I Love You Too

I Love You Too
Vicky



Setelah rencananya batal untuk kembali pada hari selasa, maka Kenan memutuskan untuk pulang Ke Jakarta pada hari minggu malam, bersama dengan anak, istri dan orang tuanya. Tugas membantu Farhan sudah selesai, membawa istrinya membesuk Sheila pun sudah dilakukan kemarin sore dan mereka juga bertemu Farhan disana. Kenan dapat menarik nafas lega, senang sekali bisa melakukan hal yang bermanfaat.


Setibanya di bandara Soekarno Hatta mereka dijemput oleh Pak Atang, sementara Baron dan Mita menunggu dirumah. Mereka sudah tiba lebih dulu kemarin malam. Rupanya tujuan Baron dan Mita ke Jakarta untuk menemui Vicky anak Mita yang sedang berlibur ke Indonesia, tetapi tidak sempat untuk menemui Mita di Malang.


"Undang Vicky ke sini Tante." kata Nona pada Mita saat sudah tiba dirumahnya. Sementara Oma Nina dan Opa Dwi sudah diantar lebih dulu ke rumah Reza atas permintaan Abang yang sangat merindukan Mama dan Papa.


"Besok Tante baru bertemu Vicky." jawab Mita.


"Bertemu disini saja? Biar Pak Atang jemput Vicky, bagaimana?" Nona kembali memberi ide.


"Tante tanya Vicky dulu ya." kata Mita pada Nona. Nona mengangguk penuh harap. Ia ingin berkenalan dengan Vicky, kata Kenan, Nanta sangat mengidolakan Vicky, Nona jadi penasaran seperti apa penampakannya.


Keesokan harinya saat sarapan pagi, Nona kembali menanyakan apakah Vicky jadi di jemput Pak Atang. Baron dan Mita menggelengkan kepalanya, Nona sangat bersikeras ingin Vicky dijemput kerumahnya.


"Biar saya yang telepon Vicky, Mbak." kata Kenan pada Mita, karena istrinya setengah memaksa.


"Aku saja." jawab Nanta semangat, segera mengambil handphonenya menghubungi Vicky.


"Assalamualaikum..." sapa Vicky saat sambungan telepon diangkatnya.


"Waalaikumusalaam, Mas Vicky I miss you." teriak Nanta.


"Ih sok manis betul kamu Nan. Lagi di Malang kah? tahu aku lagi di Jakarta dari Mama?" Vicky memberondong Nanta dengan banyak pertanyaan, ia hafal sekali suara sepupunya itu.


"Aku sekarang tinggal di Jakarta loh Mas, kamu nginap dirumahku ya, nanti aku jemput pulang sekolah. Mas Vicky kasih alamatnya saja."


"Eh aku mau bertemu Mama hari ini." Vicky menolak.


"Bude Mita menginap disini juga. Tidak tahu cerita lengkap sih. Mas Vicky kesini jadi tahu kisahku." Kenan terkekeh mendengarnya.


"Oh gitu toh. Mana Mama?" Vicky seperti tidak percaya. Setelah berbicara beberapa saat dengan Mita, baru Vicky mengiyakan untuk dijemput Nanta.


"Aku berangkat dulu Padeh, Bude, Pa, Mamon." Nanta menyalami mereka satu persatu. Sejak punya SIM Nanta kemana-mana selalu menyetir sendiri, termasuk ke sekolah.


"Bude masakin makanan kesukaan kalian nanti." janji Mita pada Nanta sekaligus menyambut kedatangan putra semata wayangnya


"Oke Bude, aku sekarang suka pedas." kata Nanta tersenyum bahagia. Tak lama Kenan pun pamit berangkat ke kantor. Tinggal Nona bersama Baron dan Mita


"Aku ke supermarket dulu ya?" ijin Mita pada Nona dan Baron.


"Mau saya temani?" tanya Baron pada istrinya.


"Boleh, kamu ikut Non?" Mita menawarkan Nona untuk bergabung.


"Tidak, aku dirumah saja. Minta antar Pak Atang saja, Pa." kata Nona pada Papa Baron.


"Papa setir sendiri saja." Baron menolak tawaran Nona.


"Ajak saja Atang, bisa bantu Papa bawakan belanjaan nanti. Papa tinggal gandeng Tante Mita biar tambah sweet." kata Nona menggoda Papa. Mita langsung saja senyum-senyum mendengarnya.


