I Love You Too

I Love You Too
Kemasan



"Kalau menikah nanti, suamimu melarang bekerja bagaimana, Rum?" tanya Mike pada Rumi.


"Ya tidak usah bekerja, asal suamiku mampu cukupi semua kebutuhanku." jawab Rumi santai.


"Walaupun kamu sudah punya karir bagus?" tanya Femi pada Rumi.


"Iya, berhenti saja." jawab Rumi memandang Femi.


"Duh aku sih tidak bisa ya, kuliah sudah mahal susah payah pakai begadang, eh begitu bekerja disuruh berhenti." Femi gelengkan kepalanya.


"Kalau bisa bikin hidup bahagia kenapa tidak, soal biaya kuliah yang sudah dikeluarkan minta saja calon suami kamu untuk ganti, kalau dia sanggup berhentilah, kalau tidak sanggup ya lanjutkan bekerja." Rumi terkekeh.


Seperti tidak ada beban saja, padahal beban hidupnya sudah banyak, bukan karena melihat Larry, cowok yang dia suka sekarang sedang dekati cewek lain, tapi sebelum-sebelumnya ia pernah tidak bahagia, makanya sekarang yang dicari cuma hidup bahagia, mau hidup sama Larry atau pun tidak.


"Cocok." Mike acungkan jempol, Nanta dan Doni tertawa.


"Pinang sudah Fin." kata Mike lagi, kembali Fino terbahak, Mike memang lucu, Fino suka lihat gayanya.


"Waduh ditinggal sebentar sudah mau dipinang saja." tiba-tiba Larry duduk disebelah Rumi.


"Siap dipinang kok saya." jawab Rumi tanggapi bercandaan Mike.


"Hahaha Fino mati kutu kalau begini." Femi tertawakan sepupunya. Semua jadi ikut tertawa.


"Pinang meminang nanti bisa kita bicarakan empat mata." Fino balas bercanda.


"Ingat Fin, empat belas telinga ikut mendengar." celutuk Nanta kembali semua terbahak.


"Dania kok lama, Rum?" tanya Nanta pada Rumi, istrinya belum juga selesai.


"Tadi aku duluan yang mandi, Dania minta begitu. Tapi begitu aku selesai dia langsung bergerak kok." Rumi menjelaskan. Nanta anggukan kepalanya, kembali fokus pada sahabatnya.


"Ini adik aku Daniel." Larry kenalkan Daniel pada Fino dan Femi.


"Halo..." sapa Daniel lambaikan tangan, ia sudah dalam posisi nyaman duduk disebelah Abangnya. Fino dan Femi ikut lambaikan tangannya.


"Muka lu masih muka bantal begitu Dan." Mike tertawakan Daniel.


"Biar saja, kalau terlalu ganteng kasihan abang gue, kapan lakunya." jawabnya membuat Larry menoyor kepala adiknya.


"Bang..." langsung saja merengek dan terlihat bocahnya, kemudian usap kepalanya yang tersentuh Larry tadi. Semua jadi tertawakan Daniel dan Larry.


"Sayang adik ya, sampai diajak jalan." Femi tersenyum.


"Bukan sayang lagi, iya kan Bang." Daniel naikan alisnya pandangi Larry. Karena tidak boleh kemana-mana jadi Daniel ikuti Abangnya.


"Iya lah namanya juga adik, harus disayang." Larry tertawa memandang Daniel jahil.


"Kalau nakal baru bikin babak belur, ya kan?" Mike tertawa menyindir Daniel.


"Untungnya gue tidak nakal." jawab Daniel tengil, semua tertawakan Daniel tanpa menjelaskan.


"Semua juga pernah nakal, yang penting sekarang jadi orang baik." kata Rumi bijaksana.


"Curhat Rum?" tanya Mike.


"Ya gitu deh." jawab Rumi, kembali semua tertawa.


"Iya gue setuju, yang penting sekarang dan kedepannya, masa lalu biarkan berlalu." jawab Fino.


"Nah cocok sudah, pinang Fin." celutukan Mike kembali membuat semua tertawa.


"Ish kalian ini tidak ada capeknya." Dania gelengkan kepala, suami dan sahabatnya benar tidak ada capeknya, dari pagi aktifitas sampai sore ini masih saja ceria.


"Makanya olah raga dong Dan, jadi fresh terus." kata Doni terkekeh.


"Iya nanti malam olah raga." sahut Nanta bikin pipi Dania memerah sementara yang lain sorak sorak.


"Fin, benarkan gue bilang, mereka tidak tahan lebih dari lima belas menit untuk jaga image." kata Mike pada Fino.


"Hahaha iya benar." Fino terbahak.


"Ayo ke Mesjid." ajak Deni yang sudah rapi, sudah terdengar suara orang mengaji, sebentar lagi adzan berkumandang. Tanpa diperintah dua kali semua lelaki langsung beranjak dari duduknya, bergegas menuju mesjid, tinggalkan para wanita yang juga bersiap sholat magrib dirumah.


