
Diruangan Alex, tampak Seno sedang duduk di kursi tamu tepat dihadapan Alex, terlihat ia menyesap teh camomile kesukaannya. Tak lama Anto dan Chandra ikut bergabung.
"Gue ga dikasih minum sama si Anto, Lu udah minum aja Sen."
"Ck.. bagusnya dikasih racun lu Chan." Jawab Seno yang masih kesal dengan ulah Chandra.
"Sorry ya Sen, gue bikin lu bermasalah waktu itu, tapi maksud gue sebenarnya ga begitu. Ga ada obat perangsang Sen, cuma alkohol, kalau Mocca hamil ya itu sih lu nya aja yang ga bisa nahan diri." Chandra meminta maaf walaupun akhirnya malah menyalahkan Seno. Memang niat Chandra hanya ingin membuat Mocca mabok, dan ia yang akan mengantar Mocca pulang. Tapi Seno bersikeras tak mau melepas Mocca pada Chandra saat itu. Padahal Chandra sudah menawarkan diri. Seno tak menjawab hanya memutar bola matanya malas.
"Dia sekretaris gue waktu itu, gue yang ajak dia mampir ke club. Lihat dia mabok gue harus tanggung jawab antar dia pulang, karena gue yang bawa dia kesitu."
"Lu antar kemana sampai hamil gitu?" tanya Chandra memojokkan Seno.
"Gue juga mabok, Alkohol apa yang lu kasih waktu itu. Pas lagi nyetir tiba-tiba kepala gue pusing banget, kalau gue terusin takut kecelakaan, jadi gue putuskan untuk menginap dihotel terdekat. Cuma ada satu kamar yang available, itupun double bed. Kamarnya kecil ga ada sofa. Mau ga mau kita menginap disana. Ga tau siapa yang mulai, tau-tau pas pagi bangun you know lah ga perlu gue jabarkan." Seno menceritakan kejadian dimasa lalu. Yang akhirnya membuatnya dilema diantara cinta dan tanggung jawab. Mempertahankan cintanya pada Ranti atau betanggung jawab atas perbuatannya pada Mocca. Sudah jalan Tuhan, Seno memergoki Ranti sedang bermesraan dengan Chandra, sehingga dengan hati terluka, Seno memutuskan Ranti dan fokus membujuk Mocca untuk menikah dengannya.
"Gue ga tau alkohol apa, gue juga dikasih Ranti. Kan dia yang suruh." Seno membelalak mata tak percaya, ia baru tau kalau itu ulah Ranti.
"Lu ga tau kan kelakuan Ranti selama pacaran sama lu Sen. Bispak cewek lu ternyata. Bukan sama gue aja, kalau lu mau gue kenal siapa aja yang pernah pakai dia."
"Sekarang lu ikut gue, kita temui dia. Biar clear dan ga ganggu kita lagi dia. Gue juga udah ga perlu tanggung jawab dan merasa bersalah sama Ranti." Seno beranjak dari ruangan Alex, mereka berempat melangkah keluar kantor mendatangi tempat tinggal Ranti. Habis lah Ranti dengan bukti yang ada, tak berkutik dan tak akan berani macam-macam lagi, karena Video mesumnya ada ditangan Seno, dengan ancaman akan disebar membuat Ranti bertekuk lutut. Seno juga memperingati Ranti agar tak lagi mengganggu Reza dan Kiki. Ranti menyetujui asalkan aibnya tak diketahui oleh keluarganya.
POV OFF
"Apa ga tambah depresi dia diancam begitu mas?" tanya Reza sedikit kasihan.
"Ternyata dari kecil dia memang sudah begitu. Bukan hal yang baru untuk keluarganya melihat Ranti bertingkah aneh saat ada masalah. Mereka dulu menyalahkan Seno untuk mengambil keuntungan. Tapi Seno baik sih, dia tetap menanggung biaya perawatan Ranti sekarang sampai nanti Ranti dinyatakan sembuh. Bagaimanapun Seno pernah mencintai Ranti. Walaupun sekarang rasa cinta itu sudah berubah menjadi rasa kasihan." jawab Alex.
Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang, Mario dan Regina datang dengan wajah sumringah.
