
Lagi apa bunch?
Ish Bang Andi, kenapa jadi panggil aku bunch?
Aku suka saja, bunch. Lagi apa?
Lagi dikampus, mau masuk kelas
Naik apa tadi? nanti pulangnya mau kujemput?
Tak usah, aku bawa mobil, Bang.
Tapi aku kangen. Nanti aku kerumah ya? kamu pulang jam berapa?
Pulang kuliah nanti aku mau kerumah Bang Erwin, Bang
Ya sudah sampai ketemu disana. Nanti aku pulang kesana juga.
Semakin hari semakin manis saja perlakuan Andi pada Pipit, Pipit bergetar dibuatnya, disekujur tubuhnya serasa ada yang menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pipit mengakhiri sambungan telepon dari Andi sambil menutup wajahnya yang terasa panas saat Andi mengatakan kangen. Pintar sekali Bang Andi menggombal dan bodohnya aku senang sekali, batin Pipit.
Sejak menemani Pipit sore itu komunikasi Andi dan Pipit semakin baik. Ini sudah kesekian kalinya Andi menghubungi Pipit tiga kali sehari seperti minum obat. Entah kenapa, Andi selalu saja merasa kangen dengan Pipit, rasanya ingin bertemu setiap hari saja. Sayangnya Pipit selalu menolak jika ingin diantar atau dijemput.
"Bang Andi sahabat Bang Erwin?" tanya Rahma sahabat Pipit yang juga follower Kiki. Dulu Rahma pernah bertemu Reza dan Kiki saat makan diwarung tenda bersama Pipit.
"Asal lu tahu saja, sekarang Bang Andi calon suami gue, lucu kan?" Pipit tertawa menyampaikan pada sahabatnya. Sejak dijodohkan dua minggu yang lalu, Pipit baru kali ini bertemu Rahma, karena sahabatnya itu baru saja pulang liburan dan membolos kuliah selama itu.
"Sejak kapan? bahagia sekali anda ya. Dijodohkan dengan pria impian." kata Rahma dengan mata berbinar-binar, membayangkan berapa beruntungnya Pipit.
"Waktu Bang Erwin selamatan rumah, sekalian membahas perjodohan kami, pantas saja orang tua Bang Andi datang juga, kami tidak tahu akan dijodohkan, seperti mimpi saja." Pipit tak kalah berbinar-binar.
"Psssttt Rahma, dua minggu lagi kami menikah." Bisik Pipit pada sahabatnya, membuat Rahma terperangah.
"Benar-benar penuh kejutan hari ini." Rahma menggelengkan kepalanya. Mereka pun masuk ke dalam kelas ketika melihat dosen sedang berjalan dan semakin mendekat.
Dua minggu yang lalu, setelah menemani Pipit saat Papa Permana menginap dirumah Erwin, esok harinya Andi menyampaikan keinginannya untuk segera menikahi Pipit, ia tak mau menunggu lama, maksimal satu bulan. Papa Gilang mengikuti saja, Andi tak perlu negosiasi alot, hanya Papa Permana yang awalnya keberatan karena Erwin dan Enji baru saja menikah. Tapi Andi berhasil meyakinkan calon mertuanya dengan sepenuh hati. Semua ia lakukan untuk menghindari zina maka sebaiknya menikah disegerakan. Walaupun ada alasan lain, ia perlu surat nikah untuk acara private gala dinner bersama artis pujaannya, tapi keseriusannya menikahi Pipit tak akan terpengaruh karena hal itu. Acara itu hanya sebagai alat untuk mempercepat prosesnya. Papa Permana akhirnya menyetujui. Mereka sepakat Andi dan Pipit tak perlu bertunangan, tetapi langsung menikah saja.
"Sudah mulai jatuh cinta, friend?" tanya Mario saat Andi menutup sambungan teleponnya.
"Entahlah, cinta apa bukan ya, yang pasti rasanya ingin bertemu terus." kata Andi sambil terkekeh.
"Sama Cindy dulu begini juga?" tanya Reza ingin tahu lebih dalam perasaan sahabatnya. Andi menggelengkan kepalanya.
"Beda, sepertinya dengan Pipit lebih kuat. Jangan bahas Cindy lagi, sudah lewat." jawab Andi.
"Secepat itu move on ya." kata Mario menggelengkan kepala.
"Bagus kan? tak ada bayang-bayang masa lalu." tukas Andi
"Iya, tapi gue rasa memang sebelumnya lu sudah ada rasa sama Pipit." tebak Mario
"Iyalah, apa lagi lu terkadang memanggil Erwin dengan sebutan Kakak Ipar. Sepertinya memang sudah ada rasa." Reza ikut menebak.
"Iya, dulu serba salah, jadi seperti pasang pagar, secara Erwin sahabat kita, gue khawatir merusak persahabatan."
"Tapi sekarang sudah tak takut?" tanya Reza
"Tidak, Orang Tua kami sudah merestui untuk apa takut, berarti Allah ridho bukan."
