I Love You Too

I Love You Too
Sabuk Pengaman



"Kondisi bayi bagus kok Nanta." kata dokter Yasmin saat memeriksa kandungan Dania, tadi Nanta sudah menceritakan apa yang mereka alami kemarin saat dipesawat.


"Alhamdulillah..." jawab Nanta menarik nafas lega.


"Aku sudah bilang tidak apa dari kemarin Tante, Mas Nanta tidak percaya." kata Dania pada dokter Yasmin.


"Kan khawatir, namanya saja kena goncangan." kata Nanta pada istrinya.


"Yang penting kan selalu pakai sabuk pengaman saat dalam pesawat, Ibu hamil kalau dipesawat wajib pakai sabuk pengaman loh, khawatir seperti yang kalian alami kemarin, tiba-tiba turbelensi." Dokter Yasmin menjelaskan dengan serius.


"Aman kalau pakai sabuk pengaman ya Tante?" tanya Nanta.


"Tuh berarti aku boleh naik pesawat kan." kata Dania senang.


"Iya." jawab Nanta tersenyum.


"Kalau Ibu hamil tidak pakai sabuk pengaman, tiba-tiba terjadi turbelensi akan muncul resiko trauma benturan fisik." dokter Yasmin menjelaskan.


"Hal itu bisa menyenangkan pendarahan, cedera pada placenta, pecah ketuban bahkan bisa kelahiran premature." kembali dokter Yasmin menjelaskan.


"Itu kemarin yang aku khawatirkan." kata Nanta pada dokter Yasmin.


"Tapi kan aku pakai sabuk pengaman." Dania tersenyum senang, kandungannya baik-baik saja.


"Tante, bagaimana perut sebesar itu pakai sabuk pengaman." Nanta sedikit berpikir.


"Pakai saja dibawah tulang panggul, antara perut yang membesar dan panggul." Nanta menganggukkan kepalanya, ilmu yang dokter Yasmin berikan sangat bermanfaat untuk Nanta dan istrinya.


"Kalau begitu kami pamit ya Tante." kata Nanta pada dokter Yasmin.


"Dania kamu ada keluhan yang lain?" tanya dokter Yasmin pada Dania.


"Tidak ada Tante." jawab Dania tersenyum, memang ia tidak ada keluhan selama hamil.


"Enak sekali ya hamil tanpa keluhan, bisa jalan-jalan temani suami." dokter Yasmin tersenyum pada pasangan muda dihadapannya.


"Alhamdulillah." jawab Nanta menggenggam tangan istrinya sambil tersenyum, bersyukur kondisi hamil istrinya tidak rewel dan tidak merepotkan. Seperti tidak sedang hamil saja.


"Setelah ini mau kemana lagi?" tanya dokter Yasmin.


"Seminggu dua kali kan ke Malang Tante." kata Nanta pada dokter Yasmin.


"Mesti ya seminggu dua kali, nanti istrimu kecapekan loh." kata dokter Yasmin terkekeh.


"Kalau Dania capek tidak berangkat Tante, pokoknya tergantung Dania dan jadwal Basketku." jawab Nanta.


"Tuh Dan, kamu mesti jujur kondisi kamu ya, kalau memang badanmu tidak enak, jangan memaksakan diri." dokter Yasmin mengingatkan Dania.


"Iya Tante." jawab Dania tersenyum, kebiasaan memanggil dokter Yanuar dengan sebutan Om, mereka pun jadi memanggil dokter Yasmin dengan sebutan Tante.


Nanta bahagia sekali dan bisa menarik nafas lega, kekhawatirannya tidak terjadi, malah ia dan istrinya mendapat tips saat berada di pesawat. Selain berdoa pakai sabuk pengaman dalam kondisi apapun karena turbelensi tidak bisa ditebak dan tidak bisa dihindari juga. Berdoa semoga tidak lagi mengalami hal itu, cukup satu kali saja.


"Mau kemana kita?" tanya Nanta saat mereka sudah didalam Mobil, siapa tahu istrinya ingin jalan kemana sebelum mereka pulang kerumah setelah dari kampus tadi.


"Kerumah Wilma yuk." aja Dania pada suaminya.


"Dia sedang sibuk urus persiapan pernikahan." jawab Nanta, begitu yang ia dengar dari Ando tadi.


"Oh iya, bulan depan ya?"


"Satu setengah bulan lagi." jawab Nanta tersenyum.


"Ke rumah Ayah saja kalau begitu, makan masakan Bunda." kata Dania terkekeh, makan saja pikirannya. Nanta langsung nyengir lebar dan melajukan kendaraannya ke rumah Ayah Eja.


