I Love You Too

I Love You Too
Mama



"Minggu depan memungkinkan ga Kak, kalau aku keluar kota sama Monik dan Intan?" Sibuk ga ya persiapan acara?" Kiki bertanya pada Reza saat dalam perjalanan menuju Boutique Kemang.


"Mau kemana? acara apa?" tanya Reza tetap fokus menyetir.


"Aku belum tanya mau kemana. Temannya Monik buka travel online, mau bantu promo. Kalau ga bisa berarti setelah acara kita perginya" Kiki menjelaskan pada Reza.


"Coba tanya mama dulu. Sebelum nikah kamu ijinnya sama Mama. Kalau setelah acara memangnya kamu ga mau honeymoon sama aku? kok malah pengen travel sama teman."


"Apaan sih malah bahas honeymoon." Kiki mendengus kesal.


"Loh, biasakan setelah menikah itu honeymoon." dengan wajah tersenyum Reza melirik Kiki yang wajahnya tampak memerah. Mungkin Kiki malu bahkan risih.


"Iih kak Eja. Udah ah nanti aku tanya mama aja." Kiki memukul pelan bantal kecil dipangkuannya ke pundak Reza lalu mengalihkan pandangannya ke jendela.


"Kamu berangkatnya weekend aja ya, satu malam aja, jangan lama-lama." kata reza kemudian.


"Kapan?"


"Terserah mau minggu depan atau setelah kita menikah." jawab Reza dengan mata fokus kedepan.


"Boleh?" tanya Kiki meyakinkan. Reza menganggukan kepalanya, membuat Kiki tersenyum lebar.


Reza memang mengijinkan Kiki pergi karena tak ingin membatasi ruang gerak Kiki. Biarkan Kiki tetap bergaul dan berkreasi selama itu positif dan tidak mengganggu kuliahnya juga tidak mengganggu rumah tangga mereka nanti.


"Jangan genit ya disana, bajunya jangan seksi, dandanannya biasa aja tipis, jangan ada cowok." pesan Reza beruntun.


"Belum juga pergi." sungut Kiki.


"Iya, makanya aku pesan. Awas kalau kaya kemarin itu lihatin cowok dijalan." ancam Reza.


"Itu lihatin mobilnya kak, kebetulan aja cowoknya cakep." Kiki membela diri.


"Nah yang kebetulan itu. Ga boleh !!!" tegas Reza. Kiki mengerucutkan bibirnya.


"Kak Eja cemburu?" tanya Kiki polos


"Ga, ngapain cemburu. Cuma aku ga suka aja calon istriku dekat dengan cowok lain." sangkal Reza


"Bedanya apa? Itu sih cemburu namanya." sahut Kiki santai.


"Ga pantas aja." jawab Reza sambil mengacak anak rambut Kiki.


Tak lama mereka pun tiba didepan Boutique Kemang, parkiran tidak terlalu penuh sehingga dengan mudah Reza menghentikan kendaraan ditempat yang tidak mengganggu aktifitas keluar masuk kendaraan lain.


Setelah parkir Kiki tak langsung turun, Ia ingin memastikan keberadaan mama terlebih dahulu. Karena mobil mama tak tampak di parkiran.


"Mama dimana? belum sampai ya? Mobilnya ga ada diparkiran." tanya Kiki via telepon.


"di boutique lantai 3 nak, tadi mama dijemput mama Nina."


Kiki pun menutup sambungan teleponnya.


"Kak Eja mau ikut turun? mama di lantai 3, ada mama Nina juga."


"Aku ke percetakan dulu ya, mau hardcover skripsiku, nanti telepon kalau sudah selesai. Biar ku jemput." .


Setelah berpamitan Kiki pun turun menghampiri mama Ririn dan mama Nina yang tampak sedang berbicara dengan designer sekaligus pemilik Boutique.


"Ki, kami sudah pilihkan baju kamu. Nih lihat ." mama menyodorkan sebuah album yang berisi berbagai model kebaya modern pada Kiki.


"Ya udah itu aja." jawab Kiki tak banyak cincong.


"Yuuk diukur dulu Ki," ajak Tante Ningrum pemilik boutique langganan Mama.


"Sampai sekarang masih ingusan kok tante." Kiki menjawab dengan gurauan.


"Anak ingusan kita karbitin rum." sahut mama Ririn asal. Mereka tertawa bersama hanya kiki saja yang mendengus tak terima.


