
Mengapa kalian mendiamkan dirinya seperti itu?"
"Kekuatannya terlalu berbahaya bagi kami pekulun, apalagi jika dia menyerang secara mendadak tentu kami tidak akan sempat untuk bisa menghindar." Suro memandang ke arah gurunya dengan waspada, meski jaraknya cukup jauh.
"Apa sudah selesai proses pangruwatan sira sesuai dengan petunjuk yang telah ulun ajarkan?"
"Sudah pekulun, tetapi entah bagaimana saat selesai proses pangruwatan mendadak terjadi ledakan energi. Ledakan itu menghempaskan sesuatu yang berwarna hitam pekat dari sekujur tubuh eyang guru."
"Setelah kepulan yang berwarna hitam pekat itu menghilang, kami mendapati tubuhnya terbujur tidak bergerak seperti itu. Kami jadi ragu untuk mendekatinya mengingat kekuatannya yang cukup menakutkan. Eyang guru hanya terdiam seperti itu, bahkan hamba tidak mampu merasakan getaran tubuhnya melalui tehnik perubahan tanah."
Suro maupun Geho sama memilih mengawasi tubuh eyang Sindurogo dari jarak aman.
Naga Tatmala memandang sesaat kepada Suro sebelum sebuah senyuman mengembang dari wajahnya.
"Pantas ramanda memutuskan menjadikanmu sebagai muridnya, ulun baru menyadari sepertinya sira telah melewati tahap pencerahan sempurna melalui jalan arhat."
"Setelah sira melewati jalan arhat itu, kini ulun mengerti alasan yang dimiliki ramanda. Semua itu ada kaitannya dengan wujudmu yang sebenarnya. Ulun merasa terhormat telah diberikan kesempatan untuk mengenal sira sebagai manusia."
"Sang Hyang Batara Narada, Sang Hyang Ismaya menyebutkan jika hamba memiliki kehidupan lain. Tetapi entah kenapa beliau berdua tidak menceritakan kepada hamba, seperti apa dan siapa sosok yang dimaksud. Sudikah pekulun menceritakan kepada hamba, jika memang pekulun mengetahuinya?"
"Seperti itu ternyata. Jika beliau berdua memilih untuk diam, bagaimana mungkin Ulun akan berani untuk menjelaskannya?" Naga Tatmala tersenyum ke arah Suro.
Suro hanya mengaruk-garuk kepalanya mendapat jawaban dari Naga Tatmala.
"Apakah Ashura yang pekulun lawan telah berhasil dibunuh?"
"Entahlah mendadak makhluk itu menghilang saat pertarungan sedang berlangsung."
Naga Tatmala kemudian mendekati Eyang Sindurogo dia berjalan dengan tenang tanpa ada rasa takut. Suro dan Geho sama ikut berjalan mengikutinya.
Dia kemudian berjongkok dan menempelkan tangannya pada dada eyang Sindurogo yang belum juga bergerak. Cahaya kehijauan keluar dari telapak tangannya. Cahaya itu semakin bertambah terang seiring pengerahan kekuatan yang dimiliki Naga Tatmala hingga menyelimuti tubuh eyang Sindurogo.
"Dia baik-baik saja, Ulun hanya membantunya cepat kembali sadar."
Sesaat kemudian eyang Sindurogo mulai tersadar. Dia kemudian bangkit dan duduk bersila, tetapi tatapannya menyiratkan kebingungan.
"Kenapa aku ada ditempat ini? Sedang berada dimana aku ini sebenarnya? Tempat ini terasa begitu asing. Aku merasa tidak pernah melihat sebelumnya." Eyang Sindurogo menatap mereka bertiga sambil memijit dan mengurut keningnya berkali-kali.
Dia masih terduduk dan sibuk menatap ke sekeliling. Dia merasa seperti asing dengan alam sekitar.
"Pegunungan Himalaya? Bagaimana bisa aku ada di Himalaya? Bukankah terakhir aku terjebak dalam dunia lain yang cukup gelap. Kemudian ....." Eyang Sindurogo terus mencoba mengingat-ingat terakhir kali saat dia masih tersadar.
Mendengar ucapan eyang Sindurogo Suro segera mengetahui, jika gurunya telah mengingat kembali seluruh ingatannya sebelum dikuasai Dewa Kegelapan.
Dia tidak dapat mengungkapkan betapa bahagianya dirinya. Mulutnya tercekat tak ada suara yang keluar. Justru tangan terlihat sedang mencengkram mulutnya sendiri menahan haru dan juga tangisnya. Matanya sudah memerah meski tidak sampai menumpahkan air mata.
