
"Ada lagi yang mau di tambah?" tanya Mario pada Nanta, mereka masih berkeliling lokasi, agar Nanta tahu situasi dan kondisi di Warung Elite.
"Sementara itu dulu, Pi. Lagipula aku kan masih baru, masih harus banyak belajar Pi." jawab Nanta tersenyum pada Mario.
"Sepertinya Papi harus ajak kamu keliling setiap cabang, Boy." kata Mario pada Nanta.
"Aku ikut arahan saja." Nanta tersenyum. Bagaimanapun sebagai orang baru yang belum menguasai pekerjaan pastinya Nanta akan ikuti arahan para senior. Sudah pintar pun tetap harus ikuti senior.
"Ini nantinya ruangan kamu, Boy." Mario menunjuk satu ruangan yang disiapkan untuk Nanta, entah kenapa tidak digabung dengan ruangan mereka berempat, mungkin sudah tidak muat juga.
"Tapi kamu bebas masuk ke ruangan kami ya, kalau ada yang mau disampaikan datang saja, jangan sungkan." kata Mario lagi. Nanta menganggukkan kepalanya.
"Nanti Papi kenalkan dengan para musisi yang bermain di Warung Elite." kata Mario lagi. Sekarang mereka banyak merekrut para musisi muda dan berbakat..Sesekali mengundang band yang sedang nge hits.
"Iya Pi." jawab Nanta ikut saja.
"Sore ini kita akan meeting dengan para pimpinan cabang. Kami akan kenalkan kamu dengan mereka." kata Mario lagi.
"Aku harus banyak belajar dengan para pimpinan cabang ya Pi?"
"Pelajari yang disini saja otomatis cabang akan mengikuti, kalaupun ada perbedaan tidak significant." Mario menepuk bahu Nanta.
"Iya Pi."
"Untuk urusan dapur bisa koordinasi dengan Bowo, minta laporan penjualan semua cabang setiap seminggu sekali, nanti kalian review kekurangan dan kelebihannya dimana."
"Iya Pi."
"Iya-Iya saja, mengerti tidak maksud Papi?" Mario menggoda Nanta.
"Mengerti Pi." Nanta tertawa. Mario kembali menepuk bahu Nanta, merangkulnya dan menggiringnya kembali keruangan.
"Untuk semua Event di setiap cabang kamu komunikasikan dengan Papa Andi." kata Mario menunjuk Andi ketika mereka sudah tiba diruangan.
"Untuk keluhan pelanggan bisa pelajari dari Popo Erwin. Tapi Popo jarang kesini jadi kamu bisa koordinasikan via telepon atau koordinasi dengan Bowo." lanjut Mario pada Nanta.
"Nanta pasti pusing, banyak betul yang harus dia handel." Andi tertawa.
"Dia harus kuasai semua, walaupun tetap ditangani oleh para penanggung jawab." jawab Mario, Nanta tertawa saja.
"Intinya Boy, kamu bertanggung jawab untuk memajukan Warung Elite, seluruh cabang harus kamu amati grafik penjualannya, jika menurun tentu harus dipertanyakan dan diperbaiki." kata Reza memandang Nanta.
"Iya Ayah."
"Jadi kamu harus punya program kerja, Boy."
"Iya Ayah."
"Iya terus dari tadi." Mario tertawakan Nanti.
"Papi..." Nanta tertawa juga.
"Nanta sudah punya program untuk bikin basket Corner supaya anak-anak bisa bermain basket juga." kata Mario pada Andi dan Ayah.
"Bagus juga. Bagaimana programnya? buka hanya ring basket dan bolanya saja kan?" Andi tertarik.
"Akan aku usahakan hadirkan bintang basket untuk hari tertentu Papa, dimana semua anak pelanggan bisa diberikan ilmu Basket pada hari itu. Teknisnya nanti bisa dibicarakan." kata Nanta menyampaikan apa yang ada diotaknya.
"Oke, setuju." Andi mengacungkan jempolnya.
"Menjadikan anak Indonesia cinta olahraga. Tapi bagaimana olahraga dalam keadaan perut kenyang?" tanya Andi serius.
"Jadi?"
"Mereka bisa mulai dua jam setelah makan." jawab Nanta.
"Menunggu dua jam itu lama, Boy." celutuk Ayah Eja.
"Boleh makan 45-60 menit sebelum berolahraga, Ayah. Disarankan untuk memilih jenis makanan sederhana yang mudah dicerna dan mengandung tinggi karbohidrat serta protein." jelas Nanta pada Ayah Eja.
