
"Mungkin Nanta akan ikut proses seleksi selama lima hari, kalau terpilih mewakili Malang dikirim ke Jakarta. Semangat Nanta. Tapi informasi detail nanti Kamu akan lebih tahu setelah mereka bersurat." Nona menjelaskan, Nanta mengangguk saja.
"Kalau kamu di Jakarta, Oma dan Opa juga akan ke Jakarta, jangan khawatir." Mama Nina mendukung Nanta.
"Tenang Oma, ada Ayah dan Bunda juga kan di Jakarta. Papa harus menyiapkan hadiah untuk aku ya, kalau aku lolos seleksi dan pindah ke Jakarta." kata Nanta pada Kenan.
"Hadiah apa? sebut saja." kata Kenan tersenyum, sudah lama sekali Nanta tidak sehangat ini pada Kenan.
"Apa Oma hadiahnya?" tanya Nanta pada Oma.
"Mama baru, biar sepasang. Disana kan sudah ada Om Bagus, Papa baru." jawab Oma sambil terbahak, Opa dan Nanta ikutan terbahak mendengar jawaban Oma.
"Waduh." celutuk Nona sambil tersenyum salah tingkah. Gawat kalau Mas Kenan menikah, aku bagaimana? Nona meringis dalam hati.
"Iya menikahnya sama Kak Nona tapi ya Pa, hahaha." Nanta kembali terbahak tak berani menatap Papa ataupun Kak Nona, sementara Kenan tersenyum melihat hebohnya meja makan malam ini. Nona segera berdiri belagak mengambil air hangat di dispenser.
"Wah seru sekali, ada apa sih?" tanya Roma yang baru saja datang, salaamnya sampai tidak dijawab karena ternyata di meja makan sedang berkumpul dan penuh tawa.
"Ada berita gembira, tapi aku belum bisa kasih tahu, karena belum ada informasi resmi." kata Nanta sangat bahagia, ia memang belum menerima pemberitahuan resmi, khawatir Kevin salah membaca nama kan, bisa malu Nanta kalau sesumbar.
"Ya sudah aku tunggu undangan naik cetak saja." kata Roma sambil membereskan meja makan, menyusun wadah berisi makanan yang dibawanya dari rumah barusan.
"Wah kemajuan Om Kenan sudah mau cetak undangan?" tanya Raymond pada Kenan sok polos.
"Undangan sunat? kalian baru datang jadi masih belum nyambung." kata Kenan berdalih.
"Loh aku dengar waktu Nanta bilang, menikahnya dengan Kak Nona." Raymond mengulang kalimat Nanta tadi.
"Yah tapi kamu kan tidak tahu berita sebelumnya, main samber saja." bisik Kenan dengan wajah melotot pada Raymond, takut Nona terganggu.
"Ih galak." kekeh Raymond beralih menatap Nona yang masih berdiri didekat dispenser.
"Kak Nona, Bunda didepan cari kamu loh. Mau lanjutkan curhatan yang kemarin itu tidak?" kata Raymond pada Nona.
"Oh..." Nona tersenyum tambah salah tingkah, bisa gawat kalau ada yang tanya curhat apa. Ia segera berlari kedepan menghampiri Kiki yang ternyata belum masuk, masih menunggu Reza keluar Mobil.
"Kak Kiki, Raymond bahas-bahas curhat didalam." adu Roma pada Kiki saat di teras.
"Anak itu ya, ampun jahil sekali sama kamu dan Kenan loh. Aku saja tidak percaya anakku jadi begitu." Kiki terkekeh menepuk dahinya.
"Memang dulu tidak begitu?" tanya Nona tak percaya.
"Sampai aku melihatnya langsung, aku pasti berfikir Raymond tidak sejahil itu."
"Balas dendam, Kenan juga suka jahil sama Raymond dan Roma, dulu. Biarkan saja." Reza terkekeh merangkul Kiki masuk kedalam. Mesra sekali mereka, batin Nona iri melihat Reza terlihat begitu sayang pada Kiki.
"Jangan iri Non, Kenan itu orangnya lebih mesra dari saya loh." kata Reza menggoda Nona.
"Ish sama saja Ayah dengan anak rupanya." Kiki tertawa menoleh pada Nona.