"Jamaah ya." kata Dini sambil keluarkan sajadah dan beberapa mukena.


"Imamnya Seiqa." kata Dona cepat, ia belum bisa jadi imam sholat, langsung tunjuk Seiqa saja.


"Kak Dini." jawab Seiqa.


"Iya boleh aku saja." jawab Dini.


"Kak Dini minta kursi." pinta Dania pada Dini, karena perutnya sudah membesar sehingga butuh kursi untuk Sholat.


"Sudah tidak bisa sholat sempurna?" tanya Dini.


"Agak terganggu, cari aman saja. Boleh kan?" tanya Dania.


"Boleh, Allah yang menilai bukan kita." jawab Dini tersenyum, siapkan kursi untuk Dania sholat.


"Terima kasih Kak."


"Sama-sama sayang." Dini terkekeh.


Setelah adzan berkumandang, mereka lakukan sholat berjamaah. Tidak lama selesai sholat masing-masing sudah siap pergi menunggu para lelaki kembali dari Mesjid.


"Beneran kamu calon istri Larry?" tanya Rumi pada Femi, ia tidak bisa sembunyikan rasa ingin tahunya, siapa tahu tadi Larry berhasil nyatakan cinta dan Femi menerimanya.


"Bukan." jawab Femi tertawa.


"Loh Larry kan suka kamu, kamu tidak suka?" tanya Rumi.


"Aku takut, dia playboy." jawab Femi jujur.


"Dia bukan playboy, aku jamin. Tidak suka kasih harapan juga, walau kadang menyebalkan, tapi dia apa adanya." Rumi sampaikan penilaiannya pada Femi. Dua wanita ini bicarakan Larry sementara yang lain sibuk dengan handphonenya.


"Kamu tahu betul Larry." Femi tertawa.


"Karena aku suka Larry, jadi aku tahu." Rumi apa adanya.


"Kamu saja yang jadi calon istrinya." kata Femi kemudian.


"Hehehe tidak tahu Larry pilih siapa. Lagipula kan jodoh Allah yang atur, manusia berusaha." jawab Rumi.


"Iya sih. Aku baru bertemu Larry dua kali, jadi tidak begitu tahu tentang Larry, kamu yang lebih tahu banyak."


"Tapi kamu bisa simpulkan dia playboy." Rumi tertawakan Femi.


"Temanku bilang begitu, tadi juga Larry bilang mantan pacarnya memang banyak." Femi mengangkat bahunya.


"Larry baik." kata Rumi.


"Iya aku tahu dia baik. Kalau baik sama semua wanita aku tidak berani." jawab Femi.


"Tidak kok, seperti yang aku bilang dia apa adanya, tapi tidak pernah kasih harapan sama wanita, kalau dia tidak suka ya tidak ambil kesempatan."


"Kamu suka Larry, tapi malah sampaikan kebaikan Larry sama aku. Nanti aku langsung mau loh sama Larry." Femi menggoda Rumi.


"Tidak masalah, kan Larry bebas memilih. Aku juga bebas mau suka sama siapa." jawab Rumi.


"Beneran suka? kalau beneran suka harusnya kamu berjuang supaya Larry mau sama kamu."


"Aku sudah berusaha, mungkin Larry juga tahu ya aku suka sama dia, walaupun aku tidak pernah bilang." jawab Rumi, malah cerita semua apa yang dia rasakan pada Femi. Rumi mau main bersih, jadi sampaikan saja apa adanya.


"Larry perhatian sama kamu?" tanya Femi.


"Perhatian sebagai teman iya, tidak spesial." jawab Rumi.


"Oh."


"Kamu suka Larry?" tanya Rumi.


"Rasa takutku lebih besar dari rasa suka." jawab Femi apa adanya.


"Mau mundur atau mau mencoba?" tanya Rumi.


"Kamu minta aku mundur?"


"Tidak, aku sih main bersih saja. Kalau aku suka ya aku bilang suka, jujur aku suka Larry, tapi Larry biasa saja tuh." Rumi terkekeh.


"Semangat Rumi." Femi menepuk bahu Rumi.


"Eh kenapa semangati aku." Rumi jadi bingung.


"Ya semangat saja, aku suka kamu apa adanya, tidak menusuk dari belakang." kata Femi yang teringat Rima, jelekkan Larry tapi malah mendekati Larry.


"Kamu juga semangat, jangan buruk sangka. Tadi aku bilang semua orang punya masa lalu, yang penting sekarang jadi orang baik."


"Kamu paket komplit sudah cantik bijaksana lagi." Femi tulus memuji Rumi.


"Oh ini hanya kemasan, aku banyak kurangnya kok." jawab Rumi tersenyum tipis.