SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 180 Bhuta Kala



"Aku merasa pernah mengenali hawa kekuatan ini, paman. Mereka yang sedang mengepung kita dari berbagai arah ini terasa tidak terlalu asing bagi Suro!"


"Hawa ini mengingatkanku pada kejadian saat aku bertarung dengan para tetua yang ada di perguruan Tengkorak Merah. Walaupun pada saat itu hawa yang aku rasakan tidak sepadat seperti sekarang ini."


"Perasaanmu memang tidak salah bocah. Karena hutan Gondo Mayit ini adalah tempat dimana jurang neraka berada. Konon kabarnya didalam jurang neraka itu, kekuatan kegelapan meresap keluar dari dalam bumi. Dulu menurut cerita sosok penemu jurus tongkat neraka yang sekarang menjadi andalan Perguruan Tengkorak Merah telah jatuh didalam jurang itu."


"Entah bagaimana caranya dia tidak mati, justru menyerap kekuatan dari tempat itu. Bahkan dia justru mampu keluar dari dalam dasar jurang neraka. Semua itu berkat bantuan makhluk yang akhirnya menjadi sumber inti kekuatan jurus tongkat neraka."


Dewa Rencong berhenti berbicara, dia kemudian kembali mulai menatap sekeliling. Dia terlihat begitu tambah waspada. Suro ikut memperhatikan gerakan mata Dewa Rencong. Tetapi sampai tiga kali berputar-putar penasaran, Suro masih tidak menangkap sosok apapun di sekeliling tempat dia berdiri.


"Apa yang terjadi, mengapa mereka justru kembali mundur? Apa yang mereka lakukan? Ini bukan hal yang wajar, pasti ada sesuatu yang membuat mereka semua kembali mundur!" Dewa Rencong menggumam pelan dan terlihat kebingungan, karena dia merasakan musuh yang telah berkumpul semakin merapat, mendadak mereka kembali menjauh.


"Sebenarnya makhluk apa mereka itu paman Salya(nama asli dari Dewa Rencong)?" Dewa Rencong tersenyum mendengar Suro memangil nama aslinya.


"Mereka adalah Braholo bukan wujud makhluk yang memiliki wadak. Mereka adalah energi kegelapan yang masih tersisa saat terjadi penciptaan alam raya. Mereka semua adalah sesuatu hal yang berasal dari awal terciptanya segala unsur pembentuk kehidupan yang masuk dalam panca mahabhuta."


"Kemudian oleh para Dewata energi kegelapan ini disegel didalam dasar bumi terdalam. Hal itu dilakukan, karena energi kegelapan yang tersisa memiliki daya penghancur yang mengerikan terhadap kehidupan."


"Meskipun tidak memiliki jiwa, tetapi mereka seakan hidup. Walaupun mereka bergerak hanya dalam bentuk sekumpulan energi yang tidak bertuan, tetapi kekuatan mereka sangat berbahaya bagi manusia biasa. Bahkan bisa membahayakan nyawa seseorang yang setara dengan pendekar kelas tinggi sekalipun."


"Kesukaan dari para braholo ini adalah berburu kegelapan jiwa manusia. Mereka melakukan hal itu, karena digerakan oleh hasrat mereka yang paling mendasar, yaitu hasrat ingin memiliki jiwa dan wadak kasar seperti juga manusia. Mereka seperti seekor kelomang yang mencari wadak atau tubuh manusia untuk dijadikan tempat tinggal atau rumah bagi esensi keberadaan mereka."


"Tetapi ada cerita lain yang menyebutkan, bahwa Braholo adalah sebuah bentuk energi kegelapan yang berasal dari jiwa-jiwa yang terperangkap dalam penjara kebencian dan kegelapan. Nasib mereka seperti digantung di antara alam kematian dan di alam kehidupan."


"Entah mana yang benar?Tetapi dari dua kisah itu memiliki kemiripan, yaitu jika makanan dari makhluk itu adalah energi kegelapan, tetapi mereka lebih menyukai kegelapan yang ada dalam jiwa manusia."


"Beraholo akan melahap kegelapan dan seluruh jiwa manusia itu, sehingga membuat Braholo itu semakin bertambah kuat. Semakin banyaknya tumbal yang mereka perolah, maka semakin besar dan semakin mengerikan kekuatan yang mereka miliki."


"Setiap manusia terdiri dari dua sisi, yaitu sisi gelap dan sisi terang. Sisi kegelapan setiap manusia menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. Kegelapan manusia seperti gula bagi semut."


"Dari kegelapan itu juga mereka dapat menemukan keberadaan manusia. Mereka mudah dihadapi, tetapi jika dalam jumlah besar akan menjadi masalah yang menyulitkan. Sebab pada dasarnya makhluk itu hanyalah sebuah bentuk energi, sehingga secara harfiah mereka tidak mampu dibunuh."


"Braholo ini cenderung memangsa Braholo yang lain jika berhasil menjadi lebih kuat dibandingkan yang lain. Jika mereka berhasil memangsa begitu banyak jiwa manusia dan juga menghisap Braholo lain, maka akan membuatnya terus semakin membesar dan berubah menjadi makhluk yang lain, biasa disebut Bhuta kala."


Dewa Rencong kembali menatap ke sekitar, seperti hendak memastikan seluruh braholo yang sebelumnya mengepung benar-benar telah menghilang. Hujan deras dan juga petir terus berlanjut seakan tidak membiarkan mereka meneruskan perjalanan.


