I Love You Too

I Love You Too
Geng kwartet



Busy Friday, Nanta kira itu yang akan ia alami hari ini, ternyata tidak, sama saja seperti hari kemarin, tidak ada hiruk pikuk siapkan panggung karena begitu Nanta datang pagi hari wardrobe sudah terpasang.


"Kapan wardrobe dipasang, Pa?" tanya Nanta jadi tidak enak hati sendiri.


"Semalam rasanya. Kenapa Boy?" Andi malah balik bertanya.


"Kok aku tidak dapat perintah lakukan apa gitu, jadi aku santai dan enak saja kemarin pulang seperti biasa." kata Nanta meringis.


"Memang bukan tugas kamu, kamu tahu beres saja." kata Andi terkekeh.


"Mereka sudah biasa lakukan itu, tinggal sampaikan konsepnya pada pihak ketiga, mereka kerjakan saat pengunjung sudah pada pulang, selalu begitu." jawab Mario menjelaskan. Nanta boleh menarik nafas lega setelah Mario jelaskan pada Nanta.


"Antra as friend datang jam berapa?" tanya Andi pada Nanta.


"Kemarin sih bilang jam empat sore sudah disini." jawab Nanta pada Andi.


"Mereka itu kamu yang rekomendasikan loh, ingat?" tanya Mario, Nanta gelengkan kepalanya.


"Kamu cerita sama Popo Erwin saat kita sholat jumat bersama." kata Andi pada Nanta mengingatkan.


"Oh iya, aku cuma bahas dan perlihatkan aksi mereka di media sosial." kata Nanta tertawa.


"Nah langsung kita proses setelah itu." Andi terkekeh.


"Bisa begitu." Nanta jadi terkekeh.


"Tentu saja bisa, kami kan harus tahu group musik apa yang diminati anak muda saat ini. Apalagi Restaurant kita pangsa pasarnya lebih ke anak muda." kata Mario pada Nanta. Nanta anggukan kepalanya, mengingat dulu restaurant ini ada karena empat orang anak muda seusia Nanta.


"Hari ini ramai sekali." kata Andi pada Mario.


"Iya, dari tiga hari yang lalu cabang ini tidak pernah sepi." Mario terkekeh. Nanta santai saja sibuk dengan pekerjaannya. Ia sedang mempelajari email yang Chico kirimkan padanya. Semua yang berkaitan urusan dapur.


"Boy, kalau begini caranya kamu juga harus sering-sering standby di cabang yang sepi." Andi bercandai Nanta.


"Apa ada cabang Warung Elite yang sepi?" tanya Nanta pada Andi dengan wajah serius.


"Di anak cabang utara itu tidak seramai cabang lainnya." jawab Andi.


"Kalau begitu corner basketnya bikin disana saja, Pa. Jangan dibikin di cabang yang sudah ramai. Untuk menarik minat pelanggan." jawab Nanta tersenyum.


"Kamu yakin? pelanggan akan datang hanya karena basket corner?" tanya Andi.


"In Syaa Allah." Nanta anggukan kepalanya, kemudian lanjut mempelajari data yang Chico berikan. Andi terkekeh melihat gaya Nanta yang santai tapi serius dalam bekerja.


Nanta yang dari tadi sibuk berkutat dengan berkas tidak sempat keluar ruangan, sehingga pengunjung yang datang menjelang makan siang kecewa karena tidak bertemu Nanta.


"Bos gantengnya mana Mbak?" tanya salah satu pengunjung pada pegawai restaurant.


"Pak Nanta?" tanya pegawai tersebut memastikan.


"Siapa lagi, memangnya ada yang lebih ganteng selain dia?" jawab pengunjung disambut derai tawa temannya yang lain.


"Pak Nanta lagi di dalam." jawab pegawai menunjuk ruangan Nanta.


"Oke." jawab pengunjung itu dan mengajak temannya untuk melakukan selfie di depan ruangan Nanta.


"Tidak lihat orangnya, lihat bayangannya juga sudah bahagia." kata pengunjung tersebut, mereka tertawa rusuh sekali.


"Bahagia sederhana ya, nek." sahut temannya dan mereka kembali terbahak, menyita perhatian Andi dan Mario dari dalam ruangan.


"Kenapa mereka?" tanya Andi.


