
Perjalanan menuju ke rumah orang tua Maya hanya mereka tempuh sekitar empat puluh menit, sesampainya disana rupanya kehadiran Nanta sudah ditunggu-tunggu. Kakek dan Nenek sudah siap dengan barang bawaannya untuk mengungsi, kasihan sekali sudah tua harus mengalami hal seperti ini.
Mereka tidak bicara banyak, begitu sampai Nanta hanya menghubungi Maya yang tengah malam waktu London standby membimbing Nanta menuju lokasi, begitu sampai Nanta hanya memperkenalkan diri secara singkat lalu memberikan handphonenya pada Kakek agar bicara langsung dengan Maya, sehingga mereka percaya memang Nanta yang diminta Maya untuk melindungi mereka.
"Maaf Kakek dan Nenek untuk mempersingkat waktu, kita terpaksa naik helicopter ya." Nanta memberitahukan Kakek dan Nenek saat mereka dalam perjalanan menuju ke landasan helicopter. Kakek hanya menganggukkan kepalanya, sepertinya banyak pertanyaan dibenaknya tapi belum ia sampaikan. Sementara Nenek pun terdiam sesekali menghela nafas.
"Kita tidak ke Inggris kan?" tanya Nenek pada Nanta.
"Tidak, kita di Jakarta saja, Nek." Nanta terkekeh.
"Nenek mau ke Inggris?" tanya Raymond tersenyum. Nenek menggelengkan kepalanya.
"Takut mabok dijalan." katanya mengundang tawa yang lain, hilang sudah ketegangan yang mereka rasakan.
"Maaf hubungan Nak Nanta dengan Maya anak saya itu apa?" tanya Kakek pada Nanta.
"Saya menantunya Tante Maya." jawab Nanta, Kakek mengerutkan keningnya seperti bingung, Nanta jadi ikut bingung, apa Tante Maya tidak pernah memberitahukan anaknya ada yang sudah gadis bernama Dania.
"Nanta suaminya Dania." Raymond menjelaskan.
"Dania?" Kakek berpikir.
"Mungkin anaknya Maya, Dania itu." kata Nenek pada Kakek, kok mungkin sih? memand tidak pernah tahu punya cucu bernama Dania? pikir Nanta, ia memandang Raymond sambil menaikkan alisnya, Raymond mengedikkan bahunya.
Tak terasa mereka sudah tiba ditempat heli menunggu, akhirnya Nanta dan Raymond merasakan juga naik heli seperti di film yang selama ini mereka tonton, dalam rangka menyelamatkan sedua orang.
"Cengar-cengir berasa jadi Tom Cruise kamu ya?" tanya Raymond tertawa geli.
"Untung tidak ada musuhnya, jadi kita tidak lari-larian menghindari peluru." Nanta tergelak menambah-nambah kehaluan yang mereka rasakan.
"Kata siapa tidak ada musuhnya, jangan sampai deh adu senjata." Raymond bergidik ngeri. Mereka sudah berada didalam helicopter yang sudah disewa Om Micko, terbang menuju Jakarta, langsung ke rumah Kenan.
"Seandainya dirumah Papa ada landasan bisa minta diturunkan disitu." Nanta mulai halu lagi, Raymond terbahak, tapi benar juga jadi tidak usah ke pancoran lagi.
Pukul sebelas siang Nanta dan Raymond sudah berhasil membawa Kakek dan Nenek ke rumah Kenan, sesuai arahan Micko dan Kenan tadi. Rumah tampak sepi karena Dania pergi terapi bersama Mamon, sedangkan Opa dan Oma mengajak Balen dan Roma ke Mal, nanti Mamon dan Dania akan menyusul kesana sesuai janji dengan Balen tadi.
Hanya ada Richi dan pengasuh, kasihan Richi jarang sekali diajak, karena masih terlalu kecil, lebih baik dirumah saja. Nona juga sebenarnya kurang suka jika Balen terlalu sering diajak ke Mal.
"Baban..." Richi berlari mengejar Nanta.
"Iya sayang, kamu tidak diajak ke Mal ya? kasihan deh." Nanta menggoda Richi, si unyil malah tertawa senang digoda Abangnya.
"Kakek dan Nenek bisa istirahat di kamar ini." tunjuk Raymond pada kamar kosong yang sudah dirapikan sebelumnya, karena tahu akan ada tamu.
"Oh iya nanti saja, sebenarnya Kakek sedikit bingung ini. Maya tidak pernah cerita detail, mungkin karena kami orang kampung dianggap tidak mengerti." Kakek menghela nafas.
"Kakek mau tanya apa?" tanya Raymond, sementara Nanta sibuk meladeni Richi.