"Calon suaminya mana? ga sekalian diukur?" tanya Ningrum


"Wah iya lupa aku ajak Reza." Tante Nina panik. Maklum ya faktor umur meski belum tua tua amat.


"Ada kok ma, Kak Eja lagi kepercetakan, tadi aku di drop kak Eja. Aku ga ajak turun karena aku pikir ga perlu." Kata Kiki menjelaskan.


"Telepon Ki, suruh kesini segera." perintah Mama Nina pada Kiki, diikuti Kiki dengan menekan tombol di handphonenya.


"Kak Eja, ternyata kakak juga harus ukur baju. Cepat kesini ya." Kata Kiki tanpa bertanya keberadaan Reza lalu menutup teleponnya. Reza menggelengkan kepalanya. Kebiasaan Kiki jika menelepon tanpa basa basi, tanpa closing. Kalau begini kenapa ga kirim pesan saja pikir Reza. Setelah menyampaikan keinginannya pada orang percetakan Reza pun bergegas menuju Boutique Kemang.


"Bukannya bilang dari tadi." kata Reza setibanya di boutique. Setelah menyalami mama Ririn dan mamanya.


"Mama yang lupa, maaf ya nak."Kata mama Nina lembut pada putra sulung kebanggaannya.


Tante Ningrum pun mengukur badan Reza.


"Calon suami kamu ganteng Ki." bisiknya pada Kiki setelah selesai mengukur.


"Tante." Kiki tertawa kecil sambil menepuk pelan pundak Tante Ningrum. Nina, Ririn dan Reza hanya memandang penasaran tapi tak bertanya.


"Mama tadi naik apa?" tanya Reza pada Mama dan calon mertuanya.


"Diantar papa, tapi langsung kekantor. Sekarang kamu antar Kita ke Plaza Indonesia ya." pinta Mama Nina sekaligus memerintah.


"Iya." jawab Reza tak membantah.


Karena tak ingin ribet baju yang dipesan langsung dibayar penuh. lalu mereka pun menuju Plaza Indonesia sesuai keinginan Nina.


"Mau beli apa ma?" tanya Reza dalam perjalanan.


"Sepatu kita semua." jawab Nina.


"Sepatu aku masih bagus ma, pakai yang ada aja."


"Ok."


"Nanti aku nunggu di cafe biasa ya, ga ikut muter."


"Iya."


Seperti biasa kalau menemani mama shopping, Reza selalu menunggu di cafe karena tak sanggup meladeni Mama yang bisa masuk ke setiap toko walaupun tak jadi membeli.


"Kiki ikut kita, kamu sendiri." tegas mama Nina.


"iya, kalau kamu nyerah lambaikan tangan ke kamera ki, susul aku di cafe." Reza memperingati Kiki.


"Ish kamu tuh ya. Kalau anak cewek tuh pasti senang ikut mama." jawab Nina yakin. Ririn yang se type dengan Nina pun mengiyakan.


"Ya kan kita belum tau gaya belanja Kiki, makanya aku mengingatkan." kata Reza sambil tertawa kecil membayangkan Sheila yang pernah kelelahan dan hampir pingsan saat ikut menemani Nina keliling toko.


Begitu tiba di Plaza Indonesia, Reza pun berpencar memisahkan diri.


"Nanti telepon aku aja kalau mau menyusul, aku mungkin ke toko buku di basement dulu." kata Reza pada Kiki.


"Sudah sana, kamu maunya disusul aja sih." Nina menarik tangan Kiki menjauh dari Reza.


"Calon istriku jangan di bikin capek ma." kata Reza menggoda Nina. Kiki hanya tertawa melihat kelakuan Reza dan calon mertuanya. Kiki senang saja menemani Mama Ririn dan Mama Nina berbelanja. Biasanya kalau lelah disaat Mama Ririn memilih, Kiki akan mencari bangku untuk beristirahat. Mereka pun mengikuti langkah Mama Nina yang masuk kesalah satu boutique sepatu Pria langganan Dwi dan ternyata langganan Ryan juga. Mereka disambut pelayan toko yang sudah sangat akrab dengan Ririn dan Nina. Toko dengan Merk sepatu terkenal yang nyaman dipakai. Ririn ikut memilih sepatu untuk Ryan. Sementara Kiki hanya duduk sambil memandang kedua mamanya yang sedang asik memilih. Sesekali saling bertukar pendapat dan juga meminta pendapat Kiki walaupun akhirnya tetap pada pilihan mereka. Dasar Mama.