"Aku paham sekarang, Braholo yang sebelumnya telah mengepung kita, mendadak mundur karena mereka kabur ketakutan. Sesuatu yang mampu membuat Braholo ketakutan hanyalah Bhuta kala!"


Duuum...! Duuum...! Duuum...!


Kraaakk! Kraak!


Mendadak bumi bergetar dan berdentum berkali-kali, seperti suara hentakan keras. Mirip sebuah benda yang sangat besar jatuh ke bumi. Suara itu juga di iringi pepohon besar yang patah bertumbangan, seakan diterjang sesuatu yang begitu kuat.


"Amit-amit jabang bayi jenis makhluk apa itu?" Suro tercekat melihat besar dan bentuknya yang begitu menggerikan. Dia segera melesat mendekati Dewa Pedang dan Dewi Anggini yang tenggelam dalam Samadhinya. Dia ingin memastikan dua pendekar yang bersemadhi itu tidak terganggu.


Sesosok raksasa yang baru muncul itu memiliki warna kulit yang seluruh permukaanya berwarna hitam legam mirip kerak pengorengan.


Sosok menakutkan itu tidak memperdulikan hujan deras yang diiringi hantaman petir berkali-kali. Dia terus melangkah ke arah rombongan Suro. Pepohonan yang dilewati sebelumnya telah tumbang semua.


"Mengerikan, makhluk setinggi rumah ini jenis apa lagi, paman?"


Dentuman berulang-ulang dan suara pepohonan yang patah, ternyata berasal dari makhluk yang sekarang telah berada dihadapan mereka. Penampakan wujud itu dapat mereka berdua saksikan, setelah dia berhasil menyibakkan rerimbunan pepohonan yang sangat lebat.


"Itu yang barusan paman ceritakan. Makhluk ini memiliki sebutan Bhuta kala?" Setelah mengetahui makhluk yang datang adalah Bhuta kala, maka Dewa Rencong segera bersiap melakukan serangan untuk mengusir makhluk itu.


"Makhluk itu memang cocok untuk mencoba tingkat langit milik paman yang belum lama dimiliki. Tunjukkan paman, betapa menakutkannya paman sekarang ini! Buktikan paman jika paman lebih mengerikan setelah memperoleh tingkat langit! Jangan biarkan makhluk itu mempermalukan paman!" Suro berteriak memberi semangat.


Mendengar ucapan Suro barusan Dewa Rencong hanya tersenyum.


"Pamanmu ini bukanlah pamanmu yang dulu lagi bocah. Sekarang aku adalah pendekar tingkat langit." Dewa Rencong yang dikompori Suro segera melabrak makhluk yang begitu gelap. Matanya yang berwarna merah besar, membuat penampilan Bhuta kala semakin bertambah mengerikan.


"Huwahahahaha... Makananku datang!" Suara Bhuta kala yang menggelegar terlihat begitu bergembira, setelah melihat Dewa Rencong yang justru menyongsong kedatangannya.


Tangan Bhuta kala itu segera bergerak hendak meraup tubuh Dewa Rencong. Tetapi telapak tangan itu justru di hantam dengan sangat kuat, sehingga membuatnya hancur. Pukulan yang begitu kuat membuat lengan yang tersisa menghantam wajah Bhuta kala sendiri


"Aku geli! Aku geli! Wohahahaha!" Bhuta kala justru tertawa begitu keras, setelah dihantam pukulan tingkat langit milik Dewa Rencong.


Telapak tangannya yang sebelumnya terlihat hancur, kini entah bagaimana caranya sudah pulih kembali tanpa ada yang menyadarinya.


Suro mengusap-usap matanya memastikan apa yang baru saja terjadi.


"Sejak kapan telapak tangan Bhuta kala telah kembali pulih?" Suro merasa pemulihan yang dimiliki Bhuta Kala sangatlah tidak wajar. Kemampuan itu tidak mungkin dimiliki oleh makhluk hidup manapun.


Bahkan naga raksasa yang pernah dia lawan masih memiliki jeda dan terlihat pemulihan yang dilakukannya. Tetapi wujud raksasa yang di lawan Dewa Rencong melakukan sesuatu hal yang sangat berbeda.


Pertarungan Dewa Rencong terus berlangsung. Walaupun Bhuta kala dapat dihancurkan beberapa bagian tubuhnya, tetapi itu hanya berlangsung tidak lama sebab dia dapat kembali pulih seperti tidak pernah terjadi apapun.


Pertarungan itu membuat pepohonan bertumbangan tertimpa makhluk yang begitu besar. Ukurannya kira-kira hampir menyamai lima kali lipat besarnya seekor gajah dewasa.


"Mengapa aku merasa pernah menghadapi makhluk seperti ini? Dimana aku pernah menghadapinya?" Suro yang melihat jalannya pertarungan, membuat dia merasa jika kemampuan yang dimiliki Bhuta kala pernah dia hadapi. Dia terus mencoba mengingat-ingatnya tanpa menurunkan tingkat kewaspadaan.


"Aku ingat sekarang, bhuta kala ini sangat mirip dengan makhluk yang ada di alam lain!" Suro bahkan mengingat dengan jelas, jika warna kulit bhuta kala sama persis, seperti yang dimiliki makhluk di alam kegelapan tempat dimana gurunya terjebak.


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menunaikan. Tetap semangat meski dalam kondisi ditengah pandemik covid.