"Coba hubungi Bunda dulu ada dirumah apa tidak." kata Nanta pada istrinya, khawatir Bunda sedang kesana kemari bersama sahabatnya. Geng Bunda banyak acara walaupun hanya melipir dari satu rumah ke rumah yang lain.


"Iya sayang..." jawab Bunda Kiki dengan suara khasnya.


"Bunda lagi dirumah apa sedang pergi?" tanya Dania pada Bunda Kiki.


"Iya mau, Bunda mau dibawakan apa mumpung kami masih dijalan." tanya Dania pada Bunda Kiki.


"Tidak usah, Bunda banyak masakan." jawab Kiki apa adanya.


"Oke Bunda, Lima menit lagi kami sampai." jawab Dania. Nanta tersenyum, ide istrinya boleh juga, ajak Nanta main ke rumah Bunda dengan begitu Dania membantu suaminya dari komplenan banyak pihak yang bilang Nanta sombong, tidak perhatian, tidak ada kabar dan lain sebagainya.


"Ini nih gunanya istri." komentar Nanta membuat Dania terkekeh.


"Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, cocok kan?" Dania mengangkat alisnya sambil senyum lebar.


"Silahturahmi sambil numpang makan, maksud kamu begitu kan?" Nanta terbahak, kembali Dania mencubit perut suaminya, bicara selalu saja apa adanya tanpa disaring lagi.


"Nanti dirumah Bunda jangan lama-lama ya." kata Nanta pada istrinya.


"Kenapa?" tanya Dania heran.


"Mau makan malam sama Papa dirumah." jawab Nanta tidak mau kehilangan moment kebersamaan bersama Papanya.


"Kamu telepon Papa dong bilang kita dirumah Bunda." pinta Dania pada suaminya.


"Nanti saja kalau sudah dirumah Bunda kita lapor di group keluarga." jawab Nanta tersenyum kemudian memarkirkan kendaraannya didepan rumah Ayah Eja.


"Nan..." panggil Popo Erwin yang sedang berdiri di teras rumah.


"Popi dirumah, tidak kekantor?" tanya Nanta pada Erwin.


"Sudah pulang, Ayah kamu tuh masih di Warung. Kapan kamu bergabung? kasihan Ayah tuh sibuk tidak ada yang bantu." kata Erwin pada Nanta.


"Bulan depan kan Popo." kata Nanta pada Erwin.


"Memangnya masih sibuk? sudah tidak kan. Cepat saja jangan tunggu bulan depan." desak Erwin pada Nanta.


"Nanti aku bahas sama Ayah dan Papa." kata Nanta pada Erwin.


"Popo akan bahas juga sama Ayah dan yang lainnya." Popo langsung saja begitu, memang rombongan Ayah Eja selalu saja gerak cepat, menurun sampai ke anak-anak mereka.


"Minggu depan kamu mulai aktif ya, kita sudah sepakat nih." kata Popo menunjukkan chat group mereka berempat.


"Aku atur kuliah dan Basketku dulu." jawab Nanta hati-hati.


"Kuliah dan Basket tetap jalan, Oke. Ditunggu minggu depan." Popo menepuk bahu Nanta dan tersenyum pada Dania.


"Sehat Dan." sapanya.


"Sehat Popo." jawab Dania ikut tersenyum.


"Ya sudah sana masuk, Ayah sebentar lagi juga sampai. Popo bilang kamu disini dia langsung pulang." kata Erwin terkekeh.


"Iya Popo." Nanta ikut terkekeh kemudian masuk kedalam rumah dimana Bunda sudah menunggu dengan meja makan sudah penuh dengan menu masakan Bunda.


"Ayo langsung makan." kata Bunda membuat Nanta mendelik.


"Langsung makan saja." Nanta terkekeh.


"Mau apa lagi memangnya kalau bukan makan masakan Bunda." hahaha Bunda sudah bisa menebak tujuan keduanya.


"Ah Bunda Dania jadi malu." Dania menutup wajahnya.


"Jangan malu-malu nanti rugi sendiri." Kiki merangkul Dania dan menggiring ya kemeja makan.


"Jadi minggu depan sudah mulai berkantor bantu Ayah ya." Kiki tersenyum, cepat sekali sampai beritanya sama Bunda.


"Perasaan Popo baru bahas saat kami turun mobil tadi." kata Nanta pada Bunda.


"Sebenarnya mereka sudah membahas sebelum kamu ke Amerika. Begitu kamu selesai bertanding langsung ditarik." kata Bunda membocorkan rencana Ayah Eja dan teman-temannya.