
"Selamat berjumpa kembali." sapa Rumi pada Kenan dan rombongannya saat mereka menaiki pesawat pribadi Unagroup.
"Mbak Rumi, kemana saja tidak kelihatan seharian?" tanya Nona yang belum tahu cerita tentang Rumi.
"Tadi saya ada urusan, Bu Nona." jawab Rumi yang tampak bugar malam ini setelah seharian tertidur efek minuman keras semalam. Setelah masuk kamar ia memesan minuman dari temannya. Dengan senang hati pesanan diantar oleh kurir ke kamar hotel.
"Wah sayang sekali tidak ikut kita shopping." kata Lulu pada Rumi.
"Nanti saja kalau kesini lagi kita Shopping bersama Ibu." jawab Rumi terkekeh. Larry dan Nanta tersenyum saling pandang, berasumsi dengan pikiran mereka masing-masing.
"Leyi, apa kabar?" tanya Rumi tersenyum ramah.
"Alhamdulillah, belanja banyak." jawab Mike mewakili Larry. Yang ditanya tertawa saja karena sudah ada Mike yang menjawab pertanyaannya.
"Belikan saya apa?" tanya Rumi jahil menggoda Larry.
"Jus buah nih." Larry sodorkan selusin minuman kotak pada Rumi. Nanta dan sahabatnya tertawa, bisa saja Larry menyindir Rumi dengan jus buah kotakan.
"Pola hidup sehat. Tapi itu kurang sehat Larry." celutuk Kenan yang lebih memilih buah original.
"Iya Om, kalau dirumah baru minum yang original." jawab Larry pada Kenan.
"Abang, itu rasa apa? tadi aku beli yang rasa sirsak." kata Winner pada Larry.
"Rasa Leci." jawab Larry membuat Winner menelan salivanya.
"Kamu mau?" tanya Larry pada Winner.
"Mau." jawab Winner. Langsung saja Larry keluarkan selusin lagi dari tasnya.
"Banyak sekali beli jus kotakan." Nanta tertawakan Larry, pikirnya Larry menyindir Rumi, ternyata memang beli banyak untuk stok.
"Lucu sih bentuknya kecil begini." kata Larry yang suka kemasannya.
"Baen mau?" tanya Larry saat Balen hanya memandangi jus kotak dihadapan Larry. Balen menggelengkan kepalanya, singkong rebus sudah tampak lelah hingga tidak ada suaranya, sementara Richie dari bis sampai bandara sudah tertidur pulas. Untung saja banyak tenaga yang menggendongi Richie. Mike yang dengan sigap menggendong si Boyle tadi, sementara Nanta sibuk dengan barang belanjaan Mamon dan Dania.
"Mana mau dia kalau bukan jus original." Nanta tertawa pandangi adiknya.
"Sini dekat aban." ajak Nanta pada Balen. Langsung saja Balen melompat kepangkuan Abangnya.
"Pakai seatbelt dong." kata Nanta pada. adiknya.
"Aban capek ya?" tanyanya pada Nanta.
"Tidak, kenapa memangnya?"
"Tadi ma'am dedek di peut Tania ndak bisa bobo tan." Balen mengingatkan.
"Iya tapi paginya kan Aban tidur lama." jawab Nanta pada Balen, senang sekali Balen mau mendekat dengan Nanta, setelah sekian lama selalu saja Aban Leyi.
"Aban, Tita masuk tipina tapan sih?" tanya Balen pada Nanta.
"Coba tanya kakak Rumi." kata Nanta pada Balen.
"Masuk tv nanti dikabari ya kalau mulai tayang, masih diolah sama orang production house." kata Rumi pada Balen.
"Tasih tau ya." pinta Balen pada Rumi.
"Pasti dong, nanti dikasih tahu." jawab Rumi terkekeh, gemas melihat Balen dari kemarin ingin sekali mencubitnya.
Perjalanan berjalan lancar, hingga mereka yang sudah lelah dapat tidur dengan nyaman dipesawat, geng kwartet ngobrol saja kerjanya, sementara yang lainnya tertidur.
"Larry kamu tadi dipanggil Bang Steve dan Oma Lani?" tanya Rumi pada Larry.
"Iya." jawab Larry sambil bersandar malas dikursinya.
"Oma bilang apa?" tanya Rumi ingin tahu.
"Mau dibahas disini?" tanya Larry, walaupun sahabatnya tahu tapi yang lain tidak tahu.
"Kalau elu tidak keberatan sih gue bahas disini." kata Larry pelan takut didengar yang lain, sementara Balen yang bersandar di dada Abangnya hanya pandangi Larry dan Rumi tak keluarkan sepatah katapun.
"Hmm..." Rumi tampak ragu, bagaimanapun ini menyangkut nama baiknya.
