I Love You Too

I Love You Too
Burger



Dalam perjalanan pulang setelah mengantar Larry dan Daniel, Nanta segera hubungi Raymond. Ia ingin tahu kabar Abangnya setelah punya anak.


"Assalamualaikum..." terdengar suara Raymond dari seberang.


"Waalaikumusalaam... Shakira aku lagi apa?" tanya Nanta pada Abangnya.


"Lagi tanya Om Nanta mana kadonya." jawab Raymond membuat Nanta terbahak.


"Kadonya, pindah dulu ke Jakarta." kata Nanta ada Abangnya.


"Eh kamu sudah dengar kabar kah Dek?" tanya Raymond pada Nanta.


"Baru wacana atau sudah fixed nih Bang? aku sih berharap sebelum anakku lahir Abang sudah di Jakarta." Nanta sampaikan keinginannya pada Raymond.


"Aku kan tunggu arahan, Om Kenan sudah bilang sih, tapi Ayah sama Opa masih diam saja." kata Raymond pada Nanta.


"Aku telepon Opa ya." ijin Nanta pada Raymond, ia ingin membujuk Opa agar realisasika rencana Papanya.


"Ini Opa disamping, Abang." Raymond terkekeh.


"Opa..." Nanta panggili Opanya.


"Kalau ada perlunya baru hubungi Opa." Opa Dwi pura-pura merajuk.


"Opa aku masih dijalan nih, demi Opa dan bang Ray pindah ke Jakarta aku bela-belain telepon sambil setir mobil." kata Nanta pada Opa.


"Ya sudah matikan dulu nanti saja bicaranya." kata Opa pada Nanta.


"Jawab dulu dong Opa, kapan pindah ke Jakarta." pinta Nanta pada Opa Dwi.


"Memangnya kalau Opa pindah ke Jakarta kenapa? tetap saja kamu harus ke Malang kunjungi Mamamu." Opa Dwi terkekeh.


"Iya paling tidak selama di Malang aku bisa lebih lama sama Mama, kalau sekarang aku bingung bagi waktunya." Nanta sampaikan apa adanya.


"Jadi minta kita pindah ke Jakarta karena itu?"


"Bukan, aku mau dekat Opa dan Oma. Sebentar lagi Dania melahirkan loh, masa Opa sama Oma jauh."


"Kami ke Jakarta kok kalau anakmu lahir."


"Cuma sebentar, aku maunya setiap kali kangen aku bisa mampir ke rumah Opa dan Oma." kata Nanta lagi.


"Kalau Opa pindah Jakarta, kamu tinggal sama Opa ya." pinta Opa pada Nanta.


"Iya." jawab Nanta karena memang rencananya Nanta yang akan tinggalin rumah Opa dan Oma nantinya, tapi kalau ada Opa dan Oma dirumah tambah senang saja Nanta.


"Tinggal sama aku dong Opa." terdengar suara Raymond protes.


"Iya kalau Opa lagi mau menginap di rumahmu ya Opa tinggal berangkat." jawab Opa pada Raymond.


"Ah paling Opa tinggal dirumah Om Kenan nih." tebak Raymond curiga.


"Dirumah Opa lah kenapa harus di rumah Kenan?"


"Ada Balen dan Richie disana." Raymond terkekeh.


"Iya dirumahmu kan ada Shakira, nanti di rumah Nanta ada si baby." jawab Opa.


"Opa, aku kan belum punya rumah." Nanta terkekeh.


"Rumah Opa kan untuk kamu." jawab Opa.


"Bang Ray?"


"Dia kan sudah jadi Bos di Syahputra bisa beli sendiri." Raymond terkekeh mendengar jawaban Opa.


"Memangnya rumah Abang di Jakarta siapa yang belikan? itu Opa juga yang belikan Nan." Raymond tertawa.


"Itu harus di renovasi loh, kapan mau panggil tukang?" tanya Nanta langsung saja.


"Belum juga tahu pasti pindah apa tidak." jawab Opa Dwi.


"Opa betah di Malang nih, padahal ada peluang kita berkumpul di Jakarta." Nanta sedikit merajuk.


"Merajuk dia Opa." Raymond terkekeh.


"Kamu maunya kami pindah di Jakarta ya?" tanya Raymond.


"Pakai ditanya lagi, sudah jelas tanpa dijawabpun Bang Ray tahu." sungut Nanta.


"Nanti ya, mesti uji kelayakan dulu, Fero bisa handel Syahputra apa tidak." kata Raymond pada adiknya.


"Bisa." jawab Nanta cepat.


"Main bisa saja." Raymond terkekeh.


"Memang bisa Bang, Papa saja bilang bisa, Ayah juga bilang bisa." Nanta sampaikan pada Raymond.


"Shakira baru bisa naik pesawat tiga bulan lagi." jawab Raymond kemudian.


"Jadi fixed pindah sekalian lihat anakku lahir ya." tegas Nanta.


"Ini perintah atau tanya?"


"Perintah." jawab Nanta membuat Opa dan Raymond terbahak. Tak lama terdengar suara Shakira mengeak.


