
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, setelah semalam Om Samuel beserta keluarganya pulang lebih dulu ke Cirebon dengan diantar Pak Atang, hari Ini Nanta dan rombongan bertolak ke Abu Dhabi, meskipun menggunakan pesawat yang sama Nanta dan Rombongan berkumpul di GBK.
Deni sebagai ketua rombonganya langsung menuju Bandara. Pagi-pagi setelah mengantar Doni ke GBK, Dona diantar kerumah Kenan, barulah mereka berlima berangkat bersama ke Bandara. Nanta diantar oleh Kenan dan Nona sedangkan Empat D, Deni, Dini, Dona dan Dania diantar oleh Pak Atang yang sudah tiba dari Cirebon pukul tujuh pagi. Rombongan atlit dan rombongan keluarga akhirnya bertemu di ruang tunggu keberangkatan.
"Dania sayang." panggil Mike pada sepupunya.
"Lebay." Nanta menoyor dahi Mike, temannya ini suka sok manis kalau didepan istrinya.
"Kok lebay sih, Dania tuh adek gue loh." protes Mike pada Nanta.
"Iya-iya ampun kakak." jawab Nanta sambil membungkuk. Semua tertawa jadinya.
"Kamu bisa naik pesawat jauh?" tanya Mike pada Dania.
"Bisa, ini ada dokter kan." Dania menunjuk Om Deni.
"Dokternya bakal sibuk sama istrinya, maklum pengantin baru." Mike berlagak berbisik sambil mengangkat alisnya.
"Iri dia Om." kata Larry terkekeh.
"Mau dicarikan jodoh Mike, di Cirebon banyak dokter muda loh."
"Masalahnya mau tidak sama dia Om." Larry terbahak kembali menggoda Mike.
"Rese, gue kan ganteng juga, hanya kurang beruntung." dengus Mike kesal.
"Eh Mike justru kamu beruntung, belum punya pacar sampai sekarang, berarti tidak bikin dosa." kata Om Deni pada Mike.
"Eh betul juga Om, Larry dosanya banyak dong Om, tiap bentar ganti pacar." Mike tertawa puas. Semua jadi ikut tertawa.
"Gue sudah insaf, rencana mau sholat tobat nih dipesawat." kata Larry terkekeh.
"Dia sih tiap naik pesawat sholat tobat Om, kalau sudah didarat bikin dosa lagi." celutuk Doni, semua yang mendengar kembali terbahak, bahkan rekan Atlit yang lain ikut menimpali, habislah Larry diruang tunggu jadi perhatian banyak orang, sudahlah ganteng jadi bulan-bulanan pula.
"Terus saja tertawakan, semoga cepat dapat jodoh. Aamiin." Larry membalas bulian teman-temannya dengan doa.
"Aamiin." jawab yang lain berbarengan, penumpang lainpun ikut ucapkan Aamiin. Mike jadi iri, karena banyak yang doakan Larry.
"Eh bully gue deh." pintanya pada yang lain, semua kembali tertawa tahu maksud Mike dia juga mau baca doa biar banyak yang bilang Aamiin.
"Sorry ya kita beda nasib." kata Larry terkekeh.
"Tapi keberuntungan kita sama." jawab Mike.
"Iya sama-sama jomblo." timpal Atlit yang lain.
"Rese." Mike tertawa sendiri jadinya. Larry juga ikut tertawa.
Saat dipesawat beruntungnya Nanta satu bangku dengan Doni dan Mike, Larry terpisah menemani Dona dengan Dania.
"Gue pindah deh, Dania kesini." pinta Doni pada Dania.
"Iya sini sama Abangmu." ajak Mike.
"Dan, duduk dekat Mike mual tidak?" tanya Nanta bercandai sahabatnya. Dania tertawa mendengarnya. Langsung saja Mike berdoa dan mengucapkan Aamiin. Cita-citanya tercapai banyak penumpang lain yang ikut ucapkan Aamiin atas doa Mike yang minta keselamatan dan minta jodoh."
"Duh pulang dari Abu Dhabi langsung nikah nih." Doni bercandai Mike yang saat ini sedang bicara dengan pramugari maskapai.
"Aamiin." jawab rombongan mereka bersamaan.
"Mbak teman saya lagi cari istri loh." kata rekan Atlit yang lain pada pramugari tersebut.
"In English woi, dia mana ngerti." jawab Mike pada rekannya.
"Ngerti kok, saya juga orang Indonesia." jawabnya terkekeh. Semua langsung saja tertawa.
