SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 267 Wajah yang Merepotkan part 2



Setelah beberapa saat para tetua masuk ke dalam perguruan, mereka kembali bersama ketua perguruan mereka.


"Dimana nakmas Suro? Mengapa kalian menahan dirinya dan tidak mempersilahkan dirinya menemuiku? Apa yang kalian pikirkan?"


Tohjaya sepanjang jalan mengomel kepada para tetua. Tetapi setelah sampai di depan gerbang dia justru kebingungan sendiri.


"Siapa dia? Apa yang kalian lakukan? Apa kalian hendak membuat lelucon?"


Sebelum para tetua dan pengawal menjawab pertanyaan ketua perguruan Tohjaya, Suro telah membuka matanya dan mulai berbicara.


"Paman Tohjaya! Akhirnya paman muncul juga. Maaf jika Suro telah mengganggu paman, ada urusan sekaligus ingin bertemu paman, karena waktu Paman datang ke kademangan Cangkring tidak berhasil bertemu Suro." Dia yang hendak tersenyum lebar harus membatalkan niatnya itu, karena dia justru mendapatkan tatapan curiga dari ketua perguruan Tohjaya.


"Siapa sebenarnya kisanak ini? Mengapa mengaku-aku sebagai tetua muda nakmas Suro? Bagaimana kisanak juga tau, jika aku pernah pergi ke Kademangan Cangkring?" Mata Ketua Tohjaya menatap lekat kepada wajah Suro. Dia mencoba mengingat-ingat wajah pemuda yang berusaha tersenyum kepadanya.


Kali ini Suro meruntuk dalam hati meskipun dibibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


"Memang ini aku paman Tohjaya, ini aku Suro. Bagaimana aku tau paman yang pernah pergi ke kademangan Cangkring tentu saja Suro mengetahui. Karena paman Kolo weling bercerita." Suro menggaruk-garuk kepalanya. Dia mulai meruntuk dalam hati.


'Nasib.. nasib.. berubah jadi orang ganteng malah tidak dikenali.'


Suro mencoba tersenyum ke arah ketua Tohjaya yang terlihat kebingungan mendengar ucapan Suro barusan. Dia masih tidak berhasil mengenali dirinya, meski dia melihat penampakan harimau disamping Suro memang seperti Maung. Karena selama beberapa hari dia membantu Kolo weling membuat penawar racun di Kademangan Cangkring sambil menunggu Suro yang tidak juga datang.


"Kisanak, jangan membuat lelucon, aku belum hilang ingatan dan ingatanku cukup baik, jika hanya mengingat wajahnakmas Suro. Aku masih bisa membayangkan seperti apa wajahnya. Jadi jangan mengarang jika dirimu adalah nakmas Suro."


Suro kehabisan kata-kata untuk bisa meyakinkan ketua Tohjaya. Dia kembali mengaruk-garuk kepala lalu menepuk-nepuk jidatnya.


'Nasib, nasib...puyeng kepalaku jika kejadian seperti ini terus terulang. Tetapi kenapa Mahadewi bisa langsung mengenaliku? Apakah dia mengenaliku dari bau tubuhku? Jangan-jangan wanita itu memiliki ketajaman penciuman setara dengan kemampuan Maung?'


Saat Suro sibuk menggaruk-garuk kepalanya. Ketua Tohjaya terus memperhatikan gerak-gerik pemuda didepannya yang semakin lama memang mirip dengan Suro. Dia kembali mengamati segala hal yang menempel ditubuh Suro. Dari segala yang dia ingat memang semakin lama mengingatkan dirinya pada Suro.


Kemudian dia mendekat ke arah Suro, karena dia mengenali sesuatu benda yang menggantung dipinggang pemuda itu. Benda itu adalah sebuah botol kecil.


"Oh iya, ini botol racun yang paman titipkan kepada Kolo weling untuk saya. Terima kasih paman berkat racun yang paman berikan ini, akhirnya Dukun Sesat dari Daha dapat Suro habisi. Jadi paman tidak perlu menghawatirkan tentang wanita iblis itu."