Suasana makan malam berlangsung hangat, untung saja tidak membahas Nona dan Kenan, bisa tidak makan Nona kalau itu terjadi. Rupanya saat Nona keluar, Kenan memperingati semua supaya tidak terus menggoda Nona, kasihan melihat Nona salah tingkah, sementara Kenan belum memberikan kepastian pada Nona.
Pov On
"Kalau Om jual mahal, jangan menangis kalau Kak Nona diambil Kevin atau Wawan, seperti yang Om khawatirkan selama Om keluar kota kemarin." tegas Raymond disambut anggukan Opa dan Oma.
"Bukan jual mahal, saya ingin Nona sendiri yang memutuskan, bukan paksaan dari Bang Baron ataupun semua yang ada disini." Kenan menjelaskan.
"Cieee." sorak semua kompak.
"Aih iya saya sudah mulai maju, tapi tolong jangan terus di goda, biarkan saja natural." pinta Kenan sesekali melihat ke pintu khawatir Nona mendengar.
"Janji ya, jangan dilepas." kata Mama Nina pada Kenan.
"Awas saja kalau dilepas, Papa pecat dari perusahaan." ancam Papa Dwi pada Kenan.
"Duh, sejak kapan urusan asmaraku melibatkan pecat memecat."
"Sejak Om melibatkan asisten Om menjaga calon istri Om dari godaan pria-pria lain." sahut Raymond cepat, membuat semua terbahak. Habis lah Kenan dimeja makan menghadapi Raymond yang sedikit-sedikit mengadu pada owner perusahaan.
Pov Off.
Kiki dan Reza masuk, diikuti Nona dibelakangnya.
"Sudah curhatnya?" tanya Raymond.
"Curhat apa sih Ray." Kiki melotot pada anaknya.
"Hehehe Bunda seperti Om Kenan saja, galak sama aku." Raymond cengengesan. Kiki tidak menjawab, hanya memberi kode agar Raymond tidak menggoda Nona. Raymond tidak mau durhaka menuruti keinginan Bunda.
"Minggu depan Abang ajak Mama dan Papa ke Jakarta?" tanya Kenan pada Reza setelah makan malam.
"Iyalah, masa dekat kamu terus." dengus Reza.
"Cucu semua di Malang, mau apa di Jakarta?" sahut Raymond tidak ingin Oma dan Opa ke Jakarta.
"Memangnya yang kangen Oma Opa hanya kalian. Kita juga kangen loh. Bunda sepi sekali dirumah, kasihan Tante Wina Bunda ganggu terus. Sekalian Oma dan Opa juga butuh refreshing kan, pusing melihat kamu disini yang ternyata jumpalitan." Kata Kiki pada Raymond sambil tertawa.
"Aku jadi kangen Tante Wina dan cepupu. Bunda Oma Ririn dan Opa Ryan suruh kemalang ya." pinta Raymond pada Bunda.
"Opa Oma ke Jakarta justru janjian sama Oma Ririn dan Opa Ryan. Kami mau travel bersama." kata Opa Dwi teringat rencana travel bersama geng Oma Nina.
"Mau kemana? sudah tua masih saja travel." kata Kenan tertawa melihat Oma.
"Forever young darling, Jangan bilang sudah tua. Kita menikmati hidup. Mau apa lagi coba, sambil menunggu keputusan kamu, Papa dan Mama honeymoon lagi saja."
Kenan terdiam tak berani melanjutkan, takut ada yang samber, nanti Nona salah tingkah lagi.
"Ke Korea saja Ma, Oma-oma senang loh liburan kesana." kata Nona pada Mama Nina.
"Oh iya itu salah satu pilihan. Tapi mungkin Mama dan Papa akan keliling sumatera. Sekalian melihat sekolah kami dulu."
"Kapan-kapan kamu mesti ikut ke sumatera, Non. Makanannya enak-enak. Suasana disana juga enak."
"Mau Ma, betul ya aku mau." kata Nona semangat.
"Iya sayang, semakin cepat sah, semakin enak kita kelilingnya." kata Mama Nina santai. Kenan menendang kaki Mama dari bawah meja, sepertinya Mama lupa perjanjian sebelum Nona masuk tadi.
"Auwwww." teriak Mama Nina, membuat Kenan salah tingkah, semua mata melihat pada Mama Nina.
"Ada apa Ma?" tanya Reza khawatir.
"Tidak apa, seperti ada kecoa, tapi bukan. Hanya perasaan mama saja." jawab Mama Nina terkekeh.