Sore hari Nanta datang bersama Vicky, dua orang yang sedari tadi ditunggu Mita, bahkan membuatnya sibuk didapur agar Vicky dan Nanta dapat menikmati Soto Ayam bening kesukaan Nanta dan Vicky ditambah lagi sate ayam yang sudah jelas kesukaan Nanta, ternyata juga disukai Vicky. Mita menyambut kehadiran Vicky dengan wajah sumringah, bagaimana tidak, sudah setahun lebih tidak bertemu putra semata wayangnya.


"Apa kabar sayang?" Mita memeluk Vicky begitu erat seakan enggan melepaskannya.


"Ih Mama, malu." Vicky berusaha melepaskan pelukan Mama karena disaksikan oleh Nona dan Baron. Kalau hanya Nanta ia tak akan keberatan.


"Sama Mama sendiri kok malu." Mita melepaskan pelukannya dan menepuk bahu Vicky.


"Apa kabar Om?" sapanya pada Baron sambil menyalaminya.


"Alhamdulillah, ini Nona anak Om." kata Baron mengenalkan Vicky pada Nona.


"Istri Papaku." sahut Nanta ikut mengenalkan Nona.


"Oalah, gitu toh?"


"Iya, keren kan." Nanta terkekeh, Nona jadi menepuk bahu Nanta.


"Jadi bagaimana panggilnya? Tante Nona kah? Kak Nona?" Vicky jadi bingung sendiri.


"Panggil Mamon saja, nanti adik bayi panggil Mamon. Kita ikuti adik bayi." kata Nanta lagi-lagi membuat semuanya tertawa.


"Salaam kenal, Mamon." kata Vicky mengangguk sopan pada Nona.


"Salaam Kenal Vicky, senang bisa bertemu kamu disini. Kamu menginap kan? nanti tidur sama Nanta saja." kata Nona ramah, senang sekali bisa bertemu Vicky.


"Iya. Om Kenan belum pulang kah?" tanya Vicky mencari Kenan.


"Belum, kalian makan dulu yah, tadi Mamamu masak Soto dan sate ayam. Aku baru tahu Nanta suka Soto Ayam juga." Nona menggiring Vicky ke meja makan, Nanta dan yang lain mengikuti dari belakang.


"Suka sekali Soto Ayam buatan Bude, kalau beli rasanya beda." kata Nanta tersenyum lebar, terlihat jelas Nanta bahagia saat ini, bertemu Vicky sama seperti Nanta bertemu Raymond.


"Tenang, tadi aku sudah dapat resepnya, nanti kalau Bude Mita pulang, kamu tetap bisa makan soto ayam khas Bude Mita." Nona menarik bangku untuk Vicky, kemudian membiarkan Nanta duduk disebelah Vicky.


"Mamon tidak makan?" tanya Nanta ketika Nona hanya berdiri disebelahnya, ikut makan bersama mereka, sementara Baron dan Mita duduk di sofa sambil menonton TV.


"Dari tadi makan terus. Nanti tunggu Papamu saja baru makan." jawab Nona tersenyum.


"Kalian makan ya, Siapkan tempat dilambungmu untuk makan malam bersama. Aku kekamar dulu rebahan." kata Nona meninggalkan Vicky dan Nanta dimeja makan.


"Kemana Non?" tanya Baron pada Nona.


"Rebahan dulu ya, Pa. Dari tadi duduk terus." kata Nona memegang punggungnya yang terasa pegal.


"Iya lah, kamu malah ikut sibuk di dapur juga tadi, berdiri terlalu lama." kata Mita sedikit khawatir.


"Mau digosokkan punggungnya?" tanya Mita lagi.


"Tidak usah, biar nanti Mas Kenan saja." jawab Nona berjalan menuju kamarnya.


"Sudah begitu masih minta hamil lagi." Baron terkekeh menggoda Nona.


"Ih Papa, itu sih beda lagi."


"Enak betul hamil ya? Apa buatnya yang enak?" tanya Baron lagi sedikit vulgar menggoda Nona.


"Apa sih Papa, itu ada anak dibawah umur." kata Nona menunjuk Nanta dan Vicky yang sedang makan sambil ngobrol, sementara Mita menepuk bahu Baron karena perkataan ya.


"Jadi yang mana yang enak?" Baron mengecilkan volume suaranya. Mita kembali menepuk bahu Baron, protes.


"Dua-duanya." jawab Nona terbahak sambil berjalan meninggalkan Baron dan Mita yang ikut terbahak mendengar ucapan Nona.


"Anak sama Bapak sama saja." kata Mita menggelengkan kepalanya.