
Mobil Micko sudah mendekati titik kumpul, dimana teman satu tim Nanta sudah menunggu.
"Sudah ramai, boy." kata Micko melihat kerumunan.
"Iya, kan semua harus tepat waktu." jawab Nanta sambil melambaikan tangannya pada seorang teman yang baru saja memarkirkan kendaraannya.
"Ayo..." ajak Nanta begitu supir Om Micko sudah memarkirkan kendaraannya dengan sempurna.
"Kami ikut turun?" tanya Micko yang belum pernah mengantar Nanta sebelumnya, ini pengalaman baru bagi Micko.
"Kalau Papa biasanya ngobrol sama Pak Jaya pembina basketku." Nanta terkekeh.
"Pak Jaya ikut ke Amerika, Boy?" tanya Kenan sebelum turun Mobil.
"Nanti menyusul." jawab Nanta sambil turun dari mobil dan membuka bagasi. Supir membantu membawakan barang-barang Nanta yang lumayan banyak. Sudah ada bus yang menunggu yang akan membawa Tim Basket ke lokasi Training Camp.
"Antarkan ke Bus, Pak." pinta Nanta kemudian menggandeng Dania yang berdiri disebelahnya. Nanta sudah janji pada Pak Jaya dan teman-temannya untuk mengenalkan Dania hari ini. Dania hanya mengenakan celana yang panjang diatas mata kaki dan blouse longgar, mengikuti kemauan Nanta pastinya.
"Ayo Pa." ajak Nanta pada Papa Kenan dan Papa Micko. Kenapa juga berdua di panggil Papa jadi Nanta bingung sendiri, terpaksa matanya jalan-jalan kearah Kenan dan Micko.
"Ayo." Kenan pun turun dari mobil diikuti oleh Micko.
"Hai, Nan." sapa Doni saat melihat Nanta.
"Kenalkan ini Dania Istriku." Nanta memperkenalkan Dania pada Doni.
"Oh hai Dania, Loh Om Kenan ikut antar." Doni tambah seru saat melihat Kenan dan Micko berjalan di belakang Nanta. Langsung menghampiri Kenan dan Micko lalu menyalaminya.
"Apa kabar, Don?" tanya Kenan pada teman anaknya itu.
"Alhamdulillah, Om. Seperti yang Om lihat." jawab Doni terkekeh.
"Tambah ganteng." jawab Kenan menepuk bahu Doni.
"Hahaha bisa saja Om Kenan, nanti aku bawakan oleh-oleh deh." Doni membercandai Kenan. Mereka tertawa bersama.
"Mana istrimu?" tanya Kenan dengan mata berkeliling.
"Tadinya mau antar, tapi lagi tidak enak badan. Padahal mau kukenalkan dengan istrinya Nanta." Doni menunjuk Dania yang berdiri disebelah Nanta.
"Lain kali bisa. Om bertemu Pak Jaya dulu." pamit Kenan meninggalkan Nanta, Doni dan Dania. Micko mengikuti Kenan dan terlihat bersalaman dengan Pak Jaya. Kenan mengenalkan Micko pada Pak Jaya.
"Jadi bagaimana rasanya mau ditinggal suami?" tanya Doni menggoda Dania.
"Hehehe..." Dania cengengesan saja.
"Tenang saja, suami kamu ini selalu pakai kacamata kuda."
"Apa sih?" Nanta terkekeh, jika dibiarkan bisa keluar semua kelakuan Nanta, Doni sebut.
"Tidak lirik-lirik dong?" Dania tampak sumringah.
"Tidak pernah, tapi tiba-tiba perempuan datang langsung peluk." Doni terbahak, Nanta menggelengkan kepalanya, Doni cari gara-gara.
"Oh, aku belum pernah ketemu sih yang begitu, hanya saja wajah-wajah lapar mau melahap Mas Nanta sering kulihat." jawab Dania tersenyum sedikit resah.
"Begitulah Nanta, padahal banyak yang ganteng disini, mungkin karena Nanta acuh, sementara yang lain kalau lihat cewek cakep terkesan lapar." Doni kembali terbahak.
"Ngoceh terus, nanti tambah susah mau ditinggal nih." keluh Nanta berdecak pada salah satu teman akrabnya di Tim Basket, kemarin saat menikah tidak diundang karena kalau undang Doni yang lain harus diundang juga.