"Aduuuh kenapa kepalaku terasa begitu sakit sekali ? Seperti baru saja dihantam batu sebesar bukit berkali-kali."
"Jika diijinkan bolehkah aku mengetahui siapa para pendekar ini? Sejauh ingatanku sepertinya aku tidak pernah mengenali wajah kalian bertiga? Meskipun aku tidak mengenal dan tidak merasakan niat buruk dari kalian bertiga. Tetapi entah mengapa aura yang kalian miliki membuatku merasa tidak asing?"
Eyang Sindurogo juga segera menyadari pakaian yang dia gunakan terlihat begitu aneh. Dia merasa tidak pernah memiliki pakaian seperti yang sedang dia kenakan itu. Sebab pakaian yang dia kenakan kali ini berupa jubah hitam panjang yang cukup tebal.
"Maafkan kebingunganku para pendekar. Aku merasa seperti baru bangun dari tidur yang panjang. Jujur aku tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Maafkan para pendekar jika aku tidak mengenali kalian semua. Tetapi sungguh aura yang kalian miliki mengingatkan diriku pada beberapa sosok yang sangat aku kenal."
Eyang Sindurogo berbicara sambil mengurut-urut keningnya. Dan beberapa kali dia menggerak-gerakkan lehernya sambil memutar kepalanya. Telapak tangannya juga berpindah ketempat lain yaitu mulai bergerak mengusap pelan bagian belakang lehernya.
"Dua pendekar yang sangat rupawan ini memiliki aura yang mengingatkanku kepada dua sosok yang berbeda. Pendekar yang sangat rupawan ini mengapa aura milik pendekar mengingatkan diriku pada aura Sang Hyang Antaboga dan entah bagaimana aura yang pendekar miliki juga mengingatkan diriku kepada sebuah ruangan yang mampu menghasilkan sebuah kekuatan yang memiliki aura seperti kekuatan pendekar."
"Sedangkan pendekar rupawan yang masih begitu muda ini auranya sangat mengesankan, jika diriku tidak salah membaca kekuatan pendekar setara dengan pendekar tingkat langit lapis pertengahan. Tetapi entah kenapa aura yang pendekar miliki membuat diriku teringat kepada muridku?"
"Ah kepalaku apa ada yang salah mengapa begitu sakit sekali. Maafkan atas ucapanku pendekar. Tetapi itu tidak mungkin, karena muridku masih setara dengan kekuatan pendekar kelas atas. Jadi mungkin ini hanya perasaanku. Apa yang dilakukan si thole? Mengapa aku mendadak teringat muridku?"
Naga Tatmala hanya tersenyum mendengar ucapan eyang Sindurogo. Tetapi tidak dengan Suro dia semakin tercekat. Dia masih bertahan untuk memastikan jika gurunya telah pulih dengan sempurna.
"Dan pendekar dibelakang yang memiliki tubuh begitu gagah. Meski aku merasakan ada aura siluman dan wujud pendekar tidak seperti manusia biasanya, tetapi aku menangkap ada aura dari pak tua yang mencegahku untuk berprasangka buruk kepada pendekar."
Geho sama yang sedang dibicarakan menaikan alisnya tidak memahami maksud eyang Sindurogo.
"Pak tua?" Geho sama mencoba memahami maksud perkataan eyang Sindurogo sambil mengusap usap paruhnya.
"Dia adalah guruku. Sungguh sangat tidak sopan, sedari tadi aku telah berbicara panjang lebar tanpa memperkenalkan diri. Perkenalkan namaku adalah Sindurogo. Mungkin di Benua Tengah namaku tidak terdengar, tetapi ditempat lain aku dikenal sebagai Lelananging jagat atau juga memiliki panggilan Pendekar Tapak Dewa Matahari."
Naga Tatmala menoleh ke arah Suro. Dia segera memahami maksud Naga Tatmala. Dia kemudian duduk bersimpuh didepan Eyang Sindurogo. Lalu sambil menahan tangis dia menundukkan kepalanya begitu rendah sampai menyentuh salju yang terhampar di daerah itu. Dia melakukan itu begitu lama tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
"Pendekar muda yang rupawan, mengapa dirimu justru menundukkan kepalamu sebegitu rendah? Bangunlah. Justru aku yang harus berterima kasih, agaknya entah bagaimana sepertinya kalian telah menyelamatkanku. Karena sudah menemukanku ditempat yang begitu asing ini. Bangunlah pendekar muda yang rupawan." Eyang Sindurogo mencoba bangkit untuk memegang kedua pundak Suro dan berusaha membangunkannya.
"Syukurlah eyang guru sudah pulih."