"Dania, siapa itu Dania?" tanya Kakek.
"Setahu Kakek anak Maya masih kecil-kecil."
"Kakek, itu sih tahun berapa?" Nenek mengingatkan. Raymond dan Nanta tertawa jadinya.
"Kalau anak Tante Maya yang di London, Kakek dan Nenek tahu?" tanya Nanta.
"Tahu, ada tiga orang. Dua perempuan dan satu laki-laki." jawab Kakek bangga.
"Nah yang satu perempuan paling besar itu istri saya, namanya Dania." Nanta menjelaskan.
"Oh yang bapaknya orang Indonesia itu ya? seharusnya masih kuliah dia sekarang. Cepat sekali sudah menikah."Kakek membuat Nanta terkekeh, seperti sedang menggosipkan orang lain saja rasanya. Raymond jadi cengengesan juga dibuatnya.
"Iya, Kakek dan Nenek tidak pernah bertemu mereka? Bapak dan Anak orang Indonesia itu? Aku juga masih kuliah loh." Nanta menahan tawa.
"Belum, waktu Maya dan Micko suaminya itu menikah, acaranya tidak disukabumi jadi pakai Wali." jawab Kakek.
"Kenapa Kakek dan Nenek tidak ke Jakarta?"
"Ini saja kalau tidak ada masalah seperti ini kami pun enggan ke Jakarta, maunya di Sukabumi saja damai sejahtera, Nenek juga gampang mabok." jawab Kakek memandangi istrinya sambil tertawa, Nenek memukul bahu Kakek, so sweet juga mereka.
"Om Micko tidak pernah menemui Kakek dan Nenek dulu?" tanya Nanta. Kakek dan Nenek menggelengkan kepalanya.
"Wah mungkin ada alasannya." Raymond berusaha menetralkan suasana karena khawatir terprovokasi pertanyaan Nanta.
"Semua pasti ada alasannya, seperti saat mereka berdua bercerai, kemudian berapa tahun kemudian Maya menikah dengan pria asing." Kakek rupanya orang yang bijaksana, sementara Nenek cenderung kalem tidak banyak omong.
"Assalamualaikum..." tampak Kenan dan Micko muncul dari balik pintu, seperti Nanta dan Raymond tadi, Micko dan Kenan juga masuk dari pintu garasi, semua Mobil diarahkan ke basement jadi tidak terlihat dari luar saat mereka turun dari mobil, berjaga-jaga khawatir rumah Kenan di awasi juga, walaupun sepertinya tidak mungkin karena security perumahan sangat ketat berjada diluar.
"Waalaikumusalaam..." jawab Kakek langsung berdiri, Nenek mengikuti. Mau tidak mau Nanta dan Raymond juga ikut berdiri.
"Ini Papaku dan ini Papanya Dania." Nanta mengenalkan Papanya dan mertuanya pada Kakek dan Nenek. Mereka bersalaman dan Kakek memandangi Om Micko lama sekali kemudian menarik nafas panjang.
"Maafkan Maya." kata Kakek pada Om Micko ia menepuk bahu Om Micko.
"Saya yang minta maaf, gagal menjadi suami Maya, Minta maaf juga belum pernah menemui Bapak dan Ibu karena keburu pisah. Sebenarnya setelah pisah saya masih ada keinginan untuk menemui Bapak dan Ibu, tapi Maya tidak mengijinkan." Om Micko tersenyum miris, ingat masa lalu.
"Mana Dania? seperti mimpi ternyata kami sudah punya cucu menantu. Selama ini hanya hidup berdua, anak satu-satunya pergi jauh, cucu tidak pernah bertemu, jadi seperti tidak punya anak dan cucu saja." Kakek mencari keberadaan Dania.
"Dania sedang terapi, dia mengalami gangguan kecemasan." jawab Micko tersenyum.
"Mulai sekarang Bapak bisa merasakan punya cucu dan cucu menantu. Tapi Nanta sebentar lagi harus masuk asrama, selama satu setengah bulan. Cucu menantu Bapak ini atlet nasional loh." Micko membanggakan menantunya, Kenan dan Raymond tersenyum saling berpandangan.
"Oh hebat kamu cu, pantas saja sigap ya, langsung bergerak begitu Maya menghubungi." Kakek mengacungkan jempolnya.
"Ini karena bantuan banyak pihak Kakek. Semua bekerja saling bantu, Bang Ray, Papa dan juga Om Micko. Bahkan Opa dan Omaku. Yang menyarankan naik heli juga Om Micko, khawatir kalah cepat dengan Om Peter." seperti biasa Nanta tidak pernah merasa hebat, ia menceritakan apa adanya.