
Acara makan malam berlangsung sebagaimana mestinya. Yang pasti kenyang dan makan enak, walau agak berubah harapan, inginnya makan masakan Bunda ternyata pesan dari catering. Tapi tidak mengurangi kebahagiaan semua yang hadir terutama Nanta dan Dania. Ini hanya makan malam keluarga bukan acara pesta pelepasan atau farawel party, karena Nanta hanya pergi selama satu setengah bulan.
"Ayo Nanta pesan kesannya apa?" tanya Ayah pada kesayangannya, Nanta yang selalu dipepet oleh Balen jadi tertawa malu.
"Waduh aku cuma pergi satu setengah bulan loh." katanya menolak, seakan mau pergi bertahun-tahun saja.
"Ayolah kita mau dengar." Ray ikut-ikutan.
"Duh apa ya?" Nanta tampak berpikir.
"Hmmm... titip Dania." katanya membuat semua tertawa.
"Enak saja titip." celutuk Nona membuat orang-orang tambah tertawa saja.
"Sama aku mau minta maaf terutama pada keluargaku, karena aku pergi meninggalkan banyak PR yang harus diselesaikan. Semoga begitu aku pulang PR nya sudah selesai dan semua bisa tidur nyenyak tanpa beban pikiran." kata Nanta panjang lebar.
"Begitu?" goda Roma pada Iparnya.
"Hahaha iya begitulah Kak Roma."
"Memang seminggu jadi Anggota keluarga Suryadi kamu tidak bisa tidur, Boy?" tanya Micko terbahak.
"Hahaha malah seminggu jadi bagian keluarga Suryadi aku jadi naik helikopter." jawab Nanta kembali semua terbahak.
"Aku juga." Raymond tidak mau kalah.
"Aku dong juga." sahut Ando tambah-tambah.
"Adalagi yang mau ditambahkan?" tanya Micko pada menantunya.
"Terima kasih sudah menjadikan aku menantu Micko Suryadi." lagi-lagi semua tertawa mendengarnya, apa saja yang Nanta ucapkan menurut mereka lucu.
"Nah Papanya dong kasih pesan kesan untuk anaknya." kata Opa Dwi heboh.
"Hmm... Papa cuma mau bilang terima kasih sudah menjadi anak Kenan Suryaputra." Nanta langsung menghampiri Kenan dan memeluk Papanya.
"Terima kasih Papa." katanya tersenyum, Kenan menepuk-nepuk bahu putranya itu.
"Duh gw jadi meleleh." Nona tertawa sambil menghapus air matanya.
"Ih pada lebay deh, kenapa jadi pada nangis sih, itu bukan pertama kali Nanta masuk asrama loh." Roma mengingatkan.
"Maklum ya udah pada tua, jadi cepat sekali keluarkan air mata." jawab Kiki terkekeh.
"Balen pesan apa nih sama Abang?" tanya Nona menggoda Balen.
"Aban..." teriak Balen memanggil Nanta.
"Janan upa." kata Balen lagi.
"Bitin Adek you." seperti koor Raymond, Roma, Ando dan Wilma berkata bersamaan.
"Rese." Nanta terkikik geli semua kembali tertawa.
"Butan..." Balen membenarkan, dasar saja yang besar pikirannya kesana terus.
"Apa sayang?" tanya Nanta menghampiri Balen.
"Tepon Baen ya, beiin boneta titing di Amika."
"Hahaha iya mau berapa bonekanya?"
"Satu aja, janan yan bonde." pesan yang tidak penting dari Balen tapi wajib Nanta catat.
Setelah menghabiskan malam di rumah Ayah dan Bunda menjelang pukul sebelas semua pun pamit pulang.
"Siapa yang antar Nanta besok?" tanya Reza pada Kenan, tidak mungkin semua ikut mengantar Nanta, seperti mengantar orang mau naik haji saja bisa bermobil-mobil.
"Aku Ayah." jawab Dania tersenyum.
"Kamu sama siapa, Dan?" tanya Reza lagi.
"Sama gue, sekalian gue jemput Dania pulang." jawab Micko, Kenan menggelengkan kepalanya.
"Cepat tanggap kali mertua Nanta nih." katanya terbahak.
"Iya mau tahu Peter reaksi apa lihat gue bersama Dania." Micko terkekeh.
"Ih jangan memancing penjahat keluar lah." Kenan bergidik ngeri.
"Urusan dikantor Atan bagaimana Om?'
