I Love You Too

I Love You Too
Wartawan



Kiki sudah berdandan cantik, tentu saja setelah beberapa kali mengganti warna lipstiknya sesuai warna yang diingini Reza.


"Ini terlalu pucat kak, kita kan acara formal." keluh Kiki, tapi Reza tetap pada pendiriannya.


"Mau dilihat siapa sih pakai warna mencolok, yang penting kalau aku sudah bilang cantik ya sudah cukup. Sekarang dimata aku, kamu cantik pakai banget." Reza mulai merayu istrinya supaya tak komplein lagi. Tapi memang benar Kiki terlihat selalu cantik dimata Reza.


Menjelang pukul tujuh malam, Kiki mengajak Reza untuk turun ke Ballroom, sebentar lagi acara segera dimulai, Kiki tak mau ketinggalan moment saat pengantin berjalan menuju panggung seperti biasanya. Reza pun menghubungi sahabatnya, hanya erwin dan Andi yang menjawab, Mario tak menjawab chat nya.


"Lagi sore pertama ya." ledek Reza mengirim pesan personal pada Mario. Tetap tak ada jawaban, Reza pun memutuskan untuk mengetuk kamar Mario.


Setelah menekan bel beberapa kali Mario pun membuka pintu kamarnya, terlihat berantakan masih mengenakan baju yang tadi, belum mandi rupanya.


"Katanya ga mau ngikutin gue, sore sore." ledek Reza


"Ketiduran gue, ngantuk banget." jawab Mario mengucek matanya.


"Ya udah buruan mandi, sudah mau mulai acaranya."


"Lu duluan deh, Regina masih mandi."


"Buset berapa ronde, baru mandi sekarang."


"Beneran pules kita, kalau lu ga ngetok bablas nih kayanya."


"Hmmmm...." Reza tersenyum aneh pada Mario.


"Sue ga percaya, ketemu dibawah ya." Mario menutup pintu kamarnya meninggalkan Reza yang masih cengar-cengir.


Reza lanjut mengetok kamar Andi dan Erwin, mereka sudah tampak rapi segera keluar kamar dan Erwin mengantongi Keycardnya.


"Mario baru mau mandi, Gue panggil Kiki dulu."


"kita nunggu di lift ya." kata Erwin bersemangat. Bagaimana tidak, ternyata Enji akan hadir menemani orang tuanya yang juga diundang Alex. Membuat Erwin ingin segera turun menyambut Enji dan calon mertuanya upss hehehe.


Tak menunggu lama tampak Reza dan Kiki menyusul kedua pemuda tampan didepan lift.


"Regina ga papa ya kita tinggal?" Kiki tampak tak enak hati karena tadi keluar kamar tanpa pamit pada Regina.


"Ga papa, ada suaminya." jawab Reza menyadarkan Kiki.


Pintu lift terbuka, mereka pun masuk kedalamnya, menekan tombol G dimana Ballroom berada. Handphone Reza berdering, tampak nama Ranti dilayar, Reza menarik nafas.


"Nih orang ganggu banget, nelpon udah kaya neror." gerutu Reza memperlihatkan layar handphone pada kedua sahabatnya. Andi tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Bikin gue ribut sama Kiki." lanjut Reza membuat Kiki memonyongkan bibirnya. Ga bisa rahasia apa ya Kak Eja sama temannya, semua diceritain, pikir Kiki kesal.


"Dia datang tuh, tadi telpon gue juga." kata Erwin


"Ya udah nanti lu handel deh ya."


"Ish Andi aja, gue kan ada Enji." jawab Erwin sombong.


"Sue, gue jadi tumbal." tolak Andi


Keluar dari lift menuju ballroom, mereka langsung diserbu wartawan.


"Loh bukannya tadi sudah Presscon?" tanya Andi pada rombongan wartawan.


"Mau nanya jingle iklan yang sedang mas Andi garap, apa benar mbak Kiki vocalistnya."


"Tau dari mana mas, kita yang garap?" Andi balik bertanya.


"Tadi mas Alex dan Monik yang bilang."


"O iya, ditunggu aja mas."


"Karena yang minta Kiki." jawab Andi tersenyum, mereka berempat tak bisa menghindar dari kerumunan wartawan yang menghadang langkah mereka.


