I Love You Too

I Love You Too
Permintaan



"Jangan akal-akalan, Abang tuh suka aneh, Kali ini saya minta jangan ikut campur." tegas Kenan tak mau Baron bertindak ekstreem.


"Iya. Saya akan biarkan kalian mengalir apa adanya, tapi pakai deadline. Seperti yang kamu bilang, taaruf saja tiga bulan. Maka waktumu hanya tiga bulan dari sekarang."


"Ck... pekerjaan saya banyak sekali dalam tiga bulan ini." Kenan menghela nafas panjang.


"Enak di kamu kalau lama-lama, Asal kamu tahu Nona itu cantik, pintar, wanita karir, banyak yang mau. Bukan kamu saja." Baron membanggakan putrinya.


"Iya saya tahu."


"Kalau kamu lambat, jangan salahkan kalau saya jodohkan dengan yang lain." ancam Baron pada Kenan.


"Duda juga?" celutuk Nanta konyol.


"Kamu kira koleksi duda saya bejibun." Baron dan Kenan terbahak dibuatnya.


"Cukup Papamu saja ya, Nak. Kalau yang lain Padeh carikan yang single." kata Baron disela tawanya.


"Seperti Kak Kevin?" tanya Nanta polos.


"Kamu kenal Kevin? mantan pacar Nona waktu sekolah dulu. Sayang tidak berjodoh." Baron tampak menyesali putusnya Nona dengan Kevin.


"Please deh Bang, hargai perasaan saya, Kamu tuh terlihat patah hati tidak dapat Kevin jadi menantu." dengus Kenan sedikit kesal.


"Kamu cemburu." Baron tertawa senang karena melihat Kenan cemburu, berarti sudah ada benih cinta terhadap putrinya.


"Bagus kalau kamu cemburu, berarti kamu normal." Kekeh Baron lagi, puas sekali melihat wajah Kenan yang sedikit masam.


"Dari dulu juga saya normal." sungut Kenan bergegas menyusul Nona dan Mita dimeja makan.


"Papamu pura-pura ngambek." bisik Baron pada Nanta, kemudian merangkul Nanta menyusul Kenan ke meja makan. Mita dan Nona masih asik membahas seputar masakan. Rupanya Nona sedang meminta resep masakan yang baru saja dicobanya pada Mita, sementara Kenan duduk disebelah Nona dan dengan sabar menyimak apa yang mereka bahas.


"Nanti kalau lupa aku tanya Tante ya." kata Nona lagi pada Mita.


"Iya telepon atau chat saja." jawab Mita dengan wajah sumringah.


"Memang tahu nomornya?" tanya Baron yang baru saja bergabung.


"Aku sudah punya nomor Tante Mita." jawab Nona tersenyum pada Papa. Tentu saja ini kabar gembira bagi Baron, Nona mau menjalin komunikasi dengan Mita.


Setelah menikmati makanan yang ada dimeja makan, mereka pindah ke taman belakang. Mita membuatkan kopi wine yang baru saja dikirim sahabatnya.


"Halal tidak nih?" tanya Kenan khawatir mengingatkan pada anggur minuman beralkohol.


"Halal, ini kopi ya bukan anggur." kekeh Mita sambil meletakkan gelas kopi dimeja.


"Enak, Pa." kata Nanta setelah menyesap seteguk.


"Iya enak." Komentar Kenan setelah ikut menyesap seteguk.


"Non, Papa mau bicara." kata Baron tiba-tiba terlihat serius menatap Nona yang duduk disebelah Nanta.


"Apa?" tanya Nona sedikit tegang.


"Papa sudah tua..."


"Pfffff..." Kenan hampir aja menyembur kopi yang dimulutnya, siapa bilang masih muda pikirnya sambil menahan tawa. Baron melirik Kenan kesal, tapi tak tahan ingin tertawa juga.


"Papa ih, bikin Nona takut saja." wajah Nona tampak khawatir. Mendengar itu Baron kembali serius.


"Papa ada permintaan, kamu tahu Papa tidak pernah meminta, tapi kali ini tolong kabulkan permintaan Papa." Nona menunggu Baron melanjutkan kalimatnya.


"Papa ingin kamu menikah dalam tiga bulan ini, terserah entah dengan Kenan atau kamu punya kandidat lain yang mau kamu kenalkan pada Papa." katanya sambil melirik Kenan, sengaja mengatakan kandidat lain karena tadi Kenan mentertawakan Baron saat opening yang sudah dia bikin sedramatis mungkin.


