang Kaliki terlihat begitu khawatir mengingat dia yang melakukan serangan.
"Aku rasa dia baik-baik saja tidak ada luka dalam. Kemungkinan karena benturan dengan dinding ini yang membuatnya kehilangan kesadaran."
"Sukurlah kalau dia baik-baik saja!"
"Apakah tetua Kaliki ini masih saja seperti dulu takut disemprot Dewi tangan seribu?" Dewa Rencong menatap Eyang Kaliki dengan tertawa kecil. Eyang Kaliki hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya.
Mahadewi kemudian berusaha bangun, tetapi oleh Dewa Rencong disuruh duduk dan bersender kepada dinding dibelakangnya. Dia terlihat sedikit linglung
"Apakah kau baik-baik saja Mahadewi?"
Dewi Anggini tiba-tiba sudah berada didekat mereka bertiga. Tehnik saifi angin langkah kilatnya sudah terlatih dengan sempurna membuat gerakan langkahnya begitu cepat.
"Aku baik-baik saja guru!" Mahadewi menjawab sambil berusaha menjura ke arah gurunya. Sepertinya selain Eyang Kaliki Mahadewi juga takut terkena omelan Dewi Anggini.
Tetapi kali ini sikap Dewi Anggini berbeda dia justru tersenyum dan mulai memeriksa tubuh muridnya itu.
"Sukurlah tidak terjadi apa-apa."
"Terima kasih tetua Kaliki sudah memberi pelajaran ilmu pedang kepada muridku dengan baik."
"Tidak mengapa Dewi itu memang tugasku untuk memberi ujian ke setiap peserta sebaik mungkin."
"Iya benar sekali tetua Kaliki. Sebegitu baiknya peran yang tetua lakukan, hingga membuat muridku menghantam dinding dengan sebegitu kerasnya!"
"Hekkk!"
Seperti tersendak ikan satu ekor rasanya mendengar jawaban Dewi Anggini yang membalasnya dengan ketus.
Setelah pertarungan Mahadewi melawan Eyang Kaliki yang berakhir dengan gagalnya Mahadewi menembus pertahanan tetua. Maka dengan itu kekalahan diterima Mahadewi. Pertarungan berikutnya segera dimulai.
Dewi Anggini segera membawa muridnya untuk diperiksa lebih lanjut. Pengalamannya pada babak pertama membuat dia agak sedikit trauma. Mengingat pada pertarungan babak pertama walaupun lukanya tidak membahayakan, tetapi ternyata potensinya bisa membahayakan nyawa muridnya.
Tetua Tunggak semi kembali lagi turun ke arah arena pertarungan. Tanpa membaca gulungan nama Dewa Rencong segera memangil peserta berikutnya karena memang peserta kali ini adalah peserta terakhir yang mendapatkan giliran.
"Nakmas Suro Bledek silahkan turun ke arena pertarungan tetua Tunggak Semi sudah menunggu!"
Suro segera bangkit menuju arena pertarungan.
Terlihat dipinggir arena pengurus sekte menghentikan dua orang yang membawa sebuah buntalan kain yang besar. Entah berisi apa? Karena apa yang mereka bawa terlihat begitu berat sehingga diperlukan dua orang untuk mengangkatnya.
"Mohon maaf senior! Saya yang menyuruh mereka untuk membawakan senjata ini. Karena akan aku gunakan dalam pertarungan saya melawan tetua Tunggak Semi." Suro Bledek menjura ke arah pengurus sekte yang menahan dua orang itu.
"Terima kasih paman Kolo Weling sudah merepotkan paman! Biar dari sini saya yang akan membawanya sendiri."
"Tidak mengapa nakmas Suro, kami justru senang bisa membantu nakmas." Kolo Weling dan satu temannya yang akan menjura ke arahnya tidak jadi melakukan itu, karena Suro memberi kode untuk tidak meneruskannya.
Dengan satu tangan gulungan kain untuk membungkus sesuatu itu diangkat dengan mudah. Pengurus sekte yang menjaga arena agak kaget sebab saat diangkat dua orang itu terlihat keberatan. Tetapi dengan mudahnya Suro memindahkannya barang itu ke atas pundaknya.
Prang!
"Mohon petunjuk tetua, murid sudah hadir!"
Suro setelah sampai didepan tetua segera menjatuhkan barang yang dia bawa dan langsung menjura ke arah tetua.
"Apa ini?" Tetua Tunggak semi matanya melotot melihat begitu banyaknya bilah pedang yang Suro bawa. Setelah Suro membuka kain yang membungkusnya.
"Untuk saya gunakan melawan tetua!" Suro menjawab sambil mendongakkan kepalanya karena dia masih sibuk membuka ikatan tali yang mengikat kuat bilah-bilah pedang itu.
Dewa Rencong hanya tersenyum melihat sesuatu yang ganjil itu. Berbeda dengan yang dilakukan tetua Tunggak Semi, dia memandang ke arah Dewa Rencong sambil mengaruk-garuk kepalanya.
"Memang akan nakmas gunakan semua bilah pedang yang begitu banyaknya?" Dewa Rencong ikut penasaran melihat banyaknya bilah pedang yang Suro susun menumpuk seperti orang akan jualan dipasar.
"Sepertinya begitu tetua, apakah hal ini melanggar aturan pertarungan?"
"Ooo... tentu tidak nakmas. Silahkan... silahkan nakmas gunakan semua!" Terlihat senyumnya yang melebar saat berbicara kepada Suro. Berbeda jauh dibandingkan saat dia mengomeli Suro karena menghancurkan arena pertarungan.
Tetua Tunggak Semi masih kaget dengan begitu banyaknya bilah pedang yang dibawa Suro.
"Memang jurus apa yang akan kamu pakai nakmas? Aku tidak pernah mendengar ada jurus yang memerlukan bilah pedang sebegitu banyaknya!" Terlihat Tetua Tunggak Semi mengurut-urut dahinya.
'Apa lagi yang akan dilakukan bocah ini? Hadeeeh kenapa juga kali ini aku yang harus mendapatkan giliran untuk melawannya!' Tetua Tunggak Semi membatin sambil terus mengurut-urut keningnya. Sepertinya kepalanya tiba-tiba terasa pusing.
"Aku namakan jurusku Jaring Seratus Pedang Terbang tetua!"