
"Singkong rebus, kamu merusak buku Abang!" teriak Nanta pada Balen, bocah dua tahun itu hanya memandang Nanta dengan wajah polosnya. Badannya yang bulat dan kulit putih susu membuat Nanta mengingatkan Balen saat makan singkong rebus di rumah sahabatnya.
"Ini lihat, siapa yang suruh ke meja sana ambil buku Abang?" tanya Nanta lagi, matanya membesar membuat Balen berlari menghampiri Nanta.
"Aban..." katanya menciumi Nanta, pintar sekali dia membujuk abangnya supaya tidak lagi marah.
"Aban, Aban." protes Nanta tak lagi bisa marah, malah tersenyum melihat kelakuan adiknya.
Balen suka sekali berada di kamar Nanta, padahal tadi sudah Nanta letakkan di karpet dengan dikelilingi mainannya, bisa-bisanya Balen ditinggal ke kamar mandi sebentar menarik buku Nanta yang ada di meja belajarnya, hingga robek.
"Besok-besok tidak boleh masuk ke kamar ini lagi, mengerti?" tanya Nanta menciumi adiknya gemas.
"Yah." Balen menganggukkan kepalanya, selalu saja cepat bilang iya nanti diulang lagi.
"Ayo kita ke Mamon, Abang mau ke kampus." kata Nanta menggendong Balen.
"Ndak au." Balen menggelengkan kepalanya.
"Ih, Abang mau ganti baju, nanti kamu dibiarkan menggeratak lagi." dengus Nanta.
"Ndak." Balen kembali menggelengkan kepalanya.
"Janji?" tanya Nanta.
"Yah." Balen menganggukkan kepalanya cepat, Maka Nanta pun kembali meletakkan Balen ke karpet.
"Abang ganti baju dulu, awas ya kalau nakal."
"Yah." Balen menatap Nanta dengan wajah polosnya.
"Ish dasar Singkong rebus." Nanta mencubit pipi Balen gemas.
Nanta keluar kamar sambil menggendong Balen, padahal sudah ada baby sitter yang mengurus Balen, tapi jika sudah di kamar Nanta tidak ada yang berani mendekati Balen, itu anak akan menangis histeris mengusir siapa pun yang akan membawanya pindah area, kecuali seperti saat ini, Nanta yang membawanya keluar karena akan berangkat ke kampus. Nanta sudah menjadi mahasiswa semester ketiga, ia kuliah di kampus yang sama seperti Ayah Eja dan Bunda Kiki.
"Balen, sini sama Mamon." panggil Nona yang baru saja menidurkan anak keduanya, Kenan dan Nona betul-betul ngebut, jarak antara Balen dan Richi Syahputra, putra kedua mereka hanya satu tahun.
"Aban, itut." katanya lagi pada Nanta. Nona tertawa mendengarnya.
"Kamu mau ke kampus?" tanya Nona pada Nanta.
"Iya, Mamon mau kubelikan jajanan kampus lagi?" tanya Nanta pada Nona.
"Tidak usah, Papamu marah, katanya tidak sehat." Nona mencebikkan mulutnya.
"kalau menu sehat makan buah dan sayur saja." kata Nanta pada Nona, meletakkan Balen disebelah Nona.
"Ncusss." panggilnya pada pengasuh Balen.
"Iya mas." pengasuh Balen berlari dari belakang menghampiri Nanta dan Nona.
"Nih singkongnya, saya mau kekampus dulu." kata Nanta menunjuk Balen.
"Enak saja secantik ini dibilang Singkong." Nona menepuk bahu Nanta dengan kepalan tangannya.
"Hahaha coba saja bandingkan, makan singkong lihat Balen." katanya tertawa, Balen seperti mengerti saja ikut tertawa cekikikan.
"Abang ke kampus dulu, Balen sama Mamon, Richi, Ncusss. Tunggu Abang pulang ya, kiss dulu." Nanta menunjuk pipinya. Balen pun dengan senang hati mencium pipi Nanta. Nona tersenyum melihat keduanya, sangat saling menyayangi, dengan Richi pun Nanta sayang, hanya saja Richi masih terlalu kecil dan kalau sudah menempel pada Kenan, lupa dengan yang lain. Nona pun tidak ditegurnya.
"Nanta..." Nona memanggil Nanta.
"Yes..."
"Kamu jadi ke Malang?" tanya Nona karena rencananya weekend ini Nanta akan ke Malang menghabiskan akhir pekannya bersama Mama, Om Bagus dan wulan adiknya."
"Iya, Wulan sudah telepon aku terus." kata Nanta terkekeh. Kedua adiknya yang seumuran itu pengagum Nanta. Kalau di Malang, Nanta tidak bisa kemana-mana, karena wulan selalu saja mengikuti Nanta kemanapun. Bahkan saat Nanta ke rumah Raymond pun Wulan ikut, repot sekali tapi Nanta tidak terganggu, ia senang saja kemana-mana menggendong adik kecilnya, bahkan foto Nanta saat menggendong Balen sempat bertengger disalah satu majalah remaja dan menjadi Viral di media sosial. "Hot Aban" tulis mereka, entah dari mana mereka tahu Balen memanggil ananta Aban.