"Maaf ya om, tante, kita kesiangan, terus tol macet banget om, ada truk mogok." Mario menjelaskan, tak enak hati dengan Dwi dan Nina karena sangat-sangat terlambat.
"Kita maklumlah pengantin baru." jawab Dwi santai, Nina senyam-senyum saja.
"Tapi aku sudah booking tempat untuk kita makan. Enak deh suasananya viewnya danau gitu. Di S'pore kan ga ada." Mario terkekeh mengusap lembut punggung istrinya.
"Mau jalan sekarang atau mau ngobrol dulu?" tanya Dwi pada Alex dan yang lainnya.
"Makaaaannnnn." jawab Intan, Monik dan Kiki kompak.
Mereka berjalan menuju parkiran, masing-masing mulai melajukan kendaraan menuju tempat yang dimaksud oleh Mario. Regina terlihat senang sekali dengan pergaulannya saat ini, terasa sangat akrab dan kekeluargaan. Walaupun ia tau para suami orang yang sangat sibuk tapi mereka menyempatkan diri menyenangkan istri dan orang tuanya. Ia sangat bersyukur bersuamikan Mario.
setibanya di Restauran yang dimaksud Mario langsung menyebutkan namanya, mereka langsung diantar ke saung yang sudah dipesan, tampak pelayan sedang menata makanan yang sudah diorder sebelumnya.
"Minumnya gue belum pesan ya, baru teh hangat aja, kalau ada tambahan pesan lagi aja." kata Mario sambil meletakkan bokongnya di bantal yang sudah disediakan sebagai pengganti kursi.
"Gimana Andi sudah ada kabar friend?" tanya Mario pada Reza, sekalian memancing Dwi siapa tau juga sudah mendapat kabar dari Andi.
"Sudah diantar Cindy ke bandara sih tadi pagi." jawab Kiki yang sudah mendengarkan curhatan sahabatnya.
"Gimana dek, happy ga kedengarannya?" tanya Reza kepo.
"Standard lah, nothing special kalau dia pagi sudah balik Jakarta, padahal hari ini masih libur. Kalau aku sih pasti pilih pesawat malam" jawab Kiki dengan muka datar. Dwi tersenyum penuh arti mendengar jawaban Kiki.
"Apakah Andi akan bernasib sama dengan anda?" Reza bergaya ala pembaca acara infotainment menunjuk Mario sambil tertawa.
"Suwe bawa-bawa gue lagi." Mario tertawa mengepalkan tangannya seakan ingin menonjok Reza.
"Gimana Ranti mas?" tanya Mario pada Alex.
"Telat sih lu, tadi Reza sudah didongengi Alex, masa mesti dengar ulang lagi sih bosan gue." jawab Anto yang mulai menyendok nasi kepiringnya padahal lauk pauk belum komplit. "Makan yuk om, tante." katanya pada Dwi dan Nina, mulai ikutan Mario memanggil om dan tante. Nina dan Dwi mempersilahkan dengan memberi kode pada tangannya.
"Laper kamu yang, kurang tadi makanan yang kamu bawa ya?" Intan menggoda suaminya.
"Tadi cuma cemal-cemil ga nendang sayang. Ayolah pada makan, jangan gue aja?" katanya mengajak yang lain turut aktif.
"Gue mau dengar mas Alex mendongeng, lu makan aja." jawab Mario masih membujuk Alex untuk bercerita. Alex pun dengan sabar menceritakan ulang kejadian hari Jumat lalu.
"Jadi perusahaan kontraktor tempat dia kerja punya siapa mas? mereka minta jangan diputus kerja samanya, Mereka akan ganti proyek manajernya."
"Punya abangnya." jawab Alex
"Jadi gimana Ja, lu tetap mau ganti kontraktor? tanggung sih kalau gue bilang." Mario minta persetujuan Reza.
"Senin lah kita bahas ya, Males gue sebenarnya. Image perusahaannya sudah ga bagus dimata gue." jawab Reza yang sudah kebiru ilfill. Mereka mulai menikmati makanan yang disajikan denga pemandangan menyejukan mata. Sesekali tampak Mario menyuapi Regina, mencoba menu yang belum pernah Regina makan sebelumnya. Nina lagi-lagi merekam kemesraan yang ada dengan cameranya lalu mengirimkan pada Mami Mario. Hmm bu ibu mata-mata😂