
"Ketiwasan paman guru! Ketiwasan! Gawat! Gawat! Itu wanita gila didepan rumah sedari tadi sejak saya baru datang sudah menyerang Suro tanpa angin tanpa hujan. Seperti kesetanan entah setan apa yang merasukinya. Menyerang saya entah dengan alasan apa? Seakan saya mau dicincang tipis-tipis." Setelah menjura Suro mencoba menjelaskan dengan nafas ngos-ngosan.
Sebelumnya dia berlarian ke dalam rumah mencari Dewa Pedang. Diruangan dia menemukannya sedang berbincang tentang sesuatu hal bersama seorang tamu yang sebelumnya dia lihat dari jauh.
Dewa pedang mengernyitkan dahinya sambil berpandangan dengan Dewi anggini yang sama-sama bingung. Mereka berdua belum paham dengan arah pembicaraannya masih terbengong menatap Suro.
Dewi Anggini yang ikut bengong karena cara penyebutan Suro kepada Dewa Pedang dengan sebutan Paman Guru terasa sangat janggal. Dia merasa ada hubungan yang unik dan sedikit misterius antara Dewa Pedang dan Suro. Walaupun begitu dia tidak berani menanyakan masalah sepele itu.
"Itu yang barusan Dewa pedang lihat diluar. Dara muda yang sedang bertarung dengan Suro itu wanita gila! Sejak Suro baru sampai sudah diplototi dicecar dengan pertanyaan tidak jelas. Kemudian mulai menyerang Suro seakan sudah membunuh bapak ibunya."
Suro mencoba menjelaskan kembali kepada Dewa Pedang yang sepertinya belum paham dengan apa yang dia alami. Dia menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar.
Dewa pedang yang mulai memahami maksud Suro hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap Dewi Anggini dengan perasaan tidak enak. Mereka berdua mulai memahami situasi sebenarnya yang terjadi.
Sebelumnya mereka mengira dua muridnya sedang berlatih tanding tetapi ternyata sesuatu yang keliru. Mereka dua muridnya sedang berduel bukan karena sedang berlatih tanding tetapi sedang terjadi kesalah pahaman.
Saat itu Dewi Anggini masih tersenyum membalas tatapan Dewa Pedang meski muridnya sudah dikatakan gila. Tetapi saat Suro mulai melanjutkan kalimatnya roman mukanya mulai berubah.
"Sepertinya itu murid Bathari Durga galaknya kelewat-lewat! Setiap Suro suruh berhenti menyerang. Justru semakin bertambah mengerikan serangannya."
"Dara itu salah satu murid utama paman guru. Suro kemarin melihatnya duduk dibagian belakang. Tadipun Suro sudah mencoba menjelaskan untuk membuatnya berhenti menyerang. Sebab Suro juga bagian dari murid sekte yang ikut kandidat. Sayang dia tidak menerima penjelasan itu bahkan justru membuat dia semakin murka."
Mulai dari situ Dewi Anggini benar-benar triwikrama berubah menjadi Bathari Durga matanya menyala-nyala seakan mau copot menatap Suro. Beruntung Suro tidak melihat penampakan yang mengerikan itu karena dia yang sibuk menjelaskan kepada Dewa Pedang posisinya membelakangi Dewi Anggini.
Dewa pedang yang mendengarkan semakin salah tingkah. Apalagi melihat reaksi Dewi Anggini wajahnya yang putih bersih mulai berubah memerah dibarengi dengan kedua matanya yang mulai melotot. Beberapakali Dewa Pedang mencoba memberi kode ke arah Suro untuk menghentikan perkataanya.
"Beruntung serangan yang dia lakukan hanya jurus-jurus yang mudah dihadapi kalau tidak sudah lewat nyawa Suro."
Dewi Anggini yang mendengar jurus andalannya dianggab sebagai jurus yang mudah dihadapi semakin membuat berang. Dewa pedang kembali memberi kode ke arah Suro dengan mimik yang justru disalah artikan Suro.