"Ah nangis dia, kita berisik Opa." Raymond berbisik tapi terdengar oleh Nanta.


"Sudah ya Nan, anakmu nangis tuh." kata Opa pada Nanta.


Perjalanan pulang ditemani Opa dan Bang Ray, membuat Nanta merasa tiba dirumah lebih cepat dari perkiraan. Sampai dirumah langsung disambut rengekan Balen yang minta diajak ke Mal.


"Mau apa ke Mal?" tanya Nanta pada adiknya.


"Matan." jawabnya membuat Nanta terkekeh. Tumben sekali minta makan di Mal.


"Kenapa minta makan di Mal?" tanya Nanta pada Dania.


"Lihat iklan di tv, anak kecil makan friend chicken." jawab Dania tertawa.


"Loh itu bukan makanan sehat sayang." Nanta beritahukan Balen.


"Tapi temen Baen di tipi nomonna ancal, matan pedciten." kata Balen pada Abangnya masih saja merengek.


"Ya sudah ayo, bilang Mamon dan Papon dulu boleh apa tidak." Akhirnya Abang menyerah, melihat Balen yang terus saja merengek, apalagi punya keyakinan jika makan fried chicken bicaranya jadi lancar.


"Mamon, Baen te Mol duu ya." ijin Balen pada Mamon.


"Yakin Nan?" tanya Nona mengingat Nanta baru saja pulang, pasti capek.


"Tidak apa sebentar saja kan." jawab Nanta.


"Papon saam." Balen minta salami Kenan, ijin mau ke Mal.


"Abang mau sholat magrib dulu Balen." Kenan mengingatkan sebentar lagi adzan magrib.


"Yah ama adi don." Balen bersungut.


"Masa orang mau sholat kamu jawabnya begitu." Nona menegur Balen.


"Sholat dulu baru boleh ke Mal." tegas Nona pada Balen.


"Ya udah." Balen menurut pasrah.


"Wajahnya jangan masam begitu, biasa saja." kembali Nona peringati Balen.


"Iya ini biasa tot." katanya dengan kening berkerut.


"Baen mo ndak?" Richie tawarkan burger yang sedang dimakannya.


"Eh kami kok punya burger, dari siapa?" tanya Kenan bingung melihat anaknya makan junk food.


"Ada di dapul." jawab Richie sodorkan burgernya kemulut Papa. Kenan gelengkan kepalanya.


"Ayo don enat tau." Richie setengah memaksa.


"Dia tidak suka deh pasti." Nona terkekeh.


"Suta." jawab Richie cepat.


"Kenapa bukan kamu yang makan?" tanya Nona.


"Atu balu inet ini jampud." katanya membuat Kenan terbahak.


"Tidak apa makan saja, kan tidak sering." Kenan ijinkan Richie makan burger ditangannya.


"Nanti atu satit." Richie khawatir.


"Tamu tatut satit tawanin Baen." protes Balen pada Richie.


"Tan setali-setali, atu tadi udah matan dua Baen." jawab Richie jujur.


"Jatah siapa yang kamu makan Ichie?" tanya Nona pada Richie.


"Ncusss." jawabnya santai.


"Ya ampun ini jajanan Ncusss kamu Yan makan, sekarang malah tawarkan Balen dan Papa?" Nona berkacak pinggang.


"Baban tan mo te Mol, nanti beiin ladi untut Ncusss." Richie tersenyum pada Nona.


"Jadi itu tadi punya Ncusss yang kamu makan?" tanya Kenan, Richie anggukan kepalanya.


"Ncusss kok kamu kasih, kalian buat buka puasa kan?" tanya Kenan karena sudah berapa hari ini Ncusss puasa sunah.


"Iya, tidak apa Pak, masih ada kentang kok." jawab Ncusss tersenyum pada Kenan.


"Dia habis dua?" tanya Nona pada Ncusss.


"Iya itu yang ke tiga, jatah Pak Atang." jawab Ncusss, Nanta tertawakan Richie.


"Ichie bayar tuh, main makan saja." tegur Nanta pada adiknya.


"Bayalin don Baban, atu tan ndak puna uan."


"Lain kali tidak boleh asal makan ya, kalau bukan untuk Ichie jangan di makan." Nanta ingatkan Richie.


"Tadi atu tilain untut atu." jawabnya asal saja.


"Terus saja cari alasan Richie, kalau begitu terus mamon strap ya berdiri disana." tegur Nona pada Richie.


"Tan atu ndak senaja." jawabnya pelan sambil bersungut. Nanta kembali tertawa melihat kelakuan adiknya ini.


"Kamu mau ikut Ke Mal tidak temani Balen?" tanya Nanta.


"Ndak, atu tetenyanan." jawabnya membuat Nanta dan yang lainnya tertawa, bagaimana tidak kenyang makan burger saja dua, belum lagi yang masih ditangan, yang membuatnya bingung mau dikasih ke siapa burger yang sudah digigitnya sedikit, tapi perut keburu penuh tidak sanggup lagi menampung.