
"Kak Nona, yakin mau ikut?" tanya Raymond saat Nona dan Kenan memasuki mobil.
"Memangnya kenapa?"
"Kalian para istri jangan marah kalau kami abaikan ya. Biasanya kita akan dipelabuhan terus, bahkan bisa tidak pulang. Jangan ada yang merajuk bikin pusing loh." pesan Raymond santai tapi mengena.
"Sudahlah, Ray, jalan saja." kata Kenan tidak sabar.
"Aku pesan dari sekarang, Om. Supaya Roma tidak rewel, mengganggu konsentrasiku nanti." Raymond menjelaskan apa adanya.
"Ish, kamu tuh Ray. Nanti aku sama Roma jalan-jalan saja disana, kalian para suami yang jangan rewel tanya kita dimana, sedang apa, sama siapa." sahut Nona tidak peduli bagaimana situasi nanti.
"Jadi begitu sampai Surabaya kalian kita drop di hotel saja ya?" kata Raymond pada Roma dan Nona.
"Terserah saja bagaimana baiknya." jawab Roma, mengingat Raymond begitu mendapat perintah ajak Roma langsung saja berpesan panjang supaya tidak rewel, inilah, itulah, banyak lagi yang lainnya.
"Pakuwon saja, jadi mereka dekat ke Mal." kata Kenan pada Raymond, ia memejamkan matanya sebentar, merasa masih mengantuk tapi tidak tega melihat keponakannya menyetir.
"Kamu mengantuk, Ray? Mau Om yang setir?" tanya Kenan pada Ray, padahal ia sendiri mengantuk.
"Tidak usah, Om. Semalam dari rumah Om kita langsung tidur pulas." jawab Raymond yang memang tampak bugar.
"Kalau begitu, Om tidur sebentar ya. Kami kurang tidur karena ngobrol cukup lama begitu sampai tadi." kata Kenan, selain itu ada aktifitas tambahan yang tidak diceritakan. Benar saja sepanjang perjalanan Nona dan Kenan tertidur pulas, sementara Roma menemani Raymond supaya tidak mengantuk, ada saja yang mereka bahas, jadi seru sendiri.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih mereka tiba di Surabaya. Belum adzan shubuh tapi sudah ada suara-suara mengaji terdengar setiap melewati mesjid. Raymond membangunkan Kenan dan Roma karena mereka sudah di lobby hotel saat ini.
"Kami langsung ya, kalian berani kan?" tanya Raymond sementara Kenan pindah duduk ke penumpang depan.
"Beranilah, kalian tidak mau sholat dulu dikamar?" tanya Nona.
"Kami cari mesjid saja, kalau ikut kekamar lain lagi ceritanya." Kekeh Raymond melajukan Kendaraannya perlahan.
"Eh tunggu!!! teriak Nona membuat Raymond menginjak rem. Nona berlari menghampiri Kenan yang jendelanya masih terbuka.
"Aku belum peluk suamiku." kata Nona membuat Kenan tertawa dan langsung membuka pintu mobilnya. Tanpa malu-malu Nona memeluk Kenan yang masih duduk dimobil.
"Jangan genit, kalau kerja tetap ingat istri." pesannya sambil mencium pipi Kenan. Kenan mengacak anak rambut Nona dan mengecup dahinya.
"Ish, aku juga pengantin baru tapi tidak lebay seperti kalian." kata Raymond melihat perlakuan Om dan istrinya itu.
"Kamu tidak romantis." kata Nona kemudian menarik Roma menghampiri Raymond.
"Cepat peluk suami kamu Rom, supaya ingat terus sama istri kalau lagi kerja." kata Nona mendorong Roma mendekati Raymond setelah membuka pintu mobil Raymond. Mau tidak mau Roma melakukan hal yang sama, padahal malu dilihat petugas hotel, Norak sekali Kak Nona ini, pikir Roma dengan wajah merah padam.
"I love you." bisik Raymond pada istrinya dan mengecup bibir Roma sekilas, membuat Nona memberengut karena tadi Kenan tidak mengucapkan itu. Bikin iri saja.
"Romantis aku tuh beda." desisnya pada Nona, senyum Raymond terlihat tengil.
"Ray, titip suamiku. Ini perusahaan Melly kan?" bisik Nona pada Raymond. Langsung saja Raymond terbahak dibuatnya.
"Pantas saja memaksa ikut tengah malam." kata Raymond menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Setelah Nona dan Roma masuk ke dalam, Raymond melajukan kendaraannya.
"Om tahu, Kenapa Kak Nona minta ikut?" tanya Raymond sambil fokus menyetir.
"PT. Cipta, Melly." jawab Kenan terkekeh.
"Om sudah tahu?" Raymond ikut terkekeh.
