
Kenan menarik nafas lega ketika Melly memisahkan diri. Sebenarnya tidak enak hati bicara agak kasar pada customer seperti itu, tapi niat Melly terbaca sekali ingin mendekati Kenan, padahal dia tahu Kenan sudah memiliki istri dan Melly hadir diacara pernikahannya.
Sementara Melly yakin sekali Kenan tidak mencintai Nona, karena Nona sangat berbeda dengan Tari mantan istrinya, terlebih Melly mendengar dari Jessica jika Nona dan Kenan dijodohkan, persiapan menikah mereka hanya empat hari dan mereka tidak pernah pacaran. Melly merasa Kenan akan jatuh cinta padanya karena ia melihat penampilan Tari dan dirinya tidak jauh berbeda, sepertinya Kenan menyukai gadis se type ia dan Tari. Melly tidak tahu saja penyebab Tari dan Kenan berpisah karena Kenan tidak pernah mencintai Tari.
Melly menghubungi Jessica sahabatnya.
"Gila aku bertemu Mas Kenan dipelabuhan." katanya pada Jessica semangat. Ia sengaja memaksa ikut ke pelabuhan begitu mendapat kabar dari Tari bahwa Kenan dan Raymond yang hadir untuk mengecek kondisi bongkar muat.
Jessica sahabatnya menjadi tempat curhatnya ketika pertama kali ia jatuh cinta saat melihat Kenan di kantornya, sayang saja dari dulu Melly tidak ada kesempatan untuk mendekati Kenan, karena semua urusan selalu beres bersama Tari. Tapi begitu Kenan menikah, Melly menjadi hilang akal, tidak rela Kenan menjadi milik orang lain.
"Suami orang tuh Mel, jangan aneh-aneh." pesan Jessica pada sahabatnya. Ia sudah tahu niat Melly untuk tetap mendekati Kenan saat melihat Kenan di pelaminan.
"Duh tambah ganteng Mas Kenan, bagaimana ini susah sekali melupakannya, aku harus mendekati Mas Kenan, Jes."
"Aku sudah ingati kamu loh Mel, jangan konyol. Nona itu teman kecilku. Cari cowok lain saja, yang single masih banyak" kata Jessica dari seberang.
"Mereka dijodohi toh, belum ada cinta diantara mereka." kata Melly berasumsi sendiri.
"Kalaupun belum ada cinta bukan berarti bisa kamu dekati, Mas Kenan." protes Jessica pada Melly.
"Jes, kamu kan tahu aku tuh cuma cinta sama Mas Kenan, tidak mau sama yang lain. Jadi yang kedua pun aku rela, Jes." kata Melly pada Jessica. Bodohnya bertambah-tambah, membuat Jessica kesal.
"Jes, bisa mintakan nomor handphonenya Mas Kenan sama Mas Wawan." pinta Melly pada sahabatnya, ia yakin jika memiliki nomor handphone Kenan semua akan lebih mudah.
"Untuk apa?" Jessica terdengar keberatan.
"Tadi aku minta, dia tidak mau kasih." kata Melly jujur.
"Berarti dia tidak mau kamu hubungi."
"Biar saja, aku mau usaha terus." keras kepala sekali Melly, membuat Jessica bertambah sebal. Walaupun sahabatnya sendiri, ia tidak mendukung rencana Melly mendekati Kenan.
"Mel, aku menyesal sudah ajak kamu kepernikahan Nona dan Mas Kenan. Kamu bisa merusak hubungan aku sama Nona kalau begini caranya." ketus Jessica pada Melly.
"Nona tidak tahu kan aku dapat nomor handphone suaminya dari kamu. Ayolah tolong aku." bujuk Melly pada Jessica.
"Tidak mau ah, kamu aneh." Jessica mematikan sambungan teleponnya, tidak ingin terlibat dengan kekonyolan sahabatnya, percintaannya dengan Wawan saja sudah menguras energi karena tidak disetujui Tante Gadis.
Melly menghela nafas panjang, kemudian tidak hilang akal ia berselancar didunia maya, mencari media sosial milik Nona, ingin tahu sedang apa Nona saat ini. Melly harus kecewa karena Nona jarang mengupload foto pada media sosialnya. Ia pun mencari media sosial milik Raymond, ingin tahu siapa nama istri Raymond. Bingo!!! Melly menemukan media sosial Roma dan aktifitasnya saat ini. Mereka sedang di counter tas branded, terlihat video Roma sedang menyorot pada Nona yang memilih tas di counter tersebut. Melly tersenyum miring, enak sekali suami bekerja, istri belanja di counter tas branded.