"Benar paman Guru itu bukan jurus yang sulit. Kalau tidak, tentu saja Suro tidak akan begitu mudah menghindarinya. Itu jurus yang sudah Suro hafal sedari dulu kalau tidak bagaimana mungkin Suro bisa membaca gerakan wanita gila itu."
"Padahal sudah saya katakan kepada wanita itu luka yang dia derita sangat berbahaya bagi dirinya sendiri minimal bisa membuatnya lumpuh. Tetapi entah mengapa bukan kata terimakasih tetapi justru serangan yang semakin mengebu-gebu. Sama reaksinya seperti setiap saat aku beri masukan mengenai gerakannya yang kurang sempurna. Beruntung aku berhasil menotoknya sehingga mampu menghentikan gerakannya. Kalau tidak jalur nadi disekitar luka itu akan pecah!"
"Maksudnya apa perkataanmu anak muda? Luka yang diderita muridku kamu bilang minimal bisa membuatnya lumpuh?" Suara Dewi Anggini yang bergetar menahan marah segera menghentikan bibir Suro yang masih ingin melanjutkan perkataannya.
Tiba-tiba tubuh Suro menjadi kaku tidak bisa bergerak sama sekali. Dia tidak segera membalikkan tubuhnya kearah asal suara barusan. Hanya matanya yang menatap Dewa Pedang seakan mengugatnya karena sedari tadi tidak memberitahu bahwa orang yang ada dibelakangnya adalah guru dari wanita yang dia sebut gila. Tiba-tiba keringat dingin mulai mengucur dari setiap inci tubuhnya.
"Uhuk! Uhuk!" Dewa pedang hanya bisa terbatuk-batuk melihat reaksi Suro yang tiba-tiba berubah menjadi patung batu. Dia bahkan tidak segera menyahut pertanyaan Dewi Anggini. Sebelum sebuah suara yang kembali terdengar dari arah belakang memaksanya untuk memberikan jawaban.
"Anak muda apa benar perkataanmu bahwa luka muridku minimal bisa mengakibatkan lumpuh?"
Dengan sangat pelan bahkan terlalu pelan sedikit demi sedikit tubuh Suro dengan agak ragu berputar ke arah suara yang bertanya kepadanya. Lalu sebuah senyum termanis yang dia bisa buat dimekarkan, semekar mungkin terukir dengan jelas diwajahnya. Kemudian di lanjutkan dengan menjura sedalam mungkin. Sambil berharap saat dia kembali keposisi berdiri wanita yang ada dihadapannya tiba-tiba lenyap dari pandangan matanya.
"Eh, Tetua maafkan hamba yang punya mata tetapi tidak bisa melihat kehadiran tetua yang agung ini! Maafkan murid yang cubluk ini(bodoh) tidak memberikan penghormatan yang semestinya kepada tetua sedari awal." Suro berbicara dengan tetap memasang senyumnya yang menurutnya paling indah yang pernah dia buat. Dan tidak lupa setelah selesai berbicara dia menelan ludah setelah melihat reaksi tetua yang ada dihadapannya.
Dewi Anggini hanya mengangguk pelan dengan sorot mata yang begitu menakutkan seakan menembus jantung. Sepertinya dia masih menunggu penjelasan Suro.
Dimulai dengan ritual menelan ludah dan berdoa dalam hati. Doa kepada para Dewata permintaan atas keselamatan semoga dijauhkan dari segala mara bahaya. Kemudian dia mulai menjelaskan dengan pelan-pelan dan hati-hati jawaban yang diminta Dewi Anggini.
"Mohon maaf tetua yang agung menurut pandangan murid yang cubluk ini luka bekas tapak yang tak terlihat membahayakan itu justru sebenarnya menyimpan potensi yang sangat berbahaya. Sebab luka tapak itu mengenai jalur pranayama. Salah satu jalur nadi yang sangat penting bagi orang yang melakukan olah kanuragan. Sebab jalur itu merupakan jalur yang dilewati untuk menghimpun dan juga menyalurkan energi chakra."
"Dalam jangka pendek memang tidak berbahaya dan tidak terasa. Tetapi pada jangka panjang dan pada penyaluran tenaga dalam yang besar akan menimbulkan ledakan pada jalur nadi tersebut. Akibat dari ledakan nadi itulah yang akan membuat tubuhnya lumpuh dari leher kebawah."