"Oke berarti bisa bikin paket makan sebelum olah raga." kata Reza tersenyum.
"Good Job Boy, mestinya memang anak muda yang pegang restaurant seperti kita dulu, lebih kreatif." kata Reza apa adanya. Nanta tertawa saja sementara Andi dan Mario tersenyum mengembang. Kadang ide bisa muncul ketika ngobrol santai dan survey langsung ke lapangan. Apa yang Nanta sampaikan itu tadi hanya celutukan belaka tapi ditanggapi serius oleh Ayah dan teman-temannya.
Sore hari semua pimpinan cabang restaurant Warung Elite hadir sesuai undangan, ternyata restaurant ini sudah seperti perusahaan besar saja, mereka melakukan rapat rutin setiap bulannya untuk setiap regional, untuk keseluruhan setiap tiga bulan sekali. Nanta hanya menyimak apa yang masing-masing cabang sampaikan untuk setiap keluhan yang mereka terima. Ayah dan sahabatnya memberikan solusi untuk setiap permasalahan yang dialami setiap cabangnya.
"Baik saya kenalkan pendatang baru wajah lama Nanta Suryaputra, wakil kami karena tidak mungkin kami terus ada disini. Kedepannya untuk setiap permasalahan atau apapun itu bisa hubungi Nanta, bukan lagi kami berempat." Kata Andi pada semua pimpinan cabang. Mereka menganggukkan kepalanya saja, karena nama Nanta sudah digaungkan sudah sejak lama.
"Nanta mungkin ada yang mau disampaikan." kata Andi pada Nanta.
"Hmm... Selamat sore semuanya, Salam kenal. Mohon bimbingannya karena bagaimanapun saya baru disini dan masih harus banyak belajar. Terima Kasih, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." itu saja yang Nanta sampaikan dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya, karena Nanta memang ramah kan.
"Mungkin ada yang mau ditanyakan sama Nanta." kata Mario pada semua yang hadir.
"Masih bujangan kan?" ada pimpinan cabang wanita yang bertanya seperti itu membuat semuanya terbahak, tidak banyak yang tahu kalau Nanta sudah menikah, kecuali kalangan pencinta Basket.
"Waduh kalian kurang beruntung." jawab Reza tertawa.
"Saya masih kuliah tapi sudah menikah, sebentar lagi punya anak." jawab Nanta membuat beberapa wanita bersorak kecewa.
"Tidak pengaruh sudah menikah atau belum, yang pasti bekerjalah secara professional dan jangan ganggu milik orang lain." kata Andi membuat semuanya tertawa.
"Ok saya rasa itu saja, mungkin beberapa minggu kedepan jika urusan disini sudah beres, kami dan Nanta akan berkeliling cabang. Pastikan semua cabang rapi, bersih, ramah juga nyaman." pesan Andi pada semua pimpinan cabang.
"Gagal lagi deh jadi menantu geng ganteng." celutuk yang lain lagi, kembali semuanya tertawa. Andi menggelengkan kepalanya saja, Reza dan Mario tertawa geli. Ada saja celutukan konyol karyawan mereka.
"Bowo, dampingi Nanta terus ya." pesan Reza pada Bowo.
"Siap Bos." jawab Bowo tersenyum.
"Ajari aku loh Om." kata Reza pada Bowo.
"Bagaimana ini Bos, Nanta panggil saya Om." adu Bowo pada Reza.
"Tidak apa, kamu memangnya mau dipanggil apa?" tanya Reza pada Bowo.
"Saya juga bingung, tapi kan Nanta jadi boss saya sekarang." Bowo terkekeh.
"Siapa yang Bos, aku masih belajar." kata Nanta jujur, risih sekali dipanggil Bos walaupun hanya bercanda.
"Setiap hari selalu belajar, karena akan bertemu macam-macam karakter pelanggan di restaurant ini." kata Bowo pada Nanta.
"Mohon bimbinganya suhu." Nanta membungkuk pada Bowo.
"Hahaha bisa awet muda ini saya kalau dampingi Nanta terus." kata Bowo membuat Reza tersenyum lebar.
"Bagus kan, Aku juga mau awet muda jadi sehat dan energic." celutuk Andi ikut bergabung bersama Bowo dan Nanta.
"Ada lagi tidak yang seperti Nanta. Mestinya empat orang juga, masa Nanta sendiri." kata Bowo pada Bos Andi.
"Tunggu saja, Nanta yang akan urus semuanya." kata Andi terkekeh.