Penjelasan Suro membuat mereka terkejut. Meskipun masih ragu Tohjaya mulai mempercayai apa yang dikatakan Suro. Sebab racun yang dititipkan kepada Kolo weling tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Kolo weling dan dirinya dan satu lagi Suro yang menerimanya.


"Suro paham jika paman tidak mengenali dari melihat wajahku, tetapi ini memang diriku paman. Panjang ceritanya, mengapa wajahku terlihat sedikit berbeda dengan yang paman ingat sebelumnya."


Suro kemudian dipersilahkan masuk oleh Tohjaya, apalagi setelah Suro memperlihatkan kitab Dewa Racun kepada ketua perguruan Racun Neraka itu. Dia segera menyadari, jika kitab itu memang asli. Karena dia sangat mengenalinya dengan sangat baik.


"Maafkan jika paman tidak mengenali nakmas!"


"Tidak mengapa paman, karena itulah Suro sejak awal sengaja membawa beberapa hal yang dapat meyakinkan paman. Karena pengalaman sebelumnya membuat Suro menjadi sedikit kerepotan sendiri terkait wajahku yang bertambah rupawan ini." Suro tertawa kecil mengingat kejadian saat dia harus berupaya meyakinkan gurunya.


"Salah satunya yang benar-benar tidak lagi mengenali Suro karena berubah rupawan ini adalah guru Suro sendiri."


"Apa? Bagaimana mungkin itu terjadi?"


"Anu, kebetulan guru Suro kebetulan baru mengalami peristiwa yang membuatnya kehilangan ingatannya. Jadi setelah melihat wajahku yang berubah menjadi rupawan ini, dia tidak mau mengakuinya."


"Ha?"


Tohajaya semakin kebingungan mendengar cerita Suro. Setelah itu Suro menceritakan secara lengkap. Kejadian itu tentu membuat Tohjaya tertawa begitu keras. Setelah bercerita panjang lebar Suro kemudian berbicara kepada kepada Tohjaya tentang tujuannya dia datang.


"Paman sebenarnya kedatanganku ke Perguruan Racun Neraka karena ada sesuatu hal yang hendak Suro tanyakan kepada paman."


"Sesuatu hal tentang apa itu nakmas?"


Suro kemudian bercerita tentang Perguruan Sembilan Selaksa Racun yang hendak dia datangi.


"Perguruan itu sangat berbahaya nakmas. Paman tidak mengetahui secara pasti, apakah ilmu racun kami dapat mengimbangi ilmu racun milik perguruan itu? Namun selama ini orang menilai, jika kekuatan ilmu racun kami mampu mengimbangi kekuatan Perguruan Sembilan Selaksa Racun."


"Apakah paman dapat membuatkan seluruh penawar racun perguruan mereka?"


"Sulit nakmas, jika harus membuat seluruh penawar racun perguruan itu. Karena racun yang mereka gunakan sangat bervariasi. Salah satu penyebabnya, karena mereka memiliki sembilan faksi. Setiap faksi memiliki tehnik ilmu racun yang berbeda-beda."


"Meskipun begitu, jika paman dibawakan contoh racunnya, kemungkinan paman dapat membuat penawarnya."


"Tetapi itu juga tidak mungkin dapat dilakukan, karena mereka pasti tidak akan membiarkan rahasia racun mereka terbongkar. Dan tidak akan melepaskan, kecuali sudah menjadi mayat. Paman akan mencoba menggambarkan seberapa menakutkannya kekuatan perguruan itu, agar nakmas dapat berpikir ulang, jika ingin menyerang perguruan mereka."


Sebelum Ketua Tohjaya melanjutkan ceritanya, Suro memotongnya dengan cerita yang berasal dari gurunya.


"Menurut guruku setiap ketua faksi dipimpin seseorang yang setingkat dengan Dukun Sesat dari Daha."


Ketua Tohjaya terkejut mendengar Suro telah mengetahuinya. Dia tidak habis pikir bagaimana pemuda itu masih bersikeras hendak menyerang perguruan itu, setelah mengetahui betapa mengerikannya kekuatan mereka.