"In syaa Allah." Reza tersenyum ikut senang karena sahabatnya akan segera menikah, yang berarti mereka akan lengkap sebagai tetangga, walaupun setelah pindah rumah, baik Reza, Erwin maupun Mario jarang bertemu jika sudah pulang bekerja. Mereka lebih banyak suka menghabiskan waktu didalam rumah eh di dalam kamar pastinya.
"Friend, nanti gue mau kerumah Erwin." kata Andi memecahkan keheningan.
"Tidak. Calon istri gue yang mau kesana." jawab Andi menyeringai. Mario menggelengkan kepalanya, sahabatnya mulai bucin.
"Gaya ah calon istri, calon istri, katakan saja Pipit." Reza melempar kertas yg tadi diremasnya ke meja Andi. Mereka tertawa bersama dan melanjutkan kesibukan masing-masing.
Sore harinya Pipit sudah sampai dirumah Erwin, mengantarkan masakan Mama untuk menantunya. Belum tampak mobil Andi ataupun Erwin disana.
"Sendiri, Pit. Mana Andi?" tanya Enji menyambut kedatangan Iparnya.
"Belum datang, Kamu tahu Bang Andi mau kesini?" tanya Pipit.
"Iya tadi Erwin bilang, kamu dan Andi mau kesini, kupikir Andi menjemputmu."
"Tadi memang Bang Andi mau menjemputku, tapi aku bawa mobil."
"Mulai besok diantar supir saja, jadi pulangnya bisa pacaran." Enji menggoda Pipit.
"Dua minggu lagi kami akan pacaran halal." jawab Pipit terkekeh, meletakan kiriman Mama dimeja makan.
"Apa saja kegiatanmu setelah menikah, Nji. Apa tidak bosan dirumah saja?" tanya Pipit
"Temanku banyak disini, ada Regina dan Kiki, kadang Intan dan Monik mampir. Kami sering makan bersama dari rumah ke rumah. Seperti ibu-ibu arisan saja." Enji menjelaskan dengan semangat.
"Rumah Monik dan Intan di cluster sebelah, dekat bisa jalan kaki kalau mau sekalian olah raga sore. Tapi aku belum pernah, baru rencana saja." lanjut Enji sambil terkekeh.
"Monik, Intan dan Kiki masih ada aktifitas dikampus, kamu dan Regina full dirumah saja. Yang kupikirkan kalau aku sudah menikah dan sudah lulus nanti apa akan seperti kamu dan Regina juga. Aku tak betah dirumah." Pipit menyampaikan kekhawatirannya.
"Masih lama, nanti saja kamu pikirkan sambil kamu bahas dengan suamimu. Kalau aku memang sudah biasa dikurung Mama dirumah, jadi sekarang bahagia sekali bisa punya sahabat, makan bersama, kesalon bersama, sore hari menyambut suami pulang bekerja. Tidak merasa kesepian tuh. Waktu berjalan tanpa terasa." jawab Enji dengan wajah bahagianya.
"Alhamdulillah jadi kamu bahagia menikah denganku, schatz." Erwin yang baru saja masuk menghampiri Enji dan langsung memeluk erat istrinya.
"Ish mandi dulu, dari luar sudah peluk-peluk. Kamu bau Bang." Pipit menutup hidungnya menggoda Erwin, padahal Abangnya wangi sekali. Pulang bekerja tetap terlihat tampan.
"Mau numpang pacaran disini ya." Erwin balas menggoda adiknya.
"Mana Bang Andinya?" tanya Pipit pada Abangnya.
"Mana kutahu, calon istrinya aku atau kamu?" jawab Erwin cari gara-gara, paling pintar memancing emosi adiknya. Biasanya Pipit akan merepet karena dibuat kesal. Tapi kali ini Pipit tak mau terpancing. Padahal Enji sudah siap memarahi suaminya kalau Pipit mulai emosi.
"Assalamualaikum." terdengar suara Andi yang baru saja datang.
"Waalaikumusalaam." Pipit tersenyum menyambut kedatangan Andi.
"Masuk Friend, jangan kaya tamu." kekeh Erwin. Andi pun masuk disusul Reza dan Mario.
"Kita kawal friend, biar ga khilaf." kata Mario sambil tertawa.
"Kalian makan malam disini ya, Pipit bawakan lauk banyak sekali." kata Enji senang melihat sahabat suaminya berkumpul.
"Kamu yang masak, Pit?" tanya Andi basa-basi, ia tahu Pipit tak bisa masak.
"Pakai ditanya, Ndi. Sudah pasti bukan Pipit lah." sahut Erwin lagi-lagi memancing emosi adiknya. Pipit hanya menjulurkan lidahnya pada Abangnya, kemudian tertawa menatap Andi.
"Aku sudah chat Regina dan Kiki untuk makan malam disini, nanti mereka akan menyusul." kata Enji pada Reza dan Mario.
Tak lama Regina dan Kiki pun datang dengan wajah sumringah memeluk suaminya masing-masing, sengaja membuat iri yang belum halal.
"Dua minggu lagi lama ya friend." Kata Reza menggoda Andi yang memggelengkan kepalanya, sudah hafal kelakuan para sahabat dan pasangannya.