I Love You Too

I Love You Too
Oleh-oleh



"Setelah ini mau kemana?" tanya Micko pada Nanta, masih ada beberapa jam menjelang acara, lumayan bisa digunakan waktunya untuk keliling kota Malang.


"Wilma mau coba bakso President yang dipinggir rel itu Om." jawab Nanta menoleh pada Wilma.


"Iya aku penasaran, katanya pada kaget-kaget makan disana." jawab Wilma.


"Seperti uji nyali." sahut Lucky.


"Hahaha tidak separah itu, kamu mau ikut?" ajak Nanta memandang Lucky Dan Winner.


"Mau." jawab keduanya bersamaan.


"Papa tidak diajak?" tanya Micko.


"Papa sama Mama dan Kak Dania saja." jawab Winner memberikan waktu luang untuk Papa dan Mama pada Kakaknya.


"Aku juga belum kesana kemarin." Wilma memandang Papa memohon.


"Ya sudah kalian anak muda pergilah, Papa dan Mama di hotel saja." jawab Micko tertawa.


"Hai jangan bikin adik lagi ya. Aku tidak mau menambah adik, cukup winner saja." pesan Lucky pada Papa dan Mamanya.


"Hahaha memang kenapa kalau punya adik lagi, seru tahu." Nanta terbahak menunjuk Wulan.


"Nanti minta uang jajan lagi seperti Winner." sungut Lucky membuat semuanya terbahak.


"Belum keluar uang saja sudah perhitungan." Winner menggelengkan kepalanya.


"Makanya seperti Bang Nanta tuh, sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Tidak minta terus sama Papanya." kata Micko pada kedua putranya.


"Terang saja Bang Nanta kan atlet Basket, jangan suka banding-bandingkan lah Pa." kata Lucky tidak terima.


"Pantas saja, Mas Nanta selalu jadi pusat perhatian." Dania menganggukkan kepalanya baru mengerti.


"Iya, banyak sekali gadis yang mengidolakan Bang Nanta." jawab Winner membuat Nanta menggelengkan kepalanya.


"Tidak seperti itu juga." jawab Nanta cepat.


"Suka merendahkan diri." Ando terkekeh.


"Sue, siapa yang merendahkan diri, dribble juga nih." Nanta terbahak jadinya.


"elu kira gue bola basket mau di dribble." Ando ikut terbahak, yang lain pun sama.


"Masih kenyang tapi, makan baksonya nanti sore saja." kata Wilma memegang perutnya.


"Bagaimana tidak kenyang, semua menu dicoba." Ando terkekeh mengacak anak rambut Wilma.


"Kan aku bilang test food." Wilma ikut terkekeh.


"Tidak usah cari oleh-oleh ah." kata Wilma kemudian.


"Nan ditelepon saja pusat oleh-oleh kalau malas keluar." kata Micko pada Nanta.


"Iya, Mamaku pesan keripik tempe." kata Ando pada Nanta.


"Apa lagi?" tanya Nanta.


"Itu saja."


"Aku pesan ya, sepuluh cukup tidak?" tanya Nanta lagi.


"Cukup lah, nanti yang makan pasti Wilma juga." Ando terbahak mengingat Mamanya yang selalu mengeluarkan semua makanan yang ada jika Wilma datang.


"Aku juga mau sepuluh." Wilma tidak mau kalah.


"Oke." jawab Nanta mengetik pesan pada toko oleh-oleh langganannya.


"Tapi Abang Nanta yang bayar dong." kata Wilma mulai perhitungan, Nanta tertawa sambil mengetik pesan, ingin sekali menjitak kepala Wilma.


"Iya-iya, pakai uang jajanmu yang dari Daddy." jawab Nanta terbahak.


"Ah, tidak jadi ganti handphone dong." sungut Wilma membuat semuanya tertawa.


"Ada temanmu rupanya, Luk." komentar Winner membuat Nanta dan Ando tambah mentertawakan Wilma. Dasarnya Lucky malah berdiri menghampiri Wilma dan mengajaknya tos.


"Hahaha semua om yang bayar nanti, kamu mau belikan Nenek apa, sayang?" tanya Micko pada Dania.


"Tidak usah, Nenek sudah dikirim paket berapa hari lalu." jawab Dania tersenyum.


"Untuk temanmu?" tanya Lulu.


"Temanku hanya Mas Nanta." Dania terkekeh.


"Ya ampun Dania, gue lu anggap apa?" Wilma langsung saja protes.


"Hahaha iya sekarang kamu temanku." Dania terbahak.


"Aku?" Ando mulai protes.


"Kakak Ando lupa, kamu dari dulu kakakku." kata Dania membuat Ando senyum-senyum senang. Micko tersenyum melihat gadisnya sudah tampak santai dan sehat. Ia memandang Lulu istrinya yang sangat pengertian dan selalu mendukungnya selama ini.