"Lalu bagaimana dengan ketuanya sendiri? Apakah paman mengetahuinya?"


"Sebab saat Suro bertanya kepada eyang dia juga tidak mengetahui seberapa kuat ketua perguruan mereka saat ini. Terakhir kali saat dirinya mengobrak-abrik perguruan itu sudah berlangsung lebih dari tiga ratus tahun yang lalu. Kala itu ketua perguruan masih ditingkat shakti."


"Apakah paman mendengar selentingan kabar mengenai hal tersebut? Karena perguruan kalian sebelumnya cukup dekat. Apalagi mereka sekarang kemungkinan telah menjadi pengikut Dewa Kegelapan, sehingga kekuatan mereka dapat melesat naik dengan sangat cepat. Karena Suro sendiri merasakan betapa mudahnya mendapatkan kekuatan besar dengan menyerap kekuatan Dewa Kegelapan."


"Paman juga mendengar kabar tersebut nakmas. Terakhir kali paman mendengar ketua Perguruan Sembilan Selaksa Racun telah mencapai kekuatan langit. Apalagi sesuai penjelasan nakmas, jika mereka menjadi pengikut Dewa Kegelapan akan mendapatkan pencapaian kekuatan dengan mudah. Maka paman dapat memastikan dia telah melewati kekuatan yang jauh dari sebelumnya."


"Apakah nakmas, yakin akan mendatangi perguruan itu?"


"Benar paman karena ada beberapa hal yang membuat kami harus melakukannya."


Suro kemudian menceritakan pergerakan pasukan kegelapan yang telah menyebar di tiga benua. Mendengar hal itu Tohjaya terlihat terkejut mendengarnya.


"Gawat!"


"Apakah perlu paman menggerakkan pasukan perguruan ini untuk membantu nakmas?"


"Tidak untuk sekarang ini paman. Karena untuk saat ini kami masih bergerak dalam jumlah kecil untuk mencegah terjadinya korban yang tidak perlu. Karena jika kami bergerak dalam jumlah besar, maka kemungkinan besar hanya akan membuat musuh berpesta."


"Berpesta? Maksudnya?"


"Karena mereka makhluk yang tidak dapat dibunuh dengan cara biasa, tentu hanya akan membuat orang-orang yang kami bawa akan banyak yang menjadi korban."


Suro kemudian menceritakan pertempuran yang belum lama terjadi di Perguruan Pedang Bayangan yang ada di wilayah kerajaan Tarumanegara tepatnya didekat kota Sundapura. Kemampuan unik rantai pemasung jiwa akan dapat menjadikan manusia yang berada dibawah kekuatan tingkat shakti, akan mudah dihabisi atau akan dijadikan bagian pasukan kegelapan. Kondisi mereka tak ubahnya semut melawan kobaran api, tidak ada peluang dapat selamat.


Mereka semua justru akan dapat di serang dan kemungkinan yang lebih buruk dari pada kematian, adalah menjadi bagian pasukan kegelapan secara sempurna. Hal itu sudah dibuktikan saat pertempuran di Sundapura, walaupun sebagian besar akhirnya Suro dapat menyelamatkan mereka kembali.


"Paman rasa apa yang nakmas lakukan sangat tepat. Paman setuju dengan keputusan nakmas agar dapat mengurangi jumlah korban yang seharusnya tidak perlu terjadi."


"Maaf nakmas, tadi nakmas menyebutkan jika pasukan kegelapan itu dipimpin makhluk yang memiliki kekuatan tingkat surga, apakah aku tidak salah mendengarnya? Karena kami mendengar Pendekar Tapak Dewa Matahari telah mencapai tingkat langit saja sudah hal yang sangat susah di nalar. Sekarang bagaimana ada makhluk yang telah mencapai kekuatan tersebut?"


"Paman salah, guruku eyang Sindurogo sekarang pun telah mencapai tingkat surga."


"Apa? Sangat mengesankan, sesuatu yang sangat sulit paman percaya."


"Jadi begitu, pantas saja nakmas sangat percaya diri hendak mendatangi Perguruan Sembilan Selaksa Racun yang kekuatannya sangat mengerikan itu."