"Papa ingin punya cucu, mumpung Papa masih sehat." katanya lagi dengan wajah melankolis. Nona jadi ikut melankolis dibuatnya.


"Papa tidak akan memaksa kamu, tapi silahkan kamu pikirkan. Jangan sampai menyesal karena tidak memenuhi keinginan Papa. Kebahagiaan Papa akan lebih sempurna jika kamu menikah."


"Iya kalau kamu menikah sama Kenan, Papa langsung punya cucu abege. Tapi kalau kamu menikah dengan yang lain Papa akan menunggu kelahiran cucu Papa. Jadi tolong kabulkan keinginan Papa menikah dalam waktu tiga bulan ini." Baron mengulangi permintaannya. Nona diam saja, bingung mau jawab apa.


"Papa tunggu jawaban kamu ya, jangan lama-lama." kata Baron melihat putrinya tidak bisa menjawab dan seakan tidak terjadi apapun ia mulai membahas banyak hal diluar pernikahan bersama Kenan.


"Oh iya Non, kemarin itu Wawan kesini sama Om dan Tantemu." kata Baron kemudian.


"Tumben, ada apa Pa?"


"Kenalan sama Tante Mita."


"Oh syukurlah, saudara Mama sudah ada yang kenal Tante Mita." jawab Nona lega.


"Nanti kamu juga sebelum menikah harus datangi Tante dan Om kamu ya Non. Bagaimanapun mereka orang tua kamu juga."


"Iya Pa." Nona tidak membantah.


Setelah cukup lama dirumah Baron, Kenan mengajak Nanta pulang.


"Kamu mau pulang apa tinggal disini?" tanya Kenan pada Nona. Yang ditanya jadi cemberut, apa maksudnya menyuruh Nona tinggal.


"Nona belum saya pingit, bawa pulang saja." kata Baron terkekeh.


"Apa sih Papa, bawa pulang memangnya aku tentengan." sungut Nona. Kenan dan Nanta tertawa dibuatnya. Kenan memandang putranya yang sedari tadi tidak rewel minta pulang, padahal hari sudah cukup sore. Kenan merangkul putra kesayangannya yang terlihat begitu mendukung hubungan Kenan dengan Nona.


"Nanta, mau bungkus apa?" tanya Minta pada Nanta.


"Tidak usah Bude, Nanti sampai rumah pasti banyak makanan." jawab Nanta apa adanya.


"Bungkus untuk Mama Nina saja." kata Nona pada Mita.


"Oh sebentar." Mita segera menuju ke dapur meminta Asisten Rumah Tangga membungkus menu untuk Mama Nina sesuai permintaan Nona. Tak Lama Mita datang dengan tentengan ditangannya, diserahkannya pada Nona.


"Terima kasih, Tante." kata Nona senang.


"Nanti kalau resep sudah dipraktekan kabar-kabari." Mita menepuk bahu Nona.


"Nanti aku Kirim kesini." Nona terkekeh


"Papa tunggu." kata Baron pada Nona.


"Iya, paling minggu depan aku baru sempat masak." kata Nona pada Baron.


"Bukan itu yang Papa maksud, Tapi jawaban untuk permintaan Papa."


"Ih itu lagi, Iya nanti aku kabari." Kenan menggelengkan kepalanya, padahal sudah pesan tadi pada Baron supaya dibiarkan mengalir, ini malah mendesak dengan alasan sudah tua.


"Saya pulang dulu Pak Tua." bisik Kenan pada Baron, kemudian tertawa sendiri.


"Kualat kamu sama calon mertua." kata Baron kesal, tapi tidak bisa marah.


"Tadi Abang sendiri yang bilang, Papa sudah tua...pffftttt." masih berbisik Kenan kembali tertawa.


"Kenapa sih?" tanya Nona penasaran melihat Kenan dan Papanya saling mentertawakan.


"Papa kamu kocak." kata Kenan pada Nona.


"Iya, Padeh lucu." sahut Nanta yang ikut tertawa karena mendengar pembicaraan Papa dan Padeh sedari tadi.


"Biar awet muda banyak tertawa." jawab Baron sambil membukakan pintu Mobil untuk Kenan.


"Baik kan calon mertua kamu." bisiknya lagi.


"Mas Baron kalau bertemu Kenan selalu begitu." kata Mita ikut tertawa.