Glek! Suara ludah yang ditelan mengakhiri pidato singkatnya. Suro menatap dengan cemas reaksi tetua yang ada didepannya. Dengan tetap memasang wajah termanis yang pernah dia yakini selalu bisa meruntuhkan kemarahan Eyang Sindurogo jika kadang dia membuat kesalahan berat. Sambil sesekali menoleh ke arah Dewa Pedang.
Dewa pedang hanya tersenyum-senyum menahan tawa menatap mimik muka Suro yang mirip kethek ketulup(monyet yang kena senjata sumpit).
"Bagaimana kamu bisa tau? Siapa yang mengajarimu?" Dewi Anggini yang mendengar penjelasan Suro yang begitu jelas membuat dia sedikit kagum. Sebab dia sendiri juga sudah memeriksa luka muridnya. Tetapi melalui penglihatannya tidak melihat sesuatu hal yang gawat.
"Eyang dari murid yang cubluk ini adalah seorang yang biasa dipanggil para penduduk dengan sebutan tabib. Sedikit banyak murid yang bodoh ini paham tentang ilmu pengobatan. Sedikit banyak juga memahami seputar jalur nadi sekaligus letaknya."
"Apakah kamu bisa menyembuhkannya?" Dewi Anggini yang sebelumnya terlihat menampakan kemarahannya kini justru berubah dengan sedikit memperlihatkan reaksi kecemasan.
"Itu urusanku aku yang akan memastikan dia akan menurutimu. Terimakasih sudah menolong muridku dengan menghentikannya berbuat hal yang membahayakan dirinya sendiri."
Plong rasanya! Perasaan itulah yang dirasakan Suro. Seperti orang yang menderita sesak nafas saat saluran paru-parunya tertutup rapat tiba-tiba dengan bebas udara melewatinya membuat dia dengan leluasa menarik nafas panjang. Rasa yang sama yang dirasakan Suro saat mendengar tetua yang berada didepannya mengucapkan terima kasih.
Setelah mendengar penjelasan Suro mereka bertiga bergegas keluar menemui Mahadewi yang tak bergerak. Matanya yang menyiratkan kemarahan masih terlihat jelas seakan ingin menelan Suro hidup-hidup.
Segera Tetua Dewi Anggini melepaskan totokan ditubuh Mahadewi. Untuk mencegah reaksi yang timbul dari luapan kemarahan Mahadewi, Suro sengaja berdiri dibelakang Dewa Pedang.
Dan benar saja setelah totokannya dibuka Mahadewi yang seperti kesetanan itu mencoba mengejar Suro. Beruntung Dewi Anggini segera mencekal lengan muridnya yang memang dikenal emosional itu. Tetapi sebenarnya wataknya itu juga tidak jauh dari gurunya sendiri. Entah mengapa justru itulah yang membuat hubungan guru dan murid itu menjadi begitu dekat karena persaman watak.
"Mahadewi jangan kurang ajar terhadap orang yang telah menolongmu!"
"Tetapi guru dia?"
"Diam! Anakmas Suro sudah menjelaskan semua!"
Mahadewi yang mencoba menjelaskan bibirnya kembali tertutup rapat. Dia hanya ingin menjelaskan bahwa dia tidak terima dikatakan gila bahkan menyebut gurunya disamakan dengan Batari Durga.
Suro yang berada dibelakang Dewa Pedang tersenyum dengan senyum kemenangan. Pawang dari makhluk buas itu telah menghentikan langkahnya.
"Justru anakmas Suro ini telah menyelamatkanmu. Beruntung anakmas Suro mengetahui potensi bahaya dari lukamu. Jika tidak segera diobati lukamu itu bisa membuatmu lumpuh. Apakah kamu menginginkan itu?"
"Benarkah guru?" Ada kecemasan yang melanda dirinya. Ketakutan wajar apalagi dengan resiko yang barusan dijelaskan Gurunya membuat dia merasa bersalah telah menyerang Suro.
