I Love You Too

I Love You Too
Minggu terakhir



Bagaimana nasib percintaan Larry? ternyata tidak seburuk yang Larry kira, setelah beberapa hari merajuk akhirnya cewek gebetan Larry mau mendengarkan penjelasannya. itu pun disertai dengan bukti bahwa Balen betul-betul adik dari temannya. Larry melampirkan bukti foto Nanta yang viral sedang menggendong Balen beberapa waktu lalu.


"Capek betul, belum jadi istri sudah begitu." Mike langsung saja sinis.


"Memang harus dibegitukan cowok seperti Larry." Doni terkekeh.


"Nanti juga Larry capek sendiri. Menghadapi cewek yang suka merajuk sampai segitu lama." Mike mencebik, Larry yang lagi jatuh cinta hanya cengengesan saja. Tidak peduli orang berkata apa.


Minggu terakhir mereka di Amerika, semakin akrab saja mereka. Kemana-mana selalu bersama, walaupun dengan yang lain juga akrab, tapi yang empat orang ini seperti tidak terpisahkan, selalu terlihat bersama-sama. Akibat Nanta satu kamar dengan Larry. Jadi Larry selalu diajak bergabung hingga mereka merasa cocok satu sama lain.


Seminggu menjelang kepulangan ke Jakarta, Nanta menyempatkan diri untuk berbelanja sedikit oleh-oleh, tidak boros mengikuti pesan Papa, tapi semua kebagian. Papa dan Mamon dibelikan sepatu couple. Nanta tidak membeli sepatu karena sepatunya sudah sangat banyak, ia membeli t-shirt couple dengan istrinya, lucu-lucuan dengan kalimat yang membuat sedikit senyum saat orang membacanya. Balen dan Ichi dibelikan peralatan berenang, karena tidak mau pusing, Ayah, Bunda, Oma, Opa, Kakek, Nenek, Bang Ray dan Kak Roma, Om Bagus juga Mama dibelikan t-shirt couple juga, seperti Nanta dan Dania. Lumayan untuk di pakai do rumah atau pun ke supermarket. Kalau Tante Maya dibelikan Sepatu Torry Burch, langsung Nanta paketkan ke London supaya bisa langsung digunakan, adik-adik Dania dan Jack Nanta belikan T-shirt, Wulan dibelikan peralatan melukis sesuai hobbynya.


Keluarga Papa Micko tidak mau oleh-oleh, mereka minta dibawakan coklat saja, Oma Misha dan Tante Lulu kosmetik yang biasa mereka pakai, yang sudah tutup counter di Indonesia. Semua sudah kebagian, sesuai orderan masing-masing. Sedikit repot sebenarnya, Papa bisa marah kalau tahu Nanta beli-beli begini, tapi Nanta tidak tega kalau tidak bawa apapun, lagipula uangnya ada, tidak mengganggu tabungan Nanta dan jatah Dania bulanan juga. Teman-teman Nanta juga begitu, mereka belanja untuk oleh-oleh, hanya Larry dan Mike yang tidak belanja apapun, menurut mereka membawa oleh-oleh itu sangat merepotkan, bikin penuh koper saja, belum lagi nanti mesti urusan dengan beacukai jika belanja lebih dari yang ditentukan.


Belanjaan Nanta untuknya tidak melebihi ketentuan, tidak ada yang mahal sih, sepatu lebih murah dari di Indonesia.Jadi aman saja, bagasi Nanta juga tidak berlebih, karena koper untuk beras dan lauk Paul Nanta sudah kosong dan digantikan oleh belanjaannya saat ini.


"Beres Nan? kalau berlebih masukkan ke koper gue saja." Larry menawarkan.


"Cukup kok, ini saja tidak ada tambahan lagi." kata Nanta tersenyum puas.


"Nan, Gue mau beli tas Tumi sih sebenarnya, disini murah. Besok yuk." ajak Larry, Nanta terkekeh.


"Katanya tidak mau belanja?"


"Ini baru ingat beli ransel disini saja, ransel gue sudah buluk." Larry menjelaskan.


"Pacar tidak dibelikan oleh-oleh?" tanya Nanta. Larry menggelengkan kepalanya.


"Dijakarta saja kalau mau, seperti tidak ada saja disana."


"Mumpung disini, belikan tas juga." Nanta menawarkan.


"Nanti keenakan." jawab Larry, pelit sekali. Nanta langsung saja terbahak.


"Belum tentu serius, masih gue amati." kata Larry lagi, Nanta menganggukkan kepalanya.


"Terserah Bang Larry saja." jawab Nanta akhirnya.


"Peralatan berenang Balen kemarin apa saja?" tanya Larry pada Nanta.