"Lalu bagaimana dengan kekuatan nakmas sendiri? Aku merasa sejak melihat nakmas kekuatan yang nakmas miliki terasa begitu kuat. Bahkan jika perasaan paman tidak salah itu bukan lagi kekuatan tingkat shakti, seperti terakhir paman bertemu nakmas. Karena salah satu sebab itulah paman menjadi bertambah ragu, jika ini adalah nakmas Suro."


"Kekuatan tingkat Surga juga paman."


"Apa? Bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana bisa secepat itu?"


"Kekuatan yang Suro dapatkan ini, adalah salah satu bukti betapa efektifnya cara menaikkan kekuatan dengan menyerap kekuatan milik Dewa Kegelapan."


"Karena itulah mengapa banyak perguruan aliran hitam yang dengan suka rela menjadi pengikutnya."


"Bisa paman ceritakan kembali mengenai kekuatan Perguruan Sembilan Selaksa Racun, paman?"


"Baiklah, paman akan jelaskan sejelas mungkin agar nakmas dapat memahami dan berpikir ulang jika hendak menyerang perguruan itu"


Ketua Tohjaya kemudian mulai bercerita tentang sembilan faksi yang memiliki julukan sendiri-sendiri. Menurut cerita yang Tohjaya ketahui, jika ilmu racun mereka berasal dari makhluk semacam siluman.


Nama setiap faksi juga disesuaikan dengan nama makhluk yang menjadi guru besar mereka. Nama sembilan faksi yang menjadi Soko guru Perguruan Sembilan Selaksa Racun, adalah faksi Katak, faksi Ular, faksi Kalajengking, faksi Laba-laba iblis, faksi Harimau setan, faksi Kelabang setan, faksi Hantu Laut, faksi Gurita cincin biru, faksi Lebah iblis.


Ketua Tohjaya menjelaskan kepada Suro mengenai Perguruan Sembilan Selaksa Racun secara mendetail dan panjang lebar.


"Terima kasih paman atas penjelasannya. Apa yang telah paman jelaskan ini akan sangat membantu kami menghadapi Perguruan alran hitam di negeri Champa itu!"


"Tidak masalah nakmas, jika ada hal yang perlu dipertanyakan, paman akan dengan senang hati menjawabnya."


"Ngomong-ngomong apakah didekat daerah Dahana pura ada terjadi penyerangan makhluk kegelapan, paman?"


"Benar kami pernah mendengarnya, namun penyerangan itu tidak terjadi di kota Dahanapura. Karena terjadi jauh dari pusat kota membuat para punggawa kerajaan tidak mengambil tindakan. Apalagi jika makhluk yang diceritakan nakmas sekuat itu, tentu seluruh pasukan kerajaan juga akan sulit menghadapinya."


"Bisa paman jelaskan di daerah mana saja wilayah yang diserang makhluk kegelapan? mungkin saja Suro akan mendapatkan sesuatu pentunjuk atas keberadaan mereka."


Ketua Tohjaya kemudian menjelaskan kepada Suro daerah wilayah yang katanya mendapat serangan dari makhluk kegelapan.


"Baik, terima kasih sekali lagi paman, Suro akan menyelidiki tempat tersebut sebelum kembali ke Perguruan Pusat Pedang Surga."


Suro kemudian menghilang dari pandangan Tohjaya.


"Edan, apa yang terjadi, ilmu apa lagi yang di miliki nakmas Suro. Anak muda ini makhluk jenis apa sebenarnya? Bagaiman pada usia semuda dia memiliki kekuatan setinggi itu?"


"Sangat mustahil manusia biasa dapat mencapai kekuatan tingkat surga saat usianya semuda dirinya. Entahlah bagaimana caranya?" Tohjaya masih tidak dapat mempercayai Suro telah mencapai kekuatan tingkat surga dalam waktu yang relatif singkat.


Dia masih ingat seberapa lama dia mencoba meraih tingkat shakti gerbang ketujuh selama puluhan tahun.


"Beruntung aku kini berada dipihaknya, jika tidak, akan sangat mengerikan apabila harus bertarung melawannya."