"Sekarang kamu harus meminta maaf karena kamu sudah menyerang anakmas Suro! Beruntung dia cukup sabar menghadapimu dan tidak menyerang balik! Apakah kamu tidak melihat? Antara dirimu dan anakmas Suro berjarak seperti langit dan bumi. Dan masih saja berani menyerang anakmas Suro!"
"Tidak perlu tetua! Ini hanya salah paham saja! Mungkin saya juga salah sehingga terjadi pertarungan yang tak perlu!"
"Kamu nanti ikut anakmas suro untuk menjalani pengobatan yang dia lakukan! Guru tidak mau mendengar kamu melawan perkataan anakmas Suro! Sampai besok lusa kamu akan menjalani pengobatan itu. Karena sebelum tahap seleksi tetua muda dimulai lagi kamu harus sembuh total! Kamu paham!"
"Sendiko dawuh guru!" Mahadewi terus menunduk tidak lagi memelototi Suro. Sepertinya dia merasa berhutang budi karena telah diselamatkan dari mara bahaya besar yang mengintainya.
"Jangan! Jangan tetua, biar Suro saja yang mendatangi kekediaman tetua untuk memberikan perawatan." Suro masih ngeri dengan sikap Mahadewi sebelumnya. Dia membayangkan tanpa gurunya pasti sewaktu-waktu dapat merubahnya menjadi makhluk buas lagi. Tentu saja dia tidak mau hal itu terjadi lagi. Bagi dia lebih baik berdekatan dengan Maung si Harimau bertaring pedang yang berpuasa tujuh hari tujuh malam tanpa makan. Daripada berdekatan lebih lama dengan makhluk buas satu ini.
"Kenapa apakah kamu jijik dengan muridku?"
"Bukan tetua, tentu bukan! Mohon maaf jika kata-kata Suro membuat tetua menjadi salah pengertian." Suro menjelaskan sambil berkali-kali menjura ke arah tetua.
"Apakah muridku kurang cantik sehingga anakmas malu berdekatan dengan muridku?"
"Bukan itu mohon maaf tetua Bagaimana mungkin murid yang cendala(hina) dan buruk rupa ini malu berdekatan dengan seorang wanita yang memiliki kecantikan yang bahkan bisa membuat para bidadari khayangan merasa iri karena kecantikannya."
Dewa pedang terpana mendengar Suro memuji murid tetua yang sebelumnya dia sebut gila. Dia berusaha sekuat mungkin menahan tawa.
Mahadewi yang dipuji setinggi langit itu wajahnya yang memang menawan berubah bersemu merah menahan malu. Kemarahannya yang sudah diubun-ubun perlahan-lahan mulai menghilang. Apalagi menurut gurunya dia justru telah ditolong oleh Suro dari hal yang sangat gawat.
Bahkan potensi bahaya itu tidak disadari gurunya apalagi dirinya sendiri yang tidak merasakan keanehan apapun kecuali ada rasa seperti semacam kesemutan saja disekitar luka memar itu.
"Tempat tinggal Suro sangat buruk seperti sarang perampok. Sangat tidak pantas ditinggali oleh seorang putri kedaton."
"Sekiranya tetua memaklumi kondisi murid yang hina ini."
***
TERIMA KASIH YANG SUDAH MENDONASIKAN POIN REKAN-REKAN READER SEBAGAI BENTUK DUKUNGAN KEPADA AUTHOR UNTUK NOVEL INI. DENGAN MENGUNAKAN HAK VOTE ANDA UNTUK PEMILIHAN NOVEL FAVORIT PER MINGGU TELAH MEMBUAT AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT MENULIS
TERIMAKASIH YANG SUDAH MENYUMBANGKAN POIN ANDA UNTUK VOTE NOVEL INI DITUNGGU YANG BELUM.
SEKEDAR INFO DI MANGA TOON SUDAH BISA MENGUNAKAN VOTE TANPA PERLU MASUK KE APLIKASI NOVEL TOON TERLEBIH DAHULU
TERIMA KASIH SEMUA DITUNGGU LIKE,KOMENT DAN TENTU VOTENYAπππππππππππππππ