"Dan, ayo kenalan sama yang lain." ajak Nanta menarik Dania meninggalkan Doni
"Eh gue ikut lah " Doni berteriak menyusul Nanta dan merangkul temannya yang sedang menggandeng istrinya itu.
"Semoga kita satu kamar." kata Doni pada Nanta.
"Iya gue juga berharap begitu." kata Nanta menyambut keinginan Doni.
"Bisa kali minta sama Pak Jaya." bisik Doni.
"Ish mana berani, bisa sengaja dipisah kita." Nanta terbahak menyikutkan tangannya pelan keperut Doni.
"Nanta, Doni!" teriak Mike yang tampak berlari berusaha mensejajari langkah kedua teman akrabnya, mereka selalu bertiga, walaupun dekat juga dengan. yang lain.
"Mike..." Nanta tersenyum bahagia melihat Mike, ia menunjuk Dania pada Mike Dan Mike menganggukkan kepalanya.
"Halo..." sapa Mike saat mendekati Dania, ia mengulurkan tangannya.
"Ini Mike, kami bertiga itu seperti apa ya?" Nanta terkekeh memandang kedua temannya.
"Entahlah seperti apa, dibilang sahabat waktu Nanta menikah kami tidak diundang." Mike menyindir Nanta langsung disambut tawa yang menggelegar dari Doni.
"Ih jangan begitu lah." Nanta jadi tidak enak hati.
"Mereka Sahabatku, tapi terpaksa tidak diundang karena maunya keluarga kita kan hanya keluarga saja,. kalau undang mereka berdua Pak Jaya dan yang lain bisa tersinggung." kata Nanta pada Dania dan juga kedua temannya. Dania membalas uluran tangan Mike Dan tersenyum manis.
"Dapat dimana yang begini, masih ada lagi tidak?" bisik Mike pada Nanta.
Nanta meninju lengan Doni pelan sambil terkekeh. Mereka mulai berjalan perlahan menuju teman-teman yang lain. Barang bawaan Nanta terlihat sudah tersusun rapi di bagasi bus yang masih terbuka, menunggu barang bawaan peserta lain. Nanta langsung saja mengenalkan Dania pada Tim nya saat mereka sudah bersama-sama. Bukan hanya Nanta yang membawa pasangan, ada juga temannya yang lain diantar oleh pacarnya, Ibunya, adiknya bahkan Abangnya.
"Lu diantar bokap?" tanya Mike saat melihat Kenan asik ngobrol dan tertawa dengan Pak Jaya.
"Iya itu sama bokapnya Dania juga." tunjuk Nanta pada Micko.
"Itu Om Micko bukan?" tanya Mike pelan.
"Iya." jawab Nanta tersenyum.
"Om gue tuh, bokapnya Dania?" tanya Mike heran.
"Om lu dari mana?" tanya Nanta heran, Dania pun heran.
"Nanta, Micko Suryadi kan?" Mike memastikan.
"Dania, kenalkan gue Mike Suryadi." Mike kembali mengulurkan tangannya pada Dania.
"Hah???" Dania sedikit terperangah, Nanta pun begitu.
"Lu anak Om Peter?" tembak Nanta langsung.
"Ish bukan." Mike bergidik malas, meninggalkan Nanta menghampiri Micko.
"Assalamualaikum..." Mike tersenyum pada pria paruh bayar dihadapannya.
"Waalaikumusalaam Mike, ada apa?" tanya Pak Jaya mengira Mike ingin bicara dengannya.
"Om..." Mike mengulurkan tangannya pada Kenan.
"Hai Mike, sehat ya." Kenan menyambut uluran tangan Mike.
"Sehat Om, Alhamdulillah." Micko mengangguk sopan, kemudian pandangannya beralih pada Micko.
"Salam kenal Om Micko, aku Mike Suryadi."
"Eh?"
"Anak Julia Suryadi adik sepupu Om Micko." katanya menjelaskan.
"Oh... hai Mike, apa kabar?" tanya Micko ragu-ragu. Bisa-bisanya ada keluarga Suryadi di Tim Basket Nanta.