"Tas, Baju, kacamata." jawab Nanta.


"Belikan bikini dong lucu." kata Larry lagi sambil tertawa.


"Jangan ah, nanti kebiasaan sampai besar pakai bikini. Pakai singlet sama ****** ***** saja kalau begitu." Nanta mendengus.


"Aban pocecip." Larry mentertawakan Nanta.


"Harus dong, adik perempuan tanggung jawab Abang juga kan." Nanta mengangkat alisnya, Balen dan Wulan memang prioritas Nanta, Ichi juga, tapi Ichi laki-laki.


Mereka sudah siap untuk tidur malam ini, sementara di Jakarta orang-orang sedang beraktifitas. Dania lagi dikampus tadi sudah ijin Nanta saat akan berangkat. Dania juga sudah mengirim foto outfit of the day nya pada Nanta, setiap yang Dania pakai harus dikoreksi oleh suaminya, Dania yang lama di London suka lupa bahwa Jakarta tetaplah Indonesia, walaupun banyak juga yang berpakaian seksi, tapi Nanta tidak mau istri atau adiknya berpakaian seperti itu.


"Mestinya lu menikahi anak pesantren." omel Larry pada sahabatnya yang menurutnya sedikit kolot.


"Hahaha enak dong bisa ajari kita mengaji." Nanta terbahak.


"Pusing gue tiap sebentar tanya istri pakai baju apa, dikasih tahu sekali juga sudah mengerti lah, tidak usah ulang-alang juga, bawel." kata Larry lagi.


"Ih, kamu Kakaknya Dania ya." Nanta lagi-lagi terbahak.


Drrrtttt... drrrtttt... handphone Nanta berdering, Mama menghubunginya.


"Masanta..." rupanya Wulan, Larry terkekeh ada lagi stock bocah tiga tahun Nanta, yang ini bagaimana lagi modelnya.


"Wulan sayang, lagi apa?"


"Gambal." jawab Wulan tersenyum.


"Masanta udah mau pulan ya?" tanya Wulan lagi.


"Minggu depan Dek." jawab Nanta.


"Umah ulan, ndak?" tanya Wulan.


"Ke Jakarta dulu, nanti kalau sempat ke Malang. Karena Mas Nanta mau ke Abu Dhabi lagi." Nanta menjelaskan.


"Mama, kita ke Jakalta ya?" pinta Wulan pada Mamanya.


"Iya, mama ke Jakarta saja dong, jadi aku tidak pusing atur jadwal." kata Nanta pada Mamanya.


"Nanti saja dari Abu Dhabi kamu dan Dania ke Malang, Nanta. Mama banyak kerjaan."


"Mama kerja lagi?"


"Tidak, hanya ada beberapa pekerjaan Om Bagus yang Mama bantu dari rumah. Lumayan untuk isi waktu, walau dirumah tetap bisa kerja kantoran."


"Bagaimana disana, kamu betah?" tanya Tari pada Nanta.


"Dibetah-betahin, Ma. Tetap enak dekat keluarga lah." jawab Nanta.


"Dekat Dania kali." Mama menggodanya.


"Hahaha Mama nih." Nanta jadi terbahak.


"Ya sudah, Ulan masih mau bicara sama Mas Nanta, nak?" tanya Tari pada Wulan.


"Mas Nanta ndak bobo?" tanya Wulan.


"Nanti kalau sudah selesai ngobrol sama Wulan, Mas Nanta bobo." jawab Nanta meladeni adiknya.


"Ada Baen ndak? walau sudah bisa sebut hurul L, tetap panggil Balen, Baen.


"Balen di Jakarta kan."


"Oh iya, Ulan mau ke Jakalta Ma." pinta Wulan lagi.


"Mau apa ke Jakarta? Mas Nanta masih di Amerika, nanti saja kalau Mas Nanta sudah tidak sibuk." kata Nanta membujuk Wulan.


"Tapi ulan kanen Baen."


"Kita telepon ya? ngobrol bertiga?" Nanta menawarkan.


"Iya." Wulan menganggukkan kepalanya. Nanta menghubungi Balen, tapi rupanya Mamon sedang ke kantor Papa, sementara Balen tidak diajak. Hubungi pengasuh satupun tidak ada yang pegang handphone.


Memang aturan Dari Nona saat menjaga Balen dan Richi mereka tidak boleh pegang handphone. Jadikan Wulan kecewa karena tidak bisa bicara dengan Balen, bukan hanya Wulan yang kecewa, Larry pun kecewa. Ia ingin melihat interaksi Balen dengan teman seumurannya bagaimana, apakah selucu kalau berinteraksi dengan teman-teman Abangnya.