"Ada hubungan apa mas Andi sama mbak Kiki?"


"Saya sama su..." Reza menepuk pundak Andi, tak mau namanya disebut, walaupun dari tadi tersorot Reza selalu merangkul Kiki.


"Kita sahabat." jawab Andi disambut anggukan kepala dari yang lain.


"Bener mas cuma sahabat, bukannya pertama kali yang mengupload video mbak Kiki, mas Andi ya. Apa sudah kenal lama mas?" tanya yang lain.


"Sekitar tahun lalu ya, Kiki junior kita dikampus. Sudah ya mas, acaranya sudah mau mulai."


"Mas katanya Warung Elite mau buka cabang kelima?"


"Masih proses doakan lancar." jawab Andi


"Ada rencana undang wartawan saat launching mas?"


"Wah ide bagus, nanti ya kami rembukan dulu. Makasih ya mas, mbak kami masuk dulu."


Andi dan rombongannya meninggalkan kerumunan wartawan masuk kedalam Ballroom. Bukan sekali dua kali Andi dan sahabatnya dikejar wartawan infotainment, biasanya Andi bisa menghindar, kali ini karena ada Kiki ternyata sulit untuk menghindar.


"Sayang, capek kan jadi artis, dikejar wartawan. Ga usah terima iklan lagi ya. Jadi nyonya Reza aja." pinta Reza pada Kiki, takut Kiki bertambah terkenal. Kiki tersenyum.


"Endors boleh?" tanya Kiki.


"Endors?" Reza tampak berfikir, belum menemukan jawabannya.


"Ga papa lah Ja, Endors aja sih." Erwin memprovokasi.


"Endorsnya ke luar kota friend, senin berangkat. Gue Mario ijin ya ga kewarung, sekalian honeymoon kita. Nanti gantian deh, kita jaga warung kalian yang honeymoon." bujuk Reza, Andi dan Erwin mengangguk setuju.


Tak lama tampak Mario dan Regina memasuki Ballroom. Andi melambaikan tangannya menunjukkan keberadaan mereka agak Mario melihat. Regina tampak menunjuk kearah Andi. Mario pun menggandeng Regina menuju sahabatnya.


"Untung lu ga turun bareng kita friend." sambut Erwin ketika Mario mendekat.


"Wartawan ya." Mario menebak sambil tergelak, tadi sempat melihat di televisi siaran langsung salah satu infotainment stasiun tv.


"Terkenal ya Monik." kata Regina pelan.


"Alex pengusaha besar cukup terkenal, Anto pembalap terkenal juga. Wajarlah dikejar wartawan." Jawab Mario menjelaskan.


"Warung elite cabang baru launching undang wartawan ga? tadi ada yang nanya tuh wartawan." tanya Andi pada Mario. Urusan publik sama Mario deh, karena hanya dia tahu mana yang aman untuk identitasnya.


"Nanti lah kita bahas." jawab mario


Suasana didalam ballroom tampak mulai ramai, tapi pasangan pengantin belum tampak. Mungkin masih bersiap atau masih berbaris didepan. Kiki mulai celingak celinguk mencari sahabatnya.


"Kenapa dek?" tanya Reza melihat kepala Kiki yang tak bisa diam menoleh kesana kemari


"Lama amat penganten sudah mau jam setengah delapan."


"Sabar sayang, kan banyak ritualnya." Reza mengacak anak rambut Kiki, kemudian menyisir dengan tangannya, agak rambut yang berantakan ketika diacak, agar tetap tampak rapi.


"Ranti Ja." Bisik Erwin melihat seorang gadia dengan gaun sexi dengan belahan tinggi berjalan kearah mereka.


"Itu Ranti sayang, peluk aku " Bisik Reza modus ingin dipeluk istrinya.


"Kak Eja aja yang peluk aku." jawab Kiki tak bereaksi. Padahal tadi dia marah saat melihat Ranti menelpon suaminya.


"Ish kamu ga takut?" tanya Reza bingung."


"Ga lah, yang murahan pasti berkumpulnya dengan yang murahan. Karena aku tahu kamu mahal, jadi aku ga takut." jawab Kiki reflek memeluk suaminya. Melupakan penolakannya tadi saat Reza memintanya memeluk Reza.