"Foto selfie?" Mario ikut tertawa dan gelengkan kepalanya. Mereka pun kembali bekerja, tapi jangan harap bisa konsentrasi. Bukan hanya rombongan itu saja yang foto selfie di depan ruangan mereka, tapi rombongan lainpun ternyata ikut melakukan hal yang sama.


"Sepertinya kita mesti bikin wardrobe supaya pelanggan bisa foto selfie dengan latar belakang yang bagus, Pi. Masa latar belakangnya ruangan ini." kata Nanta pada Papi Mario. Andi tertawa mendengarnya.


"Apa perlu Papi bikin standing photo kamu, Boy? supaya mereka seakan foto bersama kamu?" tanya Mario pada Nanta.


"Papi lebay." Nanta terbahak jadinya.


"Kamu lihat mereka sengaja cari perhatian kamu dengan foto latar belakang ruangan ini." kata Andi, pengalaman saat muda dulu pengunjung selalu meminta Andi untuk foto bersama, sekarang Nanta mendapatkan giliran itu.


"Masa iya karena Aku. Karena Papa Andi dan Papi Mario ada disini aku rasa." jawab Nanta polos, bisa saja karena keduanya pun memiliki banyak penggemar.


"Ish, sudah bukan masanya kami lagi." Mereka tertawa bersama.


"Sana keluar, temui penggemar kamu." perintah Andi pada Nanta.


"Mereka memangnya cari aku?" Nanta masih kurang yakin.


"Coba saja." tantang Andi pada Nanta.


"Hahaha aku tidak mau coba-coba. Tapi aku mau ke toilet, sekalian saja aku sapa mereka." akhirnya Nanta ikuti perintah Andi, keluar dari ruangan, kemudian tersenyum pada rombongan Abege yang sedang foto-foto itu.


"Halo..." sapa Nanta ramah.


"Eh keluar juga." Mereka langsung kasak kusuk lagi.


"Pak Bos, ikut foto dong." ajak mereka pada Nanta.


"Bosnya ada di dalam, saya panggil dulu ya." kata Nanta berbalik badan.


"Abang ganteng, bukan Bos yang di dalam." kata yang lain.


"Saya maksudnya?" Nanta memastikan.


"Huaaa iya dong, masa sama Bapaknya." kata yang lain lagi, segera menarik Nanta masuk kedalam rombongan mereka, jadilah Nanta ikut selfie bersama rombongan Abege. Duh kenapa pada begini sih, pikir Nanta dalam hati.


"Oke sudah ya, terima kasih loh ajak saya foto bersama." kata Nanta tersenyum ramah.


"Terima kasih Abang ganteng." kata mereka kemudian kembali duduk manis dimejanya. Nanta segera ke toilet, repot juga di ruangan pimpinan tidak ada toilet, tidak seperti di cabang Utama. Keluar dari toilet Nanta kembali diserbu oleh rombongan lain untuk foto bersama, eh mereka kok tidak bosan-bosan ya ajak foto bersama.


"Kalian suka basket ya?" tanya Nanta pada rombongan yang saat ini mengajaknya foto bersama.


"Tidak." jawab salah satu dari mereka.


"Loh, kok ajak saya foto bersama?" tanya Nanta bingung, karena biasanya penggemar Nanta itu pencinta Basket.


"Dengar dari teman disini ada Bos Ganteng." jawab yang lain kemudian semua tertawa. Ish Nanta merasa dikerjai, apaan Bos Ganteng, siapa yang kasih julukan sih?


"Nanti sore disini ada musik loh, keren." promosi Nanta pada mereka.


"Boleh kan kita duduk disini sampai musiknya mulai, akan diusir tidak?" tanya salah satu dari mereka.


"Tidak asal pesan makanan terus." jawab Nanta tersenyum jahil, ya kalau tidak pesan hanya duduk saja kasihan yang mau makan beneran, pikir Nanta.


"Nanti sore mau datang lagi boleh kok, ada atlet Nasional dari basket juga." langsung saja Nanta pasarkan teman-temannya. Yang tidak kalah ganteng sama Nanta.


"Geng kwartet?" eh katanya tidak suka basket tapi kok tahu geng kwartet, ampun deh. Nanta segera tinggalkan mereka sambil tertawa sendiri.