"Kamu berangkat besok pagi?" tanya Nona.
"Hu uh." jawab Nanta.
"Pengen ikut." Nona setengah merengek. Rindu suasana kota kelahirannya, sudah dua tahun lebih ia tidak pulang ke Malang. Papa Baron dan Tante Mita saja yang bolak-balik ke Jakarta.
"Ayo." jawab Nanta semangat.
"Balen aku yang gendong." Nanta memberikan solusi.
"Richi sama Papa." kata Nanta lagi.
"Mamon bawa koper isi perlengkapan bocah saja." bujuk Nanta, senang juga kalau ke Malang sekeluarga.
"Di Malang kamu sibuk sama Mama dan adikmu. Ini anak bisa ribut." keluh Nona.
"Tidak akan, ada Bang Raymond sama Kak Roma. Ayolah..."
"Nanti bilang Papa dulu ya." kata Nona kemudian menghubungi suaminya.
"Sayang..." jawab Kenan dari seberang.
"Enak betul sih Nanta mau ke Malang." rengek Nona lagi pada Kenan.
"Hmmm... mau bujuk saya supaya kita juga ikut?" Kenan terkekeh, sudah hafal sekali gaya istrinya.
"Ayo dong Papa, anak-anak belum pernah ke Malang." bujuk Nona pada suaminya.
"Saya cek jadwal dulu ya. Siapa saja yang mau di ajak ke Malang?" tanya Kenan pada Nona.
"Paling Ncusss berdua." jawab Nona tersenyum.
"Oke, nanti saya kabari." jawab Kenan menutup sambungan telepon istrinya.
"Bagaimana?" tanya Nanta.
"Lihat jadwal dulu." Nona tersenyum, lihat jadwal itu bisa jadi suaminya akan geser jadwal.
Tidak lama handphone Nona berdering.
"Packing sayang, kita berangkat besok pagi bersama Nanta. Tiket sudah dipesan ya, coba fotokan ktp Ncusss Kirim ke Mahmud." kata Kenan begitu Nona mengangkat sambungan teleponnya.
"Asiikkkk, terima kasih sayang. Kita berapa hari?" tanya Nona ingin tahu.
"Sampai Minggu malam saja ya, senin saya ada tamu dari Canada." kata Kenan pada istrinya.
"Ok Papon." jawab Nona membuat Kenan terkekeh.
"Mana bocilnya Papon?" tanya Kenan teringat Balen yang tiba-tiba memanggilnya Papon saat Nona mengajarinya memanggil Mamon.
"Ini lagi merengek minta ikut Aban ke kampus." jawab Nona merubah panggilan suara menjadi panggilan video.
"Paponnnn." panggil Balen saat melihat Kenan di handphone Mamon. Mulutnya sampai maju beberapa senti saat menyebut Papon.
"Sudah makan sayang?" tanya Kenan pada Balen. Sementara Nanta melihat Balen sibuk dengan Papanya melambaikan tangan pada Nona, ia pelan-pelan meninggalkan singkong rebusnya, cara aman meninggalkan Balen ke kampus agar bocahnya tidak rusuh. Nona balas melambaikan tangan pada Nanta tanpa mengeluarkan suara.
"Udah." jawab Balen menganggukkan kepalanya.
"Makan apa?" tanya Kenan.
"Ngkong ebus, Aban." jawabnya terkekeh.
"Ngarang itu, mana ada Singkong rebus disini." Nona terkekeh mendengar jawaban putrinya
"Ini, Ngkong Ebus Aban." Balen menepuk dadanya. Kenan terbahak mendengarnya, dengan bangga Balen menyebut dirinya Singkong rebusnya Abang.
"Mana abangnya?" tanya Kenan membuat Nona mengepalkan tangannya menunjuk pada suaminya. Benar saja tidak lama Balen menjerit karena Abang tidak lagi ada diantara mereka.
"Huaaaa Papon, Aban pegi ndak ajak huaaaaa." teriak Balen.
"Cup cup nanti perginya sama Papon saja ya, Sebentar lagi Papon pulang. Sekarang Balen makan dulu, oke?" bujuk Kenan pada gadis kecilnya.
"Yah." jawab Balen menghapus air matanya dengan tangan kecilnya.
"Sayang betul ya kita jalan-jalan, aku siap-siap nih." Nona tampak semangat menanggapi perkataan Kenan pada Balen.
"Yah." jawab Kenan mengikuti gaya Balen, langsung saja keduanya terbahak.
Salaam Kangen dari Kenan, Nona dan Nantaπππππ