"Om gantung dua minggu kan, belum ada satu minggu." jawab Micko menaikkan alisnya.
"Om, kuliah Dania bagaimana? takut diganggu saat Dania dikampus." tanya Nanta resah.
"Tenang, Dania diantar jemput supir handal." Micko menepuk bahu Nanta, padahal mereka sudah diluar rumah masih ada saja yang dibahas.
"Ganteng?" tanya Nanta pada mertuanya
"Lebih ganteng menantu Om, dong." kata Micko tertawa senang.
"Kasih Tau Om, pakai bajunya yang benar." adu Nanta pada mertuanya.
"Sudah tadi waktu Dania mengadu, tanya saja Dania." Nanta mendelikkan matanya, ternyata Dania sudah mengadu pada Papanya, Dania cengengesan saja jadinya.
Akhirnya semua benar-benar pulang, karena Opa sudah mengeluarkan kata ajaib.
"Ayo pulang sudah malam." walaupun sudah pada tua tetap saja tidak berani melawan Opa. Akhirnya semua berpamitan dan bersalaman.
"Nanta besok jam berapa?" tanya Micko
"Jam Lima sore di GBK." jawab Nanta.
"Ok jam tiga Om jemput kalian." kata Micko, Nanta menganggukkan kepalanya.
"Abang besok sama siapa saja?" tanya Kenan.
"Aku saja sama supir." jawab Micko.
"Ya sudah ketemu di GBK saja, Nanta aku antar." kata Kenan pada besannya.
"Ish ini berdua terus saja rebutan Nanta " Oma Misha menggelengkan kepalanya.
"Hahaha bukan begitu, aku hanya ingin menjemput Dania." kata Micko.
"Jemput saja malam, atau jemput di GBK." Kenan menggoda Micko.
"Rese, besok kita sama-sama Dari rumah lu, Ken." akhirnya Micko memutuskan, semua tertawa jadinya.
"Raymond dan Roma masih menginap dirumah Ayah?" tanya Kenan pada Raymond yang tidak bergerak.
"Yah, Baen juda." teriak Balen dari balik punggung Raymond, takut diajak Papon pulang rupanya.
"Ya ampun anak gue, baru sadar dia tidak mau pulang." Kenan menepuk dahinya.
"Terlalu fokus sama Nanta sih kita." kata Nona terbahak.
"Balen jangan nakal ya Nak." pesan Nona sebelum naik mobil.
"Yah." jawab Balen melambaikan tangan Dan langsung masuk kedalam rumah, Oma dan Opa juga menginap dirumah Ayah, hanya Nanta, Dania, Nona dan Kenan saja ternyata yang pulang kerumah.
Setibanya dirumah, karena sudah Malam semua langsung masuk ke kamar masing-masing.
"Besok habis subuh aku kerumah Nek Pur ya Pa, ambil baju Dania." kata Nanta pada Papanya sebelum masuk ke kamar, Nona sudah lebih dulu ijin karena mau ke toilet.
"Tidak suruh Pak Atang saja yang ambil, kalian istirahat saja dirumah." Kenan memberi saran.
"Bagaimana?" tanya Nanta pada Dania.
"Kasihan Nek Pur harus bereskan pakaianku, Pa." Dania tidak enak hati.
"Kalau boleh masuk ke kamar kamu disana, biar Pak Atang ajak anak istrinya bantu." Kenan tersenyum saja, setengah memaksa sebenarnya. Ia mau Nanta dirumah saja tidak usah keluar rumah lagi sebelum masuk ke Asrama.
"Ya sudah nanti aku hubungi Nek Pur supaya ijinkan Pak Atang dan istrinya untuk bereskan lemariku. Tidak banyak sih Pa, hanya satu koper saja." Dania tersenyum menuruti keinginan mertuanya, nanti kalau ada yang kurang biar Dania saja yang kerumah Nek Pur bersama supir sepulang kuliah.
"Oke selamat istirahat." kata Kenan sebelum meninggalkan Nanta dan Dania masuk kekamarnya.
"Selamat istirahat Papa," jawab keduanya.
selamat istirahat Mamon sayang." teriak Nanta begitu melihat Nona mengintip dari pintu kamar menunggu suaminya masuk.
"Hahaha Aban, merasa aku abaikan dia Mas." Nona mengadu pada Kenan.
"Sensitive kamu, ketularan Dania." goda Kenan pada Nanta sambil terkekeh menatap Dania.
"Papa..." Dania langsung saja malu karena ulahnya sore tadi ketahuan Papa Mertua.