"Loh Nona lagi disini?" sapa Melly saat tidak sengaja bertemu Nona di sebuah restaurant Mal yang Nona dan Roma kunjungi. Bukan tidak sengaja Melly memang mengikuti Nona dan Roma, dari hasil pantauan media sosial milik Roma ia tahu jika keduanya sedang makan siang di restaurant tersebut.
"Eh Mbak Melly temannya Jessica, kan?" Nona sebenarnya malas tapi tidak ingin menunjukkan ketidak sukaannya pada Melly.
"Iya, kalian berdua saja? boleh bergabung?" Melly menatap Nona dan Roma.
"Oh boleh, Nona segera memindahkan belanjaannya agar bangkunya bisa diduduki oleh Nona. Mereka sedang menunggu Raymond dan Kenan untuk makan siang bersama, karena urusan pekerjaan suami mereka selesai lebih cepat. Roma diam saja tidak berkomentar, sedari tadi ia dan Raymond berkirim pesan, Raymond sudah menceritakan perlakuan Melly pada Om Kenan, karena Roma kepo menanyakan Melly.
"Kalian menunggu Mas Kenan dan Mas Raymond?" tanya Melly ingin tahu.
"Tidak." jawab Roma cepat, Nona melihat bingung pada Roma.
"Loh bukannya jemput kalian disini ya." tanya Melly yakin, karena tadi Kenan bilang ingin langsung pulang ke Malang, pasti menjemput istrinya dulu di Mal.
"Mereka mengantuk, semalaman tidak tidur. Jadi istirahat dulu dihotel. Mungkin besok baru kembali Ke Malang." kata Roma.
"Oh kalian menginap di hotel mana?" Melly tampak menyelidik.
"Sebelah." jawab Nona malas.
"Sama aku juga." jawab Melly semangat. Nona mengangguk saja.
"Sudah mau ke hotel? yuk sama-sama." ajak Melly pada Nona dan Roma.
"Kami masih mau belanja, Mbak. Uang suami belum habis." jawab Roma kesal. Ia sempat mendengar Melly berkata akan mendapatkan Kenan bagaimanapun caranya. Yang seperti ini mesti dijauhkan. Hanya saja Roma tidak berani bilang pada Nona apa yang Melly katakan.
"Enak sekali ya kalian, suami kerja sampai begadang, kalian menghabiskan uang mereka." kata Melly tidak suka, ia benar-benar cemburu pada Nona.
"Rejeki kami memang begitu." jawab Nona terkekeh. Padahal tidak menikah dengan Kenan pun ia bisa membeli barang branded yang ia mau.
"Mbak Melly mau ikut belanja atau langsung ke hotel?" tanya Nona pada Melly.
"Saya langsung ke hotel saja, mau istirahat." kata Melly, percuma mendekati Roma dan Nona jika Kenan tidak menyusul.
"Oke Mbak Melly selamat istirahat ya." kata Roma segera menarik Nona berjalan meninggalkan Melly di restaurant.
"Toxic." kata Roma pada Nona.
"Hu uh." jawab Nona sependapat.
"Mas Kenan dan Raymond istirahat di hotel? kita kan sudah check out." tanya Nona pada Roma, berarti buka kamar lagi, pikirnya.
"Tidak, mereka menunggu diparkiran. Ayo cari restaurant diluar saja, Raymond tidak kuijinkan naik karena ada Melly tadi." Roma menjelaskan dengan sedikit emosi.
"Hahaha pintar sekali kamu." tawa Nona berderai, senang sekali dengan ide Roma barusan.
"Biar saja dia pikir kita masih menginap di hotel, tadi dia minta ikut pulang bersama ke Malang." lapor Roma pada Nona. Kembali Nona terbahak mendengar celotehan Roma.
"Pintar kan aku?" tanya Roma ingin sekali dipuji.
"Bukan pintar lagi, kamu jenius." kata Nona sambil tertawa, Roma jadi ikut tertawa mendengarnya. Mereka pun berjalan menuju parkiran tempat suami mereka menunggu dengan wajah sumringah.