"Itulah kenapa tadi Nona dibiarkan ikut, kalau dilarang bisa tambah curiga." jawab Kenan menghela nafas.
"Belum saja ada yang membuat Roma cemburu." jawab Kenan mengacak kasar rambut Raymond.
"Ish Om ini, mesjid Om?" Raymond merapikan rambutnya dan membelokkan kendaraannya saat Kenan mengangguk mampir ke Mesjid untuk Sholat Shubuh.
Sementara Baron dirumah kelimpungan mencari Nona karena sudah ditunggu lama tidak juga hadir di meja makan, setelah disusul ke kamar tidak ada orang, kamar dalam keadaan kosong. Ia ingat Kenan pamit ke Surabaya tapi pikirnya Nona akan tinggal dirumah karena harus ke kantor hari ini. Pada akhirnya ia menghubungi anak kesayangannya itu.
"Kamu dimana?" tanya Baron pada Nona.
"Di hotel." jawab Nona dengan suara bantal, karena begitu masuk kamar hotel ia dan Roma melanjutkan tidurnya.
"Hotel mana?"
"Surabaya."
"Kamu ikut Kenan?"
"Iya kan tadi saat mau pergi sudah bilang Papa. Papa bilang iya ajak saja, bagaimana sih? lupa???"
"Ya ampun Nona, Papa kira tadi hanya Kenan yang berangkat. Kamu kan hari ini masih ke kantor, bagaimana sih main ikut saja." Baron mulai ngomel, sudah lama ia tidak memarahi Nona karena seenaknya saja meninggalkan pekerjaan di Kantor.
"Aku berhenti mulai hari ini." jawab Nona mulai melek karena suara Papa Baron cukup memekakkan telinganya.
"Hei berhenti juga ada aturannya, tidak main berhenti begitu saja, kecuali kamu Papa pecat."
"Huhu jadi aku harus bagaimana? Ijin? Pecat saja lah."
"Pecat, gaji kamu tidak dibayar."
"Papa, tega sekali. Tabunganku sudah terkuras untuk modal kerja dengan Kevin. Sekarang saldoku kosong, masa gajiku tidak Papa bayar. Aku ijin dua hari saja, please Papa." Nona merengek pada Papanya.
"Pembayaran ke klien hari ini apa harus ditunda? Bagaimana Papa mau menyerahkan perusahaan pada kamu kalau tidak professional begini, Non. Untung saja kamu menikah dengan Kenan. Walaupun begitu kamu tetap tidak boleh seenakmu saja."
"Iya aku minta maaf. Untuk pekerjaan hari ini semua sudah aman kok Pa. Semoga tidak ada masalah." kata Nona menyadari kekonyolannya hari ini. Mengabaikan pekerjaan demi mengikuti suaminya, apalagi saat mendengar yang bermasalah PT Cipta yang Nona ingat Melly menyebutnya nama perusahaan saat mengenalkan diri pada hari pernikahannya dengan Kenan.
"Kenapa Kak Nona?" tanya Roma yang ikut terbangun karena mendengar suara Nona bicara via telepon.
"Papaku marah karena aku tidak masuk kantor hari ini."
"Lagi Kak Nona kenapa kita jadi ikut kesini. Aku pikir juga pagi ini minta jemput supir setelah menginap sebentar dirumah Kak Nona. Rencana aku mau menginap dirumah Oma saja lebih ramai ART disana." kata Roma menyalahkan Nona.
"Iya, tapi kan yang bermasalah PT. Cipta, kamu tahu itu perusahaan tempatnya Melly bekerja, aku tidak mau suamiku diganggu pelakor." jawab Nona memberikan alasannya.
"Tetap saja kalau kita dihotel begini, tidak bisa lihat Melly sama Om Kenan. Ish Kak Nona ini, cemburu sampai begitu."
"Jadi bagaimana, apa kita perlu susul ke Pelabuhan?"
"Aku tidak mau, Ray bisa marah nanti."
"Jadi bagaimana? duh aku jadi khawatir."
"Ih pikir saja, kalau Om Kenan mau sama Melly, sudah dari sebelum kenal Kak Nona sudah pacaran mereka, mungkin sudah menikah. Jangan pikirkan Melly, kita senang-senang saja hari ini. Ayo mandi sarapan terus shopping." kata Roma, kemudian mereka berjingkrak senang karena akan shopping, tapi kemudian Nona melemah teringat akan saldonya yang kosong, mau tidak mau terpaksa pakai kartu kredit kalau begini caranya.
"Roma, aku tidak punya uang cash." kata Nona jujur.
"Tenang saja aku ada." jawab Roma terkekeh, sempat mendengar keluhan Nona pada Papanya tadi. Kemudian ia mengirim pesan pada Raymond menyampaikan kalau mereka akan shopping perlu suntikan dana. Hahaha padahal sudah janji tidak akan merepotkan.