"Sehat, hanya Kakek Kris tidak sehat. Ingin sekali bertemu Om Micko dan Oma Misha." kata Mike langsung saja, sudah lama sekali ia ingin menemui Micko tapi tidak ada kesempatan dan tidak berani juga. Kakek yang Mike maksud itu kakak kandung dari Oma Misha, yang dari bayi tinggal bersama Kakek Suryadi diasuh oleh Ibu tiri Misha, istri sah pertama Kakek Suryadi.
"Oh nanti Om sampaikan pada Mama Om untuk menemui Kakekmu ya." kata Micko tidak menyangka bisa bertemu keponakannya yang ia sendiri tidak kenal.
"Kalau Om dan Oma tidak sempat, ijinkan Kakek Kris dibawa Mama kerumah Oma Misha." pinta Mike lagi.
"Om bicarakan dulu dengan Mama Om ya." kata Micko tidak berani mengambil keputusan.
"Aku serius Om, Kakek sakit, aku dan Mamaku tidak pernah ikut mengganggu keluarga Om." Mike mengangkat kedua jari tangannya.
"Mike..." Micko menepuk bahu Mike sambil tersenyum miris.
"Om percaya." kata Micko menganggukkan kepalanya pada Mike.
"Sudah kenalan sama adikmu? istrinya Nanta." kata Micko melambaikan tangan pada Dania dan Nanta.
"Saya juga belum kenal nih, Anggota keluarga baru kita." kata Pak Jaya memandang Nanta yang terus saja menggandeng Dania, ia berpamitan pada temannya yang lain kemudian menghampiri Om Micko yang memanggilnya.
"Dania ini sepupu kamu loh." kata Micko pada anaknya.
"Iya tadi sudah kenalan, tapi aku cuma tahu Om Peter." kata Dania apa adanya, kembali Dania menganggukkan kepalanya pada Mike.
"Jadi ini istrinya Nanta?" tanya Pak Jaya yang sedari tadi menunggu untuk dikenalkan.
"Iya. Dan kenalkan ini Pak Jaya, bos aku." kata Nanta terkekeh pada Pak Jaya.
"Apanya yang bos, saya teman curhat Nanta." kata Pak Jaya balas menggoda Nanta.
"Eh anak saya suka curhat kah?" Kenan tertawa mendengar ocehan Pak Jaya
"Bukan lagi, tanya saja anaknya." tambah-tambah Pak Jaya menggoda Nanta.
"Bukan curhat sih, kita dicuci otak ya Mike." Nanta dan Mike terbahak seketika
"Ini nih, anak mudah berani sekali menggoda orang tua." Pak Jaya pura-pura marah.
"Pak Jaya ini suka pura-pura tua." kata Nanta pada Papa dan mertuanya.
"Tuh anak Pak Kenan ini suka sekali mengganggu saya." adu Pak Jaya pada Kenan.
"Jewer saja kupingnya." kata Kenan terbahak.
"Sudah bukan jewer lagi Pa."
"Oh iya mereka kalau nakal saya hukum bukan pakai jewer." kata Pak Jaya.
"Jadi?"
"Berenang dikolam tengah malam atau shubuh." jawab Pak Jaya terbahak.
"Loh yang kemarin kalian berenang shubuh itu karena dihukum?" tanya Micko ingat sekali Nanta ijin ke GBK setelah sholat shubuh.
"Hahaha kalau itu bukan, Pa."
"Itu sih karena kita mau taruhan, Nanta malam pertama bisa bangun pagi ikut berenang apa tidak." jawab Mike membuka rahasia.
"Hahaha rese memang mereka rese." Nanta terbahak.
"Jadi kalian kalah?" tanya Pak Jaya senyam-senyum sudah dengar cerita.
"Kalah pada patungan deh bayar makan siang." kata Mike tertawa sesekali melirik Dania dan Micko, terlihat aura bahagia karena bisa menemui Om Mickonya tanpa ada gangguan.
"Jadikan aku taruhan mana bisa menang." kata Nanta sombong.
"Oh iya betul, mereka agak nekat menjadikan Nanta taruhan." Pak Jaya membenarkan.
"Kenapa begitu Pak?" tanya Kenan penasaran.
"Nanta sangat disiplin dan tepat waktu." tambah bangga saja Kenan pada anaknya ini.
"Bapaknya yang kembang kempis hidungnya." kata Micko terkekeh memandang besannya.
"Mertuanya juga tuh." celutuk Dania membuat semuanya tertawa.