"Tidak usah nanti saja." jawab Rumi tersenyum. Ketiga sahabat Larry sok sibuk membahas yang lain, biarkan Larry bicara dengan Rumi. Setelah tidak ada bahasan lagi dengan Rumi, Larry ikut ngobrol dengan sahabatnya. Rumi dan Balen hanya menyimak saja.
"Benar, datang ya. Nanti dikabari kalau ada lagi, biasanya pindah-pindah cabang." kata Nanta pada Rumi.
"Iya saya datang kok, asal saja Leyi mau antar pulang." Rumi tertawa sambil melirik Larry.
"Oh itu sih, kalau bisa antar pulang, pasti gue antar." jawab Larry apa adanya.
"Asal saja belum ada cewek lain yang ikat dia." kata Mike terkekeh menggoda Larry.
"Kalau ada cewek gue juga gue antar pulang selama masih searah." jawab Larry mengangkat alisnya sambil terkekeh.
"Kalau saya yang ikat bagaimana?" huuuu langsung semuanya bersorak menggoda Larry. Larry si playboy sesat yang sudah insaf hanya bisa tertawa.
"Berani menghadapi tantangan ini?" tanya Doni jahil. Kembali Larry tertawa.
"Lagi malas pacaran sih dia saat ini." kata Nanta pada Rumi.
"Tidak tahu kalau daya pikat Mbak Rumi tinggi ya, temanku ini playboy insaf soalnya." kaya Doni lagi, mereka berempat kembali rusuh, Rumi jadi tertawa mendengar keempatnya yang tidak khawatir membangunkan semua yang sedang tertidur pulas.
Pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Halim, semua senang karena tiba dengan selamat dan pekerjaan berjalan dengan lancar. Masing-masing setelah ucapkan Salam perpisahan kembali kejemputan masing-masing. Mike bersama Larry yang mobilnya menginap dibandara, sementara Nanta bersama keluarganya, Doni juga sudah dijemput oleh supir keluarganya.
"Mbak Rumi sama siapa?" tanya Mike pada Rumi.
"Naik taxi online saja." jawab Rumi tersenyum.
"Ikut gue mau? kita bertiga. Tapi antar Mike dulu." Larry menawarkan.
"Boleh." jawab Rumi menyetujui. Mereka pun berjalan menuju parkiran. Sedang berjalan terdengar bunyi klakson, Mike dan Larry langsung mencari arah suara klakson tersebut.
"Mike, ikut gue saja " rupanya Doni yang klakson, ia lihat mereka berjalan bertiga putuskan untuk putar lagi hampiri ketiganya.
"Gue ikut Doni." kata Mike tinggalkan Larry dan Rumi. Doni mengangkat alisnya menyeringai jahil.
"Kasihan Larry capek harus antar elu, terus antar Rumi lagi." Doni sampaikan alasannya.
"Oh gue kira elu kasih kesempatan untuk mereka berdua." Mike tertawakan pemikirannya.
"Oh itu sih, tidak usah dikasih kesempatan, kalau Larry mau pasti cari kesempatan terus. Seperti tidak tahu Larry saja." Doni terkekeh.
"Ghibah terus." celutuk Dona membuat keduanya tertawa.
"Ada cerita apa sih? tanya Dona Kepo.
"Tidak ada cerita." jawab Doni cepat.
"Bohong! kalian berdua mencurigakan, Rumi kenapa seharian menghilang, kata Seiqa dibangunin sampai siang juga tidak gerak, seperti orang mati saja." cerocos Dona panjang lebar.
"Kamu tuh sama Seiqa yang ghibah." jawab Doni tertawakan istrinya.
"Loh iya tadi cerita juga sama Mikez iya kan Mike?"
"Iya." jawab Mike terkekeh.
"Kenapa dia mabok?" tanya Dona lagi.
"Memang kamu lihat dia mabok?" tanya Doni.
"Tidak lihat, cuma duga-duga saja." jawab Dona tertawa, sudah segar setelah selama dipesawat tidur pulas.
"Jangan suka duga-duga, coba tanya ini Mike sama Seiqa bagaimana kelanjutannya?" Doni langsung alihkan pembicaraan.
"Eh Seru tadi, masa si Mike bilang suka sama Seiqa dibantu Om Micko sih." Dona terbahak ceritakan Mike yang minta Om Micko untuk opening soal hubungan mereka berdua.
"Beneran Mike?" tanya Doni tidak percaya.
"Iya." jawab Mike malu-maluin.
"Terus?"
"Ya sudah Seiqa mau tanya Papanya kapan bisa terima keluarga gue untuk lamar dia." jawab Mike tertawa senang.
"Onceee, tidak berubah ya, On tetap saja On the ceee, Seiqa juga mau saja lagi." langsung saja jidat Mike jadi sasaran telunjuk Doni, gemas sendiri. Mike dan Dona jadi cengengesan.