"Kalau tahu tadi gue pakai bahasa" kata Mike tertawa, Pramugari tersebut pun ikut tertawa kemudian berjalan kembali meninggalkan Mike.
"Tidak mau, dia pasti bakal tinggalin gue terus karena tugas, kita sibuk dia juga sibuk. Gue mau yang seperti Dona dan Dania, bisa temani suami bertanding." kata Mike senyum-senyum berhayal. Dania sudah bersandar saja dibahu suaminya. Untuk menghilangkan rasa mualnya ia harus mencium aroma tubuh Nanta yang dari awal disukainya, ternyata anak mereka pun menyukainya.
Perjalanan Jakarta Abu Dhabi memakan waktu delapan jam dua puluh menit, ucapkan syukur Alhamdulillah mereka tiba dengan selamat sehat walafiat tanpa ada keluhan, selama diudara hanya goncangan kecil yang tidak meresahkan. Selebihnya halus seperti dijalan tol bebas tanpa hambatan.
"Selamat datang di Abu Dhabi." Nanta membangunkan istrinya yang masih saja tidur saat pesawat landing.
"Bisa lu ya tidur saat pesawat landing." Mike berdecak kagum. Ia tidak bisa tidur karena saat take off atau landing itu mendebarkan bagi Mike.
"Ya takut juga, lagi diudara pun takut. Tapi kan kita berdoa." jawab Dania santai.
"Pintar nih adek aban." kata Mike meniru bahasa Balen.
"Ish bikin kangen saja." Nanta langsung meringis, ingat Balen yang sudah pesan boneka Onta yang keriting. Nanta sampai pusing pikirkan memangnya ada Onta keriting.
"Hahaha PR kita cari Onta keriting Ban Leyi." kata Mike pada Larry yang sudah mendekat saat mereka keluar pesawat.
"Gue bawa kesalon dulu deh tuh boneka Onta." Larry terbahak.
"Lu sih bilang iya." kata Nanta menyalahkan sahabatnya. Mereka terbahak.
"Balen lucu ya." kata Dini pada suaminya. Deni mengangguk saja sambil tertawa. Bagaimana tidak rewel Balen dirumah, di sini mereka membahas Balen sambil tertawa.
"Dan, aman?" tanya Deni pada Dania.
"Alhamdulillah aman Om, kan dekat aku." jawab Nanta bangga.
"Iya Om Alhamdulillah." jawab Dania senang.
"Makanan disini juga aman Om, Dania sudah bawa Pepes." jawab Dania terkekeh.
"Wih bawa banyak tidak, mau dong." langsung saja Mike menelan salivanya.
"Jangan ganggu menu istri gue deh, mending lu gue traktir direstaurant." kata Nanta pada Mike.
"Masalahnya disini lu ajak ke restaurant mahal juga gue tidak selera." sungut Mike kesal.
"Lu bawa lauk apa?" tanya Nanta.
"Rumput laut, abon, Teri kacang." jawab Mike terkekeh.
"Tenang nanti dikirimi makanan menu Indonesia." kata Pak Jaya pada anak asuhnya.
"Asiiik." langsung saja mereka bersorak senang.
"Tapi hanya untuk hari pertama ya, tahu sendiri tumis kangkung saja disini mahal sekali." Pak Jaya terbahak.
"Sayang kasih saya pepesnya satu, kan kita bawa lima pak." bisik Dania pada Nanta.
"Satu Pak isi berapa?" tanya Nanta pada istrinya, ia takut Dania tidak bisa makan kalau lauknya habis, karena ada Adek bayi diperutnya."
"Tiga bungkus." jawab Dania.
"Mike nanti bisa pepesnya buat lu satu, buat Larry satu dan buat Doni satu. Irit-irit makannya." kata Nanta pada sahabatnya.
"Kamu bawa banyak Dan?" tanya Mike dengan wajah berbinar. Sekarang mereka sedang antri di Imigrasi.
"Banyak rencana untuk sepuluh hari." jawab Dania terkekeh.
"Sepuluh hari makan Pepes sih mabok juga."
"Ada rendang jamur, ada dendeng paru, ada abon juga." Dania terkekeh menyebut makanan yang dibawanya.
"Gue satu kamar sama Dania saja lah, boleh ya Nan." kata Mike konyol, semua jadi terbahak mendengarnya, Mike lagi-lagi menelan salivanya mendengar menu makanan yang Dania sebut, tiba-tiba saja rasa lapar mendera. Mau tidak mau keluarkan biskuit jatah di pesawat tadi dari tasnya.
"Jadi lapar gue." katanya sambil mengunyah dengan bayangan Pepes, rendang, dendeng yang berseliweran diotaknya.