"Terima kasih sayang." bisiknya pada Lulu , dibalas senyuman tulus dan mata yang berkaca-kaca dari istrinya itu. Dania jadi ikut tersenyum melihat kebahagiaan Papa dan Tante Lulu.


"Kan sudah dipesan itu sepuluh keripik tempe." protes Nanta pada Wilma.


"Dia bukan mau itu dari aku." Dania tertawa memandang Wilma yang mengangguk.


"Mau apa dia?" tanya Nanta penasaran.


"Rahasia." jawab Wilma cepat.


"Ih sok rahasia, nanti juga keceplosan." Nanta menjitak kepala Wilma.


"Lihat nih Tante, anaknya suka sekali menganiaya aku." adu Wilma pada Tari.


"Makanya kamu pilih Ando ya?" Tari malah menggoda Wilma.


"Hahaha iya selain itu, Nanta tidak pernah kasih aku kepastian." jawabnya memandang Tari.


"Kepastian-kepastian, jitak lagi nih." Nanta bersiap ingin menjitak Wilma.


"Tante mengerti kan kenapa aku lebih bahagia sama Bang Ando?" kata Wilma konyol, semua terbahak dibuatnya.


"Masih sekolah, belajar yang benar, sebentar lagi ujian loh." Nanta mengingatkan.


"Iya, nanti Bang Ando dan Bang Nanta kan siap jadi guru private ku."


"Aku dan Ando sibuk." jawab Nanta.


"Ya sudah Dania saja yang mengajari aku." kata Wilma melengos.


"Hahaha aku tidak pintar, Wil." jawab Dania terbahak.


"Tidak apa, yang penting terlihat belajar." jawab Wilma, Nanta menggelengkan kepalanya.


"Beruntung kamu dapat Ando." kata Nanta pada Wilma.


"Aku memang selalu beruntung." keluar tengilnya.


"Sama seperti aku, makanya namaku Lucky." sahut Lucky tidak mau kalah, gantian Wilma yang berdiri menghampiri Lucky dan mereka kembali tos.


"Jadi kamu masih sekecil ini sudah jadi calon istrinya Ando?" tanya Tari terkekeh kembali menggoda Wilma.


"Hu uh." Wilma menganggukkan kepalanya dengan bangga.


"Setelah lulus sekolah langsung menikah?" tanya Winner membelalakkan matanya.


"Tunggu Bang Ando lulus dulu." jawab Wilma pasti.


"Dia mau meniru Ayah Eja dan Bunda Kiki." kata Nanta pada Mamanya.


"Wah kamu mesti buka usaha dulu, Ndo." kata Micko terbahak.


"Ajari aku bisnis, Om. Calon istriku pintar sekali menabung." Ando terkekeh memandang Om Micko.


"Kapan kamu siap bekerja di showroom Mobil built-up." kata Micko menawarkan.


"Betul ya Om, hari senin juga aku siap. Bisa sesuaikan waktu dengan jadwal kuliah kan?" Ando tampak semangat. Nanta tersenyum lebar dibuatnya.


"Kamu juga Nan?" tanya Micko.


"Mulai semester depan aku bantu Ayah di restaurant, Om." jawab Nanta pada Micko


"Ya itu juga Bagus." Micko menganggukkan kepalanya setuju.


"Aku juga mau bekerja, Pa." kata Dania pada Papanya.


"Kamu fokus saja kuliah dulu." jawab Micko cepat membuat Dania bersungut


"Kamu kan juga bantu Nek Pur." Nanta mengingatkan.


"Iya sih." Dania terkekeh.


"Kamu dapat gaji dari Nek Pur?" tanya Ando pada Dania.


"Kos dan makan gratis sepuasnya." jawab Dania tersenyum senang.


"Tinggal dirumah kami saja, semua gratis." Winner menawarkan.


"Kasihan Nek Pur, dia sendiri." jawab Dania pada adiknya.


"Siapa itu Nek Pur?" tanya Lucky pada Dania.


"Tetangga yang menjaga aku dari kecil, sudah seperti Nenek sendiri." jawab Dania tersenyum.


"Padahal Kak Dania punya Oma." kata Lucky menggelengkan kepalanya. Dania memandang Papanya.


"Kamu belum pernah bertemu Oma Misha sayang, nanti sampai dijakarta kita atur waktunya." Micko menjelaskan pada Dania.


"Nah menginap saja dirumah, kamar Kak Dania selama ini aku yang pakai." kata Lucky tertawa.


"Padahal dia punya kamar sendiri." kata Winner pada Dania.


"Karena aku merindukan kakakku." jawab Lucky pada adiknya, eh Abangnya hahaha.